Jam sepuluh, lobi hotel kapsul. Mas Rillo sudah duduk di kursi plastik, jaket lebih longgar, muka lebih manusia. Koper tidak dibawa. Tiga malam, katanya, dan malam pertama ia selamatkan untuk tidur.
“Udah makan?” Itu tetap kalimat pembukanya. Bahkan tanpa layar.
“Udah. Miso. Tasyi nanya Om Iyoo sampai Mbak Nares ancam cabut wifi boneka.”
“Saya siap diinterogasi anak empat tahun.”
“Belum. Sekarang jalan dulu. Kalau Mas langsung ke apartemen, Tasyi nggak akan lepas.”
Kami keluar. Osaka siang itu dingin, salju semalam sudah jadi genangan. Gue bawa dia ke kuil kecil dekat sungai, bukan karena romantis, tapi karena sepi dan gue bisa bicara tanpa takut pelayan toko kue mengenali muka gue yang kemarin hampir menangis di etalase.
Kami duduk di bangku basah. Mas Rillo tidak langsung nanya. Ia membiarkan sepatu gue menginjak kerikil dulu, membiarkan napas gue berembun, membiarkan gue yang memulai.
“Pertanyaan yang digantung,” ucap gue. “Mas mau nanya sekarang, atau nunggu saya yang nggak tahan?”
“Saya nanya. Pelan.” Ia menoleh. “Egita Airis Zahran. Kalau saya minta kamu jalan bareng saya, bukan sebagai pelarian, bukan sebagai pengganti, bukan sebagai orang yang nelpon biar kamar nggak sepi, kamu mau?”
Angin masuk ke leher jaket gue. Pertanyaan itu sederhana. Empat tahun dengan Kavin tidak pernah terdengar sesederhana itu. Dulu semuanya sudah diasumsikan: pacaran, tunangan, gedung, souvenir, foto. Tidak ada yang duduk di bangku basah dan nanya mau atau tidak, seolah jawaban tidak bisa ditukar dengan paket pernikahan.
“Saya mau,” ucap gue. Suara gue tidak gemetar, dan itu yang paling mengejutkan. “Tapi saya mau jujur dulu, biar Mas nggak kaget belakangan.”
“Silakan.”
“Saya masih hafal jalan pulang ke hubungan yang lama. Bukan karena mau balik, karena empat tahun nggak hilang dalam enam bulan. Kadang saya masih otomatis mau ngetik ‘Kak’ sebelum saya sadar. Kadang saya masih takut jenuh. Jalan tol itu bikin saya kapok. Saya nggak mau hubungan yang mulus sampai kami lupa nanya orang di sebelah masih nyaman atau nggak.”
Mas Rillo mengangguk. Tidak menyela.
“Saya juga takut Mas nunggu terlalu lama, terus saya jadi utang. Saya nggak mau jadi orang yang kamu perjuangin tepat waktu, lalu saya diem karena takut salah lagi.”
“Kamu bukan utang.”
“Mas yang bilang.”
“Saya yang nunggu. Saya yang putusin nunggu. Itu keputusan saya, bukan tagihan ke kamu.” Ia menggaruk kepala. “Saya pernah beli cincin. Saya pernah diem. Saya pernah kehilangan karena nggak ngomong. Sekarang saya ngomong. Jawaban kamu iya, saya seneng. Jawaban kamu nanti berubah, saya dengerin. Saya nggak akan muter waktu.”
Gue menatap sungai. Airnya keruh, pelan. “Kalau gitu kita kasih nama. Pelan. Pacaran. Bukan tunangan. Bukan paket. Bukan gedung. Saya masih di Osaka, Mas masih di Jakarta. Kita nggak usah pura-pura jarak itu gampang.”
“Setuju.”
“Mas cutinya tiga hari.”
“Saya perpanjang kalau kantor izinin. Kalau nggak, saya pulang, saya nelpon tiap malam, saya nunggu kamu yang pulang.” Ia tersenyum. “Saya udah latihan enam bulan.”
Gue tertawa, basah. “Mas boleh pegang tangan saya nggak? Bukan di mall. Di sini. Biar saya tau ini bukan layar.”
Ia mengulurkan tangan, menunggu. Gue yang menyambut. Telapaknya hangat, kasar sedikit di ujung jari, nyata. Tidak ada cincin. Tidak ada kamera. Cuma bangku basah dan pertanyaan yang akhirnya tidak digantung.
***
Siang kami makan ramen yang terlalu pedas untuk lidah gue dan pas untuk dia. Uapnya nempel di kaca jendela, di pipi, di ujung rambut yang basah salju semalam. Ia cerita audit yang ia tunda, cuti yang ditabung dari tahun lalu, atasan yang mengernyit, Inara yang mengomel di telepon waktu tahu kakaknya beli tiket tanpa kabar.
“Ina bilang, kalau saya bikin kamu nangis di negara orang, dia cabut gelang saya.”
“Gelang itu di saya.”
“Makanya saya takut.” Ia mengaduk kuah. “Saya nggak bawa cincin. Cincin lama masih di laci Ina. Saya nggak ambil. Saya nggak mau kamu kira ini lanjutan dari yang dulu saya diemin.”
“Bagus. Saya juga nggak mau cincin. Saya baru mau nama yang pelan.”
Pelayan datang, isi air. Kami diam seperti orang yang baru belajar duduk berdua tanpa layar. Gue menyeruput, tersedak pedas, ia nyodorin air tanpa omong. Nyata. Kecil. Cukup.
Sore gue bawa dia ke apartemen. Tasyi membuka pintu sebelum bel selesai. “Om Iyoo!” dan langsung memanjat lutut orang yang kemarin cuma ada di layar. Mas Rillo tertawa, suara yang gue dengar tiap malam, sekarang memenuhi ruang tamu yang kecil. Dia nyanyi lagu yang sama, salah lirik, Tasyi tidak peduli.
Mbak Nares mengukur dari dapur, tepung di pipi. Dhafin berjabat tangan, singkat, laki-laki, lalu kembali ke berita seolah tamu dari delapan ribu kilometer adalah tetangga. Tidak ada sidang. Ada teh, ada kue sisa toko, ada Tasyi yang memaksa Om Iyoo mengulang lagu tiga kali, ada Dhafin yang sesekali menoleh dan mengangguk, izin diam-diam.
“Jadi?” tanya Mbak Nares pelan, waktu Tasyi diseret mandi.
“Pacaran,” jawab gue. “Pelan. Bukan tunangan. Bukan paket.”
Kakak gue mengangguk. “Bagus. Jangan kawin di kepala dulu. Kepala kamu masih suka ngebut. Mbak udah pernah dikawinin orangtua dulu, jalan, baru cinta. Kamu kebalikannya. Jangan sampe ngebut ke ujung yang sama dari jalur beda.”
“Saya lagi belajar nengok ke samping.”
“Belajarnya kelihatan. Lanjutin. Rillo, kamu makan malam di sini, pulang sebelum Tasyi tidur. Anak kecil jangan dikasih tontonan orang nginap.”
“Siap, Mbak.”
Malam kami makan nabe sisa, Tasyi mengantuk di pangkuan, lalu dipindah ke kamar. Mas Rillo pulang ke kapsul, jaket, sepatu. Di pintu, ia menunduk, mencium punggung tangan gue, kikuk, seperti orang yang masih belajar izin, bukan orang yang pernah beli cincin diam-diam.
“Udah makan?” tanyanya lagi, kebiasaan yang tidak bisa putus.
“Udah. Roti nggak gosong. Nabe. Pedasnya kalah ramen.”
“Sayang. Besok saya boleh datang lagi?”
“Boleh. Jam toko. Jangan kaget kalau Tasyi nunggu di pintu.”
Gue menutup pintu, lalu bersandar. Dada gue penuh, bukan sesak. Pertanyaan sudah dijawab. Nama sudah ada. Besok masih ada dua hari. Gue tidak akan mengisi dua hari itu dengan gedung dan souvenir. Gue akan mengisinya dengan jalan yang punya tikungan, pelan, dan orang di sebelah yang masih ditanya masih nyaman atau tidak. Di dapur, Mbak Nares cuci piring tanpa omong. Hadiah. Gue cuci muka, tidur sebelum kepala ngebut merencanakan tahun depan, sebelum takut jenuh jadi alasan mundur. Cukup. Nyata. Bukan berhenti.