Zenata menelepon tengah malam, waktu Osaka sudah pagi buta. Suaranya serak, Fikar ribut di belakang, Bagas entah kenapa ikut di grup panggilan, Khalil menyahut dari jauh.
“Git. Kontraksi. Jangan namain anak gue Egita kalau lo nggak dateng. Gue serius. Fikar bawa tas salah. Gue benci kalian semua.”
“Saya beli tiket hari ini.”
“Beneran?”
“Beneran. Jangan dulu lahir sebelum saya mendarat, bodoh. Tahan. Napas. Jangan maki bidan.”
Zenata menangis, ketawa, memaki Fikar, putus. Gue duduk di tepi kasur. Tasyi masih tidur. Mas Rillo belum bangun di kapsulnya. Langit di luar masih gelap, jendela berembun.
Gue buka situs tiket, bandingkan dua maskapai, pilih yang ada sisa kursi tengah, Jakarta besok malam. Jari gue tidak gemetar. Kartu, OTP, konfirmasi masuk email. Gue screenshot, kirim ke Mama, ke Mbak Nares, ke Inara. Baru gue telepon dia.
“Mas. Saya pulang besok malam. Nat kontraksi.”
Hening sejenak, lalu suara orang memakai jaket tergesa, koper ditarik, pintu kapsul. “Saya geser tiket saya ke penerbangan yang sama. Kalau penuh, saya menyusul pesawat berikutnya. Jangan berangkat sendirian kalau bisa bareng. Bukan karena saya nggak percaya kamu, karena koper kamu jelek dan saya udah janji nunggu di gerbang, bukan di parkiran, bukan diem.”
“Mas cutinya—”
“Saya urus. Saya telepon kantor sekarang. Kamu urus Tasyi yang bakal nangis. Saya urus Ina yang bakal ngejek. Pembagian. Jangan packing drama. Packing jaket.”
Gue tertawa di gelap, lalu menangis sedikit karena Zenata, karena tiket, karena suara jaket. “Siap. Udah makan?”
“Belum. Nanti. Bareng di bandara. Roti. Bukan pidato.”
“Bareng.” Gue tutup telepon, mandi, turun. Mbak Nares sudah bangun, teh, tidak kaget. “Nat?” “Kontraksi.” “Pulang.” “Pulang.” Kakak gue menuang teh kedua. “Ambil jarak selesai. Jalan pulang mulai. Jangan ngebut di bandara.” Gue mengangguk. Teh. Hangat. Nyata.
***
Pagi toko tetap buka karena pesanan cheesecake tidak peduli kontraksi di Jakarta. Lonceng, plang buka, oven. Mas Rillo duduk di kursi pelanggan, makan roti yang kali ini tidak gosong, Tasyi digendong Mbak Nares sebentar lalu dilepas ke yochien dengan jepit wortel. Gue bilang ke kakak gue soal tiket, sambil menurunkan loyang.
Mbak Nares mengelap meja. “Akhirnya. Ambil jarak udah. Pulang jangan jadi lari ke arah sebaliknya.”
“Saya pulang ke sahabat, ke Mama, ke kantor, ke orang yang nunggu. Bukan lari. Saya hafal jalan ke sini. Saya juga hafal pulang.”
“Bagus.” Ia menepuk pipi gue dengan punggung tangan yang bertepung. “Rillo, kamu jaga adik Mbak di pesawat. Kalau dia pura-pura kuat, kasih roti. Dia lemah di makanan. Jangan kasih pidato.”
“Siap, Mbak. Roti. Bukan pidato.”
Siang sepi, gue packing tas yang sama waktu berangkat dulu, lebih ringan, tanpa niat mengasingkan diri. Mama sudah dikabari. Papa membalas: selamat, jangan telat makan di pesawat. Ironi yang tidak gue balas panjang.
Dhafin mengantar kami ke stasiun sore itu, Tasyi menangis Om Iyoo dan Tante Git, janji video call tiap malam, jepit rambut jelek terselip di rambut anak itu. Gue menoleh ke belakang di peron. Apartemen, toko enam meja, salju yang sudah tidak turun. Gue hafal jalan pulangnya. Itu bedanya dengan lari.
Di bandara, antre, sepatu, cairan, koper kabin yang sama. Mas Rillo memegang paspor gue yang hampir jatuh. Gue memegang boarding pass-nya yang ia masukkan ke saku yang salah. Tidak heroik. Nyata. Kami minum kopi buruk, diam, kadang ketawa karena Tasyi kirim foto jepit.
Di pesawat, ia ketiduran dulu, kepala condong, napas teratur seperti dulu di video call. Gue tidak mematikan apa-apa. Gue memandangi, lalu memandang ke depan, ke Jakarta yang belum kelihatan. Empat tahun jalan tol sudah selesai. Yang ini baru tikungan pertama, dan gue tidak sendirian menikung. Pramugari lewat, gue minta air, ia tidak bangun. Gue biarkan. Besok ada bayi, ada Inara, ada Mama. Malam ini cukup condong kepala dan aturan untuk nengok.
***
Mendarat pagi, mata berat, mulut kering. Inara dan Aldo di pintu kedatangan, Bagas bawa spanduk konyol “SELAMAT DATANG MANTAN CALON PENGANTIN YANG SUDAH WARAS”, Khalil coba merobek, Alan merekam, Windy menampar bahu Alan, Marsya pegang kopi dual. Tidak ada Kavin. Gue mencari sebentar, lalu berhenti mencari. Itu bukan kekosongan yang menyakitkan. Itu ruang yang sudah dikembalikan.
“Nat?”
“Masih nahan. Lo beruntung. Fikar hampir pingsan di IGD,” kata Inara, lalu memeluk gue keras sampai koper nyenggol lutut. “Mas. Tolol. Tapi tolol yang pulang. Jangan diem lagi.”
Mas Rillo mengusap kepala adiknya. “Saya pulang. Dia juga. Saya ngomong. Dia jawab. Pelan.”
Bagas merangkul gue. “Paket doanya masih berlaku?”
“Masih. Gratis. Sekarang nambah doa bayi Nat. Jangan unggah spanduk.”
“Telat. Alan udah.”
Mobil mereka penuh, AC, lagu salah. Gue duduk di tengah, bahu ke bahu dengan laki-laki yang kemarin makan roti gosong di Osaka. Jakarta macet, klakson, panas, motor nyelonong. Bukan salju. Gue menoleh ke samping. Dia masih di situ. Masih nyaman, atau setidaknya masih mau ditanya. Khalil ceritain stroller, Alan ceritain parkiran, Inara ceritain darah. Hidup. Ramai. Tidak lurus.
“Udah makan?” bisiknya, di tengah ribut Bagas.
“Belum. Nanti. Bareng. Roti. Bukan pidato.”
Ia mengangguk. Pertanyaan kecil, tikungan kecil. Jalan yang tidak lurus. Gue tidak minta yang lebih mulus. Gue minta yang ini, yang ada suaranya, yang bisa gagal mengembang kalau takarannya salah, yang tidak meledak berbulan-bulan kemudian karena pura-pura baik-baik saja. Cukup. Nyata. Pulang. Bukan lari. Mobil belok ke rumah sakit, bukan ke gedung pernikahan. Fikar sudah di lobi, pucat, tas salah, selamat datang yang tidak heroik. Gue turun, Mas Rillo bawa koper, Inara sudah lari duluan. Kontraksi orang lain, hidup gue nyusul. Bukan paket. Bukan tol. Tikungan. Gue pelankan. Nengok. Orang di sebelah masih di situ. Siap. Roti. Bukan pidato. Masuk. Daftar. Tunggu. Napas. Cukup. Nyata. Bukan gedung.