Ruang tunggu bersalin berbau antiseptik dan kopi sachet. Kursi keras, TV bisu, Fikar mondar-mandir sampai Khalil dudukin dia. Alan bawa charger cadangan, Windy bawa tisu, Marsya bawa plastik sampah karena Bagas sudah menumpuk gelas. Zenata mengerang dari dalam, sesekali memaki nama-nama yang tidak pantas ditulis. Gue pegang tasnya, seperti dulu gue pegang map rundown pernikahan, hanya saja sekarang isinya kain, stoples, dan kaus Fikar yang salah ukuran, bukan katalog souvenir.
Mas Rillo beli roti di basement, kembali, menyodorkan ke gue tanpa omong besar. “Biar kamu nggak telat makan.” Kalimat Kavin dulu, sekarang keluar dari mulut orang lain tanpa niat meniru. Gue makan. Hangat. Cukup. Inara menatap roti itu, lalu menatap gue, lalu tidak gunjing.
Orangtua Zenata datang, orangtua Fikar datang, Mama gue telepon tiga kali, Papa sekali: pulang ke rumah kalau bayi sudah lahir, kantor bisa besok. Gue bilang iya. Tidak lari. Khalil update grup, Bagas update yang sama dua kali, Aldo merekam Fikar yang pucat untuk bahan masa depan. Ramai. Hidup. Bukan gedung gue. Lebih baik.
Tengah hari, tangisan. Fikar keluar pucat, lalu tertawa bodoh. “Cewek. Sehat. Nat maki gue. Gue bahagia.”
Kami masuk bergiliran. Zenata basah, galak, indah. Bayi merah, kecil, bukan gentong. “Namanya jangan Egita,” katanya. “Lo dateng. Utang lunas. Namanya… nanti. Lo pegang dulu.”
Gue pegang. Ringan. Takut. Senang. Inara foto, Bagas terisak, Aldo pura-pura batuk. Mas Rillo di ambang, tidak masuk terlalu dalam, hormat, hadir.
Di koridor, gue berdiri sebelah dia. “Ini bukan paket kawin saya yang dipindah. Ini hidup orang. Saya seneng.”
“Saya juga. Saya seneng kamu seneng tanpa harus jadi pengantin di gedung yang sama.”
Gue menoleh. “Mas takut nggak, kita jenuh?”
“Takut. Makanya saya nanya tiap hari udah makan. Bukan karena makanan. Karena saya nggak mau lupa nengok.” Ia menggaruk kepala. “Jalan tol itu kenceng, Git. Saya lebih mau macet, asal saya tau siapa yang di mobil.”
Gue tertawa, lalu menangis sedikit, lalu berhenti. “Kalau gitu jangan ajak nikah tahun ini.”
“Nggak. Tahun ini saya ajak makan. Tahun depan kita omong lagi. Kalau kamu bosan nunggu, kamu bilang. Kalau saya bosan diem, saya ngomong. Aturan.”
“Aturan.” Gue menyodorkan kelingking, konyol, seperti Tasyi. Ia menyambut.
***
Sore Kavin ada di lobi rumah sakit, bukan ke kamar Nat, ke apotek. Mayang di sampingnya, muka lebih sehat dari ruang perawatan dulu, tas kecil, bukan infus. Mereka berhenti waktu melihat gue. Tidak ada piring pecah. Tidak ada tuding. Lantai mengilap, orang lalu-lalang, biasa.
“Git,” sapa Kavin. “Selamat. Kabar Nat. Fikar update grup.”
“Makasih, Kak. Selamat juga.” Gue menatap Mayang. “Kamu kelihatan lebih baik.”
“Makasih.” Mayang tersenyum kaku, lalu manusia. “Kavin cerita kamu di Jepang. Bagus. Aku… seneng kamu baikan sama hidup, bukan sama kami.”
“Sama. Hidup.” Gue tidak memanjangkan. Tidak perlu.
Mas Rillo mengangguk ke Kavin, Kavin mengangguk balik. Dua laki-laki yang pernah duduk empat jam di kedai kopi, sekarang tidak perlu kedai lagi. Mayang meremas lengan Kavin, kecil, prioritas yang sudah jujur. Gue tidak berdenyut. Gue menoleh ke samping, ke orang gue, dan berdenyut di situ. Inara dari jauh mengukur, lalu pergi, tidak perang.
“Jangan telat makan,” ucap Kavin, otomatis, lalu tertawa malu. “Habis. Kebiasaan. Maaf.”
“Sudah ditagih orang lain,” jawab gue pelan. Tidak jahat. Jujur. “Kak, jaga dia. Jangan stasiun. Jangan IGD yang salah.”
Kavin mengangguk. Mayang mengangguk. Mereka pergi ke parkir. Gue dan Mas Rillo naik ke kamar Nat lagi, titip bunga dari Mama, titip doa, titip kue yang tidak boleh Zenata makan dulu. Bagas sudah susun jadwal jaga yang tidak diminta. Hidup ramai. Hidup tidak lurus. Gue di koridor, napas, lalu masuk lagi karena Nat panggil, galak, sayang. Cukup. Nyata. Bukan tol.
***
Malam gue pulang ke rumah Mama-Papa, bukan apartemen lama. Jalan familiar, pagar, anjing tetangga. Koper di foyer. Mas Rillo antar sampai pagar, tidak masuk, izin ke Papa lewat pesan yang kaku dan sopan, ketik dua kali, hapus, kirim. Papa membalas: besok siang, kopi, jangan bawa bunga berlebihan, jangan pidato. Mama menangis di dapur karena gue gemuk, karena gue kurus, karena gue pulang, karena gue tidak bawa souvenir pernikahan, karena gue bawa laki-laki sampai pagar dan membiarkannya pulang.
“Besok kenalan beneran,” kata Mama, menyeka mata. “Pelan. Papa nggak marah. Papa cuma mau lihat kamu makan.”
“Iya, Ma. Nasi. Bukan paket.”
Di kamar, gaun pengantin masih di lemari Mbak Nares yang dulu kosong, sekarang gue buka sebentar, lihat, tutup. Nanti. Suatu saat. Bukan untuk lari, bukan untuk dijual marah. Untuk dilihat tanpa dada penuh. Belum sepenuhnya. Cukup untuk ditutup dengan tenang. Tas kerja masih di sudut, menunggu kantor. Hidup menumpuk, tidak meledak.
Ponsel. Pesan Mas Rillo: “Udah makan? Saya di rumah. Ina ngejek. Saya tahan.”
Gue membalas: “Udah. Nasi. Jangan tahan Ina, kalahin pelan.”
Lalu gue ketik satu lagi, sebelum tidur, sebelum kepala ngebut: “Mas. Ini bukan jalan tol. Kalau macet, jangan turun diam-diam. Omong.”
Balasannya cepat. “Siap. Kalau kamu juga. Selamat malam, Git. Besok saya nanya lagi udah makan. Itu janji, bukan tagihan.”
Gue miring ke dinding. Gelap. AC. Tidak ada layar yang harus ditutup pelan-pelan. Orang itu di kota yang sama. Pertanyaan sudah dijawab. Bayi sudah lahir. Tiket sudah dipakai. Cincin lama bukan di saku siapa-siapa yang berperang. Yang ada cuma kelingking konyol di ruang tunggu, dan aturan untuk nengok.
Gue tidak bersembunyi. Gue juga tidak ngebut. Gue tidur sebelum menjadwalkan gedung, sebelum takut jenuh jadi alasan mundur, sebelum dua kalender lama jadi satu dusta. Cukup. Nyata. Aus. Bukan berhenti. Jalan masih panjang, berliku, dan untuk pertama kalinya gue tidak minta yang lurus. Besok kopi dengan Papa. Besok nasi dengan Mama. Besok nanya sudah makan. Janji, bukan tagihan. Syukur. Tidur.