Tidur, katanya. Tubuh sudah miring ke dinding. Gelap sopan. AC rumah Mama yang suaranya beda dari AC Osaka. Tapi pesan malam itu belum turun dari layar: janji, bukan tagihan. Besok kopi dengan Papa. Besok nasi. Besok nanya sudah makan.
Ponsel terbalik di nakas. Kalau Mas Rillo subuh, getar. Kalau grup Bagas, biar. Kalau Kavin, gue tidak perlu buka untuk mencari perang. Perang sudah selesai di lobi apotek. Gue kapok ngebut. Gue juga gatal ingin balas “selamat malam” dua kali. Dua-duanya duduk di dada yang sama.
Dari bawah, kulkas berdetak. Anjing tetangga sekali. Mama tidak naik. Itu hadiah: gelap tanpa sidang, tanpa katalog, tanpa gaun yang gue buka sebentar tadi. Gue menekan ibu jari ke bantal. Search “gedung”. Search “paket”. Search “Kavin Mayang”. Tiga niat. Tiga yang tidak gue izinkan jadi jari. Gue memejam. Mimpi tidak lurus, syukur. Hanya gelap, lalu jam yang pelan-pelan mendekati subuh tanpa gue minta. Anjing sekali lagi. Kulkas. Janji kopi. Janji nasi. Janji nanya sudah makan. Bukan tagihan. Gue hitung napas, bukan sebagai tiket, sebagai orang yang sudah sampai rumah dan masih harus tidur. Cukup. Nyata. Aus. Bukan berhenti.
***
Tubuh bangun sebelum azan selesai, kebiasaan orang yang takut kesiangan setelah enam bulan oven pagi. Bukan lompatan. Hanya malam yang habis. Mandi. Air di bahu tidak mencuci tiket. Sepatu rumah. Wajah yang perlu ditunjukkan ke Mama: perut. Ke Papa: tidak lari.
Dapur sudah hidup. Mama nasi, lauk yang berlebih, teh yang terlalu manis seperti dulu setiap gue pulang. Papa koran, kacamata, belum kopi tamu. Anjing tetangga lagi. Rumah yang hafal, bukan apartemen Osaka, bukan kapsul.
“Balas?” tanya Mama, seolah gue masih kecil dan semalam chat itu urusannya.
“Udah, Ma. Nasi. Jangan tahan Ina, kalahin pelan. Itu ke Mas Rillo, bukan ke Mama.”
“Mama tau. Mama baca muka, bukan chat.” Mama menaruh piring tambahan. “Makan. Mama tidak tanya gedung. Mama tanya perut. Kalau piring kosong, Mama kira kamu sudah packing lagi ke Osaka. Mama capek packing. Mama mau kamu di kursi ini.”
Gue menyuap. Hangat. Bukan roti gosong. Bukan mie pesawat. Papa menoleh pelan, koran turun. “Siang dia datang. Kopi. Jangan pidato. Papa nggak minta CV. Papa minta kamu ada di meja, makan, jangan kabur ke kamar pas omong mulai. Papa juga minta dia nggak bawa bunga berlebihan. Roti boleh. Pidato jangan.”
“Siap, Pa.”
“Kantor bisa besok. Hari ini rumah. Bayi Nat sudah. Kamu sudah. Jangan ngebut jadi menantu orang sebelum jadi anak yang pulang. Papa dulu ngebutin Mbak Nares. Lulus, tapi Papa nggak mau ngebutin kamu dengan cara yang sama.”
Gue mengangguk tiga arah. Nasi. Telur. Acar. Hidup yang tidak butuh rundown. Gue iri sebentar pada diri sendiri yang kemarin di pesawat, lalu menyuap lagi sebelum iri jadi alasan buka chat Kavin, sebelum iri jadi alasan buka katalog.
Pagi gue bantu Mama, talenan aus, pisau, wortel, bawang, bukan loyang, bukan cheesecake. Plester cadangan tidak terpakai. Bawang, alasan sah air mata. Mama tidak tertipu, tidak mengungkit Kavin, tidak mengungkit gaun, tidak mengungkit Saka sebagai altar. “Mama senang kamu di talenan, bukan di katalog. Mama juga senang kamu makan. Dua senang, satu pagi. Jangan toko. Jangan nama. Mama minta kamu di sini sampai siang. Kalau kamu ke kamar, Mama kira kamu packing.”
“Saya di sini, Ma. Koper di foyer. Gaun ditutup. Tas kerja nunggu besok. Saya nggak packing.”
Papa koran, sekali-sekali batuk. Tidak telepon siapa-siapa. Syukur. Rumah berlapis: nasi, koran, anjing, janji kopi, talenan, air mata bawang yang tidak novel. Gue kupas pelan, jari diam, niat diam. Hadiah Mama tidak gue rusak hanya karena siang belum datang.
***
Jam sembilan Mas Rillo: “Udah makan?”
Gue ketik di dapur, bukan di kamar yang bisa jadi novel: “Udah. Nasi Mama. Jangan pidato siang. Papa bilang kopi, bukan CV. Mama timbang perut.”
“Siap. Bunga?”
“Jangan. Papa larang berlebihan.”
“Roti?”
“Boleh. Yang nggak gosong. Mama yang oven. Kalau gosong, Mama nggak lulusin.”
“Saya beli yang bentuknya masih manusia.”
Inara nyusul di grup berdua: “Mas gue udah disetrika. Lo jangan injek. Papa lo jangan galak. Gue doain nasi. Aldo doain jangan pidato.”
“Nasi. Bukan paket. Bukan pidato. Kopi.”
Gue cuci piring, keringin tangan, tidak buka katalog, tidak buka foto dua gelas kopi. Jari diam. Niat diam. Hadiah Mama tidak gue rusak. Siang belum. Nasi sudah. Cukup.
Zenata kirim foto bayi, caption makian sayang. Fikar: “Dateng lagi. Nat nuntut. Jangan bawa Rillo masuk kamar, dia malu.” Gue ketawa di wastafel. Hidup ramai. Tidak lurus.
Menjelang siang gue ganti baju rumah yang rapi, bukan kebaya sage, bukan celemek, bukan gaun lemari. Cuci muka dua kali. Mama dari belakang, “Jangan ngebut rias. Kopi, bukan akad.” Papa cek cangkir, gula, sendok. Gue duduk di tangga foyer, jantung naik, bukan tiket. Chat: “Lima menit. Macet. Saya omong.” Gue balas: “Kopi nunggu. Papa nunggu. Jangan pidato di mobil.”
Gue tidak buka katalog. Gue tidak buka foto Kavin. Gue tidak buka grup yang isinya Saka sebagai alasan ngebut. Gue hitung napas seperti napas bisa jadi tiket, lalu menahan, seolah menahan bisa jadi kemenangan. Bukan. Kopi butuh meja, bukan stasiun. Anjing tetangga. Bel belum. Jam dua belas kurang lima belas. Mama, “Duduk di dalam. Jangan di tangga kayak orang ngarep ojek. Papa sudah cangkir. Kamu sudah nasi. Tinggal orangnya yang macet dan omong.”
Gue masuk, duduk di sofa, tangan di lutut, muka foyer yang dirapikan. Papa menoleh, “Nggak usah takut. Papa nggak usir. Papa dengar. Kamu dengar. Cukup.” Gue mengangguk. Jantung masih kencang. Syukur masih kencang, bukan karena altar, karena orang yang telat dua menit dan omong. Siang. Kopi. Nyata. Bukan lari. Bukan packing. Bukan gedung. Bel. Napas. Buka. Cukup.