Bel berbunyi jam dua belas kurang sepuluh. Papa sudah di ruang tamu, dua cangkir, gula terpisah, kue lapis yang nyaris tidak disentuh siapa pun dulu di rumah Kavin—sekarang disentuh, karena ini bukan sidang putus. Mama di dapur, tidak sembunyi, tidak menyerbu, telinga nyala. Gue buka pagar, napas, muka foyer.
Mas Rillo berdiri dengan kemeja yang tidak terlalu resmi, roti di kertas, tangan kosong dari bunga. Ia menggaruk kepala yang gue yakin tidak gatal. “Saya telat dua menit. Macet. Saya omong, bukan turun diam-diam. Maaf, Pak, Bu.”
“Masuk. Kopi. Bukan pidato,” sahut Papa dari dalam, sudah dengar.
Ia menunduk ke Mama dulu, ke Papa, sebut nama lengkapnya pelan: Rillo Syauqi Ahmad, kakaknya Inara, auditor, tidak bawa CV, bawa roti. Papa mengangguk, persilakan duduk. Mama ambil roti, timbang di tangan, “Nggak gosong. Lulus oven. Duduk. Jangan berdiri di pagar kayak salesman.”
Kopi mengepul. Kue lapis. Gue duduk sebelah Papa, bukan sebelah dia, biar meja jadi tengah yang adil. Jantung gue masih kencang, bukan tiket, kopi.
“Saya nggak minta pidato,” buka Papa. “Saya minta dengar. Anak saya baru pulang dari ambil jarak. Empat tahun sebelumnya dia hampir nikah. Papa nggak marah ke kamu. Papa marah kalau ada yang ngebut lagi. Papa juga marah kalau ada yang diem di stasiun.”
“Saya nggak ngebut, Pak. Tahun ini saya ajak makan. Bukan gedung. Kalau macet, saya omong. Saya udah janji ke Git, janji ke diri sendiri. Saya pernah beli cincin. Saya nggak bawa. Saya nggak ambil dari laci adik saya. Saya belajar dari diem.”
Papa menyeruput, lama. “Kantor kamu Yogya, Jakarta, cuti, pesawat. Kamu bisa nunggu. Pertanyaan Papa: kamu bisa nengok, atau cuma bisa nunggu dari jauh? Nunggu itu gampang dipuji. Nengok itu kerja.”
Mas Rillo diam pas, lalu jawab tanpa merapikan dasi—dia tidak pakai dasi. “Saya pernah jauh. Saya nelpon tiap hari. Sekarang saya di kota yang sama. Saya masih bisa salah prioritas. Kalau saya salah, saya mau dikasih tau, bukan ditagih diam-diam. Saya takut jenuh, Pak. Makanya saya nanya udah makan. Bukan makanan. Biar saya nggak lupa orang di mobil. Kalau Git lapar di warung karena saya molor, saya dateng. Bukan cuma chat maaf.”
Mama dari pintu dapur, serbet di bahu. “Bagus. Jangan cincin tahun ini. Gelang sudah. Cukup. Mama capek altar. Mama tidak capek nasi.”
Gue hampir tertawa. Papa hampir. Mas Rillo mengangguk. “Nggak ada cincin. Ada aturan. Omong. Makan.”
Mereka ngomong kerja, audit, kantor keluarga yang Papa mau gue masuki besok, bukan sebagai pelarian, sebagai anak yang pulang. Papa tanya jam, tanya atasan, tanya apakah cuti Osaka sudah beres. Jawaban pelan, tidak CV. Tidak ada list undangan. Tidak ada Rendi. Tidak ada Ibu Kavin. Teh kedua. Roti habis. Satu jam lebih. Burung di luar. Anjing. Hidup.
Papa berdiri, jabat tangan, mantap bukan tantangan. “Siang ini cukup. Besok kamu kerja, Git. Dia jemput atau nggak, urusan kalian. Jangan stasiun. Jangan IGD yang salah. Kalau macet, omong. Papa dengar Jumat nanti dari muka kamu, bukan dari rumor.”
“Siap, Pa.” Gue mengangguk. Mas Rillo mengangguk. Kopi bukan pidato. Lulus duduk.
Di pagar, Mama selipin tupperware. “Buat malam. Jangan telat makan, dua-duanya. Roti lulus. Kamu juga lulus duduk. Jangan pidato di mobil.” Mas Rillo terima, kikuk, menunduk lagi. Gue anter sampai mobil. Tidak cium. Tidak kartu. Tidak bunga.
“Udah makan?” tanyanya, otomatis, lalu ketawa. “Baru. Kopi. Kue. Roti. Nasi siang nanti.”
“Bareng?”
“Besok malam. Hari ini Mama. Aturan Papa: hari ini rumah. Jangan ngebut.”
Ia mengangguk, tidak maksa. Tikungan kecil yang tidak ditabrak. “Saya omong kalau macet. Selamat siang, Git. Terima kasih kopinya.” Gue balik ke dapur, cuci cangkir, dada penuh bukan sesak. Kopi bukan pidato. Lulus. Bukan lulus kawin. Lulus duduk. Mama dari wastafel, “Muka utuh. Sore boleh ke Nat. Kasur malam. Jangan altar.” “Siap, Ma.” Cukup. Nyata.
***
Sore gue ke rumah sakit lagi, sendirian, tas kecil, ojek, panas. Zenata menyusui gagap, Fikar tidur di kursi dengan mulut terbuka. “Kopi lo gimana?” tanya Nat, serak, manusia.
“Nggak pidato. Roti lulus. Tahun ini makan. Tahun depan omong. Papa dengar. Mama larang cincin.”
“Bagus. Jangan kayak gue, nikah karena perut.” Ia menatap bayi. “Tapi gue seneng. Lo dateng. Utang nama lunas. Namanya Saka. Pendek. Biar lo nggak iri. Jangan namain anak lo Saka nanti, gue cabut utang.”
Gue pegang Saka sebentar. Ringan. Takut. Senang. Bukan gentong. Bukan paket. Inara datang belakangan, galak, lalu peluk sampai tas nyenggol infus kosong. “Papa lo nggak usir Mas gue?”
“Nggak. Mama larang cincin. Papa minta nengok, bukan nunggu dari jauh.”
“Mama lo pinter. Papa lo juga. Gue cabut ancaman gelang.” Inara duduk, usap Saka. “Besok kenalan Ibu. Pelan. Bukan sidang. Teh. Jangan pidato. Aldo udah diem di sofa sebagai orang rumah. Lo jangan kabur.”
Bagas kirim stiker, Khalil stroller, Alan foto yang tidak boleh. Hidup ramai. Gue pulang malam, nasi Mama, tupperware yang kemarin belum berangkat. Chat: “Udah makan. Tupperware Mama. Besok kantor. Jemput jangan, saya belajar jalan sendiri dulu. Malam boleh. Aturan Papa.”
“Siap. Saya nanya malam. Janji, bukan tagihan. Selamat malam, Git. Tidur. Jangan ngebut.”
Gue miring ke dinding. Gelap. AC rumah. Gaun tetap tertutup. Tas kerja di sudut, menunggu Senin. Tidak packing. Tidak ngebut. Tidak buka katalog. Gue tidur sebelum kopi jadi novel, sebelum Saka jadi alasan altar, sebelum dua kalender lama jadi satu dusta. Cukup. Nyata. Aus. Bukan berhenti. Siang lunas duduk. Sore lunas bayi. Malam lunas nasi. Dada belum sombong. Ponsel terbalik. Aturan malam sama. Grup Bagas biar. Kavin tidak perlu. Mas Rillo sudah selamat malam. Gaun tertutup. Tas di sudut. Anjing. Kulkas. Mama dari bawah, puas pada cucu—anak—yang tidak ngebut. Gue hitung: bel, kopi, roti lulus, Saka, teh besok. Berat. Pelampung. Kalender tidak dusta. Syukur. Tidur.