Senin. Bukan lompatan. Hanya malam yang habis. Mandi. Air di bahu tidak mencuci kopi kemarin. Sepatu datar. Nasi. Mama sudah di dapur, radar. “Makan. Kantor jangan jadi lari. Jangan packing file di kepala sampai perut kosong.” Papa koran, “File. Muka boleh lelah. Angka jangan. Kasur. Kerja. Jangan kabur. Jangan stasiun. Papa di lantai yang sama, bukan di samping mejamu seharian.”
Hari ini gue naik ojek, belajar sendiri, tas kerja yang semalam di sudut. Sopir ojek tidak dengar kopi. Cukup. Jakarta panas, bukan salju, bukan lonceng toko kue.
Lobby kantor keluarga, satpam yang hafal muka bungsu, “Selamat datang kembali, Nona.” Lift. Lantai yang sama, meja yang dulu gue datangi cuma titip tanda tangan. Sekarang Papa taruh gue di administrasi, bukan pewaris, bukan cuti, bukan menantu. Rekan lama menatap, yogurt, plot. “Pulang? Jepang? Tunangan? Pewaris?” Gue letakkan tas lebih keras dari yang perlu. “Pulang. Kerja. Makan. Deadline. Jangan tunangan. Jangan Jepang jadi serial.”
Jam sembilan file. Kepala kurang. Kopi pahit pantry, sadar, bukan enak. Setiap kali ingin mengetik Mas Rillo “jemput”, gue ketik rumus. Setiap kali ingin search Kavin, gue cek tanggal dua kali. Jam sepuluh chat: “Udah makan?” Gue di pantry, lima suap nasi kotak Mama. Enam. “Udah. Jangan telepon. File.” Ia, “Siap. Audit. Malam. Saya nggak jemput. Aturan kemarin.” Lunas sebagian.
Siang file hampir beres. Papa dari jauh mengangguk. Rekan tanya Jepang lagi, gue ulang, “Pulang. Kerja. Makan.” Bukan serial. Setiap ingin search Mayang, gue cek kolom dua kali. Setiap ingin ketik jemput, gue ketik rumus. Lunas sebagian.
Sore Papa lewat partisi, angguk, “Muka utuh. Pulang wajar. Jangan lembur hari pertama. Jangan muka liburan. Angka. Besok sama. Kasur.” Gue turun, panas, lobby, satpam, tidak ada yang jemput di pintu. Gue naik ojek, nengok ke samping: kosong, dan itu tidak menyakitkan. Malam boleh. Siang milik angka. Bukan IGD. Bukan stasiun. Chat: “Pulang wajar. Nasi. Malam teh Ina. Jangan jemput kantor.” “Siap. Audit sampai jam enam. Saya di rumah Ina. Bukan pidato.” Cukup. Nyata.
Rumah, cuci tangan, Mama tanya perut, piring. Nasi. “Makan. Mama tidak tanya file. Mama tanya perut. Kalau piring kosong, Mama kira kamu packing ke kantor sampai malam.” Gue suap. Hangat. Chat Inara: “Malam ke rumah gue. Ibu bikin teh. Bukan sidang. Mas gue disuruh diem kalau mau pidato. Lo jangan injek. Lo jangan kabur ke kamar. Aldo sudah charger.” Gue, “Nasi dulu. Datang. Pelan. Bukan paket. Bukan pidato.” Papa, “Pulang wajar. Teh boleh. Pidato jangan. Kasur. Jangan stasiun.” Gue ganti baju, muka foyer, jantung naik, bukan tiket. Tas kecil, kue tidak, izin Mama. Teh. Teh butuh kursi, bukan altar. Ojek. Panas. Pagar Inara yang hafal. Napas. Bel. Jantung. Bukan tiket. Cukup. Nyata. Bukan altar. Bukan stasiun. Masuk. Teh.
***
Malam rumah Inara, ojek, pagar yang hafal. Ibu—Ibu Inara, Ibu Mas Rillo, tanpa nama baru—teh, kue, senyum yang dulu gue lihat di Yogya sepintas waktu ibu itu memeluk si sulung. Bapak di kursi, koran, mengukur, tidak galak, tidak pidato. Aldo sudah di sofa, izin sebagai orang rumah, charger. Mas Rillo berdiri terlalu lama, lalu duduk waktu Ibu mengetuk meja.
“Egita. Pulang. Bagus. Rillo cerita Osaka, roti gosong, cuti, salju, Tasyi. Ibu nggak minta gedung. Ibu minta kamu makan di sini kadang, biar muka kamu bukan cuma di hape anak Ibu. Ibu juga minta kamu nggak jadi pelarian. Rillo pernah ditinggal. Ibu nggak mau dia diem lagi, Ibu juga nggak mau kamu dipakai nunggu.”
“Iya, Bu. Pelan. Tahun ini makan. Bukan cincin. Saya jawab di Osaka, bukan karena kesepian. Karena orangnya.”
Bapak menurunkan koran. “Rillo pernah diem. Jangan kamu ikutan diem. Omong. Kalau macet, omong. Kalau jenuh, omong. Kantor dia kadang jauh. Jangan stasiun sendirian. Jangan IGD yang salah. Kalau dia salah prioritas, cabut telinga, jangan cabut orang.”
“Siap, Pak.” Gue menyeruput teh. Pahit pas. Kue manis. Inara galak pelan, “Lo berdua jangan bikin gue jadi WO. Gue capek paket Nat. Gue capek gelang. Gue seneng. Jangan nikah bulan depan.” Aldo angguk, “Hi. Makan.” Tidak ada list. Tidak ada foto prewed. Satu jam. Tasyi tidak di sini, layar sempat nyala, Om Iyoo, Tante Git, jepit. Ibu selipin kue ke tas gue.
Di pagar, Mas Rillo anter gue ke ojek, tidak maksa mobil. “Udah makan?” “Udah. Teh. Kue. Nasi rumah nanti.” “Saya nganter sampai rumah.” “Papa larang ngebut. Ojek. Mas pulang, audit. Besok file.” Ia mengangguk, cium punggung tangan, kikuk, izin. Gue di ojek, angin panas, chat Mama: “Pulang. Udah teh. Nasi sebentar.” Mama: “Makan. Jangan pidato di jalan.”
Kamar. Gaun tertutup. Tas kerja di kursi. Diary di kepala, bukan kertas: Senin. Kantor. Teh Ibu. Bukan pidato. Dua keluarga, satu aturan. Omong. Jangan stasiun. Kavin tidak chat. Foto Saka di grup, laci hati, tidak altar. Mama ambang, “Jari?” “Diam, Ma. Chat malam. Udah makan.” “Bagus. Tidur. Jangan ngebut. Kantor besok. Kasur.” Pintu. Gue miring. Tidur sebelum teh jadi tunangan, sebelum kantor jadi lari, sebelum kue Ibu jadi altar. Cukup. Kasur. Aus. Bukan berhenti. Senin lunas angka dan teh. Dada belum sombong. Ponsel terbalik. File sudah ditutup. Ojek sudah pulang. Ibu sudah selipin kue. Bapak sudah bilang cabut telinga, jangan cabut orang. Inara sudah cabut ancaman gelang. Aldo sudah hi. Mas Rillo sudah izin di pagar. Mama sudah tanya jari. Papa sudah kasur. Gue tidak packing. Gue tidak ngebut. Gue tidak minta jalan tol. Gue ulang: angka, ojek, teh, kue, izin pagar, janji malam. Berat. Pelampung. Kalender tidak dusta. Syukur. Tidur. Nyata. Cukup. Aus. Bukan berhenti. Senin sudah. Selasa menunggu. Kasur. Pulang. Cukup. Nyata. Aus. Bukan berhenti. Syukur. Tidur. Hidup. Kasur. Nyata. Cukup.