Senin. Bukan lompatan. Hanya malam yang habis. Mandi. Air di bahu tidak mencuci nasi Minggu. Sepatu datar. Nasi. Dapur hidup. Mama radar. “Makan. Kantor jangan jadi lari. Jangan packing file di kepala sampai perut kosong. Mama cabut wifi kalau jari gatal stasiun. Mama cabut katalog kalau rekanmu bawa undangan.” Papa koran, “File. Muka boleh lelah. Angka jangan. Kasur. Kerja. Jangan kabur. Jangan stasiun. Jangan muka liburan. Papa di lantai yang sama. Jangan jadi orang yang buka katalog di pantry.”
“Siap, Pa. Siap, Ma.” Gue suap, telur, acar. Ojek. Panas. Bukan salju. Bukan lonceng toko kue. Lobby, satpam yang hafal muka bungsu, “Selamat pagi, Nona.” Lift penuh, tawa Senin, angka lantai. Meja administrasi, bukan pewaris, bukan cuti, bukan menantu.
Rekan sudah siap yogurt dan plot. “Senin, serial? Bayi pulang, kopi Papa, dua rumah, mall?” Di mejanya ada amplop undangan orang lain—bukan undangan gue, undangan rekan satu lantai yang menikah bulan depan. Kertas mengilap. Nama orang yang tidak gue kenal. Emas muda. Itu cukup untuk membuat jari gue gatal.
Gue letakkan tas lebih keras dari yang perlu. Kertas mengilap itu bukan milik gue, tapi dada gue tetap naik seolah nama di dalamnya bisa berubah jadi Egita. Tidak. Nama orang lain. Emas muda. Font yang dulu gue hampir pilih. Gue dorong amplop dengan punggung jari, bukan dengan marah yang bisa jadi novel.
“Kerja. Makan. Deadline. Jangan serial. Jangan pewaris. Jangan amplop itu ditaruh di meja gue. Bukan karena saya marah ke orang itu. Karena meja ini angka, bukan etalase.”
“Bukan buat lo. Cuma numpang. Lo pucat. Serius, nggak dibuka? Cuma undangan. Orang nikah. Biasa.”
“Saya nggak pucat. Saya nggak buka. Saya angka. Orang nikah biasa. Saya buka sekarang, kepala saya jadi rundown. Aturan: jangan.” Amplop kembali. Jari diam. Kepala diam. Kantor tidak boleh jadi katalog kedua. Permen di laci tetap keras. Itu cukup. Bukan cincin.
Jam sembilan file. Kepala kurang, bukan kosong. Kopi pantry pahit, sadar, bukan enak. Setiap ingin ketik jemput, gue ketik rumus. Setiap ingin search Kavin, gue cek tanggal dua kali. Setiap ingin buka foto amplop, gue tutup laci meja. Laci meja tidak berisi cincin. Laci meja berisi pulpen, karet, dan satu permen yang sudah keras. Itu cukup.
Jam sepuluh: “Udah makan?” Gue di pantry, lima suap nasi kotak Mama, bukan yogurt rekan. Amplop undangan masih di meja orang itu, bukan di meja gue. Rekan, “Satu lagi. Bos kira sakit, aku kira lo lagi nahan katalog.” Enam. Kompromi. “Udah. Jangan telepon. File. Jangan serial amplop.” “Siap. Audit. Malam. Saya nggak jemput. Aturan. Saya molor, saya omong.” Lunas sebagian. Papa dari jauh angguk, tidak datang ke pantry, tidak pidato.
Siang file hampir beres. Rekan gagal serial. Gue kembali ke kolom sampai jam dinding terasa perintah Papa: kantor, bukan search, bukan chat, bukan amplop. Papa lewat partisi, “Muka utuh. Jangan lembur hari ini. Jangan muka liburan. Angka. Pulang wajar. Papa dengar ada undangan orang. Bukan undanganmu. Jangan jadi undanganmu di kepala.”
“Siap, Pa. Saya nggak buka. Saya angka.”
“Bagus. Pulang wajar. Kasur. Jangan ngebut jadi istri di meja administrasi.”
Sore lobby, tidak ada yang jemput di pintu. Ojek. Nengok samping: kosong, dan itu tidak menyakitkan. Malam boleh. Siang milik angka. Rumah, cuci tangan, Mama perut, piring. “Makan. Mama tidak tanya file. Mama tanya perut. Kalau piring kosong, Mama kira kamu packing ke kantor sampai malam, atau ke mall karena lihat undangan orang.”
“Saya nggak ke mall. Saya nggak buka amplop. Nasi.”
Papa, “Pulang wajar. Kasur. Besok sama. Jangan ngebut jadi orang yang kalah sama kertas mengilap.” Chat Inara: “Nat pulang besok. Rumah. Bukan pesta. Lo berdua buah. Jangan WO. Jangan injek. Mas gue molor, dia omong ke gue dulu, bagus.” Gue: “Besok RS lalu rumah Nat. Angka sampai pulang. Pelan. Bukan paket. Bukan katalog.” Mas Rillo: “Udah makan? Saya molor sedikit, omong sekarang. Nyusul warung jam tujuh kalau kamu mau. Kalau nggak, rumah, izin Mama, tiga puluh menit, bukan pidato. Amplop orang bukan urusan kita.”
Gue ketik di dapur: “Warung. Saya makan dulu jam setengah tujuh. Kamu nyusul. Aturan. Bukan stasiun. Bukan lapar jadi korban. Bukan katalog.” “Siap. Makasih nggak diem.” Mama, “Pergi. Makan. Jangan nunggu kosong. Jangan bawa muka undangan ke warung.” “Siap, Ma.” Foyer. Jantung naik, bukan tiket. Warung. Neon. Nasi. Aturan.
***
Warung neon, meja dua, es teh tumpah sedikit di tepi, kipas, motor. Gue pesan nasi goreng, telur, makan, bukan korban. Jam setengah tujuh lewat. Ia datang dasi longgar, muka lelah, maaf di mulut sebelum duduk. Duduk. Pesan. “Maaf. File. Saya omong. Saya nggak turun diam-diam. Saya nggak nyuruh kamu nunggu lapar. Kamu makan. Bagus. Ina cerita amplop. Bukan milik kita.”
“Bagus. Nasi saya hampir habis. Pesan. Kita nengok. Amplop orang di kantor. Saya nggak buka. Saya nggak search gedung. Saya ke sini. Dulu peron. Sekarang warung. Beda. Saya mau yang ini.”
Ia makan, cerita molor tanpa menuduh klien, tanpa menuduh gue, tanpa menuduh Inara, tanpa menuduh Papa. File berat, audit yang belum selesai, besok ada kemungkinan satu malam di luar kota. Ia bilang sekarang, bukan besok subuh, bukan di stasiun. “Belum pasti. Kalau jadi, saya omong siang. Saya nggak packing diam-diam. Saya nggak nyuruh kamu ke peron. Video. Makan. Aturan.”
Gue nengok. Bukan peron. Bukan IGD. Bukan lobi apotek. Warung. Nasi goreng. Dasi longgar. “Kalau jadi, omong. Saya nggak ke stasiun. Saya nasi Mama. Saya nanya udah makan. Mas nanya saya masih di rumah atau nggak. Tahun ini makan. Termasuk Senin yang ada amplop orang. Omong. Jangan stasiun. Jangan IGD. Jangan packing di kepala sampai perut kosong.”
“Siap. Saya takut jenuh versi katalog. Makanya saya ke sini. Maaf chat gampang. Dateng basah lebih susah. Saya pilih yang susah. Saya bukan Kavin versi audit. Saya molor, saya omong, saya dateng. Kalau nggak bisa, saya nggak nyuruh nunggu.”
Kelingking konyol, neon, abang warung tidak peduli. Ia menyambut. Bukan cincin. Bukan paket. Bukan list undangan. Bayar, belah, keluar, panas malam. Ia antar ojek sampai pagar, tidak masuk rumah, izin Mama lewat gue. “Selamat malam. Udah makan, iya. Janji, bukan tagihan. Besok angka. Kalau luar kota jadi, omong. Siapa di mobil: saya. Besok mungkin bukan mobil, kereta. Saya tetap omong.”
Rumah, Mama buka pintu, perut dulu. “Kenapa telat?” “Audit. Saya makan dulu. Dia nyusul. Omong. Nasi goreng. Bukan stasiun. Besok Nat pulang. Dia mungkin satu malam luar kota. Omong dulu, belum packing.” Mama angguk, piring sisa, “Bagus. Bukan stasiun. Makan lagi sedikit. Bayi pulang, kamu tetap pulang ke sini.” Papa koran, “Kasur. Angka besok. Papa dengar muka. Utuh. Papa dengar luar kota. Papa tidak dengar diam-diam.” Gue cuci muka, gaun tertutup, diary kepala: Senin. Angka. Amplop orang. Warung. Omong. Nat pulang. Foto Saka. Pesan sudah. Gue miring. Tidur sebelum warung jadi altar, sebelum file jadi lari, sebelum amplop orang jadi katalog gue, sebelum dua kalender jadi dusta. Cukup. Nyata. Aus. Bukan berhenti. Senin lunas angka dan nasi. Dada belum sombong. Anjing. Kulkas. Syukur. Tidur. Kasur. Pulang.