Selasa. Bukan lompatan. Hanya malam yang habis. Mandi. Air di bahu tidak mencuci neon Senin. Sepatu datar. Dapur sudah hidup. Mama nasi, teh, radar. “Balas?” “Tidak ngebut.” “Search?” “Tidak.” “Packing?” “Tidak.” “Amplop?” “Bukan milik saya.” “Bagus. Angka pagi. Sore bayi pulang. Buah. Bukan pesta. Mama jaga mata. Kau jaga kolom, lalu jaga kain, lalu pulang ke sini. Jangan ngebut jadi bibi sampai lupa anak yang pulang. Mama cabut wifi kalau jari gatal WO. Mama cabut katalog kalau jari gatal altar.”
Papa koran, kacamata, tidak menoleh dulu. “File pagi. Pulang wajar. Rumah sakit, rumah Nat, rumah ini. Tiga rumah. Bukan altar. Kasur. Kerja. Jangan kabur. Jangan muka liburan. Jangan muka pesta. Papa capek orang yang pulang bayi lalu langsung buka gedung. Papa tidak capek hidup.”
“Siap, Pa. Siap, Ma.” Gue suap, telur, acar. Hangat. Bukan roti gosong. Ojek. Panas. Bukan salju. Lobby, satpam, “Selamat pagi, Nona.” Lift. Rekan plot, yogurt, “Serial? Bayi pulang, luar kota, amplop?” “Tidak. Deadline. Sore saya izin. Bukan pesta. Jangan undangan di meja gue.” File. Kopi pahit, sadar, bukan enak. Setiap ingin ketik jemput, gue ketik rumus. Setiap ingin search Kavin, gue cek tanggal dua kali. Setiap ingin buka katalog, gue tutup laci. Jam sepuluh: “Udah makan?” Pantry lima suap nasi kotak Mama, enam. Rekan, “Satu lagi. Bos kira sakit.” “Udah. File. Sore Nat pulang. Buah. Bukan paket. Jangan telepon.” “Siap. Saya izin. Saya datang. Luar kota belum jadi. Kalau jadi, saya omong siang. Saya nggak diam.” Papa angguk dari jauh, tidak pidato. Siang file. Kolom. Tanggal. Nama klien yang bukan nama orang di grup. Papa lewat partisi, “Muka utuh. Pulang wajar. Jangan ngebut file. Jangan muka pesta bayi. Angka. Kasur.”
Sore ojek, samping kosong, dan itu tidak menyakitkan. Rumah dulu, cuci tangan, Mama perut, piring. “Makan. Baru pergi. Mama tidak tanya pesta. Mama tanya perut. Kalau piring kosong, Mama kira kamu packing ke rumah sakit sampai malam.” Nasi. Cepat, bukan ngebut. Tas buah. Izin Papa dari koran. “Pergi. Pulang. Jangan stasiun. Jangan altar.” Cukup. Nyata. Bukan lari.
***
Rumah sakit sore, koridor yang hafal, TV bisu, kopi sachet terakhir, kursi plastik yang sudah aus di pantat gue. Nat sudah duduk, muka manusia, Saka di gendongan Fikar yang masih bodoh bahagia, kain yang bukan rundown. Orangtua Nat mengurus kertas pulang, tanda tangan, stempel, tas. Bukan rundown WO. Bukan list undangan. Kursi sama. Bergiliran. Gue ganti kain terakhir, buang sampah, isi botol, cuci tangan dua kali, bukan packing.
Bagas, “Plot selesai. Bayi pulang. Gue nganggur. Serial ditutup.” Gue, “Nasi. Jangan buka serial baru di lobi.” Khalil lempar tisu. Alan rekam tiga detik, dihentikan Windy. Marsya plastik. Inara, “Nyariin siapa?” “Udah di sini.” “Bagus. Jangan bohong. Jangan ngebut jadi bibi sampai lupa perut. Rumah Nat kecil. Jangan bawa pidato. Jangan bawa muka katalog.”
Mas Rillo datang, izin orangtua Nat dulu, buah di tas, duduk di ambang, hormat, hadir, tidak menyerbu ranjang, tidak menyerbu kursi roda, tidak foto. “Udah makan?” bisiknya, bukan pidato. “Udah. Nasi Mama. Roti tas nanti.” Nat, “Lo makan. Gue yang pulang. Saka pendek. Fikar bodoh. Hidup. Jangan WO. Jangan altar. Rumah gue. Bukan gedung lo. Lo berdua boleh nyusul. Jangan ngebut di lift.” Gue makan roti tas. Fikar, “Pulang. Rumah. Gue bahagia. Jangan pidato. Saka pendek. Cukup.” Hidup orang. Lebih baik daripada gedung gue. Lebih baik daripada stasiun.
Kavin tidak di lobi. Gue tidak mencari denyut di parkiran. Satu kali jari hampir buka grup besar, hampir search nama, hampir cari foto dua gelas. Gue tutup. Nengok: jeruk, jari basah, nyata. Berdenyut di situ. Cukup. Nyata. Bukan lari.
Mobil Nat bukan rombongan. Satu, dua, tas, kain, buah, bukan pita. Rumah Nat sore, bukan pesta, lampu biasa, sepatu di teras, anjing tidak ada, TV hidup kecil, sofa yang hafal dari dulu sebelum Saka. Orangtua Nat masak, bukan katering, bukan rundown. Gue bantu talenan yang bukan milik Mama, wortel, bawang, plester tidak terpakai. Bawang, alasan sah air mata. Dapur orang lain. Bau sama. Aturan sama: perut ada isi.
Nat dari ambang kamar, muka manusia, suara pelan, “Jangan nangis di dapur orang. Makan. Saka tidur. Fikar bodoh di lantai. Lo berdua jangan bawa muka altar ke rumah gue. Rumah gue kecil. Cukup buat bayi. Nggak cukup buat WO.”
Inara galak pelan, sendok di tangan, “Lo berdua jangan injek. Jangan pidato. Gelang jangan dikasih balik. Aldo charger di sofa, jangan di ranjang bayi. Gue capek paket. Gue seneng. Dua hal. Jangan nikah bulan depan karena Saka pulang.” Aldo, “Hi. Makan. Gue setuju Ina. Charger gue, sofa. Bukan ranjang.” Bagas dari ruang tamu, “Plot gue habis. Gue makan.” Khalil lempar tisu. Windy tampar Alan sebelum rekam. Marsya plastik di meja. Hidup ramai. Tidak lurus. Tidak altar.
Mas Rillo berdiri terlalu lama dekat kulkas, duduk waktu Inara ketuk meja dua kali. Ia tidak CV. Ia kupas jeruk. Ia isi botol. Ia tidak foto prewed. Ia tidak sebut gedung. “Saya di sini. Buah. Bukan paket. Kalau luar kota jadi, saya omong. Saya nggak packing dari rumah Nat. Saya nggak nyuruh Git nunggu di stasiun.”
“Bagus,” sahut Nat. “Gue capek orang yang nunggu dari jauh. Gue juga capek orang yang ngebut. Lo berdua di tengah. Makan. Saka pendek. Hidup. Fikar, turun dari lantai. Lo ayah, bukan karpet.”
Fikar turun, bodoh bahagia, “Siap. Saka. Pendek. Gue bahagia. Jangan pidato. Jangan WO.” Orangtua Nat angguk dari kompor, tidak sidang, tidak list. Satu jam. Tidak pidato. Burung. TV kecil. Hidup. Gue cuci piring. Dada penuh bukan sesak. Bayi pulang. Bukan altar. Bukan alasan kawin. Dua pulang: Saka ke rumahnya, gue ke rumah Mama. Aturan. Tahun ini makan. Bukan gedung.
Di teras, ojek, tidak cium lama. “Udah makan?” “Udah. Nasi Nat. Jeruk. Rumah nanti sedikit.” “Saya pulang. Audit sisa. Luar kota belum. Kalau jadi, chat siang. Selamat malam. Janji, bukan tagihan. Siapa di mobil: saya.” Chat Mama: “Pulang. Udah nasi. Bayi di rumahnya. Saya ke rumah Mama. Jangan khawatir stasiun.” “Bagus. Kasur. Jangan ngebut. Mama dengar dua pulang. Mama tidak dengar gedung.”
***
Kamar. Gaun tertutup. Tas kerja di kursi. Diary di kepala: Selasa. Angka. Bayi pulang. Rumah kecil. Buah. Bukan pesta. Bukan katalog. Kavin tidak di lobi. Foto Saka di grup, laci hati, tidak altar. Mama ambang, “Jari?” “Diam, Ma. Chat malam. Udah makan. Bukan cincin.” “Bagus. Tidur. Jangan ngebut. Kantor besok. Kasur. Mama puas kamu pulang, bukan packing. Mama dengar rumah Nat. Mama tidak dengar WO.” Pintu. Gue miring. Ponsel terbalik. File ditutup. Gue tidak packing. Gue tidak ngebut. Gue tidak minta jalan tol. Tidur sebelum rumah kecil jadi altar, sebelum Saka jadi alasan, sebelum dua kalender jadi dusta. Cukup. Kasur. Aus. Bukan berhenti. Selasa lunas dua pulang. Dada belum sombong. Anjing. Kulkas. Gelap sopan. Napas. Syukur. Tidur. Nyata. Cukup. Hidup. Pulang.