Suasana di dalam aula itu terasa riuh dan hangat bagi semua orang, kecuali bagi Kirana. Bagi wanita itu, udara di sekelilingnya terasa berat, panas, dan sulit untuk dihirup. Kehadiran Arga mengubah segalanya. Di mana pun dia melangkah, di mana pun dia berpaling, bayangan sosok pria itu selalu ada di sudut matanya, membuat jantungnya berdegup kencang dan pikirannya berantakan.
Dia berusaha sekuat tenaga untuk bersikap biasa saja. Dia tertawa, dia bercerita, dia menyapa teman-teman lamanya dengan senyum yang terlihat cerah. Namun, hatinya sedang berperang hebat. Dia takut menatap ke arah Arga, tapi di saat yang sama, dia sangat ingin melihatnya, ingin memastikan apakah pria itu masih sama seperti yang dia ingat, atau sudah berubah sepenuhnya.
Dan memang, Arga telah berubah. Dulu, Arga adalah pemuda yang ceria, sedikit kasar, dan penuh semangat berapi-api. Kini, pria itu tampak jauh lebih tenang, lebih dewasa, dan memancarkan aura kesuksesan yang sulit dijelaskan. Penampilannya rapi, sorot matanya tajam namun teduh, dan ada kesan kesibukan serta tanggung jawab yang terpahat jelas di wajahnya. Arga terlihat... lebih hebat. Dan kenyataan itu justru membuat d**a Kirana semakin sesak.
"Dia sukses. Dia kelihatan bahagia. Dia pasti udah lupa sama aku," batin Kirana berulang kali, mencoba menyakiti dirinya sendiri agar rasa rindunya hilang. Tapi semakin dia berusaha, semakin dia sadar bahwa rasa itu justru makin besar.
Tiba-tiba, suara pembawa acara memecah keheningan obrolan kelompok mereka. Mereka mengajak semua alumni berkumpul di tengah ruangan untuk bernostalgia, berbagi cerita tentang kehidupan masing-masing setelah lulus. Perlahan, semua orang bergerak mendekat membentuk lingkaran besar. Dan takdir seolah sengaja mengatur posisi, karena saat Kirana menemukan tempat berdiri yang nyaman, dia sadar bahwa Arga berdiri tepat di seberangnya, hanya berjarak beberapa orang saja.
Mata mereka bertemu lagi. Kali ini, tidak ada yang bisa menghindar.
Tatapan Arga begitu dalam, menembus langsung ke dalam hati Kirana. Tidak ada senyum di bibir pria itu, tidak ada sapaan ramah. Hanya tatapan yang sulit diartikan: campuran antara kaget, rasa sakit yang masih tersisa, dan sesuatu yang lain... sesuatu yang terlihat sangat mirip dengan kerinduan. Arga menatapnya lama sekali, seolah ingin menghafal kembali setiap lekuk wajah wanita itu, memastikan bahwa wanita yang berdiri di sana nyata, bukan sekadar bayangan ingatan yang sering datang di mimpinya.
Kirana yang tidak kuat menahan tatapan itu, akhirnya memalingkan wajah dengan jantung berdebar kencang. Dia menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang. Kenapa harus sesulit ini? Kenapa setelah tiga tahun berpisah, satu tatapan saja masih mampu membuat seluruh pertahanannya runtuh seketika?
Satu per satu teman-teman mereka maju ke depan, bercerita tentang karir, pasangan hidup, hingga keluarga kecil yang sudah mereka miliki. Tawa dan tepuk tangan sering terdengar. Saat giliran Arga tiba, suasana menjadi sedikit hening. Semua orang tahu betapa hebatnya perubahan pria itu, betapa suksesnya dia di dunia kerja.
Arga melangkah maju sedikit, suaranya berat dan tenang terdengar jelas di ruangan itu. "Banyak yang tanya, apa kunci kesuksesan sampai ada di posisi saya sekarang," ucap Arga pelan, matanya sesekali melirik sekilas ke arah Kirana yang menunduk diam. "Jujur, dulu saya mikir sukses itu soal jabatan, uang, dan pencapaian. Saya rela ngorbanin apa aja, termasuk waktu, istirahat, bahkan orang-orang yang saya sayang. Saya pikir kalau saya sukses, saya bakal bahagia banget."
Arga berhenti sejenak, menarik napas panjang sebelum melanjutkan, nada bicaranya berubah menjadi lebih rendah dan menyentuh hati. "Tapi ternyata salah. Saya udah dapet semuanya sekarang. Jabatan ada, uang ada, penghargaan ada. Tapi... kosong. Rasanya ada yang hilang, ada yang kurang. Baru saya sadar belakangan ini, kesuksesan itu nggak ada artinya kalau nggak ada orang yang tepat di samping kita buat ngerasain bareng. Dulu saya terlalu sibuk ngejar masa depan, sampai lupa kalau masa depan itu sebenernya pengen saya bangun sama satu orang aja. Sayangnya, waktu saya sadar... orang itu udah jauh banget."
Kalimat itu terucap begitu halus, tapi menghantam d**a Kirana sekeras pukulan godam. Dia tau persis siapa yang dimaksud Arga. Dia tau persis apa yang ingin disampaikan pria itu. Air mata hampir tumpah saat dia menyadari bahwa ternyata... Arga pun merasakan hal yang sama. Arga pun merasa ada yang hilang. Arga pun belum bahagia.
Setelah sesi berbagi selesai, orang-orang mulai bergerak bebas kembali. Kirana dengan cepat berjalan menuju ke arah taman belakang gedung sekolah, mencari udara segar yang lebih tenang. Dia butuh ketenangan. Dia butuh menenangkan jantungnya yang berpacu, dan pikirannya yang kacau. Di bawah pohon besar yang dulu menjadi tempat favorit mereka berdua duduk, Kirana bersandar pada batang pohon, memejamkan matanya rapat-rapat.
"Kirana..."
Panggilan rendah itu terdengar begitu dekat, begitu akrab, dan begitu menyayat hati.
Kirana membuka mata perlahan, tangannya mencengkeram ujung gaunnya dengan kuat. Di depannya, berdiri Arga. Pria itu berdiri diam sekitar dua meter di depannya, tangan di saku celana, menatapnya dengan tatapan yang penuh emosi yang tertahan. Udara di antara mereka terasa kaku, penuh ketegangan, dan ribuan kenangan yang tumpah ruah.
"Arga..." jawab Kirana lirih, suaranya hampir tak terdengar. Dia ingin lari, dia ingin pergi, tapi kakinya seolah tertanam kuat di tanah.
Arga melangkah maju selangkah, lalu berhenti seolah ragu. Dia menatap wajah wanita itu, menelusuri setiap garis wajah yang dulu begitu sering dia cium, begitu sering dia peluk. "Kamu... sehat kan? Kelihatan sehat dan... sukses banget sekarang," ucap Arga, memecah keheningan dengan kalimat yang begitu canggung namun tulus.
Kirana mengangguk pelan, berusaha tersenyum tipis, meski senyum itu terasa berat sekali di bibirnya. "Iya. Kamu juga... berubah banget, Ga. Kelihatan jauh lebih mapan. Semua orang bangga banget sama kamu sekarang."
Arga tertawa kecil, tapi tawanya terdengar pahit dan menyedihkan. Dia mengalihkan pandangannya ke arah halaman sekolah yang luas. "Bangga? Mungkin iya. Tapi... puas? Nggak sama sekali, Kir. Seperti yang aku bilang tadi... dapet semuanya tapi rasanya kosong. Kamu tau kan siapa yang bikin rasanya kosong?"
Kirana menahan napas, dadanya terasa sesak. Dia tidak berani menjawab, takut apa yang keluar dari mulutnya adalah tangisan. Dia menundukkan wajahnya, menatap ujung sepatunya. "Dulu... kita udah sepakat kan? Kita udah selesai. Kita udah ambil jalan masing-masing. Nggak ada gunanya bahas hal yang udah lewat, Arga."
"Kita emang ambil jalan masing-masing, Kir. Tapi jalan itu beloknya ke arah yang sama, kan?" potong Arga cepat, suaranya sedikit meninggi namun tetap lembut. Dia melangkah maju lagi, mendekat hingga jarak mereka hanya tinggal satu langkah saja. "Tiga tahun aku coba. Aku coba lupa. Aku coba cari pengganti. Aku coba sibukin diri sampe lupa cara napas. Tapi pas aku liat kamu tadi... pas mata kita ketemu... aku sadar, usaha aku sia-sia semua. Rasanya masih sama persis kayak dulu. Malah rasanya makin besar, makin kangen, makin nyesel."
Kirana mendongak, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya. Dia menatap Arga dengan tatapan terluka dan marah bercampur jadi satu. "Terus kenapa? Kenapa baru ngomong sekarang? Dulu pas aku minta diperhatiin, kamu sibuk. Dulu pas aku nangis minta diertiin, kamu malah marah. Dulu pas aku masih ada di depan mata kamu, kamu nggak pernah ngerasa kurang! Sekarang semuanya udah telat, Arga! Kita udah telat!"
Arga menggeleng kuat, matanya pun mulai berkaca-kaca. Dia mengulurkan tangan seolah ingin menyentuh wajah wanita itu, tapi dia menariknya kembali, takut dianggap lancang.
"Telat buat apa, Kir? Buat nyambung lagi? Nggak ada yang telat kalau perasaannya masih sama. Dulu aku bodoh banget. Dulu aku keras kepala, aku egois, aku mikir cinta itu cukup. Aku lupa kalau cinta itu butuh dirawat, butuh diperjuangin, dan butuh dikalahin egonya. Perpisahan kita dulu bukan karena kita udah nggak cinta. Tapi karena kita belum dewasa buat nanganin cinta itu. Aku udah belajar banyak selama nggak ada kamu. Aku udah berubah, Kir. Aku udah jadi laki-laki yang dulu kamu pengenin. Tapi sayangnya... kamu udah nggak ada di sana buat nikmatin perubahan itu."
Keheningan menyelimuti mereka kembali. Hanya terdengar suara isak tangis pelan dari Kirana, dan suara napas berat Arga. Di bawah pohon tua itu, di tempat yang sama di mana dulu mereka berjanji selamanya, kini mereka berdiri di antara masa lalu yang menyakitkan dan rasa rindu yang tak kunjung padam.
"Kamu tau apa yang paling nyesekin, Kir?" bisik Arga pelan, menatap wanita itu dalam-dalam. "Setiap hal yang aku lakuin sekarang, setiap keberhasilan yang aku dapet, setiap tempat yang aku kunjungin... semuanya selalu ada bayang-bayang kamu. Aku selalu mikir, 'Kalau Kirana ada di sini, dia pasti seneng banget. Kalau Kirana ada di sini, dia pasti bangga banget.' Ternyata kamu nggak pernah pergi dari hati aku, Kirana. Kamu cuma pindah posisi... jadi kenangan yang paling nyesel sekaligus paling indah yang aku punya."
Kirana menyeka air matanya kasar, berusaha menguatkan dirinya, meski hatinya sudah meleleh sepenuhnya mendengar pengakuan itu. Dia merasakan hal yang sama persis. Dia juga tidak pernah benar-benar pergi. Dia juga masih menyimpan rasa itu rapat-rapat. Tapi rasa takut itu masih ada. Takut mengulangi kesalahan yang sama, takut terluka dua kali, takut kecewa lagi.
"Arga... kita udah bukan kita yang dulu lagi," jawab Kirana pelan, suaranya bergetar. "Banyak yang berubah. Kita udah beda jalan. Nanti kalau kita nyatu lagi... takutnya cuma bakal ngulang sakit yang sama aja."
Arga tersenyum tipis, senyum yang penuh harapan dan ketulusan. Dia mengangguk pelan. "Iya, kita beda. Kita sekarang lebih dewasa, lebih ngerti, lebih sabar. Dulu kita pisah karena nggak tau cara nyimpen. Sekarang kita ketemu lagi... biarin kita belajar bareng lagi. Kali ini aku janji, aku bakal pertahanin sekuat tenaga. Aku nggak bakal biarin kamu pergi lagi, Kir. Aku udah buang egoku. Aku udah tau prioritas aku yang sebenernya."
Matahari mulai terbenam, menyinari mereka berdua dengan cahaya keemasan yang hangat, persis seperti sinar harapan yang mulai tumbuh kembali di antara hati mereka. Di balik rasa canggung dan luka masa lalu, benih-benih cinta yang dulu sempat terhenti, kini mulai tumbuh lagi. Lebih kuat, lebih matang, dan lebih indah.
Kirana menatap Arga lama sekali. Di mata pria itu, dia melihat ketulusan yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Dia melihat penyesalan, kesungguhan, dan cinta yang belum pernah padam. Ragu-ragunya perlahan mulai pudar, digantikan oleh keberanian untuk mencoba lagi.
Jalan mereka memang pernah berbelik dan menjauh. Tapi takdir berkata lain. Jalan itu kini kembali menyatu, membawa mereka kembali ke satu sama lain, untuk menulis bab baru yang lebih indah, di mana cinta mereka kini dibekali oleh kedewasaan yang cukup untuk bertahan selamanya.
"Aku nggak janji apa-apa, Arga..." ucap Kirana pelan, namun kali ini tatapannya sudah tidak lagi menolak. "Tapi... kita bisa mulai dari awal. Pelan-pelan aja."
Wajah Arga seketika berubah cerah, senyum paling lebar dan bahagia merekah di bibirnya. Senyum yang sudah hilang selama tiga tahun lamanya. Dia mengangguk antusias, matanya berbinar indah.
"Udah cukup buat aku, Kirana. Udah lebih dari cukup."
Hari itu, di halaman sekolah lama mereka, dimulailah kembali kisah mereka. Bukan lagi sebagai dua anak muda yang keras kepala, tapi sebagai dua orang dewasa yang sadar betapa berharganya cinta yang mereka miliki, dan berjanji tidak akan pernah membiarkannya hilang lagi.