Cara keluar dari seberang bukan dengan kabur. Kabur akan membuatnya mati di antara dua pos sebelum tengah malam, ditemukan tanpa nama, sebuah mayat tanpa cerita yang menguntungkan semua orang. Cara keluar adalah dengan membuat mereka menyuruhnya keluar, dengan tangan mereka sendiri menaruh kunci kontak di telapaknya. Maka selama tiga hari Bayu bekerja untuk membuat dirinya menjadi alat yang terlalu berharga untuk disimpan diam di gudang.
Ia mempelajari papan jadwal pengiriman yang tergantung di ruang dispatch seberang, papan yang ia lewati tiap pagi sambil membawa kotak, dan mencari celah. Ada muatan yang harus turun ke Indonesia minggu itu, suku cadang dalam peti, beberapa tong cairan yang tak boleh ditanya, dan — ini yang ia incar — satu titik serah di sisi Indonesia yang menurut catatan selalu macet, selalu terlambat, selalu menelan biaya karena sopir-sopir seberang tidak hafal jalan tikus yang menghindari pos baru di kilometer empat puluh dua. Bayu hafal jalan itu. Ia pernah menyetirnya dalam gelap dengan lampu mati. Dan ia tahu betul bahwa di dunia logistik gelap, orang yang bisa memotong satu jam dari sebuah rute adalah orang yang dilindungi.
Ia menyebut hal itu kepada Tuan Hok bukan sebagai permintaan, melainkan sebagai keluhan yang tampak tak sengaja, di sela menyerahkan kunci truk yang baru ia parkir. "Sayang sekali truk yang ke Indonesia minggu ini bawa sopir yang tidak kenal koridor selatan," katanya, mengelap tangan dengan lap, tidak menatap. "Pasti lewat pos baru. Pasti bayar, pasti lama. Padahal ada jalan lama yang potong sampai dermaga tanpa lewat satu pos pun." Ia membiarkan kalimat itu menggantung, lalu mengangkat bahu seperti orang yang tidak peduli, dan beranjak.
Umpan itu sederhana, dan ia tahu Tuan Hok cukup cerdas untuk tidak menelannya bulat-bulat. Tapi Tuan Hok juga seorang operatif yang hidupnya diukur dari efisiensi, dan efisiensi adalah agama yang lebih kuat dari kecurigaan. Sore itu ia dipanggil. Tuan Hok duduk di kursi dengan sepatu kering yang tak pernah menyentuh lumpur, menatapnya lama dengan keramahan yang lebih dingin dari ancaman, dan akhirnya berkata bahwa Bayu akan membawa muatan turun ke Indonesia.
"Kamu kenal jalan," kata Tuan Hok. "Itu berguna. Tapi orang yang kenal jalan dan tahu terlalu banyak, kadang lupa pulang ke tempat yang benar." Ia tersenyum tipis. "Jadi Lim ikut. Untuk menemani."
Di sudut ruangan, yang Bayu baru sadari ada di sana, Lim berdiri bersandar dinding dengan tangan terlipat. Sopir seberang itu tidak berkata apa-apa, hanya menatap Bayu dengan mata jeli yang sama, mata yang sejak hari pertama menimbang setiap gerakannya. Ia mengangguk sekali, sopan, dan dalam anggukan itu ada seluruh isi tugasnya: aku akan duduk di sebelahmu sepanjang jalan, dan aku akan menghitung setiap kali kamu melihat ke arah yang salah.
Bayu membalas anggukan dengan ketenangan yang dipaksa keluar dari tempat yang dalam. Ini lebih buruk dari yang ia rancang, tapi juga lebih baik. Lim adalah mata, ya, tapi mata yang ikut berarti Bayu keluar dari seberang dengan izin, dengan dokumen, lewat pos-pos yang sudah dibeli, bukan dengan badan tertelungkup di kolong jok. Penjaga yang ikut adalah penjaga yang juga membuka pintu. Persoalannya tinggal satu, dan persoalan itu akan menemaninya sepanjang ratusan kilometer: bagaimana mengirim segala yang ada di kepalanya — peta penyadapan, foto Mira di dinding, nomor seri, wajah aset di ruang bawah tanah — kepada Mira, sementara seorang penjaga setia tanpa celah hati duduk semeter darinya, terjaga, terlatih, dan menunggu satu kesalahan.
Malam sebelum berangkat ia memeriksa truk sendirian di bawah lampu sorot gudang, dengan alasan montir yang wajar. Ia mengisi solar, memeriksa rem, mengetuk ban, dan sambil tangannya bekerja, otaknya menyusun ulang seluruh tradecraft yang pernah Mira ajarkan, mencari yang masih bisa hidup di bawah pengawasan terus-menerus. Dead drop tak mungkin; Lim akan melihat tangannya bergerak ke kolong meja. Tanda kapur tak mungkin; Lim akan melihat ke mana matanya. Yang tersisa hanya hal-hal yang bisa dilakukan di depan mata orang tanpa tampak seperti dilakukan — brush pass, satu sentuhan, satu detik, di tempat yang ramai, di mana tangan yang bergerak adalah satu dari seratus tangan yang bergerak.
Ia menutup kap mesin dan menyeka tangan, dan untuk satu saat ia menatap garis hitam jalan yang membentang keluar dari gerbang kompleks ke arah selatan, ke arah pulang. Di balik garis itu ada Mira, ada koridor yang ia kenal sampai ke baunya, ada dermaga tua dan warung yang masih buka. Tapi di antara dirinya dan semua itu ada delapan ratus kilometer dan satu penumpang yang akan mengawasinya tidur, mengawasinya makan, mengawasinya membaca cermin. Ia menaiki kabin, menutup pintu, dan untuk malam terakhirnya di seberang ia tidur dengan setengah mata terbuka, tangan di dekat kunci kontak, seperti orang yang tahu bahwa perjalanan paling berbahaya dalam hidupnya bukan yang akan membawanya jauh dari rumah, melainkan yang akhirnya membawanya kembali.