Lim duduk di jok penumpang dengan punggung lurus, tidak bersandar, dan itu hal pertama yang Bayu catat ketika mereka keluar gerbang sebelum fajar. Sopir yang lelah bersandar. Penjaga yang bertugas duduk tegak supaya tubuhnya tetap terjaga. Delapan ratus kilometer di depan, dan Lim memilih menderita demi tetap waspada. Bayu menyimpan pengamatan itu seperti ia menyimpan segalanya, di tempat yang sama dengan nama-nama orang mati, dan menyetir keluar ke jalan seberang yang masih gelap.
Mereka tidak banyak bicara. Lim bukan Jarwo; Jarwo bertanya, memancing, menyodok dengan keramahan. Lim hanya mengamati. Sesekali ia mengajukan pertanyaan yang tampak biasa — berapa lama lagi pos berikutnya, kenapa Bayu memilih lajur kiri, apakah ban kanan terasa berat — dan dalam setiap pertanyaan biasa itu ada ujian kecil, sebuah jaring untuk menangkap jawaban yang terlalu lancar atau terlalu tahu. Bayu menjawab seperti sopir yang lelah menjawab, kadang benar, kadang menggumam, sekali salah dengan sengaja supaya tidak tampak terlalu sempurna. Ia tahu kesempurnaan adalah hal yang paling cepat dicurigai orang seperti Lim.
Garis batas mereka lewati di pagi buta lewat pos yang sudah dibeli, dokumen disodorkan, lampu senter penjaga menyapu kabin sebentar lalu pergi, dan untuk pertama kali sejak berhari-hari Bayu merasakan udara Indonesia di paru-parunya, lembap dengan bau yang ia kenali, bau tanah merah dan hujan yang baru lewat. Sesuatu di dadanya melonggar satu simpul, lalu mengencang lagi ketika ia melirik Lim, yang juga merasakan perubahan udara dan menjadi lebih waspada karena tahu di sinilah, di wilayah Bayu sendiri, segala yang berbahaya bisa terjadi.
Kesempatan datang di pos timbang kilometer dua puluh, tempat yang sudah Bayu kenal sampai ke retakan lantainya. Truk harus berhenti, menunggu giliran di antrean kendaraan lain, dan di tepi pelataran berdiri warung dan asongan yang menjajakan rokok, kopi sachet, dan kerupuk dari nampan yang digantung di leher. Bayu turun dengan alasan yang tak bisa ditolak: kandung kemih dan kopi. Lim turun pula, tentu saja, mengikuti dua langkah di belakang, mata tak pernah jauh dari punggungnya.
Asongan itu seorang anak muda dengan nampan rokok, persis seperti yang Mira janjikan akan ada di pos ini bila Bayu pernah membutuhkannya. Bayu tidak tahu apakah anak ini orangnya. Ia tidak bisa tahu sampai ia menguji, dan menguji berarti memberi sinyal yang bisa salah dibaca Lim. Maka ia melakukan apa yang seorang sopir lakukan: ia memanggil asongan itu, memilih sebungkus rokok, mengeluh tentang harga, menawar dengan setengah hati. Tradecraft tersulit yang pernah ia jalankan, ia sadari, bukan yang paling rumit, melainkan yang paling telanjang — dilakukan semeter dari mata yang dilatih untuk melihat persis hal ini, di siang bolong, tanpa kegelapan untuk bersembunyi.
Ia membayar dengan uang yang sudah ia lipat sejak semalam, lipatan yang di dalamnya terselip secarik kertas tipis sebesar kuku, ditulis dengan kode angka yang hanya Mira pahami: rangkaian yang berarti perangkat penyadap ada di seberang, peta titik di dinding ruang operasi, dan aku pulang, awasi pos selatan. Saat ia menyerahkan uang, jarinya menekan kertas itu ke telapak asongan, satu detik, satu sentuhan yang tertutup oleh gerakan menyerahkan dan menerima kembalian. Asongan itu tidak bereaksi. Tangannya menutup, menerima, melanjutkan ke pembeli berikutnya seolah tak terjadi apa-apa, dan Bayu tahu dari ketenangan itu bahwa ia memang orangnya.
Ia menyalakan rokok dengan tangan yang dijaga tenang, menarik satu isapan yang tak ia inginkan, dan berbalik ke truk. Lim sudah berdiri lebih dekat dari yang Bayu kira, dan matanya tidak pada Bayu melainkan pada asongan yang menjauh, dan dalam tatapan itu Bayu membaca sesuatu yang membuat perutnya jatuh: Lim mencatat. Bukan menangkap — ia tidak melihat kertas, tidak melihat sentuhan, gerakannya terlalu tertutup untuk itu. Tapi ia mencatat keanehan kecil, sesuatu yang tak bisa ia namai, mungkin ketenangan yang janggal di antara sopir dan asongan, mungkin durasi yang semeter terlalu lama, mungkin hanya firasat seekor penjaga yang baik. Lim tidak berkata apa-apa. Ia hanya memandang asongan itu sampai hilang di balik antrean, lalu memandang Bayu, lalu naik ke truk.
Di kabin, sementara mesin menggerung naik ke timbangan, Lim akhirnya bicara, suaranya datar. "Kamu kenal asongan itu?"
"Tidak," kata Bayu, memutar setir. "Kenapa?"
"Tidak apa-apa," kata Lim, dan menatap lurus ke depan. Tapi Bayu tahu kalimat itu bohong, sama seperti kalimatnya sendiri bohong, dan keduanya tahu yang lain tahu. Pesan sudah lolos; itu yang penting, dan itu yang ia pegang ketika truk turun dari timbangan dan masuk lagi ke jalan lintas yang basah. Tapi Lim kini menyimpan sebutir keraguan yang tak akan ia buang, sebutir yang akan ia putar-putar dalam kepalanya sepanjang sisa perjalanan, dan Bayu paham bahwa di sisa delapan ratus kilometer ini, ia tidak lagi sekadar membawa pulang muatan. Ia membawa pulang seorang saksi atas kesalahannya sendiri, yang duduk di sebelahnya, terjaga, dan baru saja mulai menghitung mundur.