Tempat itu adalah jembatan timbangan ilegal di kilometer tiga puluh delapan, sebuah bangunan beton yang dulu dipakai pos timbang gelap dan kini terbengkalai sejak pemiliknya tertangkap, sebuah kerangka yang teronggok di pinggir jalan lintas dengan rumput yang tumbuh menembus retakannya. Sopir-sopir menghindarinya karena dianggap sial. Bayu memilihnya justru karena itu. Tempat yang dihindari semua orang adalah tempat yang tak diawasi siapa pun.
Ia datang dini hari, ketika jalan lintas paling sepi, dan memarkir truk di bahu jalan dengan kap terbuka, sebuah lakon montir yang punya alasan berhenti. Ia turun dengan senter dan kotak perkakas, dan berjalan ke kolong jembatan timbang seperti orang yang sedang mencari tempat membuang air atau memeriksa sesuatu di kolong kendaraan. Di bawah sana, di antara tiang-tiang beton yang lembap dan bau lumut, ia menemukan apa yang sudah ia incar sejak ia mengenal tempat ini sebagai sopir bertahun-tahun lalu: sebuah celah di pertemuan dua balok beton, cukup dalam untuk menelan sesuatu seukuran kepalan, tersembunyi dari pandangan kecuali kau tahu persis di mana mencari dan punya alasan untuk merangkak ke dalam kegelapan setinggi lutut.
Ia menyelipkan bundel plastik itu ke dalam celah, mendorongnya dalam, lalu menyumbatnya dengan pecahan beton dan tanah sampai tak ada yang menonjol. Ia berjongkok di kegelapan, menyorot celah itu sekali untuk menghafal posisinya relatif terhadap tiang ketiga dan sambungan balok, mencetaknya ke ingatan dengan cara yang sama ia mencetak peta penyadapan, dan kemudian ia mematikan senter dan duduk diam sejenak di kolong jembatan yang gelap, sendirian dengan keputusan yang baru saja ia buat.
Karena bukan tempatnya yang penting. Yang penting adalah apa yang baru saja ia putuskan tentang dirinya. Selama ini ia adalah aset, alat negara, orang yang menyerahkan segala yang ia kumpulkan ke tangan yang lebih besar dan percaya bahwa tangan itu akan memakainya dengan benar. Ia menyetir ke seberang dan kembali, menanggung wajah-wajah orang mati, semuanya dengan keyakinan diam bahwa di ujung ini ada negara yang akan menerima kebenaran dan bertindak atasnya. Tapi perintah berhenti dari Pak Darma telah merobek keyakinan itu, dan apa yang ia kubur di kolong jembatan ini adalah pengakuan yang tak bisa ia ucapkan dengan kata: ia tidak lagi mempercayai negara untuk memegang kebenaran ini.
Maka ia merancang asuransinya dengan dingin. Bundel ini bukan untuk Mira; Mira melapor pada Pak Darma, dan apa pun yang sampai ke Pak Darma bisa hilang. Bukan untuk Jarwo; Jarwo sudah memegang potongannya sendiri dan tak perlu memegang potongan Bayu pula, karena beban yang terbagi adalah beban yang bocor. Bundel ini untuk satu skenario yang ia susun di kepalanya seperti menyusun rute cadangan: kalau ia mati — bukan jika, sebab ia sudah lama berhenti memakai kata jika — bundel ini harus sampai bukan ke negara, melainkan ke luar negara. Ke pers. Ke seseorang yang tidak punya atasan yang bisa menyuruh berhenti, yang tidak punya amplop bulanan yang bisa membungkam, yang satu-satunya kepentingannya adalah membuat kebenaran terlalu besar untuk dikubur. Ia belum punya orang itu. Tapi ia akan mencarinya, dan sampai ia menemukannya, kebenaran akan menunggu di kolong jembatan ini, sabar dan kering dalam plastiknya, lebih aman dari yang bisa diberikan unit mana pun.
Ia merangkak keluar dari kolong, berdiri di bahu jalan yang basah, dan mengelap lutut dari lumpur. Langit mulai memutih di timur. Sebuah truk lewat di kejauhan, lampunya menyapu, dan Bayu menunduk ke kotak perkakasnya seperti montir yang sedang bekerja sampai truk itu berlalu. Lalu ia berdiri lagi sendirian di jalan lintas yang sepi, dan ia merasakan sesuatu yang aneh, sesuatu yang bukan ketakutan dan bukan pula keberanian, melainkan sebuah kesendirian yang akhirnya jujur. Berbulan-bulan ia merasa sendirian — di kamp tebangan, di parit Reno, di seberang garis batas. Tapi kesendirian itu selalu kesendirian seorang yang dikelilingi tangan-tangan yang ia kira di pihaknya. Yang ini berbeda. Ini kesendirian seorang yang akhirnya melihat dengan jelas bahwa tak ada satu pun pihak yang sepenuhnya miliknya, bahwa garis antara teman dan musuh telah larut sampai yang tersisa hanyalah kebenaran itu sendiri, terbungkus plastik, dikubur di kolong jembatan yang dihindari semua orang.
Ia menutup kap mesin, naik ke kabin, dan menyalakan lampu. Dalam pantulan kaca spion ia menatap wajahnya sejenak, wajah seorang sopir yang lelah, lebam tipis di pelipis dari entah kapan, mata yang sudah melihat terlalu banyak. Bukan wajah pahlawan, bukan wajah pengkhianat. Wajah orang yang telah memutuskan untuk berdiri di antara, untuk tidak lagi mempercayai siapa pun selain hal yang ia tanam dengan tangannya sendiri di kegelapan. Ia memasukkan gigi, dan truk merangkak ke jalan lintas yang basah, menuju fajar, membawa di dalamnya seorang laki-laki yang akhirnya tahu bahwa di permainan ini, satu-satunya yang bisa ia percaya adalah kebenaran yang ia kubur di tempat yang tak diketahui siapa pun yang masih hidup.