Nama Udin sudah lama jadi hantu di pool, disebut dengan suara rendah oleh sopir-sopir tua: sopir pertama yang hilang, yang katanya terlalu banyak tanya, yang suatu hari berangkat dan tidak pernah kembali, dan setelah itu semua belajar untuk tidak bertanya. Bayu mendengar nama itu di hari pertamanya, dulu, dan menyimpannya sebagai pelajaran tentang harga keingintahuan. Tapi kini, dengan amplop Jarwo di kepalanya dan bundel kebenarannya terkubur di kolong jembatan, ia mulai memikirkan Udin dengan cara yang berbeda. Bukan sebagai peringatan. Sebagai pendahulu.
Ia mulai bertanya, hati-hati, dengan cara seorang sopir bertanya — di sela kopi, di antrean timbang, sambil menunggu bongkar muat. Bukan pertanyaan langsung yang menyalakan kecurigaan, melainkan pancingan yang lembut tentang masa lalu pool, tentang sopir-sopir lama, tentang siapa yang dulu menyetir rute mana. Dan pelan-pelan, dari potongan-potongan yang dilemparkan orang tanpa sadar, gambaran Udin mulai berbeda dari hantu yang ia kenal. Seorang sopir tua bercerita bahwa Udin dulu suka mencatat. "Bukan catatan jalan biasa," kata sopir itu, mengernyit mengingat. "Dia catat nomor truk yang tidak diperiksa. Catat jam berapa amplop pindah tangan. Catat siapa yang turun di dermaga dan tidak naik lagi. Kami pikir dia cuma rajin. Belakangan kami pikir dia gila."
Bayu menyimpan itu dan menggali lebih dalam, dan apa yang ia temukan membuat tengkuknya berdiri. Udin bukan sekadar banyak tanya. Udin melakukan persis apa yang Bayu lakukan sekarang — mengumpulkan bukti, mencatat pola, memetakan pipa dari kursi kemudi — tapi bertahun-tahun lebih awal, sendirian, tanpa unit, tanpa Mira, tanpa tradecraft, hanya dengan naluri seorang sopir yang tahu ada yang busuk dan tak bisa membiarkannya lewat tanpa mencatat. Udin adalah Bayu sebelum Bayu, dan Udin masuk parit karena itu.
Dan ada lebih. Seorang penjaga warung tua, perempuan yang sudah menjual kopi di koridor ini lebih lama dari siapa pun, mengingat sesuatu ketika Bayu mengangkat nama Udin dengan sangat hati-hati. "Udin," katanya, menuang kopi, matanya jauh. "Dia sering ketemu orang kota di sini. Bukan sopir. Perempuan, bawa buku catatan, banyak tanya juga. Mereka duduk di pojok, bicara pelan. Aku pikir itu pacarnya." Ia menggeleng. "Tapi perempuan itu juga hilang. Tidak lama setelah Udin. Datang sekali lagi cari Udin, panik, lalu tidak pernah kelihatan lagi."
Bayu menahan tangannya yang nyaris menumpahkan kopi. Perempuan kota dengan buku catatan, banyak tanya, hilang setelah Udin. Itu bukan pacar. Itu kontak. Mungkin wartawan, mungkin penyelidik, seseorang dari luar koridor yang Udin temui untuk menyerahkan apa yang ia kumpulkan — persis seperti yang Bayu sendiri rancang untuk dilakukan dengan bundel di kolong jembatannya. Udin tidak bekerja sendirian. Ia punya saluran ke luar, ke dunia yang tak bisa disuruh berhenti oleh amplop bulanan, dan saluran itu lenyap bersamanya.
Ia duduk lama di warung itu setelah perempuan tua kembali ke dapurnya, kopinya mendingin, dan ia merasakan sesuatu yang ganjil dan dalam menyusup ke dadanya, sesuatu yang lebih kompleks dari takut. Ia menyadari bahwa ia tidak menapaki jalan baru. Ia berjalan di jejak orang mati. Setiap langkah yang ia kira asli — mengumpulkan bukti, mencari saluran ke pers, mengubur asuransi — adalah langkah yang sudah dijejaki Udin bertahun-tahun lalu, dan Udin mati di jejak itu, dan perempuan dengan buku catatan mati di jejak itu, dan kini Bayu berjalan di sana seolah jalan itu kosong padahal tanahnya penuh tulang.
Tapi bersama dengan dingin itu datang sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih keras dan lebih bertujuan. Kalau Udin sudah mengumpulkan bukti, maka bukti itu mungkin masih ada di suatu tempat — tidak ikut mati bersamanya, seperti bundel Bayu yang dirancang untuk hidup melampaui pemiliknya. Kalau perempuan dengan buku catatan itu wartawan, maka mungkin ada rekan, ada redaksi, ada jejak tulisan yang tertinggal. Tujuan Udin yang belum selesai tidak lenyap ketika ia masuk parit. Ia hanya menunggu, seperti kebenaran di kolong jembatan, untuk seseorang yang cukup keras kepala atau cukup terkutuk untuk mengangkatnya kembali.
Bayu meletakkan uang di meja, lebih dari harga kopi, dan keluar ke jalan lintas yang basah. Ia berdiri di bawah langit kelabu dan menatap koridor membentang ke selatan, jalan yang sama yang Udin susuri, yang perempuan dengan buku catatan susuri, yang kini ia susuri. Selama ini ia membawa daftar nama orang mati di kepalanya seperti beban — Reno, aset di ruang bawah tanah, dan kini Udin dan seorang perempuan yang ia tak tahu namanya. Tapi untuk pertama kali, daftar itu terasa bukan seperti beban melainkan seperti garis keturunan, sebuah rantai orang-orang kecil yang menolak membiarkan kebusukan ini lewat tanpa mencatat, dan ia adalah mata rantai yang masih hidup. Ia naik ke kabin, menyalakan mesin, dan tahu apa yang harus ia cari berikutnya: nama perempuan itu, dan ke mana jejaknya membawa. Karena tujuan Udin yang belum selesai kini menjadi miliknya, dan ia tidak berniat membiarkannya mati untuk kedua kalinya.