Nama perempuan itu butuh tiga hari untuk muncul, dan ketika ia muncul, ia datang bukan dari mulut sopir melainkan dari secarik kuitansi.
Bayu menyusurinya dengan cara seorang sopir mencari bocor di selang: pelan, dari sambungan ke sambungan, tanpa membongkar seluruh mesin sekaligus. Penjaga warung tua yang menyebut perempuan kota dengan buku catatan tidak tahu namanya, tapi ia ingat perempuan itu pernah menumpang di rumah kos dekat terminal, kos petak yang disewa bulanan oleh orang-orang luar koridor. Dari pemilik kos yang sudah renta dan setengah lupa, Bayu mendapat selembar kuitansi sewa yang tak pernah diambil, tertanggal lebih dari setahun lalu, dengan nama yang ditulis tangan: Sari. Tanpa marga, tanpa alamat. Cuma Sari, dan kamar nomor empat yang belum pernah disewakan lagi karena, kata pemilik kos sambil menggaruk lengannya, barang penghuninya masih di dalam dan tak ada yang berani memindahkannya.
Kamar itu pengap oleh setahun debu dan bau kapur yang lembap. Bayu membukanya menjelang tengah malam, ketika terminal di seberang jalan sudah sepi dari bus dan cuma menyisakan satu-dua lampu yang menyala lemah. Ia masuk seperti orang yang punya alasan masuk, lap masih terselip di saku, dan menutup pintu pelan di belakangnya. Senter ponsel ia tutup setengah dengan telapak. Sebuah ranjang besi. Lemari kayu yang catnya mengelupas. Tumpukan pakaian yang sudah dimakan ngengat. Dan di sudut, sebuah meja kecil dengan satu kursi, tempat seorang perempuan dulu duduk dan, Bayu yakin tanpa bukti, menulis sesuatu yang membuatnya tak pernah kembali untuk membayar kuitansinya.
Ia mencari dengan tangan seorang yang biasa menyembunyikan benda di kolong, di celah, di tempat yang dilewatkan mata. Bukan di laci, sebab laci adalah tempat pertama yang diperiksa. Bukan di bawah kasur, sebab itu tempat kedua. Ia membaca kamar itu seperti membaca seseorang yang berpikir seperti dirinya. Perempuan yang tahu ia diburu tidak menaruh rahasianya di tempat yang mudah; ia menaruhnya di tempat yang harus dirobek untuk ditemukan. Bayu menemukan jahitan yang janggal di sisi kasur, dijahit ulang dengan benang yang warnanya tak cocok, dan ketika ia membukanya dengan ujung obeng kecil, jarinya menyentuh plastik. Sebuah bungkusan tipis. Lembar-lembar kertas yang dilipat berkali-kali, padat, ditulis dengan tangan rapat seorang yang terbiasa mencatat cepat.
Ia tidak membacanya di sana. Ia menyimpannya di balik jaket, persis seperti ia menyimpan amplop Jarwo, dan keluar dari kamar nomor empat seperti orang yang salah masuk. Baru di kabin truknya, di tempat parkir gelap di belakang terminal, ia membuka lipatan itu di bawah senter yang ditutup telapak.
Dan tanahnya bergeser lagi.
Catatan Sari bukan tulisan wartawan yang menulis untuk dibaca orang lain. Ini catatan kerja, setengah peta, setengah daftar, penuh singkatan yang hanya pemiliknya yang paham sepenuhnya. Tapi Bayu, yang sudah berbulan-bulan menghafal jalur yang sama, membaca cukup. Nama-nama dermaga. Tanggal serah-terima. Inisial yang berulang. P.T. yang muncul belasan kali, dan Bayu tidak perlu menebak bahwa itu Pak Tan. Sebuah daftar nama orang yang diangkut, sebagian dengan tanda silang di sampingnya, tanda yang membuat perut Bayu dingin karena ia tahu apa arti silang dalam daftar muatan yang bernapas. Dan di satu lembar, setengah peta yang digambar tangan: koridor yang sama yang ia kenal, dengan titik-titik yang Sari tandai sendiri, beberapa di antaranya bertumpang-tindih persis dengan titik penyadapan yang Bayu hafal dari dinding seberang, dan beberapa lagi yang Bayu belum tahu.
Setengah peta. Itu kata yang menetap di kepalanya. Sari punya separuh dari gambar yang Bayu punya separuh lainnya. Disatukan, keduanya menggambar pipa itu hampir utuh, dari hulu sampai ke titik yang menyentuh laut. Apa yang dikumpulkan Udin dengan naluri sopir, dilengkapi Sari dengan ketekunan wartawan, dan kini jatuh ke tangan Bayu yang membawa keduanya lewat seberang dan kembali.
Ia duduk lama dengan kertas itu, hujan mulai turun di seng kabin, dan sesuatu yang menyerupai kekaguman yang sedih bangkit di dadanya. Perempuan ini berjalan di koridor yang sama tanpa truk, tanpa cover sopir yang melindunginya, tanpa unit. Cuma buku catatan dan keberanian yang bodoh, dan ia menggali sampai sedalam ini sebelum koridor menelannya. Bayu tidak mengenalnya. Tapi ia merasa, untuk kedua kalinya dalam seminggu, bahwa ia berjalan di jejak orang mati, dan jejak itu semakin tebal dengan tulang.
Lalu pikiran dingin yang lain datang, pikiran yang sudah ia latih untuk selalu datang setelah penemuan. Ia menemukan catatan ini karena ia tahu cara mencarinya. Tapi ia bukan satu-satunya yang tahu Sari pernah menyimpan sesuatu. Kos itu dibiarkan utuh setahun bukan karena tak ada yang peduli; barang penghuni yang hilang biasanya dibuang dalam sebulan. Kamar nomor empat dibiarkan karena seseorang ingin tetap utuh, seseorang yang berharap kalau pemiliknya pernah menyembunyikan sesuatu, sesuatu itu masih ada, menunggu siapa pun yang datang mengambilnya. Kamar itu bukan makam yang terlupakan. Kamar itu jebakan yang dipasang dengan sabar, dan Bayu baru saja melangkah masuk dan keluar membawa umpan.
Ia mematikan senter dan duduk dalam gelap, jantungnya tenang tapi tengkuknya dingin. Di luar, sebuah motor lewat pelan di jalan depan terminal, terlalu pelan, lampunya menyapu deretan truk parkir lalu berlalu. Mungkin tukang ojek pulang. Mungkin bukan. Bayu menyelipkan catatan Sari ke tempat yang sama dengan amplop, menyalakan mesin, dan keluar dari belakang terminal lewat jalan yang bukan jalan masuknya. Ia tidak pulang malam itu. Ia tidur di rest area dua puluh kilometer jauhnya, setengah mata terbuka, dan untuk pertama kali sejak kembali dari seberang ia merasakan kembali kesendirian khusus itu: bukan kesendirian orang yang tak punya siapa-siapa, melainkan kesendirian orang yang baru saja diketahui keberadaannya oleh seseorang yang belum ia lihat wajahnya.