Tugas tambahan pertama datang seperti yang Mira ramalkan: tanpa upacara, tanpa penjelasan, dan justru karena Bayu tidak pernah memintanya. Aseng memanggilnya ke kursi plastik suatu sore, menyeruput kopi sachet, dan berkata tanpa menoleh, "Besok kau bawa muatan biasa ke gudang hulu. Tapi ada tambahan. Dua peti kecil, di depan dekat dinding bak. Antar ke orang yang nunggu di Simpang Tiga, dia pakai topi merah. Jangan lewat timbangan kilometer dua puluh. Lewat jalan potong kebun sawit. Dan satu lagi." Aseng menatapnya untuk pertama kali. "Jangan dibuka. Jangan ditimbang sendiri. Jangan ditanya. Kau cuma antar."
Bayu mengangguk, wajahnya selembut wajah orang yang baru saja disuruh mengantar pupuk. Di dalam, ada sesuatu yang mengeras. Inilah ambang yang dijelaskan Mira: begitu kau mengantar muatan yang tak boleh ditanya, kau tidak lagi cuma sopir CV. Kau sudah menyentuh Karavan.
Dua peti itu kecil, lebih berat dari ukurannya, dibungkus karung dan diikat tali rafia. Bayu memuatnya seperti memuat barang lain — tidak terlalu hati-hati, karena terlalu hati-hati pada satu barang adalah cara memberi tahu semua orang barang mana yang penting. Ia menutupnya dengan terpal, mengikat simpul yang sama dengan simpul truk-truk khusus yang sudah ia hafal, lalu berangkat sebelum subuh.
Jalan potong kebun sawit itu bukan jalan, cuma bekas roda di tanah merah yang jadi bubur kalau hujan. Bayu mengenalnya dari hidup lamanya. Ia tidak butuh peta. Tangannya tahu di mana harus melambat, di mana tanah mengeras cukup untuk menambah gas, di mana ada lubang yang menelan roda kalau kau salah sejengkal. Justru di sinilah ia merasa paling aman, paling jadi dirinya. Bukan saat berpura-pura. Saat nyetir.
Ia melewati satu pos kecil — bukan timbangan resmi, pos liar, sepetak gubuk dengan portal bambu dan dua orang berjaket lusuh. Mereka tidak memeriksa. Mereka menatap truknya, menatap caranya melaju, dan salah satu mengangkat dagu sedikit, isyarat lewat. Bayu membalas dengan klakson pendek, satu ketukan, bahasa sopir yang berarti terima kasih dan tidak lebih. Portal naik. Ia lewat. Tidak ada satu kata pun ditukar. Itulah kesepakatan: bukan kertas, bukan suap di depannya, tapi pengakuan bahwa cara ia membawa truk adalah cara orang dalam membawa truk.
Serah terima di Simpang Tiga berjalan rapi. Lelaki bertopi merah naik ke bak, mengeluarkan dua peti, turun, menepuk pintu kabin dua kali, dan pergi dengan motor sebelum Bayu sempat menghafal wajahnya. Profesional. Dingin. Tidak ada basa-basi. Bayu melanjutkan ke gudang hulu dengan muatan resmi, menurunkan pupuk, makan siang, dan pulang. Di atas kertas, hari yang membosankan.
Tapi di rest area kilometer empat puluh, saat ia berhenti meluruskan punggung dan menyeruput kopi termos, ia merasakannya. Bukan melihat. Merasakan. Cara seekor hewan tahu ada yang mengawasi dari semak.
Ia tidak menoleh. Itu pelajaran pertama. Orang yang menoleh sudah memberi tahu bahwa ia tahu sedang diawasi. Bayu malah membuka kap mesin, pura-pura memeriksa air radiator, dan dari pantulan di kaca spion yang ia atur miring, ia membaca rest area itu pelan-pelan. Sebuah truk lain, terparkir agak jauh, mesin mati tapi sopirnya tidak turun makan, tidak tidur, cuma duduk. Truk itu sudah ada di pool. Bayu mengenalinya — salah satu truk dengan terpal simpul khusus. Sopirnya pura-pura mengelap kaca, tapi matanya, lewat pantulan, mengarah ke Bayu.
Bukan polisi. Bukan preman. Ini orang Karavan. Dan ini bukan kebetulan dia ada di rest area yang sama, di jam yang sama, di hari pertama Bayu membawa muatan yang tak boleh ditanya. Ini ujian. Mereka ingin melihat: apakah sopir baru ini gugup setelah mengantar barang gelap? Apakah ia menengok-nengok? Apakah ia memeriksa hapenya, menelepon seseorang, menulis sesuatu? Orang bersih akan tenang. Orang yang menyembunyikan sesuatu akan bergerak salah.
Maka Bayu melakukan hal yang paling sulit: tidak melakukan apa-apa. Ia menutup kap, mengelap tangan ke celana, kencing di pinggir semak tanpa terburu-buru, membeli sebatang rokok dari warung dan mengisapnya sampai habis sambil duduk menghadap jalan, punggung ke truk pengawas — gerakan orang yang tidak punya apa pun untuk disembunyikan dari belakang. Ia bahkan terkantuk-kantuk sebentar, atau berpura-pura, dagu turun ke dada. Lalu ia bangun, meregang, naik, dan jalan lagi seperti sopir lelah mana pun yang cuma mau cepat sampai dan tidur.
Ia tidak menaruh pesan hari itu, meski Mira menunggu kabar. Itu keputusan yang ia ambil sendiri, dingin, di tengah ujian. Menaruh pesan di kolong meja saat sedang diawasi adalah cara membunuh diri. Mira bisa menunggu satu hari. Yang tidak bisa menunggu adalah nyawanya.
Beberapa kilometer kemudian, lewat pantulan spion, ia melihat truk pengawas itu berbelok ke arah pool, tidak mengikutinya lagi. Ia lulus. Bayu menghela napas pelan, sangat pelan, dan tangannya yang sejak tadi terlalu mantap di setir akhirnya boleh sedikit gemetar. Ia lulus ujian pertama jaringan. Tapi ia juga baru saja paham sesuatu yang membuat tengkuknya dingin sepanjang sisa perjalanan: mereka sudah mulai menilainya. Sejak hari pertama membawa muatan gelap, Karavan tidak lagi melihatnya sebagai sopir baru yang tak penting. Mereka melihatnya sebagai seseorang yang sedang diuji apakah pantas dipercaya — atau pantas membuat kursinya kosong seperti Udin.