Warung Kilometer Tujuh tidak pernah tutup. Itu bukan kiasan; pintunya bahkan tidak punya kunci lagi. Dua puluh empat jam, lampu neon berdengung, kopi selalu panas, dan di meja-meja panjangnya para sopir koridor datang dan pergi seperti darah lewat jantung. Kalau kau ingin tahu apa yang sedang bergerak di jalur ini, kau tidak ke kantor polisi. Kau ke Kilometer Tujuh dan kau dengarkan.
Bayu mulai jadi bagian dari tempat itu pelan-pelan, dengan kesabaran orang yang tahu bahwa diterima tidak bisa dipaksa. Ia tidak mentraktir berlebihan — sopir yang terlalu royal mencurigakan. Ia ikut main gaple receh, kalah secukupnya, menang secukupnya, mengumpat sewajarnya saat dapat kartu jelek. Ia membantu seorang sopir yang truknya mogok di depan warung, masuk ke kolong dengan senter di mulut, dan dalam dua puluh menit menemukan selang bahan bakar yang retak halus yang sudah dicari montir lain selama sejam. Berita seperti itu menyebar. Esoknya tiga sopir memanggilnya Bang Bayu. Lusa, lima.
Di sinilah cover-nya menebal — bukan dari kebohongan, tapi dari kebenaran. Ia memang sopir. Ia memang bisa membaca mesin. Ia memang tidak punya rumah untuk pulang. Setiap hal benar yang ia tunjukkan menjadi tembok di sekeliling satu hal yang tidak benar.
Mira menunggu kabarnya, dan Kilometer Tujuh punya satu meja yang ditandai unit sejak lama: meja keempat dari pintu, yang kakinya pernah patah dan disambung kayu, menyisakan celah di bawah daun meja. Di celah itu, dengan permen karet, kau bisa menempelkan gulungan kertas sebesar batang korek. Bayu memilih malam yang ramai, memesan mi rebus, duduk di meja keempat. Saat warung paling sibuk dan tidak ada yang memperhatikan tangan siapa pun, ia menjatuhkan sendok, membungkuk mengambilnya, dan dalam satu gerakan menempelkan gulungan berisi semua yang ia lihat — nama Pak Tan, pola amplop ke pos, dua peti di Simpang Tiga, hilangnya Udin — di bawah daun meja.
Lalu hampir gagal.
Seseorang menarik kursi di seberangnya dan duduk, persis di sisi meja tempat gulungan itu menempel, kakinya hampir menyentuh celah. Bayu menahan napas dengan wajah tetap datar. Lelaki itu besar, kira-kira lima puluh tahun, rambut beruban, mata yang menyipit bukan karena mengantuk melainkan karena terbiasa mengukur.
"Mi-nya enak di sini," kata lelaki itu, seolah mereka sudah lama kenal. "Tapi kuahnya kebanyakan micin. Sopir muda nggak peduli. Sopir tua harus jaga jantung." Ia menyeruput kopinya. "Kau yang benerin truk si Parto kemarin?"
"Kebetulan lihat selangnya retak," kata Bayu.
"Kebetulan." Lelaki itu mengulang kata itu pelan, mencicipinya. "Aku Jarwo. Sudah dua puluh tahun di jalur ini. Aku tahu siapa yang kebetulan, dan siapa yang pura-pura kebetulan." Ia tersenyum, dan senyum itu ramah, betul-betul ramah, yang justru membuatnya lebih berbahaya. "Tenang. Aku bukan mau apa-apa. Cuma penasaran sama sopir yang tangannya bagus tapi mukanya baru."
Bayu membiarkan keheningan jatuh sejenak, lalu menjawab dengan kebenaran, karena kebenaran selalu lebih kuat dari bohong. "Aku lama bawa gandeng sendiri. Bangkrut. Truk disita. Sekarang nyetir punya orang." Ia mengangkat bahu, lelah yang asli. "Tangan ini cuma yang tersisa dari aku."
Jarwo menatapnya lama, dan Bayu merasakan tatapan itu seperti tangan yang meraba sambungan las, mencari retak. Lalu Jarwo mengangguk, entah puas entah cuma menunda. "Truk disita," katanya. "Itu cerita yang aku percaya. Karena itu cerita yang terlalu memalukan buat dibuat-buat." Ia tertawa, menepuk meja — dan tangannya menepuk persis di atas tempat gulungan menempel di bawahnya. Bayu tidak berkedip. "Hati-hati, Bayu. Jalur ini ramah sama tangan, tapi nggak ramah sama mata yang kebanyakan lihat."
Ia berdiri, membawa kopinya, dan pindah ke meja sopir-sopir tua di pojok. Tapi sebelum benar-benar pergi, ia menoleh sekali. "Eh. Kau tahu Udin?"
Pertanyaan itu jatuh seperti batu di air tenang. Bayu menjaga wajahnya rata. "Yang katanya kabur itu?"
"Yang katanya kabur," ulang Jarwo, dan untuk sekejap senyumnya hilang, dan yang tersisa cuma mata tua yang sudah terlalu sering melihat kursi kosong. "Iya. Yang katanya kabur." Lalu ia pergi.
Bayu menghabiskan mi-nya pelan-pelan, jantungnya baru kembali ke ritme normal setelah lima menit. Ia membayar, dan dengan tenang, tanpa terburu, ia tidak mengambil kembali gulungan itu malam ini — terlalu panas. Ia akan biarkan kontak Mira yang mengambilnya besok, saat warung sepi. Ia keluar ke udara malam yang basah, menyalakan rokok, dan untuk pertama kali sejak masuk jalur ini ia merasakan ada satu pasang mata di antara semua mata yang akan mengikutinya secara khusus. Bukan ujian dari Aseng. Bukan pengawas dari pool. Sesuatu yang lebih tua, lebih sabar, dan lebih sulit dibohongi. Jarwo tidak menuduhnya apa-apa. Itulah yang membuatnya takut. Orang yang menuduh masih bisa kau yakinkan. Orang yang cuma penasaran akan terus mengawasi sampai ia menemukan apa yang dicari.