Promosi datang dengan cara Karavan: tanpa pengumuman, cuma tugas yang sedikit lebih jauh, sedikit lebih gelap, dan jauh lebih tidak bisa ditolak. Aseng menyerahkan kunci truk lain — bukan rongsok pool, melainkan truk yang lebih kuat, dengan ban yang masih punya kembang, mesin yang baru diservis. "Kau naik kelas," katanya datar. "Rute hulu sampai dekat batas. Lewat jalur sungai, lalu hutan tebangan. Muatannya sensitif. Pak Tan yang minta langsung kau yang bawa."
Nama Pak Tan disebut, untuk pertama kali, sebagai sesuatu yang menyentuh Bayu secara langsung. Itu pertanda. Ia sudah cukup dipercaya untuk dilihat oleh tangan yang lebih tinggi.
Rute itu memang tidak ada di peta mana pun. Ia turun dari jalan tebangan ke sebuah dermaga kayu yang tidak diberi nama, di mana truk dinaikkan ke ponton dan diseberangkan menyusuri sungai cokelat yang lebar, melewati hutan yang dindingnya rapat sampai langit cuma tinggal celah. Di seberang, jalan tebangan lain, lebih sempit, dengan titik-titik serah terima yang ditandai cuma oleh hal-hal kecil: tumpukan ban bekas, drum yang dicat setengah, gubuk tanpa orang. Bayu menghafal semuanya dalam diam — bukan dengan menulis, tapi dengan cara lama sopir menghafal jalan, lewat patokan dan rasa. Pohon tumbang yang melintang. Tikungan yang tanahnya selalu basah. Wajah-wajah penjaga di tiap titik, yang ia simpan di kepala seperti menyimpan plat nomor.
Dan ia mulai memahami sesuatu yang lebih besar dari sekadar selundupan. Di salah satu titik, ada serah terima dengan orang yang tidak berpakaian seperti penyelundup kampung. Sepatu mereka kering dan kokoh di tengah lumpur. Cara mereka berdiri merata, satu selalu mengawasi sekeliling sementara yang lain bekerja. Mereka tidak banyak bicara, dan saat bicara, ada satu-dua kata yang logatnya bukan logat sini, bukan pula logat seberang yang biasa. Bayu tidak bisa menamainya. Tapi ia tahu disiplin saat melihatnya. Ini bukan preman. Ini orang yang dilatih. Mira benar tentang tangan dari seberang. Bayu baru saja melihat ujung jarinya.
Lalu, di titik serah terima keempat, di sebuah gubuk panjang yang dindingnya dari papan, Karavan menunjukkan kepadanya muatan yang membuat dunianya bergeser.
Manusia.
Mereka digiring keluar dari gubuk dalam barisan, belasan orang, tangan terikat tali plastik di depan tubuh, mata yang sudah terlalu lelah untuk takut. Laki-laki, perempuan, dua-tiga yang masih remaja. Pakaian mereka lusuh oleh perjalanan jauh, dan bau mereka — bau orang yang sudah lama tidak bisa membersihkan diri, bau ketakutan yang menetap — memenuhi gubuk itu. Mereka dinaikkan ke bak truk lain, bukan truk Bayu, disusun seperti barang, dan terpal ditarik menutupi mereka. Salah satu penjaga menendang pelan kaki yang menjuntai keluar, mendorongnya masuk, seperti membetulkan tumpukan karung.
Sesuatu di dalam Bayu berdiri dan ingin berbuat. Bukan air mata — ia bukan orang yang menangis. Yang muncul justru lebih berbahaya: perhitungan dingin yang salah. Otaknya, dalam sepersekian detik, sudah menghitung. Penjaga ada empat. Ia tahu di mana kunci truk itu. Kalau ia menghidupkan mesin sekarang, kalau ia menabrak gubuk itu, kalau ia membawa truk berisi orang-orang itu kembali menyeberang sebelum mereka sadar — pikiran itu datang lengkap, matang, masuk akal, dan sepenuhnya bunuh diri. Bukan cuma untuk dirinya. Untuk mereka semua. Untuk misi yang baru saja menyentuh inti.
Tangannya sudah bergerak setengah ke arah kunci kontak ketika ia menangkap bayangan Jarwo di pikirannya, dan kursi kosong Udin, dan suara Mira yang rata: aku butuh sopir yang takut secukupnya. Ia menarik tangannya. Pelan. Ia memaksa wajahnya jadi wajah sopir yang sudah sering melihat hal seperti ini, wajah yang bosan, wajah yang cuma ingin tugasnya selesai. Ia menyalakan rokok dengan tangan yang ia paksa diam, dan ia berpaling, memandang sungai, seolah belasan manusia terikat di belakangnya cuma muatan biasa yang tidak ada urusannya.
Salah satu penjaga, yang sepatunya kering itu, memperhatikannya. Bayu merasakan tatapan itu. Penjaga itu sedang menilai juga — bukan apakah ia gugup, melainkan apakah ia peduli. Karena sopir yang peduli adalah sopir yang suatu hari akan berbuat sesuatu. Maka Bayu melakukan hal tersulit yang pernah ia lakukan sepanjang hidupnya: ia meludah ke tanah, dengan tampang jijik bukan pada penyelundupan, melainkan pada bau muatannya, dan berkata pelan pada penjaga itu, "Cepetan dong. Aku masih jauh." Suaranya datar, kasar, tidak sabar — suara sopir yang cuma memikirkan solar dan jam tidur.
Penjaga itu menyeringai sedikit, dan tatapan menilainya melunak. Bayu lulus lagi. Tapi harga kelulusan itu terasa lebih mahal dari semua yang sebelumnya, karena yang ia bayar bukan keberanian, melainkan sepotong dari dirinya sendiri. Ia naik ke kabin, menyalakan mesin, dan membawa truknya pergi dari gubuk itu dengan belasan wajah terikat tertinggal di pantulan spion, mengecil, lalu hilang ditelan lumpur dan pohon.
Di sepanjang jalan pulang menyeberang sungai cokelat itu, Bayu tidak menyetel radio, tidak merokok lagi, cuma menyetir. Ia memikirkan satu hal berulang-ulang, dan hal itu lebih menakutkan daripada penjaga bersepatu kering mana pun. Bukan ketakutan ketahuan. Melainkan betapa mudahnya tadi ia berpaling. Betapa cepat tangannya menjauh dari kunci. Ia masuk ke jalur ini untuk membongkar orang-orang yang memperlakukan manusia sebagai muatan. Dan baru saja, untuk menyelamatkan dirinya, ia memperlakukan mereka persis sama. Garis antara berpura-pura jadi salah satu dari mereka dan benar-benar menjadi salah satu dari mereka, ia sadari, tidak ditarik oleh orang lain. Ia menariknya sendiri, sedikit demi sedikit, setiap kali ia berpaling.