Kota perbatasan itu kecil dan basah, satu jalan utama dengan ruko-ruko yang setengahnya jualan sembako dan setengahnya entah jualan apa. Di ujung jalan, hutan; di balik hutan, garis yang di peta cuma titik-titik tapi di sini berupa parit, pagar kawat yang sudah lama jebol, dan pos lintas batas yang lampunya redup. Dua negara saling mengintip di sini, dan di sela intipan itulah Karavan hidup.
Bayu diperintahkan menunggu di gudang belakang sebuah ruko, mengantar muatan terakhir rutenya — peti-peti yang lebih berat dari ukurannya, yang sejak Simpang Tiga ia curigai isinya bukan barang dagangan biasa. Ia menurunkannya satu per satu di lantai gudang, lalu disuruh menunggu di luar, merokok, sementara serah terima dilakukan orang lain. Tapi Karavan membuat satu kesalahan kecil yang sering dibuat jaringan yang sudah terlalu percaya diri: mereka menganggap sopir tidak melihat. Pintu gudang itu punya celah, dan dari kegelapan tempatnya berdiri merokok, Bayu melihat.
Yang datang menerima peti bukan orang Pak Tan. Mereka turun dari dua mobil yang terlalu bersih untuk jalan perbatasan, mobil yang mesinnya halus dan plat nomornya seberang. Empat orang. Cara mereka bergerak sama dengan penjaga bersepatu kering di gubuk hutan — satu selalu mengawasi pintu, satu mengawasi jalan, dua memeriksa muatan. Mereka membuka satu peti, mengeluarkan sesuatu yang dibungkus plastik tebal, memeriksanya dengan alat kecil yang berkedip, lalu mengangguk. Efisien. Tidak ada uang berpindah di tempat itu — yang berarti pembayaran sudah diatur jauh di luar pandangan, lewat saluran yang bukan tunai, yang bukan dunia preman.
Dan mereka bicara. Pelan, di antara mereka sendiri, dalam bahasa yang bukan bahasa sini. Bayu tidak mengerti kata-katanya. Tapi ia tidak perlu mengerti untuk tahu. Ada disiplin dalam cara mereka berbicara, kalimat pendek, instruksi, bukan obrolan. Salah satu menyebut deretan angka dengan irama orang membaca koordinat atau jadwal. Logat mereka rapi, terlatih, logat orang yang pernah duduk di ruang kelas yang mengajari cara tidak ketahuan. Ini bukan penyelundup yang belajar di jalanan seperti Aseng atau Jarwo. Ini orang yang dibayar negara. Tangan dari seberang yang dibicarakan Mira, dan kini Bayu melihat wajahnya — atau setidaknya melihat bahwa wajah-wajah itu ada, nyata, dan bekerja di kota kecil yang basah ini seolah mereka pemiliknya.
Peti-peti yang ia bawa dari hulu sampai sini, ia sadari sekarang, tidak pernah benar-benar milik Karavan. Karavan cuma kurir. Pemilik sejatinya orang-orang bersepatu kering ini, yang memakai jaringan selundupan kampung sebagai pipa logistik karena pipa itu sudah jadi, sudah punya jalur tikus, sudah membeli setiap penjaga pos di sepanjang koridor. Mereka tidak perlu membangun apa-apa. Mereka cuma menyewa urat nadi yang sudah berdetak. Dan para sopir, termasuk Bayu, cuma sel darah yang membawa sesuatu yang tak satu pun dari mereka boleh tahu isinya.
Ia harus mengirim ini ke Mira. Tapi mengirim dari kota perbatasan berbahaya — terlalu banyak mata, terlalu sedikit alasan wajar untuk berhenti di tempat yang salah. Maka ia menunggu sampai esok pagi, saat konvoi pulang merayap di antrean pos timbang kilometer dua puluh, truk-truk merapat, sopir-sopir turun meluruskan kaki dan kencing di parit pinggir jalan. Di keramaian dan kebosanan antrean itulah Mira mengajarinya berpapasan menyerahkan.
Kontaknya bukan Mira sendiri. Seorang penjual rokok asongan, bocah kurus dengan dagangan tergantung di leher, menyusuri antrean truk menawarkan dagangan. Bayu memanggilnya, membeli sebungkus rokok, dan dalam pertukaran uang dan rokok itu — satu detik, satu sentuhan tangan — gulungan kecil berisi semua yang ia lihat berpindah dari telapaknya ke telapak bocah itu, terselip di antara lembaran uang receh. Bocah itu tidak menatapnya, tidak melambat, terus menyusuri antrean menawarkan rokok pada truk berikutnya, lalu hilang di balik kelokan. Sempurna. Tidak ada yang bisa dilihat oleh siapa pun, karena memang tidak ada yang terjadi selain seorang sopir membeli rokok dari asongan.
Bayu naik kembali ke kabin, antrean mulai bergerak, dan untuk sesaat ia membiarkan dirinya merasa berhasil. Ia sudah melihat tangan asingnya. Ia sudah mengirim kabar. Ia sudah lebih dekat ke kebenaran daripada agen mana pun yang pernah dikirim Mira.
Lalu kesadaran itu datang, dingin, di tengah deru mesin yang dipanaskan: makin dekat ke kebenaran, makin sedikit orang yang bisa menolongnya. Mira jauh, berhari perjalanan. Tidak ada lencana, tidak ada surat tugas, tidak ada bantuan yang bisa datang tepat waktu. Orang-orang bersepatu kering itu bukan Aseng yang bisa ditipu dengan jawaban benar soal gigi dua di tanjakan. Mereka dilatih untuk menemukan orang seperti Bayu, untuk mengendus sopir yang melihat terlalu banyak. Dan kalau mereka yang mengendusnya, tidak akan ada kursi kosong yang ramah seperti kursi Udin. Tidak akan ada apa pun. Cuma parit, di jalur yang sunyi, di mana hujan akan menghapus jejak sebelum siapa pun bertanya ke mana ia pergi.
Ia memasukkan gigi, melepas kopling dengan sentakan kasar yang benar, dan membawa truk kosongnya pulang menyusuri jalan lintas, satu titik di antara ribuan, seorang sopir lelah yang cuma butuh solar — dan yang kini menyimpan rahasia yang cukup besar untuk membunuhnya dua kali.