Bayu menyadarinya bukan di kaca spion, melainkan di kakinya.
Ia sudah dua jam di jalan lintas pulang, truk kosong, hujan turun rapat dan kabut mulai naik dari aspal yang panas, ketika ia merasakan ada yang salah dengan truk di belakangnya. Bukan karena truk itu terlalu dekat. Justru karena terlalu sempurna. Sopir biasa, di jalan kosong dan hujan, akan menjaga jarak yang berubah-ubah, kadang mendekat saat bosan, kadang menjauh saat melamun, mengerem saat melihat lubang, lalu lupa. Truk di belakang Bayu tidak begitu. Ia mengerem persis saat Bayu mengerem. Ia melambat persis saat Bayu melambat. Pola pengeremannya mengikuti pola Bayu dengan jeda yang selalu sama. Itu bukan sopir yang sedang menyetir. Itu sopir yang sedang menempel.
Mira tidak pernah memberinya pelajaran ini. Mira mengajari ekor sedan dan rute kota. Tapi di jalur ini, ekor naik truk, dan satu-satunya orang yang bisa membaca ekor bertruk adalah orang yang dua belas tahun hidup membaca punggung truk lain. Bayu tidak panik. Ia menghitung.
Ini bukan polisi. Polisi tidak menempel diam-diam di jalan lintas; polisi menyalakan sirene atau tidak ada sama sekali. Bukan preman — preman tidak punya kesabaran sehalus ini. Maka tinggal dua kemungkinan, dan keduanya buruk. Karavan yang mulai curiga pada sopir baru yang terlalu cermat. Atau orang-orang bersepatu kering dari seberang yang sudah mengendus bahwa peti mereka diawasi mata yang salah. Bayu tidak tahu yang mana. Dan dalam ketidaktahuan itulah letak ngerinya: ia tidak tahu siapa yang sedang ingin membunuhnya.
Ia tidak mempercepat. Mempercepat berarti mengaku tahu. Sebaliknya, ia menguji. Di tikungan panjang yang ia hafal, ia melambat tanpa alasan terlihat, memberi truk pembuntut kesempatan untuk menyalip kalau memang cuma sopir biasa yang terburu-buru. Truk itu tidak menyalip. Ia ikut melambat, menjaga jarak yang sama, sabar. Konfirmasi. Bayu menyalakan lampu dim dua kali pada truk yang berpapasan dari arah berlawanan — bukan basa-basi sopir, melainkan untuk melihat reaksi pembuntutnya. Tidak ada. Profesional. Ia tidak terpancing.
Maka Bayu beralih ke satu-satunya medan tempat ia lebih unggul: jalan itu sendiri. Pembuntut itu mungkin terlatih, mungkin sabar, mungkin bersenjata. Tapi ia tidak hafal jalur ini seperti Bayu hafal. Tidak ada yang hafal. Itulah kenapa Mira memilihnya. Itulah satu-satunya senjatanya.
Di depan ada percabangan yang tidak ada di peta — jalan tebangan tua yang menyempit lalu menyatu kembali dengan jalan utama belasan kilometer kemudian, tapi cuma kalau kau tahu bahwa di tengahnya ada jembatan kayu yang masih kuat untuk truk kosong dan rubuh untuk truk penuh, dan tikungan buta tempat tanah longsor tahun lalu menyisakan satu jalur sempit. Bayu masuk ke cabang itu seolah memang rutenya, tanpa ragu, tanpa sein yang mengkhianati niat. Pembuntut mengikuti — tentu mengikuti, karena tidak mengikuti berarti kehilangan.
Di dalam kabut dan hutan, Bayu memainkan kartunya. Ia mempercepat di bagian yang ia tahu lurus meski tak terlihat, menjauhkan diri, lalu di tikungan buta longsoran ia melakukan hal yang cuma berani dilakukan orang yang tahu persis lebar jalan: ia membanting truknya ke jalur sempit di sisi tebing, mematikan lampu, dan berhenti, menempel di balik dinding tanah longsoran yang menutupinya dari pandangan tikungan. Mesin tetap hidup, gigi siap. Ia menunggu dalam gelap dan hujan, jantungnya berdetak di telinga.
Pembuntut itu lewat. Lampunya menyapu kabut di mana Bayu seharusnya berada, tidak menemukannya, dan terus melaju, mempercepat, mengejar bayangan yang sudah tidak ada di depan. Bayu menghitung sampai tiga puluh, lalu memutar truknya pelan-pelan di jalur sempit itu — manuver yang membuat keringat dingin meski udara basah — dan kembali ke arah datangnya, lampu masih mati, sampai cukup jauh untuk menyalakannya lagi dan keluar ke jalan utama lewat mulut cabang yang lain. Saat ia kembali ke jalan lintas, di belakangnya cuma hujan dan kabut. Ekor itu putus. Pembuntut profesional itu sekarang ada belasan kilometer di depan, di jalan tebangan buntu, mengejar tikungan kosong, dan akan butuh waktu lama untuk menyadari bahwa mangsanya tidak pernah ada di sana.
Bayu menepi di rest area pertama yang ramai, di tengah truk-truk lain, di tempat yang terang dan banyak orang, karena pemburu tidak menyerang di keramaian. Ia mematikan mesin dan untuk pertama kali sejak kakinya merasakan pola pengereman itu, ia membiarkan tangannya berhenti berpura-pura tenang. Tangannya gemetar di setir. Ia membiarkannya.
Ia lolos. Tapi kemenangan itu terasa seperti kekalahan yang ditunda. Karena pertanyaannya tetap menggantung, lebih berat sekarang setelah ia merasakan betapa terlatihnya ekor itu: siapa? Kalau Karavan, berarti Jarwo atau Aseng sudah cukup curiga untuk menempelkan orang padanya, dan setiap hari di pool menjadi hitungan mundur. Kalau orang seberang, berarti ia sudah masuk daftar dinas asing yang punya sumber daya, kesabaran, dan tidak akan berhenti pada satu truk pembuntut yang gagal. Dan kemungkinan terburuk, yang paling masuk akal dan paling membekukan: bisa jadi keduanya sudah mulai bertanya hal yang sama, dari dua arah, tentang satu sopir baru yang membaca cermin terlalu cermat dan menghilang di jalan yang seharusnya tidak ia kenal sebaik itu.
Ia menyalakan rokok dengan tangan yang masih bergetar, menatap hujan yang jatuh di bawah lampu sodium rest area, dan tahu bahwa ia tidak bisa lagi pulang ke pool seolah hari ini cuma hari biasa. Mereka tahu jalannya. Sekarang ia harus tahu siapa mereka, sebelum mereka mencobanya lagi — dan lain kali, di jalan yang mungkin ia tidak hafal.