Jarwo tidak menyergap. Orang seperti Jarwo tidak pernah menyergap. Ia mengikis.
Ia mulai esok harinya di pool, sambil sama-sama menambal terpal di bawah sinar matahari yang menyengat setelah hujan semalam. Obrolan biasa, ramah, tentang harga solar dan istri orang. Lalu, di sela, sebuah jarum. "Kau dari Pontianak, katamu. Pernah mangkal di pool Sungai Raya? Aku punya sepupu di sana, juragan truk, namanya Haji Salim. Pasti kenal."
Bayu meneruskan menjahit terpal, tidak melambat, tidak mempercepat. Haji Salim bisa nama asli, bisa jebakan — nama yang tidak ada, dan kalau Bayu mengaku kenal, ia ketahuan. "Pool Sungai Raya aku jarang," katanya. "Aku lebih sering ke arah Rasau. Juragan-juragan situ aku nggak hafal namanya, cuma hafal truknya." Ia menyebut dua merek dan nomor lambung, detail kecil yang cuma diketahui orang yang benar-benar pernah di sana — detail yang sudah disiapkan unit Mira justru untuk pertanyaan seperti ini. "Haji Salim aku nggak kenal. Tapi kalau juragan, mungkin aku kenal truknya nggak kenal orangnya. Kami sopir nggak diajak ngopi sama juragan."
Jarwo tertawa, mengakui kebenaran kelas itu. "Betul. Juragan cuma kenal kita pas truknya mogok." Tapi matanya tidak ikut tertawa. Jarum berikutnya sudah disiapkan.
Sepanjang hari, jarum demi jarum. Pernah kecelakaan di mana? Anak istri di mana? Kenapa nggak balik ke Pontianak cari kerja di sana saja, kan kampung sendiri? Tiap pertanyaan kecil, wajar, hal yang ditanya sopir mana pun pada sopir baru. Tapi Bayu tahu Jarwo sedang menyusun. Ia sedang mengumpulkan jawaban-jawaban Bayu lalu mencocokkannya satu sama lain, mencari sambungan yang tidak pas, retak halus di las yang dari luar mulus. Itulah cara orang tua yang sabar membongkar cerita sampul: bukan dengan satu pertanyaan mematikan, melainkan dengan seratus pertanyaan sepele yang dijejer sampai salah satunya tidak cocok dengan yang lain.
Bayu bertahan dengan dua hal. Pertama, ajaran Mira: jawab sedikit, jangan menjelaskan lebih dari yang ditanya, dan biarkan kebenaran asli — truk disita, bangkrut, tidak punya pulang — jadi tulang punggung setiap jawaban, karena kebenaran tidak perlu diingat, ia cuma perlu diceritakan. Kedua, keberuntungan: di tengah interogasi terselubung itu, sebuah truk benar-benar mogok di gerbang pool, dan Bayu dipanggil membetulkannya, memberinya alasan jujur untuk pergi dari hadapan Jarwo sebelum jarum-jarum itu menumpuk terlalu tinggi.
Tapi saat ia menunduk di kolong truk mogok itu, tangannya berlumur oli, ia tahu kecurigaan sudah menyala dan tidak akan padam. Jarwo tidak akan menuduhnya hari ini. Mungkin tidak minggu ini. Ia akan terus mengikis, sabar seperti air pada batu, sampai entah Bayu membuat satu kesalahan, atau Jarwo cukup yakin untuk membisikkan namanya pada orang yang membuat kursi jadi kosong.
Dan ada yang membuat Bayu makin gelisah: dari mana datangnya curiga Jarwo? Apakah dari truk pembuntut kemarin — apakah Jarwo orang yang menyuruhnya? Atau Jarwo punya alasan sendiri, naluri tua yang mencium ada yang tidak beres jauh sebelum truk pembuntut itu? Bayu tidak bisa bertanya. Ia cuma bisa mencatat bahwa dua hal terjadi nyaris bersamaan — ekor di jalan, dan jarum di pool — dan dalam dunia ini, dua hal yang terjadi bersamaan jarang kebetulan.
Malam itu, ada tanda dari Mira. Bukan pesan panjang — bahaya menaruh pesan panjang. Cuma sebuah tanda di plang kilometer dua belas, kapur biru di sudut bawah, posisi tertentu, yang dalam bahasa yang mereka sepakati berarti: ada masalah, ambil pesan penuh di tempat menaruh. Bayu mengambilnya malam itu juga dari celah batu di rest area yang sudah disepakati, dan membaca gulungan kecil itu di bawah cahaya senter di kabin, lalu menelannya — secara harfiah, kertas tipis yang larut, karena kertas yang tertinggal adalah peti mati.
Pesan Mira pendek dan dingin, dan justru karena pendek dan dingin, ia menusuk. Unit kehilangan kontak dengan satu aset di dalam jaringan. Aset itu sudah lama tertanam, jauh sebelum Bayu, di lapisan yang lebih dalam dari yang bisa dicapai Bayu sekarang. Kontak terakhir dua minggu lalu. Lalu sunyi. Bisa berarti banyak hal. Bisa berarti satu hal. Seseorang mungkin tertangkap. Dan kalau aset itu tertangkap, dan kalau jaringan membuatnya bicara, maka semua yang aset itu tahu kini ada di tangan musuh — termasuk, mungkin, kecurigaan bahwa ada lebih dari satu orang di antara para sopir yang tidak benar-benar mengangkut barang.
Mira menutup pesannya dengan satu kalimat yang Bayu baca berkali-kali sebelum menelannya: Inti dispatch hampir terjangkau olehmu. Begitu pula bahaya. Pertimbangkan keluar.
Pertimbangkan keluar. Dua kata yang berarti Mira sendiri sudah cukup takut untuk menawarkan jalan pulang. Bayu duduk lama di kabin yang gelap, mendengar hujan mulai turun lagi di atap, dan menimbang. Keluar sekarang berarti gagal — berarti tangan dari seberang tetap memakai jalur ini, dan orang-orang seperti yang ia lihat di gubuk hutan akan terus diangkut seperti karung. Bertahan berarti merangkak lebih dalam ke inti dispatch dengan Jarwo mengikis di satu sisi, truk pembuntut entah dari mana di sisi lain, dan kini seorang aset yang hilang yang mungkin sedang menyerahkan semua rahasia mereka kepada musuh.
Ia tidak memutuskan malam itu. Tapi saat ia berbaring di bangku kabin, mata terbuka di kegelapan, ia tahu keputusan itu mungkin tidak akan jadi miliknya. Karena pagi tadi, sebelum tanda Mira, Aseng sudah memanggilnya, menepuk bahunya dengan senyum yang seperti hadiah, dan berkata bahwa lusa ada angkutan besar — angkutan paling penting yang pernah dipercayakan padanya, yang katanya akan mempertemukannya langsung dengan orang-orang yang selama ini cuma jadi nama yang dibisikkan. Sebuah undangan. Atau sebuah pintu. Atau sebuah perangkap yang dibungkus seperti kepercayaan. Bayu memejamkan mata, dan dalam gelap ia tidak bisa membedakan ketiganya.