“Kang, kapan atuh kita teh mau beli rumah yang gedean? Anak-anak kan sudah pada besar, emang cukup tinggal di rumah sepetak kaya begini?”
Perempuan itu menarik kursi di depan suaminya yang sedang makan. Sejak beberapa bulan lalu, ia selalu merengek ingin sebuah rumah yang besar, agar lebih nyaman untuk ditinggali. Perempuan itu mendengar tentang lahan cengkeh yang sempat dibicarakan oleh suaminya dengan salah satu kerabat Abah. Katanya, Abah memiliki lahan cengkeh cukup luas yang tidak diketahui oleh Enjang, sebagai anak pertama laki-laki yang mana, jikalau tidak ada umur nanti, pastilah warisan itu akan turun padanya.
“Keur naon atuh disusumputkeun? Naha teu beja-beja boga lahan sakitu gedena?”
Teringat perbincangannya dengan Nyai beberapa waktu yang lalu, saat Enjang mengetahui hal i