POV Haris
Aku adalah laki-laki yang amat sangat beruntung. Memiliki istri yang cantik, cerdas, royal, pengusaha sukses, dan yang paling penting, sangat kaya raya.
Dia bernama Laila Hussein. Perempuan keturunan Arab yang memiliki kekayaan yang sangat berlimpah. Anak tunggal dari pengusaha perkebunan teh di Bogor.
Setelah orang tuanya meninggal, otomatis aset kekayaan Abi dan Uminya jatuh di tangan Laila.
Memiliki harta yang melimpah tidak lantas membuat Laila berpangku tangan. Dia dan sahabatnya membangun perusahaan yang bergerak di bidang periklanan.
Bisa dibayangkan, berapa banyak uang dan aset yang Laila miliki. Tapi, itu semua tidak akan berlangsung lama, karena sebentar lagi, harta Laila akan berpindah ke tangan padaku.
Diam-diam aku dan Ibu mengambil sertifikat rumah dan membuat surat kuasa pengalihan perkebunan serta mobil pribadi Laila menjadi milikku.
Laila memang istri yang baik. Dia juga tidak pelit, selalu mengabulkan apa yang aku dan Ibu inginkan.
Tapi sayang, aku yang sedari dulu sering gonta ganti pasangan, merasa sosok Laila semakin hari semakin membosankan. Bukan karena dia tidak baik, atau karena tidak cantik, tapi ya ... bosan saja.
Hampir tujuh tahun menikah, beberapa kali aku selingkuh. Selama itu pula, Laila tidak pernah memergokinya. Kalau curiga sih pernah, dia pernah mencium parfum perempuan di kemeja. Gara-gara si Tiwi gadis Bogor yang kubayar 500 ribu sehari semalam menempel terus kayak perangko.
“Sayang, Kamu itu wanita yang sempurna, mana mungkin Abang cari wanita lain. Lagian setiap hari Abang pulang, tidur di rumah, siang jaga perkebunan, kapan selingkuhnya coba?” Aku berkilah. Berusaha membuat Laila yakin kalau aku suami yang setia. Meski kutahu Laila tidak sepenuhnya percaya.
Begitulah rumah tanggaku, selalu adem ayem. Jarang sekali kami ribut. Toh memang tidak ada yang diributkan. Selain karena Laila sibuk, aku pun cukup pandai meminimalisir masalah.
***
Suatu hari, saat dalam perjalanan menuju Bogor, tiba-tiba Ibu menelepon. Menyuruhku menjemputnya di restoran tempat Ibu dan teman arisannya berkumpul.
Awalnya malas, tapi Ibu tetap saja memaksa. Akhirnya mau tak mau datang ke sana.
Tiba di restoran, ternyata Ibu mengenalkanku dengan seorang wanita keturunan Indo-Korea. Namanya Meyla Chan. Ibu bilang sih, pengusaha berlian. Lebih tajir dari pada Laila.
Pertemuan pertama kami tidak berlangsung lama, hanya beberapa menit. Karena si Meyla ada telepon yang mengharuskannya pulang lebih dulu.
“Ibu lihat, si Meyla suka sama kamu, Har,” ucap Ibu saat perjalanan pulang.
“Siapa sih yang gak suka sama Haris, Bu? Semua wanita pasti sukalah ....”
“Iya, tapi semua wanita selingkuhanmu itu kere!!” Memang sih, aku tak pernah berselingkuh dengan wanita yang kaya raya. Lebih sering dengan wanita biasa-biasa aja.
“Ya gimana, Bu. Kalau yang banyak duitnya gak pada mau. Keburu sadar, kalau mereka cuma Haris manfaatin aja.”
“Pokoknya Ibu gak mau tahu, kamu harus menikah sama Meyla! Ibu dari dulu pengen banget ada yang ngasih berlian. Minta sama Laila gak pernah dibeliin! Kali aja kalau kamu jadi suami Meyla, dia akan ngasih Ibu berlian secara cuma-cuma.”
“Uang Ibu kan banyak, beli aja sih! Ngapain ngarep dikasih?”
“Gak mau! Uang yang Ibu kumpulkan buat masa depan kita, Har.”
“Tapi si Laila itu gak mau dimadu. Dulu dia pernah bilang.”
“Gampang. Ibu udah punya alasan supaya si Laila gak bisa nolak pernikahan kamu sama Meyla,” ungkap Ibu semangat.
“Alasannya?”
“Kita suruh si Laila memilih. Pilih dicerai atau mau dipoligami? Nah terus, alasan kamu pengen nikah lagi karena dia gak bisa ngasih anak! Gimana? Ide Ibu keren kan? Ibu sih yakin pasti si Laila gak mau dicerai.”
Aku menimbang alasan Ibu. Walaupun sudah tua, Ibuku otaknya cukup cerdas. Selalu saja punya ide. Terutama yang bersangkutan dengan uang.
Dua minggu setelah kedekatanku dengan Meyla, Ibu langsung menjalankan rencana. Meminta Laila memilih. Tentu saja Laila marah. Tidak terima. Dia malah mengajakku untuk ikut program bayi tabung.
Ternyata dugaan Ibu benar, Laila pasti tidak mau dicerai. Ibu beranggapan kalau Laila itu butuh kami karena ia sekarang hanya sebatang kara.
***
Hubunganku dengan wanita keturunan Korea semakin dekat. Kami sering teleponan, bahkan beberapa kali ketemuan.
Sebenarnya aku kurang suka Meyla, dia kayak yang pelit. Tiap makan di restoran selalu aku yang bayar. Bahkan pernah kami belanja di Mal, aku semua yang bayarin belanjaannya. Sempat aku mengeluh sama Ibu. Tapi Ibu malah menjawab.
“Gak apa-apa berkorban dulu. Nanti, kalau kamu udah jadi suaminya, kita rebut harta si Meyla. Kayak ngerebut harta si Laila,” ucap Ibu kala itu.
Ya sudah, akhirnya sampai sekarang aku masih berpura-pura menyukai Meyla. Satu lagi yang gak aku suka dari Meyla, dia sok jual mahal. Gak mau diajak ‘ena-ena’, dicium juga kadang mengelak. Halaaah ... membosankan!
***
Hari ini, aku dan Ibu akan berkunjung ke rumah Meyla. Tentu saja tanpa sepengetahuan Laila. Lagi pula mana mungkin Laila tahu, dia kan sibuk kerja.
Tapi, sejak Ibu memberinya pilihan itu, sekarang Laila jadi berubah. Wajahnya selalu kelihatan jutek. Jarang tersenyum. Dia juga mulai berani bicara keras. Bahkan sama Ibu pun berani membentak. Jujur saja, aku takut kalau Laila memilih ingin dicerai. Kalau dia minta dicerai sekarang, kesempatanku untuk menguasai hartanya akan gagal.
***
Ternyata benar, Meyla lebih tajir dari Laila. Rumahnya pun lebih megah. Aku dan Ibu sangat terkesan dengan perabotan yang ada di dalam rumah gadis bermarga Chan itu. Barang-barangnya sangat mewah. Belum lagi asisten rumah tangganya, memakai baju seragam semua.
“Maaf ya, nunggu lama,” ucap Meyla begitu datang menemui kami yang duduk nyaman di sofa.
Meyla tampak anggun dengan busana yang ia kenakan. Bibir tipisnya dipoles lipstik merah muda, telinganya bergelantung anting dengan berlian putih. Ada kalung juga yang menghiasi leher jenjangnya.
“Gak apa-apa, Mey.” Ibu menjawab sembari tersenyum.
“Ngomong-ngomong ada apa ya datang ke sini? Oh maaf, maksud aku tumben sekali mau ke sini? Biasanya kan ketemu di restoran.”
Kulihat Ibu mempersiapkan diri. Ingin menyampaikan maksud kedatangan kami.
“Kami ke sini ingin bicara soal kelanjutan hubungan kamu sama Haris.” Dahi Meyla berkerut .
“Maaf, aku belum ngerti. Bisa diperjelas,” pinta Meyla menyilangkan kakinya.
Ibu melirik padaku. Mengisyaratkan supaya aku angkat bicara. Aku berdehem.
“Gini Mey, Ibu ingin nanya keseriusan hubungan kita. Apa ... kamu mau aku nikahi?” jelasku hati-hati. Agar tidak ada kata yang salah atau menyinggung hati Meyla.
“Menikah? Kamu mau nikahi aku?” tanya Meyla. Matanya seperti menyelidik. Melihat aku dan Ibu dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Iya, Mey. Anak Ibu ini, ingin punya istri seperti kamu. Katanya, kamu ini ... wanita idaman Haris.” Celetuk Ibu. Meyla tertawa. Aku dan Ibu saling pandang. Tidak tahu sebenarnya apa yang Meyla tertawakan.
“Kenapa, Mey? Apa ada yang lucu?” Jujur saja aku tersinggung dengan sikap Meyla yang tiba-tiba tertawa. Seolah sedang menertawakan kami.
“Iya ada yang lucu. Kalian itu lucu. Masa belum kenal sebulan udah ngajak nikah? Hahaha ....”
“Lho emangnya kenapa? Banyak lho, Mey orang yang menikah Cuma kenal sebentar.” Ibu berujar meyakinkan Meyla agar mau menjadi menantunya.
Meyla menghentikan tawa. Kedua pipinya merah merona akibat tertawa. Tubuhnya agak membungkuk. Memandang kami bergantian.
“Hmm ... sebenarnya tujuan Mas Haris ingin menikahiku, memang tulus karena cinta atau karena ... harta?”