POV Haris
Aku tak menyangka si Meyla berani bicara seperti itu. Kenapa juga wanita ini bisa tahu kalau kami ingin hartanya? Padahal kalau jalan bersamaku, dia yang aku yang traktir.
“Hahaha ... mana mungkin kami ingin harta kamu, Mey. Harta Haris juga sudah melimpah. Bukannya kamu udah tau kalau Haris punya perkebunan teh yang luas di Bogor? Buktinya lagi ya, kalau kamu jalan sama Haris gak pernah ngeluarin uang kan?” Ibu menyangkal dugaan Meyla. Pintar juga Ibu. Aku bahkan tidak sempat berpikir. Terlalu syok dengan pertanyaan Meyla.
Meyla tersenyum tipis. Kepalanya mangut-mangut.
“Tapi, maaf. Aku gak ingin menikah sekarang-sekarang. Kalau Mas Haris ingin menikah, silakan saja dengan wanita lain.” Aku sudah menduga Meyla akan bicara seperti itu. Wanita seperti dia, mana mau punya suami. Meyla Inginnya kebebasan. Bagi wanita macam Meyla, punya suami Cuma jadi penghalang untuk kariernya. Ibu saja yang ngeyel, memaksa terus supaya aku segera menikahi Meyla.
“Ya ... gak apa-apa. Yang penting nikahnya tetap sama Haris.” Aduh Ibu ini, masih saja berharap. Bikin malu aja. Padahal seumur-umur gak pernah aku bersikap demikian. Mengemis-ngemis cinta wanita.
“Aku mau pergi dulu. Ada janji. Silakan kalian pulang sekarang,” ucap Meyla sambil berdiri.
Prediksi Ibu tentang wanita kali ini salah. Dia menganggap Meyla mudah aku taklukan seperti Laila, atau wanita lainnya.
“Oh begitu. Baiklah, kami juga mau pamit pulang. Makasih ya Mey, udah nyambut kami dengan baik.”
Wanita itu mengangguk.
***
Sepanjang jalan, Ibu terus saja membicarakan Meyla. Menyuruhku harus selalu optimis untuk meluluhkan hati Meyla. Bagaimana pun caranya aku harus bisa menikah dengan wanita keturunan Indo-Korea itu.
“Kamu kenapa diam aja sih?” protes ibu menatapku. Ibu kelihatan kecewa dengan sikap diamku.
“Habisnya mau ngomong apa?”
“Ditanya malah balik nanya. Tanggepin ke omongan Ibu.” Sebenarnya aku gak setuju dengan rencana Ibu. Terutama rencana menceraikan Laila. Bagaimana kalau si Laila menyanggupinya?
“Haris ikut omongan Ibu aja.” Pasrah, Cuma itu satu-satunya yang bisa aku lakukan. Kalaupun ditentang, Ibu pasti gak akan terima. Jadi percuma. Sia-sia.
***
Esok hari saat aku sedang bertemu klien di salah satu restoran, Ibu menelepon.
“Haris, keluar sebentar. Ibu ada di luar restoran.” Aku terkejut. Kenapa Ibu datang ke sini? Ibu kan tahu kalau aku ada jadwal bertemu klien.
Tak enak hati, aku mohon pamit pada Pak Sastro untuk ke toilet. Aku malu kalau berkata jujur. Nanti dikira anak mami.
“Haris, istri kamu itu makin kurang ajar!” Ibu mengadu ketika melihat kedatanganku tanpa peduli banyaknya orang yang lalu lalang. Aku menarik tangan Ibu menuju area parkir.
“Aduh, Ibu ... kenapa keras-keras sih ngomongnya? Bikin malu aja.” Aku menengok kanan kiri, memastikan tidak ada orang lain selain kami berdua.
“Ibu kesel sama si Laila. Masa dia nuduh ibu nyuri uangnya!”
“Apa? Laila nuduh kayak gitu?” Aku memekik tak terima.
Laila makin keterlaluan. Masa cuma gara-gara Ibu nyuruh dia pilih cerai atau poligami jadi segitu bencinya sampai menuduh Ibu mencuri.
“Bagaimana ceritanya, Bu? Si Laila sampe nuduh Ibu mencuri segala.” Memang tak masuk akal kalau Laila menuduh sekeji itu. Karena selama ini Laila tak pernah menuduh macam-macam pada kami. Padahal aku dan Ibu sering berbuat curang. Terutama masalah laporan keuangan dari hasil perkebunan.
“Tadi itu Ibu bersihin kamar si Laila. Eh tiba-tiba istri kamu pulang. Terus dia marah-marah. Nuduh Ibu udah nyuri uangnya. Haris, Ibu gak terima dituduh kayak gitu. Ayok cepetan pulang! Sebelum si Laila balik ke kantornya!”
“Ibu tunggu sebentar ya? Haris selesain urusan dulu.”
“Ya udah gak apa-apa. Cepetan ya?!”
***
Sampai rumah, aku langsung memanggil Laila. Berkali-kali kupanggil namanya, namun tak ada sahutan. Biasanya, kalau aku panggil, Laila langsung menjawab, tapi ini kok diam saja. Apa dia sudah balik ke kantor?
“Bu, kayaknya Laila udah balik ke kantor.”
“Belum, Haris. Dia masih di kamarnya. Lah itu mobil istri kamu masih di depan.” Benar juga, di depan masih ada mobil Laila.
Setengah berlari aku dan Ibu menaiki anak tangga menuju kamar Laila.
Di depan pintu kamar, kulihat Laila sedang berdiri menghadap jendela.
Aku langsung memarahinya. Meminta penjelasan, kenapa ia tega menuduh Ibu mencuri?
Tak kusangka Laila yang dulunya lemah lembut seperti kucing jinak, sekarang menjadi garang bak harimau.
Bukannya aku dan Ibu yang marah, justru ia yang memarahi kami. Laila tetap bersikukuh kalau Ibu berusaha mengambil uangnya tapi kepergok.
Masalah Ibu yang dituduh mencuri berbuntut dengan ide Ibu yang menyuruh Laila pilih cerai atau poligami?
Seperti dugaanku, Laila memilih cerai. Sejujurnya aku tak terima dengan keputusannya. Ini semua gara-gara Ibu. Terlalu yakin kalau si Meyla mau aku nikahi. Terlihat dari wajahnya, kalau Laila tampak serius memilih cerai dari pada poligami.
Anehnya, Ibu tetap santai mendengar keputusan yang Laila pilih. Bukannya waktu itu Ibu bilang Laila gak boleh dicerai? Supaya Ibu bisa dapat uang dari Laila dan Meyla? Ah benar-benar membuatku pusing saja.
Aku dan Ibu sudah keluar dari kamar Laila. Ibu mengajakku masuk kamarnya.
“Ke kamar Ibu dulu, Ibu mau bicara,” ucap Ibu serius. Aku mengikutinya.
“Haris, kamu jangan takut sama ancaman si Laila. Dia gak bakal usir kita dari rumah ini. Justru dia sendiri yang akan kita usir. Memang kamu lupa kalau sertifikat rumahnya ada di Ibu?”
“Ingat. Tapi sertifikat rumahnya masih atas nama Laila, Bu ....” Aku gemas dengan kepercayaan diri Ibu yang terlalu tinggi. Mana bisa mengusir si Laila kalau sertifikatnya saja masih atas nama dia?
“Ya sudah sekarang kamu bawa sertifikatnya ke notaris. Secepatnya diganti nama Laila jadi nama kamu. Ayo bantu Ibu angkat kasurnya. Sertifikat itu ibu simpan di bawah kasur. Ayok Haris ... bantuin Ibu.”
“Gak mau, ah! Haris capek. Besok-besok ajalah Bu.” Aku sudah malas mengikuti aturan main Ibu. Utamanya masalah Ibu yang nyuruh Laila memilih itu.
Aku mengusap wajah dengan kasar. Ibu cari masalah saja. Mendengar penjelasan Laila, kayaknya memang benar Ibu mau mencuri uang tapi kepergok. Tapi buat apa? Bukannya uang Ibu sudah banyak? Aku Melenggang keluar dari kamar Ibu.
Jujur saja, aku takut jatuh miskin. Takut apa yang sekarang aku miliki tak dapat lagi aku miliki.
Cuma Laila wanita yang tidak sadar kalau selama ini aku manfaatin. Aku akui, Laila bukan bodoh, bukan juga gak tahu, dia cuma terlalu baik sama orang. Terlalu berprasangka baik ke orang terutama kepadaku dan Ibu. Makanya aku gak mau kehilangan dia.
Dari pada pusing mikirin ini, mendingan ke klub malam. Joget-joget, minum-minuman, dan ‘ena-ena’. Uhuuuyyy ....