Jakarta pukul 07.45 WIB.
Suara itu terdengar lagi. Suara ngik... ngik... yang halus namun sanggup merobek jantung Sifa setiap kali mendengarnya.
Sifa umur 28 tahun menarik napas pendek, jemarinya yang gemetar menekan tombol nebulizer dengan panik. Di hadapannya, Bily umur 5 tahun duduk bersandar di tumpukan bantal dengan wajah sepucat kertas. Uap obat mulai mengepul, namun d**a kecil itu masih naik-turun dengan susah payah.
"Sabar, Sayang... nafas pelan-pelan. Ikuti Ibu... hufff... pufff..." Sifa bicara dengan kecepatan 120 km/jam, tangan tak berhenti bergerak merapikan selimut, mengusap keringat Bily, dan melirik jam dinding di saat yang bersamaan.
Sifa melirik ponselnya yang bergetar di lantai. 15 panggilan tak terjawab yaitu Pak Joni dari Minimarket.
"Sial," umpat Sifa pelan. Dia tahu apa artinya itu.
Tepat pukul 09.00, Sifa menerjang pintu kaca minimarket dengan napas yang lebih tersengal dari Bily. Rambutnya berantakan, seragamnya kusam dan satu kancing di atasnya terlepas.
"Sifa! Kamu lihat jam berapa sekarang?!" Pak Joni berdiri di depan rak mi instan, melipat tangan di d**a dengan wajah merah padam.
Sifa tidak berhenti. Sambil bicara, dia langsung menyambar kemoceng dan mulai membersihkan debu di rak dengan gerakannya secepat kilat. "Maaf Pak Joni saya tahu saya telat saya tahu ini salah tapi Bily tadi kambuh parah saya harus antar kontrol asma dan antrean di puskesmas itu lebih panjang dari antrean Pembagian sembako gratis saya benar-benar minta maaf saya akan lembur hari ini tanpa bayar saya janji!"
"Berhenti, Sifa!"
Sifa membeku. Kemocengnya tertahan di udara.
“Ini yang ketiga dalam minggu ini,” Pak Joni menarik sebuah amplop cokelat dari saku kemejanya. "Pelanggan protes karena kasir kosong. Saya tidak bisa membayar orang untuk datang hanya buat minta maaf."
Sifa keringat dingin. Kecepatan bicaranya tiba-tiba nihil. "Pak... tolong. Bily butuh inhaler baru malam ini. Inhaler lamanya sudah kosong. Kalau dia kambuh lagi nanti malam, saya—"
“Itu bukan urusan perusahaan,” Pak Joni meletakkan amplop itu di meja kasir. "Gajimu bulan ini dipotong denda keterlambatan. Sisanya di dalam sana. Sekarang, lepas seragammu."
Sifa mengungkapkan amplop itu. Tangannya perlahan meraba saku celananya. Kosong. Dia hanya punya lima ribu rupiah di sana—sisa ongkos angkot.
Dia menarik napas panjang, mendongak, dan menatap Pak Joni dengan mata yang tiba-tiba tajam. Rasa sedihnya menguap, digantikan oleh harga diri yang menyalak.
“Oke. Saya keluar,” ujar Sifa tegas. Dia melepas rompi seragamnya dengan sekali sentakan, lalu membantingnya ke meja kasir. "Tapi satu hal, Pak Joni. Toko ini kotor karena Bapak pelit beli alat pembersih yang layak. Semoga Bapak sukses dengan debu-debu itu!"
Sifa menyambar amplopnya dan keluar dengan langkah tegap. Begitu pintu kaca tertutup di belakangnya, bahunya merosot. Dia membuka amplop itu.
Dua lembar uang seratus ribu. Dan beberapa sepuluh lembar ribuan.
“Dua ratus lima puluh ribu?” bisik Sifa. "Obat Bily saja tiga ratus ribu."
Dia menatap ke seberang jalan. Di sana, sebuah gedung bertingkat langit berdiri angkuh, dinding kacanya memantulkan cahaya matahari yang menyilaukan. Logo perusahaan raksasa terpasang di puncaknya berlogo DIKA GROUP.
Gedung itu terlihat dingin, jauh, dan tak terjangkau. Sama seperti pria yang memiliki tempat itu.
Sifa menggenggam tangan, meremas amplop cokelat di genggamannya. "Satu hari. Aku punya waktu sampai malam ini untuk mendapatkan uang tambahan. Atau Bily tidak bisa bernapas."
Sifa mulai berlari lagi. Bukan untuk pulang, tapi menuju gedung angkuh itu.
Di Grup Lobi Dika pukul 10.15 WIB.
Lantai marmer itu begitu mengilat sampai Sifa bisa melihat bayangan wajahnya yang kuyu. AC sentral gedung ini terasa seperti embusan angin kutub, tapi keringat dingin tetap membasahi punggung Sifa.
Di dekatnya, seorang wanita paruh baya dengan kacamata bertali rantai perak menatap Sifa dari ujung kaki ke ujung kepala. Namanya Bu Maya, Kepala Fasilitas.
"Kamu tahu kan ini gedung apa?" Bu Maya mengetukkan pulpennya ke meja. "Kami tidak butuh orang yang hanya bisa menyapu. Kami butuh orang yang punya mental baja. Di sini, kalau kamu lambat sedikit, kamu dimaki. Kalau kamu salah sedikit, kamu dipecat. Paham?"
Sifa menarik napas, matanya berbinar aneh dengan campuran antara putus asa dan adrenalin.
"Paham sekali Bu saya sudah biasa dimaki pelanggan minimarket yang marah karena harga promo belum di update saya juga biasa kerja dari subuh sampai subuh lagi tanpa mengeluh janji gajinya jelas dan dibayar tepat waktu karena anak saya butuh obat asma malam ini jadi kalau Ibu butuh orang yang tidak akan menangis hanya karena dibentak maka Ibu sedang bicara dengan orang yang tepat saya bisa membersihkan seluruh lobi ini dalam tiga puluh menit kalau Ibu mau silakan tes sekarang!"
Bu Maya mengerjapkan mata. Dia seperti baru saja ditabrak kereta ekspres. "Bicaramu...cepat sekali."
"Efisiensi waktu Bu makin cepat bicara, makin banyak kerjaan yang beres!"
Bu Maya terdiam sejenak, lalu menyodorkan selembar kertas. "Kebetulan, staf kebersihan untuk lantai 50 di lantai direksi baru saja mengecewakan diri pagi ini setelah menangis histeris. Kamu diterima. Tapi ingat, jangan pernah bicara satu patah kata pun jika tidak ditanya oleh CEO kami. Anggap dirimu hantu."
Sifa menyambar pulpen itu tanpa ragu. "Hantu tidak masalah Bu asal hantunya dapat gaji mingguan!"
Sifa menandatangani kontrak itu dengan coretan kilat. Dia tidak sadar, di lantai 50, seorang pria sedang menatap layar monitor CCTV yang menampilkan area administrasi.
Lantai 50. Ruang CEO.
Dika seorang duda umur 35 tahun mengendurkan dasinya. Mata yang tajam menatap tajam ke arah layar. Dia melihat Sifa yang sedang menerima seragam barunya. Memakai sebuah setelan cleaning service abu-abu yang tampak kebesaran di tubuh kecil wanita itu.
"Siapa dia?" suara Dika rendah, seperti geraman.
Asistennya, Rio, sedang mengecek tablet. "Staf baru untuk area Bapak. Namanya Sifa. Baru saja diterima Bu Maya karena... yah, sepertinya dia cukup tangguh."
Dika tertegun. Nama itu. Wajah itu.
Ada kenangan yang menghancurkan secara tiba-tiba. Sebuah kecelakaan. Suara rem berdecit. Dan seorang pria yang memintanya sebelum semuanya menjadi gelap.
Dika menggenggam tangan hingga buku jarinya memutih. "Pastikan dia tahu aturannya, Rio. Kalau dia melakukan kesalahan sekecil apa pun di depanku..." Dika menjeda, matanya memerah. "...saya akan membuat dia menyesal pernah menginjakkan kaki di gedung ini."
"Tapi Pak, Bu Maya bilang dia punya anak yang—"
"Saya tidak peduli!" bentak Dika hingga Rio berjengit. "Kerja adalah kerja. Jangan bawa sampah drama ke ruangan saya!"
Dika memutar kursinya, memunggungi layar, tapi dadanya berdegup tidak keruan. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba bangkit, mencekiknya lebih kuat daripada dasi yang ia pakai.