Lantai 50 di lorong direksi sekitar pukul 11.30 WIB.
Sifa sudah bekerja seperti kesurupan selama satu jam terakhir. Lorong lantai 50 mengilat sempurna. Dia sudah menghafal setiap sudut vas bunga mahal dan memastikan tidak ada satu sidik jari pun di dinding kaca. Seragam abu-abunya (yang ternyata ukurannya lumayan pas setelah diikat sabuk) sedikit basah oleh keringat.
"Tinggal lobi lift ini. Selesai. Gaji minggu ini aman," gumam Sifa, bicara pada dirinya sendiri.
Di kejauhan, pintu ruang rapat besar terbuka. Suara langkah kaki berat berdentum. Rombongan direksi keluar, dipimpin oleh pria yang Sifa lihat di monitor kemarin yaitu Dika. Dia mengenakan setelan jas abu-abu arang yang sangat mahal, tampak tajam, dingin, dan mengintimidasi. Asistennya, Rio, berjalan tepat di sampingnya sambil membacakan jadwal.
Dika sedang tidak mood. Rapat barusan berjalan buruk. Alisnya bertaut rapat.
Tepat saat itu, Sifa menyadari ada sedikit noda di dekat pintu lift. "Ah, tidak boleh ada noda! Tidak boleh!" Sifa berlari kecil, matanya terpaku pada noda di lantai marmer. Dia memegang segelas kopi panas (yang baru saja dia ambil dari pantri atas instruksi Bu Maya "buat berjaga-jaga kalau ada direktur yang minta").
Sifa tidak melihat ke depan. Dika tidak melihat ke bawah.
BRUK!
Di lobi lift yang sunyi itu, suara tabrakan terdengar keras. Waktu seolah melambat. Kaki Sifa tersangkut papan "Lantai Basah" (yang sialnya dia letakkan sendiri di posisi yang salah). Tubuhnya limbung ke depan.
Isi gelas kopi itu meluncur bebas, seperti ombak mini berwarna cokelat tua.
CRAAAASH!
Kopi panas itu mendarat telak. Bukan di lantai, tapi tepat di d**a Dika. Membasahi kemeja putihnya dan meresap cepat ke dalam jas abu-abu arang yang harganya setara gaji Sifa selama sepuluh tahun.
Sifa terjatuh keras ke lantai marmer. Gelas plastik kosong menggelinding di dekatnya.
Keheningan yang mencekam menyelimuti lorong. Rio membeku. Para direktur di belakang Dika menahan napas. Security yang berjaga di dekat pintu langsung berlari mendekat.
Dika membeku. Matanya melebar, menatap cairan cokelat yang mulai terasa panas di kulit dadanya. Wajahnya perlahan berubah menjadi merah padam.
Sifa mendongak dari lantai, matanya bertemu dengan tatapan mata Dika yang menyala. Dia bisa melihat urat nadi yang berdenyut di pelipis sang CEO. Sifa keringat dingin. Rasa sakit di lututnya hilang, digantikan oleh rasa ngeri yang dingin.
"Ma... maaf... Pak... Saya... tidak sengaja..." Sifa gagap. Kecepatan bicaranya hilang total.
Dika tidak menjawab. Dia hanya menatap Sifa dengan tatapan yang bisa membunuh seekor gajah. Suasana lorong itu mendadak terasa lebih dingin daripada ruang otopsi. Ini bukan sekadar kecelakaan; ini adalah katastrofe.
"Punya mata tidak?!"
Suara Dika menggelegar, menghantam dinding-dinding kaca lorong hingga rasanya bergetar. Beberapa direktur di belakangnya refleks mundur satu langkah.
Dika mencengkeram kain jasnya yang basah kuyup, mengibaskannya dengan jijik sebelum menunjuk wajah Sifa dengan telunjuknya yang gemetar menahan amarah. "Kalau tidak becus kerja pakai tangan, bersihkan pakai lidahmu sekalian! Potong gaji!"
Sifa, yang masih terduduk di lantai marmer yang dingin, merasa darahnya mendadak mendidih.
Kata-kata itu bukan sekadar tegoran kasar. Itu adalah injakan telak pada harga dirinya yang sudah susah payah dia pertahankan di jalanan. Rasa takutnya menguap, digantikan oleh ledakan emosi yang menjadi ciri khasnya. Sifa langsung bangkit berdiri, mengabaikan lututnya yang ngilu.
"Apa Bapak bilang?! Bersihkan pakai lidah?!" Sifa menatap lurus ke mata Dika, bicaranya langsung melesat seperti kereta ekspres tanpa rem. "Saya tahu saya salah saya tahu saya ceroboh dan saya mau minta maaf tapi kata-kata Bapak itu keterlaluan! Jas Bapak ini memang mahal tapi mulut Bapak jauh lebih murah daripada harga kain ini! Saya ke sini buat kerja cari uang halal buat obati anak saya bukan buat jadi keset kaki Bapak yang bisa diinjak-injak sesuka hati!"
"Kamu—" Dika melotot, rahangnya mengeras. Belum pernah ada karyawan, bahkan jajaran direksi sekalipun, yang berani membentaknya se-frontal ini.
"Apa?! Mau pecat saya?! Silakan!" Sifa menyemburkan kalimatnya tanpa memberi Dika celah untuk memotong. "Tapi potong gaji saja tidak cukup untuk ganti jas Bapak kan?! Silakan hitung berapa kerugiannya saya akan bayar dicicil sampai lunas walau harus kerja sampai tulang saya copot! Tapi jangan pernah hina pekerjaan saya!"
Dika siap meledak lebih dahsyat lagi. Kata-kata makian sudah berada di ujung lidahnya. Namun, tepat saat matanya menatap lekat-lekat wajah Sifa yang memerah karena amarah dan napas yang memburu—Dika mendadak terpaku.
Garis rahang itu. Sepasang mata yang berani dan keras kepala itu.
Jantung Dika serasa dihantam godam tak kasat mata. Ingatannya langsung melemparnya kembali ke malam hujan itu. Wajah wanita di dalam foto yang ditemukan di dompet korban kecelakaan yang disebabkan oleh kelalaian masa lalunya. Wajah almarhum suami Sifa.
‘Dia... istri pria itu?’ batin Dika syok. Suaranya mendadak tertahan di tenggorokan.
Rio yang menyadari perubahan ekspresi bosnya yang tiba-tiba linglung, langsung maju menengahi. "Cukup! Kamu, staf baru, diam dan ikut saya sekarang sebelum masalah ini makin panjang!" Rio menarik lengan Sifa menjauh.
Sifa menyentak tangannya dari Rio, memberikan tatapan permusuhan terakhir pada Dika yang masih berdiri mematung seperti patung es, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan cepat menuju pantri. Langkahnya seng senggukan, tangannya mengepal kuat. Di dalam hati, Sifa bersumpah demi apa pun: Dia membenci CEO arogan bermutut mercon itu.
Sementara itu, di lorong yang kini sunyi, Dika masih menatap koridor kosong tempat Sifa menghilang. Tangannya yang tadi menunjuk Sifa perlahan turun, bergetar hebat. Bukan karena marah, melainkan karena rasa bersalah yang teramat sangat yang kini kembali mencengkeram dadanya hingga sesak.