Gedung Dika Group sudah mulai sepi. Sebagian besar lampu kubikel sudah dimatikan, menyisakan pencahayaan temaram yang kontras dengan ruang kerja CEO yang masih terang benderang.
Di salah satu sudut koridor, Sifa sedang berlutut, menggosok sisa-sisa noda kopi di karpet dengan sikat kecil. Gerakan tangannya sangat cepat, bertenaga, dan penuh emosi.
"Kerja yang cepat, jangan lelet seperti kura-kura! Kalau jam delapan malam ini koridor ini belum bersih sempurna, kamu tidak usah pulang sekalian!"
Suara bariton Dika menginterupsi kesunyian. Pria itu berdiri di ambang pintu ruangannya, sudah berganti pakaian dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Wajahnya masih sekaku papan gilesan, matanya menatap Sifa dengan tajam tanpa saringan.
Sifa berhenti menyikat, mendongak dengan napas memburu. Kecepatan bicaranya langsung aktif. "Ini sudah mau selesai Pak lagipula ini karpet bulu bukan lantai marmer jadi butuh waktu buat angkat noda kopinya Bapak pikir gampang apa hilangkan noda kopi hitam pekat begini tanpa merusak serat kainnya?!"
"Jangan banyak alasan! Saya bayar kamu bukan untuk menceramahi saya tentang struktur karpet. Selesaikan sekarang!" Dika mendengus kasar, lalu memutar tubuhnya kembali ke dalam ruangan dan membanting pintu kaca dengan keras. BRAK!
"Dasar bos gila! Mulut mercon! Arogan!" makit Sifa pelan, meluapkan kekesalannya pada sikat di tangannya. Dia melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah malam. Dia harus segera selesai agar bisa membelikan Bily inhaler baru sebelum apotek dekat kontrakannya tutup.
Di dalam ruangannya, Dika tidak benar-benar kembali ke mejanya.
Dia berdiri di balik jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah koridor tempat Sifa bekerja. Perlahan, tirai vertikal digesernya sedikit, hanya menyisakan celah kecil agar dia bisa mengawasi wanita itu tanpa ketahuan.
Wajah sangar Dika perlahan melunak. Guratan amarah di dahinya lenyap, digantikan oleh tatapan mata yang dipenuhi rasa iba dan penyesalan yang mendalam. Dadanya berdenyut nyeri setiap kali melihat tubuh kurus Sifa yang harus membungkuk-bungkuk membersihkan kekacauan yang sebenarnya dipicu oleh emosinya sendiri.
Pandangan Dika turun, beralih ke kaki Sifa.
Dari balik celah tirai, dia melihat sepatu flat hitam yang dipakai Sifa. Di bagian ujung jempol kanan, sol sepatunya sudah menganga robek dan jebol hingga memperlihatkan kaos kaki tipisnya yang juga sudah berlubang. Setiap kali Sifa bergeser untuk menyikat, sepatu rusak itu tampak menyedihkan di atas lantai marmer Dika Group yang super mewah.
Dika memejamkan matanya rapat-rapat. Dia menyandarkan keningnya pada kaca jendela yang dingin.
"Bagaimana bisa dia bertahan hidup dengan kondisi seperti ini setelah apa yang terjadi..." batin Dika perih. Rasa bersalah kembali mencekiknya, membuatnya merasa seperti monster yang sesungguhnya. Dia sengaja memberi Sifa tugas menumpuk bukan karena dia benci, melainkan karena hanya dengan cara itulah dia bisa menahan Sifa di dekatnya agar bisa memastikan wanita itu tetap memiliki penghasilan.
Di luar, Sifa akhirnya berdiri sambil merenggangkan pinggangnya yang terasa mau patah. Dia mengemas alat-alat pembersihnya, bersiap untuk pergi ke apotek demi napas anaknya malam ini, tanpa tahu ada sepasang mata yang menatap punggungnya dengan rasa bersalah yang tak bertepi.
"Urus yayasan asma itu! Kirim uang sekarang atas nama anak itu! Jangan sampai ibunya yang bodoh itu tahu!"
Dika membanting berkas laporan keuangan ke atas meja kerjanya hingga menimbulkan suara dentuman keras. Dia berdiri dengan berkacak pinggang, napasnya memburu menatap Rio yang berdiri tegak di depannya.
Rio menghela napas, sudah terbiasa dengan nada bicara bosnya yang selalu terdengar seperti mau mengajak perang. "Baik, Pak Dika. Tapi, nominalnya berapa? Dan atas nama anak Sifa, Bily, kan?"
"Kamu tuli ya?! Ya iyalah! Siapa lagi anak di gedung ini yang napasnya seperti peluit rusak?!" Dika mendengus kasar, lalu memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. "Kirim dua puluh juta rupiah. Bilang itu bantuan medis berkala dari yayasan internal atau apa pun terserah otakmu yang pintar itu berpikir. Intinya, kalau sampai wanita ceplas-ceplos itu tahu uang itu dari rekening saya, kamu yang saya pecat!"
Rio mencatat cepat di tabletnya. "Dimengerti, Pak. Oh, satu lagi, sol sepatu—"
"Keluar!" potong Dika galak, matanya melotot. "Jangan banyak tanya atau saya potong gaji kamu!"
Rio segera berbalik dan keluar dari ruangan sebelum bosnya benar-benar melemparkan asbak kaca di meja. Begitu pintu tertutup, Dika merosot ke kursi kebesarannya. Dia menatap jemarinya yang gemetar, lalu membenturkan punggung kepalanya ke sandaran kursi. ‘Dua puluh juta tidak akan bisa membayar nyawa suamimu, Sifa. Tapi setidaknya anakmu bisa bernapas,’ batinnya perih.
Di Area Pantri Karyawan sekitar pukul 12.30 WIB.
Sifa sedang duduk di kursi plastik pantri sambil mengunyah roti tawar sisa kemarin yang dia bawa dari rumah. Ponsel jadulnya yang layarnya sudah retak mendadak bergetar hebat di atas meja. Sebuah notifikasi SMS masuk.
"REKENING ANDA TELAH DIKREDIT SEBESAR Rp 20.000.000 DARI YAYASAN PEDULI ASMA ANAK INDONESIA (PROGRAM BANTUAN KHUSUS BILY AMANDA)."
Uhuk! Uhuk!
Sifa tersedak roti tawarnya sampai matanya berair. Dia terbatuk-batuk, buru-buru meminum air putih dari botol bekasnya, lalu mengucek matanya berkali-kali. Dia menatap layar ponselnya lagi. Angka nolnya tidak berkurang. Tetap dua puluh juta rupiah.
"Dua... dua puluh juta?" Sifa bicara sendiri dengan suara bergetar, jantungnya berdegup kencang seolah mau melompat keluar.
Dia langsung mengetik dengan kecepatan kilat, mencoba menelepon nomor call center yayasan yang tertera di pesan tersebut. Begitu tersambung, bicaranya langsung melesat seperti rentetan senapan mesin. "Halo selamat siang Mbak saya Sifa ibunya Bily ini beneran ada transferan dua puluh juta ya Mbak ini tidak salah kirim kan ya Allah Mbak saya tidak pernah daftar yayasan apa pun kok tiba-tiba nama anak saya ada di daftar penerima donasi ini dari siapa ya Mbak?!"
Petugas di seberang telepon terdengar tenang, seolah sudah menghafal skrip. "Selamat siang Ibu Sifa. Benar, dana tersebut valid untuk pengobatan ananda Bily. Donasi ini berasal dari donatur anonim yang menyalurkannya lewat yayasan kami. Beliau berpesan agar Ibu fokus pada kesembuhan Bily dan tidak perlu mencari tahu siapa beliau."
"Tapi Mbak—"
Tut... tut... tut... Panggilan diputus sepihak.
Sifa menurunkan ponselnya dengan tangan gemetar. Air mata haru perlahan menetes di pipinya yang tirus. Dia membekap mulutnya sendiri agar suara tangisnya tidak pecah di pantri. "Siapa... siapa orang baik yang mau bantu anak yatim seperti Bily?" bisiknya penuh kebingungan, sama sekali tidak menyadari bahwa pria yang dia sebut "bos gila bermulut mercon" sedang memperhatikannya dari balik celah pintu pantri yang sedikit terbuka dengan tatapan yang sangat redup.