Sore hari di lobi utama Dika Group
"Mana Sifa?! Keluar kamu, perempuan sialan! Utang suamimu belum lunas, jangan sembunyi di gedung mewah ini!"
Suara bentakan kasar itu mengguncang ketenangan lobi Dika Group yang biasanya elegan dan sunyi. Dua pria berbadan besar dengan jaket kulit hitam dan tato yang menyembul di leher mereka sedang mengamuk di depan meja resepsionis. Salah satu dari mereka menendang pembatas antrean hingga ambruk ke lantai marmer. BRAK!
Sifa, yang kebetulan sedang mengelap dinding lift di dekat lobi, langsung membeku. Wajahnya mendadak pias. Dia mengenali suara itu—itu adalah komplotan rentenir yang selama ini mengejar sisa utang almarhum suaminya.
"Heh, itu dia!" Peras, pria berambut cepak, menunjuk Sifa yang berusaha bersembunyi di balik pilar.
Kedua rentenir itu menerjang maju dan langsung mencengkeram lengan Sifa dengan kasar. "Mau lari ke mana kamu, hah?! Bayar utang suamimu! Atau hari ini kamu ikut kami!"
Sifa memberontak sekuat tenaga, harga dirinya menolak untuk tunduk, bicaranya langsung meledak cepat dalam kepanikan. "Lepaskan saya! Ini tempat kerja saya jangan bikin keributan di sini utang itu utang suami saya dan saya sudah bilang akan saya cicil tiap bulan tapi tidak dengan cara preman seperti ini lepas atau saya teriak?!"
"Teriak saja! Tidak akan ada yang berani bantu—"
"Lepaskan tangan kotor kalian dari karyawan saya."
Sebuah suara penuh penekanan memotong kalimat preman itu. Dari arah lift khusus direksi, Dika berjalan tegap dengan langkah lebar. Kemeja putihnya yang digulung rapi dan tatapan matanya yang tajam seperti elang membuat atmosfer di lobi mendadak mencekam. Di belakangnya, Rio dan empat orang petugas security berbadan tegap langsung mengepung kedua rentenir tersebut.
Para penagih menatap Dika dengan sinis. "Jangan ikut campur, Bos. Ini urusan utang piutang pribadi perempuan ini."
Dika tidak berkedip. Dia maju satu langkah, menatap lurus ke mata kedua preman itu dengan seringai kasar yang meremehkan.
"Urusan pribadi katanya?" Dika mendengus, suaranya naik satu oktav, menggelegar di seisi lobi. "Keluar dari gedung saya! Atau saya patahkan kaki kalian sekarang juga! Kamu pikir ini pasar malam tempat preman pasar bisa berisik, hah?!"
"Tapi dia—"
"Security! Seret dua binatang ini keluar! Kalau mereka berani menginjakkan kaki di lobi ini lagi, langsung jebloskan ke penjara atas tuduhan masuk tanpa izin dan pengrusakan fasilitas!" bentak Dika tanpa ampun.
Petugas security langsung bergerak cepat, mengunci lengan kedua rentenir itu dan menyeret mereka keluar lobi yang mulai dipenuhi bisikan karyawan lain.
Sifa memegangi lengannya yang memerah, napasnya memburu. Dia menatap Dika yang kini berbalik menatapnya dengan napas yang juga tidak keruan. Bukannya berterima kasih, ego Sifa yang terluka justru membuatnya menatap Dika dengan sengit.
"Kenapa Bapak harus bentak-bentak seperti itu?" cicit Sifa, suaranya bergetar menahan tangis dan kesal. "Bapak tidak perlu berlagak jadi pahlawan kalau ujung-ujungnya cuma peduli sama citra gedung mewah Bapak ini supaya tidak kelihatan kotor karena ada orang miskin seperti saya yang dikejar utang!"
Dika tertegun. Rahangnya mengeras, menyembunyikan rasa perih yang mendalam di dadanya mendengarkan tuduhan Sifa. Dia mendekat, menatap Sifa dengan tatapan galak andalannya untuk menutupi rasa bersalahnya.
"Kalau tahu dirimu itu miskin dan punya utang, kerja yang benar! Jangan bawa sampah jalanan ke lobi saya!" bentak Dika ketus, lalu berbalik pergi dengan langkah cepat tanpa menoleh lagi.
Sifa mengepalkan tangannya kuat-kuat, menatap punggung tegap itu dengan rasa benci yang makin mengakar. Dia tidak pernah tahu, begitu masuk ke dalam lift khusus yang tertutup, Dika langsung memukul dinding lift dengan kepalan tangannya sampai memerah, merutuki mulut kasarnya yang selalu gagal menyampaikan isi hatinya yang hancur melihat Sifa menderita.
"Aduh..." Sifa meringis pelan saat lututnya yang memar bekas tabrakan kemarin mendadak berdenyut nyeri.
Dia berdiri di depan koridor servis, menatap nanar ember besar penuh air, kain pel, dan dua boks besar berisi sabun cair yang harus dia bawa naik ke lantai 50. Masalahnya, lift barang satu-satunya di gedung itu sedang ditempeli kertas laminating besar bertuliskan: DALAM PERBAIKAN / MAINTENANCE.
"Kenapa harus rusak sekarang sih di saat lututku mau copot begini ya Allah kalau harus lewat tangga darurat lima puluh lantai bisa-bisa besok namaku sudah ada di buku yasin!" Sifa mengomeli kertas pengumuman itu dengan kecepatan kereta ekonomi, tangannya berkacak pinggang menahan kesal.
Sifa menarik napas panjang, bersiap mengangkat ember berat itu menuju pintu tangga darurat. Namun, tepat saat jemarinya menyentuh gagang ember, suara ting! yang nyaring terdengar.
Pintu lift barang di hadapannya mendadak terbuka lebar. Lampu di dalamnya terang benderang, dan indikator digitalnya menunjukkan angka lantai yang siap beroperasi. Sifa mengerjapkan mata, bingung.
Dari arah lorong teknisi, seorang pria paruh baya berpakaian montir lari terengah-engah sambil membawa tas perkakas. Di belakangnya, Dika berjalan dengan langkah angkuh, jasnya sudah tersampir di lengan, sementara kemeja putihnya tampak sedikit berantakan. Wajah sang CEO terlihat luar biasa menyeramkan.
"Kerja itu pakai otak! Jangan pakai dengkul!" Dika membentak teknisi itu tanpa memedulikan Sifa yang berdiri mematung di dekat ember. "Perbaiki liftnya sekarang! Kamu mau karyawan di gedung ini mati kelelahan karena harus naik tangga, hah?! Kalau sampai operasional lantai atas terganggu gara-gara kebodohanmu, saya pastikan kamu tidak akan bisa cari kerja di kota ini lagi!"
Teknisi itu membungkuk berkali-kali dengan wajah pucat. "Maaf, Pak Dika! Sudah beres, Pak. Ini sudah bisa digunakan khusus... eh, khusus untuk lantai atas."
"Ya sudah, minggir! Mengurangi pemandangan saja!" Dika mendengus kasar, lalu melirik Sifa dengan tatapan tajam yang seolah-olah ingin menelan wanita itu hidup-hidup. "Kamu! Mau berdiri di sana sampai jadi patung lobi? Masuk sekarang! Seragam abu-abumu itu bikin mata saya sakit kalau kelamaan dilihat di lorong ini!"
Sifa yang tadinya sempat merasa agak tersentuh mendengari Dika memarahi teknisi demi kenyamanan karyawan, langsung menutup rapat-rapat seleranya. Ego tingginya kembali menyalak.
"Saya juga mau masuk Pak tidak usah bentak-bentak begitu lagipula ini memang lift barang tugas saya memang angkut barang lewat sini bukan lewat lift khusus Direksi Bapak yang wangi itu!" Sifa menyemburkan kalimatnya sambil menyambar ember dan boks sabun dengan gerakan super cepat, lalu menghentakkan kakinya masuk ke dalam lift.
Dika tidak membalas. Dia hanya berdiri di luar, menatap Sifa yang sibuk menata barang bawaannya di dalam lift dengan napas memburu. Begitu pintu lift perlahan menutup, menghalangi pandangan mereka, Dika mengembuskan napas berat yang sedari tadi ditahannya.
"Pak Dika..." Rio yang baru datang mendekat dengan ragu. "Bapak sengaja menyuruh teknisi membatalkan jadwal servis lift barang hari ini demi Sifa?"
Dika langsung menoleh, menatap Rio dengan mata melotot dan rahang mengeras. "Kamu mau saya potong gaji atau saya jahit mulutmu sekalian, Rio?! Saya cuma tidak mau koridor lantai lima puluh kotor karena stafnya kelamaan naik tangga! Jangan sok tahu!"
Dika berbalik dan berjalan cepat menuju lift pribadinya, meninggalkan Rio yang hanya bisa menggelengkan kepala melihat bosnya yang super gengsi padahal hatinya sedang kalang kabut mengkhawatirkan lutut Sifa yang cedera.