Malam hari pukul 20.00 WIB. Lantai 50 Gudang Perlengkapan Belakang.
Gedung sudah mati total, menyisakan lampu darurat kuning yang remang-remang di lorong belakang. Dika berjalan pelan, langkah sepatunya yang biasanya berdentum keras sengaja ia pelankan. Dia baru saja menyelesaikan dokumen anggaran dan berniat pulang, tetapi langkahnya terhenti tepat di depan pintu tripleks gudang perlengkapan yang sedikit renggang.
Ada suara asing dari dalam sana.
Bukan suara gemerisik sikat atau debu, melainkan suara isakan kecil yang tertahan. Suara tangis yang begitu rapuh hingga sanggup menusuk ulu hati siapa pun yang mendengarnya.
Dika mendekatkan wajahnya ke celah pintu. Melalui penerangan lampu gudang yang temaram, dia melihat Sifa. Wanita yang biasanya meledak-ledak seperti petasan itu kini duduk bersimpuh di lantai semen yang dingin, menyandarkan punggungnya pada rak besi tempat deterjen. Kedua lututnya ditekuk, dan tangannya memeluk erat sebuah bingkai foto kecil berbingkai kayu yang sudah usang.
"Mas..." Sifa berbisik di sela tangisnya, suaranya parau dan bergetar hebat. "Sakit, Mas... capek..."
Napas Sifa tersengal, dadanya naik-turun menahan sesak yang teramat sangat. "Tapi aku tidak boleh menyerah kan? Bily tadi siang sudah dapat obatnya, Mas. Ada orang baik yang kirim uang banyak sekali ke yayasan... Bily sudah aman sekarang. Kamu jangan khawatir di sana, ya? Aku pasti bisa besarkan anak kita, walau bos di sini galaknya seperti dajjal..."
Sifa terkekeh kecil di tengah tangisnya, lalu kembali memeluk foto suaminya dengan erat, menenggelamkan wajahnya di antara lutut. Tubuh kecilnya berguncang hebat dalam keheningan gudang.
Di balik pintu, Dika membeku.
Pria yang biasanya selalu punya ribuan kata makian di lidahnya itu mendadak terdiam seribu bahasa. Kata 'dajjal' yang keluar dari mulut Sifa bahkan tidak membuat alisnya berkerut. Dadanya terasa begitu sesak, seolah seluruh pasokan oksigen di lorong itu menguap habis.
Matanya memerah, menatap lurus ke arah bingkai foto di pelukan Sifa. Foto pria yang senyumnya pernah ia hancurkan dalam satu malam petaka. Rasa bersalah yang selama ini ia kunci rapat-rapat mendadak mendobrak dadanya, menyebarkan rasa sakit yang mematikan ke seluruh tubuhnya.
Dika mengangkat tangannya yang gemetar, berniat mendorong pintu dan masuk untuk mengatakan sesuatu—apa saja, bahkan jika itu adalah omelan kasar untuk menyuruh Sifa pulang. Namun, jemarinya berhenti hanya beberapa sentimeter dari permukaan pintu.
Dia menarik kembali tangannya dan mengepalkannya kuat-kuat di sisi tubuh. "Apa hakmu untuk menenangkannya, Dika? Kamu adalah alasan kenapa dia harus menangis sendirian di gudang kotor ini!" batinnya menghujat diri sendiri dengan sangat kejam.
Dika melangkah mundur dengan perlahan, menjauh dari pintu gudang tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Dia bersandar pada dinding koridor yang gelap, mendongak menatap langit-langit dengan mata yang berkaca-kaca, membiarkan suara isakan Sifa terus bergema di kepalanya sebagai hukuman paling kejam yang harus ia tanggung malam ini.
Sifa mengusap sisa air mata di pipinya dengan kasar menggunakan punggung tangan. Setelah puas menangis di gudang, dia memaksa dirinya untuk kembali tegak. Hidup tidak berhenti hanya karena dia lelah. Dia harus menyelesaikan giliran kerja terakhirnya: membersihkan ruang kerja Dika setelah pria itu pulang.
Sifa mendorong troli alat pembersihnya masuk ke ruangan luas yang sunyi itu. Wangi maskulin yang mahal khas Dika masih tertinggal di udara. Sifa menghela napas, mulai mengelap meja jati besar milik bosnya.
Saat dia membungkuk untuk memungut beberapa kertas pembungkus dari keranjang sampah di dekat kursi kebesaran Dika, matanya menangkap sesuatu yang terselip di bawah sudut karpet bulu domba di dekat sofa santai.
Sebuah kartu nama tebal berwarna hitam dengan pinggiran emas. Khas kartu nama eksklusif milik Dika.
Sifa mengambilnya. Dia berniat meletakkannya di atas meja, namun gerakannya terkunci saat membalik kartu tersebut. Di bagian belakang kartu nama yang putih bersih, terdapat tulisan tangan yang tergesa-gesa, tebal, dan terkesan frustrasi. Sifa sangat mengenali jenis tulisan tangan yang tajam itu—itu tulisan tangan Dika.
Sifa membaca deretan kata itu dengan pelan.
"Utang pada almarhum Hendra – bereskan secepatnya sebelum aku gila."
Deg.
Jantung Sifa rasanya berhenti berdetak seketika. Seluruh pasokan udara di paru-parunya seperti disedot keluar. Nama itu. Hendra. Itu adalah nama almarhum suaminya.
Tangannya mulai bergetar hebat hingga kartu nama itu berkersek pelan di jemarinya. Matanya melebar, membaca ulang tulisan itu sampai lima kali untuk memastikan otaknya tidak sedang salah melihat karena kelelahan.
"Hendra...?" bisik Sifa, suaranya mendadak serak. "Kenapa... kenapa nama Mas Hendra ada di kartu nama Pak Dika?"
Pikiran Sifa langsung berputar liar seperti angin p****g beliung. Mengapa seorang CEO raksasa seperti Dika memiliki catatan pribadi tentang utang pada suaminya, seorang mantan karyawan kelas bawah yang hidupnya hancur karena terlilit rentenir? Apa hubungan di antara mereka? Kata-kata ‘sebelum aku gila’ tercetak begitu dalam, menunjukkan rasa frustrasi yang luar biasa.
Rasa bersalah Dika yang menatapnya di koridor, donasi anonim dua puluh juta rupiah yang tiba-tiba, lift barang yang mendadak beroperasi khusus, dan kemarahan Dika saat dia dilabrak rentenir... semuanya mendadak berputar di kepala Sifa seperti potongan teka-teki yang mulai terhubung dengan mengerikan.
"Tidak mungkin..." Sifa menggelengkan kepala, air mata keterkejutan mulai menggenang di pelupuk matanya. "Dia... dia tahu sesuatu tentang kematian Mas Hendra?"
Tepat saat itu, suara langkah kaki berat yang sangat familiar terdengar berdentum di koridor luar, berjalan menuju pintu ruang CEO. Dika kembali karena ada barang yang tertinggal.
Sifa langsung menggenggam erat kartu nama itu ke dalam tinjunya, menatap pintu ganda ruangan dengan tatapan yang mendadak berubah tajam, penuh tuntutan dan berapi-api.