Pukul sembilan malam di ruang kerja CEO.
Pintu ganda jati itu terbuka dengan satu sentakan kasar. Dika masuk dengan napas sedikit terengah, matanya langsung menyapu ruangan mencari kunci mobilnya yang tertinggal di meja sofa. Namun, langkahnya langsung terkunci saat melihat Sifa berdiri mematung di tengah ruangan.
Sifa tidak sedang memegang kemoceng atau kain lap. Kedua tangannya tersembunyi di balik saku celana kain abu-abunya, menggenggam sesuatu hingga kainnya tertarik kencang. Tatapan matanya yang biasanya penuh kejengkelan, kini berubah menjadi sepasang belati yang siap menguliti Dika hidup-hidup.
Dika mengernyit, naluri defensifnya langsung aktif melihat atmosfer yang mendadak mencekam. "Kamu belum pulang? Jam kerja staf kebersihan sudah selesai dari sepuluh menit lalu. Jangan coba-coba cari alasan lembur demi bonus!"
Sifa tidak langsung membalas dengan rentetan kereta ekspresnya. Dia melangkah maju, pelan namun penuh penekanan, hingga jarak mereka hanya tersisa dua meter.
"Pak Dika," suara Sifa rendah, bergetar, namun sangat jernih. "Saya mau tanya satu hal. Dan saya mohon, jawab dengan jujur. Jangan pakai urat, jangan pakai bentakan."
Dika merasakan firasat buruk menghantam tengkuknya. Dia menegakkan tubuh, memasang wajah sedingin es. "Saya tidak punya waktu buat drama malam-malam. Minggir."
Sifa menarik tangan kanannya dari saku. Dia membuka kepalan tangannya, menyodorkan kartu nama hitam berpinggiran emas itu tepat di depan d**a Dika. Sisi belakang kartu itu menghadap ke atas, memamerkan tulisan tangan kasar Dika yang mencantumkan nama almarhum suaminya.
"Apa hubungan Bapak dengan almarhum suami saya?"
Deg.
Dika merasa seluruh darahnya surut dari wajahnya. Pupil matanya melebar seketika saat mengenali tulisan tangannya sendiri. Jantungnya berdentum begitu keras di balik kemeja hitamnya hingga rasanya bisa terdengar di ruangan yang sunyi itu. Rahangnya mengatup rapat, dan kilatan kepanikan yang sangat jarang terjadi.
"Bukan urusanmu!" Dika menyambar kartu nama itu dari tangan Sifa dengan sentakan kasar, lalu meremasnya dalam tinju. Suaranya mendadak naik beberapa oktav, meledak defensif untuk menutupi rasa takutnya yang luar biasa jika rahasia mematikan itu terbongkar sekarang. "Dari mana kamu dapat ini?! Berani-beraninya kamu menggeledah barang pribadi saya, hah?!"
"Saya tidak menggeledah! Kartu ini jatuh di bawah karpet!" Sifa maju satu langkah lagi, menolak untuk mundur, suaranya mulai melesat cepat karena emosi yang memuncak. "Kenapa Bapak harus panik begitu kalau memang tidak ada apa-apa?! Kenapa ada nama Mas Hendra di sana?! Kenapa Bapak tulis Bapak punya utang pada almarhum suami saya sampai Bapak mau gila?! Jawab saya, Pak Dika!"
"Diam!!" bentak Dika, suaranya menggelegar menghantam ruangan, membuat napas Sifa tertahan.
Dika menunjuk pintu keluar dengan telunjuknya yang bergetar hebat. Matanya memerah, menatap Sifa dengan tatapan paling kejam yang bisa dia pasang, padahal di dalam hatinya dia sedang menjerit frustrasi karena tidak sanggup menatap mata wanita yang hidupnya telah dia hancurkan.
"Kerjakan saja tugasmu atau saya pecat kamu malam ini juga! Kamu cuma staf kebersihan di sini, jangan sok tahu dan jangan lancang mencampuri urusan pribadi saya! Keluar dari ruangan saya sekarang! Keluar!!"
Sifa menatap Dika dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena amarah dan rasa kecewa yang mendalam. Kebohongan dan bentakan defensif Dika justru membuat kecurigaannya berubah menjadi keyakinan yang mengerikan. Pria di hadapannya ini pasti menyimpan sebuah kebenaran yang gelap tentang suaminya.
Tanpa mengucapkan satu patah kata pun, Sifa berbalik, menyambar tasnya, dan berlari keluar dari ruangan sambil membanting pintu.
Di dalam ruangan yang kembali sunyi, Dika perlahan membuka kepalan tangannya. Kartu nama yang sudah remuk itu jatuh ke lantai marmer. Pria bertubuh kekar itu mendadak lemas, melangkah gontai ke arah sofa, lalu menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Napasnya memburu, dihantam rasa bersalah yang kini berlipat ganda menjadi siksaan yang siap membuatnya gila.
Besok paginya atmosfer di antara mereka masih sedingin es di kutub. Sifa sengaja meminta giliran membersihkan area gym lantai 3 sepagi mungkin demi menghindari paparan wajah Dika di lantai 50.
Sifa merengut, menghentakkan pel pelan ke lantai ruang ganti khusus VIP yang sedang sepi. "Dasar bos pengecut! Ditanya baik-baik malah mengamuk seperti singa kelaparan. Pasti ada yang tidak beres!" omelnya dengan kecepatan ketikan mesin tik nomor satu.
Cklek.
Pintu ruang ganti terbuka. Sifa refleks menoleh dan langsung mematung.
Dika masuk hanya dengan mengenakan celana training hitam. Bagian atas tubuhnya polos, memamerkan d**a bidang, perut six-pack yang kokoh dan sisa-sisa keringat yang berkilau setelah sesi latihan beban yang brutal. Pria itu sedang menyampirkan handuk kecil di lehernya.
"Astaga!" Sifa berteriak, langsung berbalik badan memunggungi Dika sambil menutup matanya dengan kedua tangan, meski jemarinya agak renggang sedikit. "Bapak tidak punya sopan santun ya?! Ini ruang ganti baju kenapa masuk tidak pakai baju dulu?!"
Dika yang sama syoknya langsung melotot. Wajah sangar sang CEO mendadak merona merah padam hingga ke telinga. "Sialan! Kenapa kamu ada di sini?! Ini area VIP! Sengaja mau mengintip saya ya?!" bentaknya gagap, mencoba menutupi kepanikan dan rasa malunya yang luar biasa.
"Siapa juga yang mau mengintip badan Bapak yang mirip kuli bangunan itu?! Saya lagi kerja Pak! Kerja!" Sifa balas berteriak tanpa menoleh.
"Heh! Kuli bangunan kata kamu?! Ini body goals mahal ya—"
Dika melangkah maju berniat mengusir Sifa, namun langkahnya yang tergesa membuat kakinya menyenggol ember pel Sifa yang penuh air sabun.
SLIP!
"Eh—eh—!" Dika kehilangan keseimbangan. Tubuh kekarnya yang besar limbung ke depan.
Sifa yang mendengar suara gaduh refleks berbalik. Matanya melebar melihat tubuh raksasa Dika meluncur ke arahnya. Sifa mencoba menghindar, namun lantainya terlalu licin. Kaki flat shoes-nya yang jebol mengkhianatinya.
BRUK!
Mereka berdua jatuh berdebam ke lantai marmer basah. Posisi mereka mendarat dengan sangat tidak elit, namun teramat sangat intim. Sifa telentang di lantai, sementara Dika tengkurap tepat di atasnya, menahan bobot tubuhnya dengan kedua sikut di sisi kepala Sifa.
Wajah mereka hanya berjarak lima sentimeter.
Napas Dika yang hangat dan beraroma mint menerpa langsung di permukaan wajah Sifa. Aroma maskulin yang bercampur keringat sehat itu mendadak mengunci semua fungsi otak Sifa. Kecepatan bicaranya lenyap ditelan bumi. Jantung Sifa berdegup begitu kencang hingga rasanya mau menjebol rongga dadanya.
Dika terpaku. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata Sifa. Sentuhan kulit d**a pada seragam tipis Sifa mengirimkan sengatan listrik yang membuat telinga Dika makin membara seperti kepiting rebus. Suasana yang tadinya penuh makian mendadak berubah menjadi panas dan canggung luar biasa.
"Kam... kamu..." Dika terbata-bata, suaranya mendadak serak dan kehilangan wibawa CEO-nya.
"Aaaaaaa! Menjauh dari saya, Bos Gilaaaa!"
Sifa yang panik setengah mati mendadak menjerit sekencang lumba-lumba. Dia meronta, tangannya mendorong d**a Dika, sementara kepalanya mendongak berniat bangun dengan paksa.
DUG!
"Aduh!" Kepala Sifa membentur pintu lemari loker besi di belakangnya dengan keras. Sengatan rasa sakit itu membuatnya refleks menarik kerah... ah tidak, menarik untaian kalung olahraga Dika dan mendorong tubuh pria itu ke samping.
Dika berguling ke lantai basah dengan posisi telentang, memegangi lehernya yang agak tercekik, sementara Sifa duduk sambil mengusap belakang kepalanya yang benjol dengan wajah mau menangis.
Brak!
Tiba-tiba terdengar suara keras dari pintu masuk utama. Grendel pintu ruang ganti itu mendadak macet dan terkunci otomatis dari luar karena guncangan ember yang menabrak kusen pintu tadi.
Dika bangkit berdiri dengan susah payah, wajahnya yang memerah menahan malu langsung berganti menjadi galak yang dibuat-buat. Dia menendang pintu loker kosong di dekatnya. "Sialan! Pintunya macet! Gara-gara kamu berteriak seperti kesurupan, kita sekarang terjebak di sini!"
"Kok salah saya?! Bapak yang menabrak ember saya dulu! Mulut Bapak itu yang bawa sial!" Sifa balas berteriak, masih terduduk di lantai dengan muka semerah tomat, tidak berani melihat ke arah d**a bidang Dika yang kini kembali terekspos jelas di bawah lampu ruang ganti yang terang.
Di dalam ruangan yang sempit dan terkunci itu, detak jantung mereka berdua beradu balapan.