"Tolong! Tolong! Siapa pun tolong aku!" teriak Nur.
"Kenapa kalian lambat? Cepat hentikan janda itu! Jangan sampai dia berteriak!" teriak Sudar pada anak buahnya.
Nur terus memberontak berusaha melepaskan diri dari tangan-tangan kekar yang menyerangnya.
Kekuatan tenaganya kalah telak oleh tenaga mereka. Salah satu dari pria itu langsung menyekap mulut Nur dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius.
Seketika tubuh Nur berangsur lemah dan tidak sadarkan diri. Nur jatuh terkulai dalam pelukan pria kekar anak buah Sudar.
"Bawa dia ke markas! Aku akan menikmatinya malam ini."
Tanpa halangan, mereka membawa Nur dengan mudah. Kebetulan saat itu para tetangga Nur sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Dengan mobil putih, duda tua itu membawa tubuh Nur pergi.
Para lelaki itu meletakkan tubuh Nur di sebuah ruangan yang cukup besar. Ruangan itu bukanlah gudang, melainkan sebuah kamar yang cukup besar dan bagus.
Mereka membaringkan tubuh Nur yang terkulai lemah di atas sebuah ranjang dengan ukuran yang besar.
Tubuh Nur memang terlihat sangat menggoda. Saat itu dia sedang memakai rok selutut meski ukurannya besar.
Roknya sedikit tersibak, sehingga memperlihatkan sebagian kaki dan pahanya yang jenjang, putih mulus.
Para pria itu menelan salivanya sendiri melihat keindahan tubuh Nur. Mata mereka penuh dengan napsu b***t. Pikiran mereka sudah dirasuki napsu setan.
Salah satu dari mereka berjalan mendekatinya, pria itu sudah tidak sanggup menahan gelora gairah yang bergejolak di dalam tubuhnya.
Dengan sigap pria itu langsung menghampiri tubuh yang tidak berdaya itu.
"Sialan!" Tiba-tiba kepala pria itu dipukul oleh seseorang.
"Apa yang akan kamu lakukan? Dasar kutu kupret! Wanita ini milikku."
Sudar marah besar saat melihat anak buahnya hilang kendali dan berani mencoba menyentuh wanitanya.
"Apa kamu mau mati? Ha!" Amarahnya memuncak.
"Maaf, Juragan. Aku hanya tidak tahan melihat tubuh wanita ini. Tubuhnya sangat menggoda, Juragan," ucap pria itu dengan tangan melindungi kepalanya karena Sudar selalu memululnya.
"Kamu tahu kalau wanita ini milikku? Apa kamu mau mati? Ha!"
"Tidak, Juragan. Maafkan saya," ucap pria itu penuh sesal.
Pria itu memohon-mohon agar Sudar mau memaafkannya. Dia tahu kesalahannya, dia juga tahu siapa orang yang sedang dihadapi saat ini.
"Apa lagi yang kalian tunggu? Apa kalian mau melihatku menikmati tubuh seksi janda ini?"
Amarahnya semakin meluap ketika anak buahnya masih tetap berdiri di kamar itu.
"Juragan, bolehkah kami juga mencicipinya sekali saja?" Salah satu dari mereka mencoba memberanikan diri.
"Siapa yang akan mencicipinya? Siapa yang berani mencoba menyentuh wanitaku? Siapa? Ayo siapa yang akan menyentuhnya? Silahkan!" bentak Sudar dengan suara menggema.
Tatapan mata duda itu semakin membara berapi-api. Semua anak buahnya tidak ada yang berani menjawab. Mereka hanya menundukkan kepalanya.
"Ayo! Kenapa tidak ada yang mau menyentuhnya? Sentuh dia! Atau kalian akan mati di tanganku!" ancamnya penuh amarah.
"Keluar! Kalian semua ke luar! Aku tidak ingin diganggu malam!"
Sudar memang pria yang kejam. Dia suka sekali menyiksa semua orang yang berani melawannya. Bahkan para mantan istrinya pun, meminta cerai karena sudah tidak tahan lagi dengan siksaan yang pria itu lakukan.
Sudar suka melakukan kegiatan s*x dengan kekerasan. Dia merasa puas bila sudah menyakiti pasangannya.
Dia bukan pria yang lembut, dia pria yang kasar. Kelembutannya hanyalah kedok untuk mendapatkan hati seorang wanita. Setelah dia mendapatkannya, dia akan menyiksanya untuk memuaskan napsu birahinya.
Sejak dia melihat kecantikan Nur, duda tua itu sudah mulai tertarik padanya. Hanya saja Nur sudah mempunyai kekasih. Saat Wanita itu menikah pun, pria itu masih mengincarnya.
Kini dia bisa leluasa menjalankan aksinya setelah wanita itu menjadi seorang janda. Bahkan dia pernah melamar Nur, tapi ditolak oleh Nur.
Penolakan yang Nur lakukan membuatnya semakin menggila. Pria itu semakin bernafsu untuk bisa mendapatkan Nur.
Segala cara telah dilakukannya, termasuk kerusuhan yang terjadi di warung makan Nur. Dia adalah dalang kerusakan itu.
Bukan hanya itu saja. Segala runtutan kejadian yang menimpa karyawannya adalah hasil dari otak jahatnya.
Duda itu sengaja menghancurkan Nur secara perlahan. Tujuannya agar setelah Nur hancur dan bangkrut, wanita itu akan meminta bantuan kepadanya.
Ternyata dugaannya salah. Nur bukanlah wanita yang lemah. Dia tetap bisa bertahan dengan keadaannya yang kacau.
Karena geram, duda tua yang bernama Sudar, merencanakan penculikan terhadap janda cantik itu.
Dengan trik licik, pria itu meminta para tetangganya bekerja di lahan miliknya. Sudar membuat area sekitar rumah Nur sepi sehingga dia bisa menjalankan rencananya dengan leluasa tanpa hambatan.
Setelah semua keluar dan hanya tinggal dia dan wanita itu. Duda tua itu mendekatinya dan duduk di samping tubuh gadis itu dengan mata memandang lebar tubuh seksi Nur.
"Kamu janda cantik, Nur, tapi sayang, kamu sudah berani menolak lamaranku. Coba saja kamu menerima tawaranku dan bersedia menjadi istriku, aku tidak akan menculikmu seperti ini."
Tangan duda itu mulai terampil menjelajahi wajah janda cantik itu. Tangannya mengusap pipi dan menjalar ke bibir merah alami Nur.
Duda tua itu berkali-kali menelan ludahnya sendiri. Gairahnya semakin memuncak ketika melihat gundukan kembar yang terbungkus rapi milik Nur.
Sekali lagi mata pria itu berbinar penuh kebejatan setan. Senyum iblis mengembang dari bibirnya.
Tok! Tok! Tok!
"Sialan! Siapa yang berani menggangguku?" umpat pria itu marah.
Suara ketukan pintu telah mematahkan pikirannya. Dengan penuh amarah, pria itu berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Ada apa?" tanyanya keras pada anak buah yang berdiri di depan pintu.
"Maaf, Juragan. Para pekerja sudah pulang dan mereka meminta upah kerja."
"Sialan! Mengganggu saja."
Duda itu meraih tasnya yang tebal dan mengeluarkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah dan menyerahkannya pada anak buahnya.
Setelah selesai, duda itu menutup pintu dan kembali fokus pada tubuh Nur.
"Kali ini aku tidak akan membiarkan siapa pun menggangu kita, Sayang. Aku akan memberikanmu kenikmatan yang tidak akan pernah kamu lupakan, Nur."
Duda itu mulai melepaskan pakaiannya sendiri dan hanya tersisa bawahannya. Dengan tatapan penuh napsu birahi, pria itu mulai mendekati Nur.
Kembali lagi tangan kasarnya bergerilya. Nur yang di bawah pengaruh obat bius, masih tidak sadarkan diri, tapi tubuhnya merespon setiap sentuhan yang diberikan oleh pria itu.
Sesekali tubuh itu menggeliat dan suara kecil lirih keluar dari bibirnya. Ternyata bukan hanya obat bius yang dia berikan, tapi pria licik itu telah mencampurnya dengan obat perangsang.