"Mbak."
"Aku tidak apa-apa, Ren. Kalian lanjutkan lagi kerjanya!"
"Apa Mbak Nur tidak takut dengan pria itu? Dia tidak akan membiarkan Mbak hidup tenang."
"Apa yang perlu ditakutkan, Ren? Kalau dia membunuhku, aku pasrah. Hidup dan mati sudah ada yang mengaturnya. Lagi pula siapa yang akan menangisi aku kalau aku mati? Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi," ucapnya putus asa.
"Mbak, masih ada kami. Kami adalah saudara Mbak Nur." Rena ikut sedih melihat Nur bersedih dan muram.
"Aku tahu. Kalian memang sudah seperti saudara bagiku." Nur mencoba tersenyum meski hatinya sangat pedih, nelangsa.
Detik berganti menit, menit berganti jam. Hari demi hari dilalui Nur dengan rutinitas biasa. Buka tutup warung makan menjadi hiburan satu-satunya bagi Nur. Ada niat untuk pergi ke kota dan memulai bekerja di sana, tapi Nur masih memikirkan para karyawannya.
Hampir setiap hari selalu terjadi kerusuhan di warung makan Nur. Akhir-akhir ini selalu ada preman yang membuat kekacauan dan keributan.
Bahkan ada saja karyawannya yang terluka atau hanya sekedar tertimpa kesialan. Bahkan Nur dan karyawannya selalu diancam oleh preman-preman itu.
Di kampung, kini dirinya terkenal dengan janda pembawa sial. Mereka selalu menghubung-hubungkan setiap kesialan yang terjadi pada karyawannya adalah dampak dari dirinya.
Awalnya Nur tidak mau ambil pusing dengan tuduhan dan berita-berita yang tersebar di kampungnya. Sebagai manusia biasa, dia juga mempunyai rasa lelah.
Hingga akhirnya, kini Nur menjaga warung makannya hanya berdua dengan Rena. Hampir semua karyawannya mengundurkan diri karena tidak mau ketiban sial.
"Ren, kenapa kamu tidak mengundurkan diri juga?" tanyanya dalam kemurungan.
"Mbak, aku akan selalu menemani Mbak Nur."
"Apa kamu tidak takut kalau kamu akan sial seperti yang lain?"
Rena malah tertawa mendengar ucapan Nur.
"Biar saja, Mbak. Mana ada orang pembawa sial. Mereka hanya terhasut oleh mulut orang-orang yang tidak bertanggung jawab."
"Tapi semua bukti ada, Ren. Mereka celaka karena aku. Saat Dino mengantarku ke pasar, kami kecelakaan. Si Boy juga begitu. Bahkan Nera harus keguguran juga karena aku."
Nur kembali sedih mengenang setiap kejadian dan kecelakaan yang terjadi pada karyawannya yang kini sudah tidak lagi bekerja padanya.
"Itu hanya kebetulan saja, Mbak. Buktinya aku tidak apa-apa. Aku masih di sini bersama Mbak Nur," elak Rena.
"Ren, sepertinya aku akan menutup warung ini," ucapnya sedih.
Mata Nur beredar mengitari setiap sudut warung miliknya. Ada kepedihan dalam hatinya bila mengenang semua runtutan kejadian yang menimpa karyawannya.
"Kenapa Mbak?"
"Kamu lihat sendiri, Ren, warung semakin sepi. Tidak mungkin aku akan mempertahankannya. Mungkin aku akan ke kota saja dan mencari pekerjaan di sana."
"Mbak, apa ini ada hubungannya dengan duda itu?"
"Jangan asal bicara, Ren! Nanti kalau ada yang dengar bisa jadi perkara besar."
"Tapi aku merasa semenjak pria genit itu sakit hati karena lamarannya Mbak Nur tolak, selalu saja ada kerusuhan di warung ini."
"Aku juga merasa begitu, tapi kita tidak boleh asal tuduh, Rena. Biarkan saja!"
Semenjak hari itu, Nur benar-benar menutup warungnya. Kini dia mencoba menggeluti pekerjaan rumah. Wanita itu mencoba membuat kue dan menjajakannya di pasar maupun di warung-warung sebelum memutuskan untuk pergi ke kota.
Nur lebih suka dengan masak-memasak, makanya dia mendirikan warung makan, tapi sekarang warung makannya hanya tinggal nama.
Bahkan sekarang banyak tetangga yang mencibirnya sebagai wanita pembawa sial.
Seperti hari ini, Nur berada sendirian di rumah. Dia sedang bergelut dengan bahan makanan yang akan diolah menjadi kue.
"Nur, bagaimana? Apa kamu sudah merubah pikiranmu?"
Nur sebenarnya terkejut dengan kemunculan Sudar di hadapannya. Hanya saja dia bersikap santai dan tenang untuk menghadapi pria nekat itu.
Nur tidak mengerti kenapa pria tua itu bisa masuk ke dalam rumahnya, padahal dia merasa sudah mengunci semua pintu rumah. Nur bangkit dari duduknya dan waspada.
"Sampai kapanpun aku tidak akan merubah pikiranku," ucap Nur dengan tatapan tajam menghujam pria bertopi hitam yang berdiri di hadapannya.
Tawa amarah keluar dari bibir pria genit itu.
"Apa yang kamu pertahankan, janda sialan? Kamu ini seorang janda pembawa sial, Nur. Jangan sok jual mahal! Siapa yang akan mau menjadi suamimu kalau bukan aku?" marah Sudar merasa tidak berhasil merayu dan mendapatkan incarannya.
"Lebih baik saya tidak pernah menikah daripada harus menikah dengan Anda," sahut Nur tidak gentar.
"Wow, luar biasa! Baru kali ini aku ditolak oleh seorang wanita dan sialnya yang menolak aku adalah seorang janda," ucap Sudar dengan tepuk tangan.
"Kamu tahu akibatnya karena sudah berani menolak aku, Nur?" lanjutnya.
Pria itu berjalan mengitari tubuh Nur dengan tatapan liarnya. Matanya menjelajah setiap inci tubuh Nur yang tertutup oleh pakaian big size. Lidahnya menjulur membasahi bibirnya sendiri.
"Aku akan menawarkan sekali lagi padamu, janda sialan. Maukah kamu menjadi istriku?" ucap Sudar masih sembari berjalan memperhatikan Nur.
"Apa telingamu sudah tuli? Aku tidak akan pernah mau menjadi istrimu, duda genit," ketus Nur dengan tegas.
Matanya tajam menolak. Seolah memberi perlawanan untuk berperang.
"Oke, oke. Itu sudah menjadi keputusanmu. Aku harap kamu tidak akan menyesalinya, janda sombong."
Dengan sebuah kode yang Nur sendiri tidak tahu artinya, pria itu tersenyum licik.
Beberapa pria kekar berjalan ke arah mereka.
"Apa yang akan kamu lakukan?" ucap Nur mulai ketakutan.
"Kamu yang memaksaku melakukan semua ini, Nur," ucap Sudar dengan senyum liciknya.
Wajah Nur menjadi tegang dan takut. Para pria itu terus berjalan ke arahnya dengan tatapan buas.
"Apa yang akan kalian lakukan?" tanya Nur semakin takut.
Nur melangkah mundur beberapa langkah. Sial, tubuhnya malah terkunci. Tubuh Nur terantuk pada dinding. Tubuhnya semakin gemetar, bahaya telah mengancam keselamatannya. Nur semakin gusar dan hilang akal.
Melihat Nur telah terhimpit, bibir duda tua itu tersenyum puas. Senyum menjijikkan bagi Nur. Sudar merasa senang melihat Nur gemetar ketakutan saat anak buahnya semakin mendekatinya.
"Lumpuhkan dia!" perintahnya pada para lelaki bertubuh kekar.
"Apa yang akan kalian lakukan? Jangan sentuh aku!" Nur terus berteriak, tapi para lelaki itu malah semakin sangat mendekatinya.