"Sudah berapa lama?"
"Sudah hampir dua jam, Tante."
Nur masih saja gelisah. Matanya masih saja melihat arah pasar, tapi lagi-lagi tidak ada tanda-tanda bahwa bundanya akan kembali. Setiap ada mobil angkutan umum yang berhenti, dia selalu memperhatikan dengan harap-harap cemas.
"Kamu susul saja ke pasar! Siapa tahu bundamu masih di sana," saran wanita itu.
"Sepertinya memang Nur harus menyusul bunda, Tante."
Nur masuk ke dalam rumah mengambil dompet dan mulai menyusul ke pasar. Di dalam angkot dia masih saja tidak tenang. Jantungnya berdetak sangat cepat. Nur semakin gelisah. Beberapa kali meremas tangannya sendiri untuk mengurangi rasa gelisah nya.
Dalam perjalanan, kendaraan yang dia tumpangi terkena macet. Hal ini semakin membuat jantungnya berdetak lebih cepat lagi. Resah dan gelisah semakin menjalar ke seluruh dirinya. Nur semakin tidak bisa duduk dengan tenang.
"Ada apa, Pak?" tanya salah satu penumpang pada sang sopir.
"Sepertinya ada kecelakaan, Mbak," jawab sangat sopir.
"Kecelakaan apa?"
"Kurang tahu, Mbak. Di depan sangat ramai," jawab sopir sembari melongok ke arah depan.
Salah seorang dari mereka bertanya pada orang yang melintas dari arah bersebrangan.
"Pak, ada kecelakaan apa?" teriaknya.
"Kecelakaan, Mbak. Ada ibu-ibu tertabrak mobil," jawab orang tersebut dengan teriak juga.
Deg!
Jantung Nur seakan berhenti berdetak. Serasa ada yang hilang dalam hidupnya. Kecemasannya semakin tidak bisa dikendalikan lagi.
Wanita itu keluar dari angkutan umum dan berlari ke arah kerumunan orang-orang. Dengan bersusah payah tangannya menyibakkan tubuh-tubuh manusia yang berkerumun hanya untuk melihat ke arah korban. Nur menyelinap dengan susah payah di antara kerumunan.
Matanya terbuka lebar, mulutnya menganga sempurna dan benar-benar jantungnya berhenti seketika. Saat melihat sosok wanita yang sangat disayanginya terbujur lemah berlumuran darah segar.
Langkahnya lunglai menghampiri wanita itu. Air matanya hampir tidak bisa keluar saking sedihnya. Dengan lemah wanita itu jatuh tersungkur di dekat tubuh bundanya.
"Bunda!!!" teriak Nur dengan keras. Suaranya menggema di antara riuh orang-orang yang berkerumun.
Setelah berteriak, air mata Nur baru mengalir dengan deras. Dia membawa tubuh bundanya ke dalam dekapannya.
Tangisannya pecah membawa kesedihan. Tubuhnya bergetar mendekap pilu tubuh bundanya yang semakin terasa dingin.
Beberapa saat kemudian ambulance datang membawanya ke rumah sakit. Nyawa sang bunda tidak bisa tertolong lagi. Sekali lagi, kesedihan dan duka menyelimuti hidup Nur.
Satu-satunya orang yang dia miliki kini kembali dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Entah dosa apa yang telah dia perbuat, sehingga harus kehilangan orang-orang yang disayangi.
Ratapan pilu Nur masih terdengar mengiringi pemakaman sang bunda. Dipeluknya batu nisan bertuliskan nama 'Rika binti Sembayan'.
Gundukan tanah merah menjadi saksi luka hatinya. Teringat akan kenangan saat ayahnya meninggalkan dia dan bundanya. Di saat umurnya masih remaja. Nur harus kehilangan sosok ayah karena serangan jantung saat mengantarnya sekolah.
Kini bayangan itu berganti di saat dia harus kehilangan seorang suami yang sangat dicintai, Frans. Pria itu meninggalkannya di malam bahagianya. Malam pengantin mereka.
Kini, sekali lagi dia harus kehilangan sang bunda. Wanita yang selama ini menjaga dan merawatnya. Runtutan kejadian memilukan selalu dia rasakan.
Sejak kepergian bundanya, Nur selalu meratapi nasibnya. Wanita itu merasa sudah putus asa. Dia selalu mengurung diri di kamar. Kini tidak ada lagi wanita yang selalu mengingatkannya untuk memasak, tidak ada lagi yang mengingatkannya untuk menikah lagi.
Kini hidup Nur tinggal sebatang kara. Nur menjadi yatim piatu dan janda. Lengkap sudah penderitaannya.
Tetangga-tetangganya selalu datang silih berganti hanya untuk memberi dukungan dan semangat pada wanita malang itu. Bahkan ada yang menawarkan agar Nur mau tinggal bersama mereka, tapi dia selalu menolak ajakan para tetangganya.
Hidup Nur kini tinggal sebatang kara. Sejak bundanya meninggal, wanita itu hidup sendirian. Orang tua Frans pernah menawarkan padanya untuk tinggal bersama mereka. Nur menolaknya.
Kini Nur harus menjalani hidup sendirian. Terkadang kesedihan menghampirinya di malam hari, dia selalu teringat akan almarhum suami dan bundanya.
Nur sering menangis di malam hari, siapa yang tahu akan kepedihannya?
Kini wanita janda itu harus terbiasa dengan kehidupannya. Nur mulai membuka warung makannya. Hanya karyawan yang mampu menjadi pengobat kesepiannya.
"Nur," panggil seseorang yang suaranya tidak asing baginya.
Mata Nur terbuka lebar saat melihat sosok pria yang sangat dia benci telah berdiri di hadapannya dengan senyuman genit dan menjijikkan.
"Kenapa Anda ke sini lagi?" ketus Nur sedikit cuek.
"Jangan begitu, Nur! Aku tahu sekarang kamu kesepian. Suami dan bundamu sudah pergi meninggalkanmu."
"Maaf, Anda salah. Aku sama sekali tidak kesepian. Masih ada teman-temanku, mereka semua adalah saudaraku."
"Jangan sombong! Bagaimana kalau mereka juga akhirnya menjauhimu?"
"Apa yang Anda inginkan?" Mata Nur menatap penuh kemarahan dan benci.
"Menikahlah denganku! Kalau kamu menjadi istriku, aku akan menjamin semua biaya hidupmu," ucap Sudar.
Nur mengembangkan bibirnya dengan kecut. Senyumannya terpaksa seolah sedang mencibir pria tua itu.
"Maaf, sampai kapanpun aku tidak akan sudi menjadi istri Anda. Meski Anda bergelimang harta, tapi saya tidak tertarik sama sekali. Lebih baik silahkan Anda pergi dari sini!" usir Nur.
Wajah pria itu sangat terlihat marah bahkan matanya mulai garang merah. Tangannya mengepal dan hembusan napasnya mulai cepat.
Sedangkan Nur, dia tetap saja santai dengan tangan terampilnya menyiapkan makanan yang dia jual.
"Kenapa Anda masih di sini? Bukankah saya sudah mengusirmu?" Nur menghentikan gerakan tangannya dan menatap pria tua di hadapannya dengan tatapan benci.
"Kamu sudah berani mengusirku, janda tidak berguna! Aku akan membalas semua sakit hatiku padamu dan akan aku pastikan, kamu akan berlutut di kakiku untuk memohon ampun dan menjadi istriku." Aura kemarahan pria itu sangat terasa.
"Maaf, sampai kapanpun aku tidak akan pernah memohon pada Anda."
Brakkk!!!
Pria itu menggebrak meja dengan kuat, sehingga semua orang yang ada di situ terkejut dan langsung membuka mata ke arahnya, tapi Nur, dia sama sekali tidak gentar.
"Kamu akan menanggung akibatnya, janda sialan! Aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang."