"Hentikan! Atau kalian akan masuk penjara!" ucapnya lagi.
"Wow, wow, wow. Apa kamu mau membunuh kami, Nona cantik? Coba saja kalau bisa!" ucap salah satu dari mereka meremehkan Nur.
"Kalian memang manusia gila! b******k!" teriak Nur dengan masih terus menodongkan pisaunya.
"Wow ... ternyata benar apa kata Bos. Wanita ini sangat pemberani. Wajar saja kalau Bos menginginkannya untuk menjadi istrinya," ucap salah satu dari mereka.
Mendengar ucapan itu, Nur dan juga bundanya langsung mengetahui siapa dalang di balik semua ini.
Ya, dalang dari semua ini adalah duda genit yang bernama Sudar. Dia sakit hati karena Nur sudah menolak lamarannya.
"Jadi duda itu yang sudah menyuruh kalian melakukan semua ini?" ucap Nur memperjelas dugaannya.
"Dasar bodoh! Kenapa kamu mengatakan kalau bos yang menyuruh kita?" ucap salah satu dari mereka dengan muka sanggar memukul kepala pria yang berkata tentang bosnya.
"Bilang sama bosmu, si duda genit itu! Sampai mati pun aku tidak akan pernah sudi mau menjadi istrinya. Lebih baik aku mati daripada harus menjadi istri duda b******k seperti dia," pekik Nur.
"Dasar wanita bodoh! Kalau kamu menikah dengannya, kamu tidak perlu repot-repot lagi membuka warung makan ini untuk mendapatkan uang."
"Aku bilang pergi dari sini! Atau aku akan bunuh diri dan aku yakin, bosmu tidak akan mau kalau aku mati. Apalagi aku mati di tangan kalian. Aku yakin dia akan membunuh kalian kalau aku mati," ancam Nur penuh penekanan dan akal licik.
"Sialan! Ini semua gara-gara kamu! Kalau kamu tidak mengatakan bahwa bos yang menyuruh kita, dia tidak akan tahu," ucap salah satu dari mereka.
"Cepat pergi dari sini! Atau aku benar-benar akan melakukannya sekarang," teriak Nur.
Nur mengarahkan ujung pisau pada jantungnya dengan senyum kemarahan.
"Nur." Bundanya semakin khawatir.
"Silahkan pilih! Kalian mau pergi atau aku mati?" ucap Nur penuh ancaman serius.
Tiga pria itu saling usik dan menyalahkan satu sama lain. Mereka berdiskusi tenang tindakan yang akan mereka ambil.
"Ada apa lagi? Apa kalian masih belum mau pergi juga? Baiklah," ucap Nur sembari berpura-pura mengayunkan pisau di tangannya ke arah d**a.
"Jangan! Oke, kami pergi."
Dengan kesal dan saling menyalahkan, tiga pria itu akhirnya meninggalkan warung makan Nur. Bunda Nur langsung berhambur memeluk putrinya dan menangis.
"Nur, kenapa kamu nekat, Nak? Bagaimana kalau mereka menyakitimu, Nak?" Rika menangis tersedu.
"Bunda tenang saja, ya. Aku tadi hanya berpura-pura untuk menghardik mereka. Aku yakin duda genit itu tidak akan membiarkan aku mati, Bunda." Nur mengusap punggung bundanya.
"Tapi jangan pernah ulangi lagi, Nak! Bunda khawatir."
"Iya, Bunda. Maafkan aku."
"Ya, sudah. Sekarang kita bereskan lagi warung kita."
Orang-orang yang tadi hanya menjadi penonton setia turut membantu merapikan warung makan milik Nur. Mereka meminta maaf karena tidak berani menolong Nur.
Mereka kagum karena Nur berani menentang Sudar, si duda genit. Terlebih Nur sama sekali tidak terlihat gentar saat menghadapi ketiga preman itu.
Semenjak kerusuhan yang terjadi di warung makan Nur saat itu. Beberapa hari ini dia tidak membuka warung makannya. Bukan karena takut akan terjadi kerusuhan lagi. Wanita itu hanya khawatir akan keselamatan bundanya.
"Nur, apa tidak sebaiknya kamu buka saja warung makan kita? Sudah lama kita tidak membukanya. Kasihan para karyawan, mereka tidak ada pekerjaan lain selain di situ," ujar Rika.
"Nur juga maunya begitu Bunda, tapi Nur khawatir dengan keselamatan Bunda."
"Bunda tidak apa-apa, Nak. Mereka tidak akan melukai bunda. Lagi pula hidup dan mati kita sudah ada yang mengatur," ucap Rika menenangkan Nur.
"Aku tahu, Bunda, tapi aku tidak mau terjadi apa-apa pada Bunda," sahut Nur sembari menggenggam tangan sangat bunda.
"Bunda yang khawatir padamu, Nak."
Raut wajah wanita paruh baya itu menunjukkan kekhawatiran yang sangat jelas. Rika mengusap rambut putri semata wayangnya dengan lembut.
Nur berbaring dengan kepala di atas paha bundanya. Wanita itu sangat menyayangi orang tuanya yang hanya tinggal bunda seorang.
"Nur, bila nanti bunda sudah tidak ada lagi. Kamu harus janji pada bunda. Kamu akan hidup bahagia."
"Bunda, kenapa Bunda berbicara seperti itu?"
Nur mengubah posisinya dan bangun dari baringnya. Dia duduk menghadap sang bunda dan menggenggam tangannya. Netranya menatap sedih mendengar perkataan wanita yang selama ini melahirkan dan membesarkannya.
"Bunda, apa pun yang terjadi, Bunda tidak boleh pergi ke mana-mana. Bunda harus selalu ada bersamaku. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Aku hanya punya Bunda. Ayah dan mas Frans sudah meninggalkan aku. Aku tidak mau Bunda juga meninggalkan aku," ucapnya sedih penuh harap.
"Nur, kamu sudah dewasa. Bunda hanya berpesan padamu. Bila suatu saat nanti kamu menikah lagi, selalu hormatilah suamimu! Jangan buat dia kecewa!" pesan Rika sembari mengusap wajah Nur.
"Bunda. Bunda jangan berbicara seperti itu! Aku sedih, Bunda," ucapnya sembari air mata menetes di pipinya.
Rika meraih pundak putrinya dan mendekapnya dalam pelukan. Suara isak tangis Nur terdengar sangat sedih.
"Di dunia ini, aku hanya punya Bunda," lirihnya di sela isak tangis.
"Kamu masih punya mertua, Nak. Mereka juga sangat menyayangimu."
"Bagaimana pun tidak ada yang bisa menggantikan Bunda."
"Bunda tidak akan tergantikan, Sayang. Bunda tetap akan menjadi bunda untukmu, tapi mereka akan menjagamu saat bunda tidak ada nanti," ucap Rika menatap teduh Nur.
"Bunda. Kita jangan membicarakan hal ini lagi ya," ucapnya berusaha mengalihkan kesedihan hatinya.
Nur merenggangkan tubuhnya dan mengusap air matanya. Dia mencoba tersenyum walau sebenarnya kesedihan dalam hatinya masih terasa berat.
"Bunda ingin kamu bahagia, Sayang." Tangan lembut Rika mendekap wajah putrinya. Sekali lagi mereka saling berpelukkan.
Malam ini Nur meminta untuk tidur satu kamar dengan bundanya. Rasanya malam ini begitu berat untuk berpisah dari wanita yang sangat disayanginya.
***
Hari ini, bunda Rika pergi ke pasar sendirian. Tadinya Nur mau menemaninya, tapi wanita itu menolaknya dengan alasan Nur harus menyelesaikan tugas rumah dan mereka berbagi tugas agar semuanya cepat terselesaikan.
Nur sama sekali tidak mempunyai firasat buruk pagi itu.
Kira-kira dua jam dari kepergian bundanya. Nur merasa gelisah, karena sang bunda belum juga kembali. Padahal jarak antara pasar dengan rumahnya bisa ditempuh hanya dalam waktu kurang lebih lima belas menit saja. Itu pun kalau kita menggunakan angkutan umum.
Nur bolak-balik melihat jalanan. Dia semakin cemas, tidak ada tanda-tanda bahwa bundanya akan segera kembali.
"Nur," sapa seorang tetangganya.
"Eh, Tante," jawab Nur kaget.
"Kenapa kok kelihatannya gelisah seperti itu?"
"Bunda belum kembali dari pasar, Tante."
"Mungkin belanjaannya banyak."
"Tidak, Tante, bunda hanya belanja sayuran untuk di rumah, karena warung belum buka."