Sejak Nur menolak lamaran duda kampung sebelah, warung Nur lebih ramai dengan para pria-pria genit. Mereka datang hanya untuk menggoda Nur.
Sudah beberapa hari ini Nur tidak pernah datang lagi ke warungnya, semua urusan di kerjakan oleh bundanya. Nur hanya memantaunya dari rumah. Wanita itu bekerja dari rumah.
Sebenarnya dia tidak tega melihat bundanya harus bekerja menggantikannya, tapi dia tidak punya pilihan lagi. Bundanya selalu memaksanya untuk berdiam diri di rumah hanya demi keselamatan dan nama baiknya.
Sore itu seharusnya sang bunda sudah pulang, tapi sampai jam enam lebih bundanya belum juga pulang ke rumah. Hati Nur menjadi sangat gelisah.
"Bunda, kenapa belum pulang juga?" Nur semakin gelisah.
Beberapa kali dia mencoba menghubungi bundanya dan juga orang-orang di warung, tapi semua panggilannya teleponnya tidak ada yang dijawab.
Karena menunggu adalah hal yang menjenuhkan. Nur memutuskan untuk menjemput bundanya ke warung. Dengan modal nekad dan berani, dia pergi menuju warung.
Alangkah terkejutnya Nur saat melihat beberapa pria dengan tubuh kekar sedang marah-marah di depan warungnya.
"Bunda!"
Nur berlari menerobos para pria tersebut. Dengan wajah panik, dia masuk ke dalam warung. Dilihatnya sang bunda berdiri dengan tangan gemetaran dalam pelukan Rena.
"Rena, ada apa ini?" tanyanya khawatir.
"Mereka mau mengobrak-abrik warung kita, Mbak, kalau kita tidak mau membayar pajak pada mereka."
Rena yang selama ini menjadi orang kepercayaan Nur di warung tidak kalah gemetar dan takut. Melihat Nur datang, Rena sedikit lega.
"Pajak? Pajak apa?" tanya Nur heran karena selama ini tidak ada pajak semacam itu.
"Katanya pajak keamanan, Mbak," jawab Rena.
"Sejak kapan ada pajak keamanan di sini?"
Dengan wajah marah dan kesal Nur berjalan ke luar menemui para perusuh.
"Nur, jangan, Nak! Biarkan saja mereka. Kita bayar saja apa yang mereka minta," larang sang bunda khawatir dengan keselamatan putrinya.
"Tidak, Bunda. Ini tidak bisa dibiarkan. Mereka harus tahu kalau kita di sini sudah lama dan tidak perlu keamanan apalagi harus membayar pajak pada mereka. Memangnya mereka siapa seenaknya saja main minta uang keamanan? Ini tanah kita, Bunda. Ini milik kita. Kalau kita harus membayar pajak, maka kita akan membayar pada pemerintah, bukan pada preman seperti mereka," ucap Nur tidak bisa menahan kemarahannya lagi.
"Tapi, Nur, bunda yakin mereka hanya mencari gara-gara saja. Mereka hanya butuh uang, Nak." Rika tetap melarang Nur menemui mereka.
"Kalau mereka butuh uang, seharusnya mereka bekerja, Bunda. Bukan main palak seperti ini."
Nur berjalan ke luar menemui para lelaki bertubuh tegap dan kekar itu. Ada tiga pria dengan wajah sangar berdiri di luar warung.
"Maaf, Tuan-tuan. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Nur dengan sopan. Meski sebenarnya bara api amarah sudah membakar dirinya sejak awal melihat bundanya gemetar ketakutan.
Wajah mereka menyeringai sangat mengerikan seolah ingin menelan Nur hidup-hidup.
Sebenarnya Nur merasa takut melihat tubuh dan wajah mereka, tapi dia berlagak berani karena dia merasa benar. Nur berusaha keras agar tidak terlihat gugup dan gemetar. Dia harus bisa menutupi ketakutannya itu. Nur mencoba tenang.
"Karena kamu sudah membuka warung makan di tempat ini, maka kamu harus membayar pajak kepada kami!" ucap salah satu dari ketiga pria kekar itu.
"Siapa kalian beraninya meminta bayaran pajak pada kami? Ini tanah milikku sendiri. Warung juga punyaku sendiri. Kenapa kalian mengusik kami?" sahut Nur dengan suara lantang.
"Jangan banyak bicara wanita tidak bersuami!" bentak salah satu dari mereka mulai marah.
"Jaga ucapanmu, Tuan. Aku memang tidak bersuami, tapi tidak ada hubungannya dengan pajak," ucap Nur marah. Dia tersinggung karena pria itu membawa status jandanya dalam masalah ini.
Mereka tertawa dengan sangat puas melihat kemarahan Nur mulai tersulut. Itu yang mereka cari, Nur marah dan pada akhirnya akan membayar pajak pada mereka.
"Kalau kamu tidak membayar pajak pada kami, maka warung ini akan kami ratakan dengan tanah!" ancam salah satu dari mereka.
"Berapa yang kalian minta?" Nur mencoba untuk memancingnya.
"Satu juta."
"Apa? Satu juta? Kalian sudah gila! Pendapatanku saja tidak mencapai satu juta," ucap Nur marah dan kesal dengan jumlah yang mereka katakan. Matanya membelalak lebar mendengar jumlah uang yang mereka minta.
"Kenapa? Keberatan? Kalau begitu dua juta." Satu pria lagi menambahkan jumlah yang harus dia bayar.
"Kamu pikir kami ini bank yang bisa dengan mudah mengeluarkan uang sebanyak itu? Bank saja tidak mudah mengeluarkan uang," bentak Nur tidak kalah kerasnya.
"Jangan banyak omong, janda cantik! Cepat beri kami uang sejumlah yang kami minta, atau warung ini kami ratakan dengan tanah!" teriak pria itu.
"Aku hanya mau memberi kalian seratus ribu saja," ucap Nur masih dengan suara rendah.
"Ha ... ha ... ha ... kamu pikir kami anak kecil? Kamu pikir kami hanya akan membeli ice cream? Dasar wanita bodoh!" makin mereka.
Mereka bertiga tertawa secara bersama. Tawanya menggelegar membuat bulu kuduk merinding. Setan, kali. Ups, mereka memang jelmaan setan berkepala manusia.
"Kalau kalian tidak mau, tidak apa-apa. Silahkan pergi dari ini!" sahut Nur meremehkan tawa mereka.
"Kamu mengusir kami? Kalau kamu tidak memberikan uang itu, maka kami akan menghancurkan semua barang-barangmu!" ancam mereka lagi.
"Kamu pikir aku takut? Tidak. Aku tidak takut dengan ancaman kalian, Tuan-tuan."
"Nur, sudah, Nur. Beri saja apa yang mereka minta, Nak!" ucap bundanya memegangi lengan putrinya.
Wanita itu sangat khawatir dengan keselamatan putrinya, maka Rika langsung menyusul Nur. Masalahnya yang dia hadapi bukanlah orang kecil, tapi para lelaki dewasa dengan tubuh kekar dan menyeramkan.
"Tidak bisa, Bunda. Mereka tidak boleh seenaknya sendiri mengambil pajak kepada orang kecil seperti kita." Nur tetap tidak mau mengikuti saran bundanya.
"Baiklah kalau kalian tidak mau membayar pajak pada kami. Maka kami akan merusak warung kalian."
Tiga pria berwajah sangar itu mulai melakukan kerusuhan dengan membalikkan semua kursi dan meja. Bahkan mereka memecahkan beberapa piring.
Orang-orang yang ada di situ tidak berani melakukan pembelaan terhadap Nur dan bundanya. Mereka tahu siapa ketiga orang tersebut.
"Cukup hentikan! Aku mohon hentikan, Tuan!" teriak Rika.
Wanita itu sangat ketakutan dan panik melihat ulah mereka. Dia hanya bisa menangis dan berteriak memohon untuk menghentikan perbuatan mereka.
Nur dengan langkah cepat masuk ke dalam warung dan kembali berlari ke luar dengan membawa sebilah pisau di tangannya.
"Hentikan!" teriaknya dengan pisau di tangan.
Seketika para lelaki itu mengehentikan perbuatannya dan melihat ke arah wanita yang menggenggam sebuah pisau tajam.