"Lepaskan, Pak! Saya ada kerjaan di belakang," ucap Nur memberi alasan.
"Jangan bohong, Nur! Aku tau kamu bermaksud menghindari aku," bentak Sudar tidak mau melepaskan Nur.
"Tidak, Pak. Aku memang ada pekerjaan di belakang. Aku ke sini khan, mau ngecek stok barang," ucapnya sedikit dibuat santai agar duda itu percaya.
"Baiklah, tapi setelah selesai temani aku!"
Pria itu melepaskan tangan Nur dengan syarat.
Setelah tangannya lepas, Nur langsung pergi meninggalkan sang duda tanpa basa-basi lagi.
Nur sengaja berlama-lama di belakang dan mengulur-ulur pekerjaannya. Sampai akhirnya pria genit itu bosan dan meninggalkan warung makan Nur.
Janda cantik itu tersenyum lega saat melihat sang duda sudah pergi.
"Kenapa, Mbak?" tanya pegawainya heran saat melihat Nur mengelus dadanya.
"Akhirnya pergi juga tuh duda genit. Aku jijik, Ren, melihat duda itu," jawab Nur sembari bergidik jijik.
"Sepertinya dia tidak akan menyerah, Mbak, sampai mendapatkan Mbak Nur."
"Idih, amit-amit, Ren. Aku tidak akan pernah mau menjadi istrinya." Lagi-lagi Nur bergidik.
"Aku juga tidak setuju kalau Mbak Nur menikah dengan duda genit itu, tapi Mbak Nur harus hati-hati kalau menolak dia harus dengan cara halus!"
"Iya, Ren. Aku tau."
Ya, Nur harus mencari cara yang halus untuk menolak keinginan duda tua itu karena Sudar bisa melakukan apa saja bila kemauannya ditolak dan tidak tercapai.
Malam hari, Nur dan bundanya duduk santai dengan berbincang-bincang.
"Nur, apa kamu belum memikirkan untuk menikah lagi, Nak?"
"Belum, Bunda. Aku belum mau menikah lagi. Sampai detik ini, aku masih belum bisa melupakan mas Frans."
"Kamu harus melupakannya, Nur. Tidak baik kalau kamu menjanda terlalu lama. Kamu masih muda dan cantik. Jangan sampai omongan miring para tetangga merusakmu."
"Biarkan saja, Bunda. Mereka hanya iri saja sama Nur. Yang terpenting aku tidak pernah menggoda suami mereka, Bunda," sahut Nur cuek.
Nur terlalu lelah memikirkan omongan orang lain tentang statusnya sebagai janda. Kali ini dia tetap bersikap cuek terhadap omongan miring itu. Dia ingin menikmati hidupnya sendiri tanpa terganggu dengan omongan orang lain.
"Bunda tahu, Nak, tapi omongan tetangga itu lebih menyakitkan, Nur."
"Bunda tenang saja, ya. Aku sanggup kok menjalani ini semua."
Tok! Tok! Tok!
Suara pintu diketuk oleh seseorang.
"Siapa yang datang ya, Nur? Apa kamu janjian dengan seseorang, Nak?"
Rika heran kenapa ada orang datang bertamu malam-malam. Padahal selama ini mereka tidak pernah menerima tamu di malam hari. Bukan apa-apa, Nur dan Rika hanya tinggal berdua saja. Mereka perempuan yang tidak mempunyai suami.
"Tidak, Bunda. Biar Nur yang buka pintunya."
Nur berjalan membuka pintu. Sebenarnya dia sendiri merasa ngeri dan takut untuk membuka pintu dan menerima tamu malam-malam. Hanya saja Nur tidak mungkin membiarkan bundanya yang membuka.
Alangkah terkejutnya Nur saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu dengan wajah tersenyum lebar.
"Malam, Nur," sapanya tanpa dosa sedikit pun.
"Malam, Pak. Ada apa ya, Pak?" tanya Nur dengan cuek dan dingin.
"Apa aku tidak dipersilahkan masuk dulu, Nur?" tanya Sudar dengan mata melirik ke dalam rumah melewati celah tubuh Nur.
"Siapa, Nur?" teriak bundanya dari belakang.
"Saya, Bunda, calon menantumu," teriak sang duda genit.
Mata Nur sontak terbelalak menatap tajam duda itu dengan kesal.
"O, Pak Sudar. Kenapa tidak disuruh masuk, Nur?" Rika berjalan mendekati mereka.
Pria itu tertawa sembari matanya melirik pada Nur. Dengan kesal, Nur mempersilahkan pria itu masuk dan duduk.
"Ada apa ya, Pak Sudar, malam-malam begini datang ke rumah kami?" tanya Rika merasa aneh dengan kedatangan Sudar.
"Begini, Bunda. Saya bermaksud untuk melamar Nur menjadi istri saya," ucapnya dengan bangga.
Bukan hanya Nur yang kaget, tapi Rika juga ikut terkejut mendengar maksud duda Sudar. Selama ini Nur tidak pernah bercerita padanya tentang duda genit itu.
Bunda menatap mata Nur seolah meminta penjelasan akan semua ini.
"Bagaimana, Bunda? Apa Bunda merestui kami?" tanyanya tidak sabar lagi.
"Maaf, Pak. Bukannya saja tidak mau merestui dan menerima maksud kedatangan Pak Sudar, tapi semua keputusan ada di tangan Nur sendiri," jawab Rika. Dia yakin putrinya itu tidak akan pernah mau menerima lamaran Sudar.
"Bagaimana, Nur? Apa kamu menerima lamaranku?" tanya duda itu dengan kode genitnya.
Dengan wajah kesal yang dibuat sesantai mungkin, Nur menarik napas panjang. Meredam kemarahan dan rasa jijik dalam hatinya. Nur menghela napas berat penuh dengan makian yang tertahan.
"Maaf, Pak, saya belum berniat untuk menikah lagi," ucapnya singkat. Secara tidak langsung dia menolak lamaran Sudar.
"Kenapa? Apa aku kurang tampan? Apa kurang kaya?" tanya Sudar dengan kagak sombongnya.
"Bukan begitu, Pak. Saya hanya belum bisa melupakan mas Frans," sahut Nur dengan cepat.
"Laki-laki itu sudah meninggal, Nur. Dia tidak akan kembali lagi. Jangan bodoh!" ucap Sudar dengan nada tinggi. Pria itu mulai menunjukkan sifat aslinya.
"Maaf, Pak Sudar, memang Nur belum siap untuk menikah lagi. Dia masih trauma," ucap Rika mencoba menetralisir keadaan.
"Aku akan memberi apapun yang kamu minta, Nur. Rumah, tanah, mobil atau harta? Berapa yang kamu minta? Katakan saja! Aku akan mengabulkan semua asal kamu mau menjadi istriku," ucap Sudar sombong.
"Maaf, Pak, sekali lagi saya minta maaf. Saya tidak butuh semua itu." Sekali lagi Nur menolaknya.
"Kalau begitu apa? Apa yang kamu butuhkan? Katakan saja!"
"Sekali lagi saya minta maaf, Pak. Saya tidak bisa menerima lamaran Bapak," tolak Nur.
"Jadi kamu benar-benar menolak lamaran dariku, Nur? Baru kali ini ada yang berani menolak aku, Nur." Walah Sudar penuh rasa kecewa dan marah.
"Sekali lagi saya minta maaf, Pak."
"Baiklah. Kamu sudah mempermalukan aku, Nur. Jangan harap aku bisa melupakan kejadian ini."
Pria duda itu berdiri dan langsung berjalan pergi tanpa pamit. Tampak jelas tersirat kemarahan pada wajahnya.
Bunda memeluk erat tubuh putrinya. Ada rasa khawatir dalam hatinya. Dia tau siapa Sudar sebenarnya.
"Bunda jangan khawatir."
"Bunda hanya takut, Nur. Kita tahu siapa Sudar itu."
"Bunda, tidak ada yang bisa mengubah nasib. Kita berdoa saja supaya pria itu bisa menerima keputusan Nur."
Sekali lagi dieratkan pelukannya. Hanya doa yang bisa dia panjatkan agar putrinya tidak dalam masalah besar karena sudah menolak lamaran Sudar.