Pagi ini seperti biasa, Nur berangkat ke pasar untuk belanja keperluan warung. Wanita itu suka belanja dengan naik angkot. Sebenarnya dia punya motor, tapi karena belanjaannya banyak makanya dia lebih suka menggunakan angkot langganannya.
Saat menunggu angkot langganannya, seorang pria mendekatinya dengan mata genit menatap Nur dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Mau ke pasar, Mbak?" tanya pria itu masih terus menatap tubuh Nur.
"Iya, Mas," jawab Nur ala kadarnya.
"Apa perlu aku temani? Sayang wanita cantik sepertimu harus jalan sendirian."
"Tidak Mas, terima kasih. Saya sudah terbiasa sendirian," ucapnya sembari menggeser langkahnya menjauhi pria itu.
"Sayang ya, wanita secantik kamu harus menjadi janda secepat itu."
Nur tersenyum kecut mendengar ucapan pria itu.
"Memangnya ada yang salah ya, Mas, dengan status saya sebagai janda?" ucap Nur kesal.
"Tidak ada yang salah. Yang salah itu kalau kamu masih tetap menjadi janda. Bagaimana kalau kamu menikah denganku saja? Aku akan menerimamu walau kamu janda."
"Maaf, Mas. Lebih baik saya tetap menjadi janda dari pada harus menikah dengan Mas," jawab Nur dibuat sesopan mungkin, meski dalam hatinya sangat kesal.
"Aku suka gayamu, cantik," ucap pria itu sembari menggodanya.
Sebuah mobil berhenti tepat di depan Nur dan pria itu. Kaca jendela turun dan terbuka secara perlahan.
"Nur," panggil seorang wanita dari dalam mobil itu.
"Mama," ucap Nur terkejut melihat mama Frans, suaminya.
"Kamu mau ke mana?"
"Ke pasar, Ma."
"Ayo mama antar!"
"Tidak usah, Ma, Nur tidak mau ngerepotin Mama," tolak Nur secara halus.
"Tidak, Nak. Kebetulan mama juga akan ke rumahmu nanti. Jadi mama akan menemanimu belanja dulu."
Nur tersenyum mendengar perkataan wanita itu. Dia dan mama Frans pergi ke pasar dan belanja bersama. Wajah Nur nampak senang dengan kehadiran mertuanya.
"Nur, siapa pria itu tadi?"
"Aku juga tidak kenal, Ma. Untung Mama datang, aku tidak suka dengan pria gatal seperti itu."
"Wajar, Nak, mereka menggodamu. Siapa coba yang tidak tertarik dengan kecantikanmu?" ucapnya dengan senyum senang melihat wajah cemberut Nur.
"Tapi mereka selalu menyebut aku janda, rondo kempling. Aku tidak suka, Ma," ucap Nur kesal.
"Biarkan saja! Jangan terlalu kamu ambil hati."
"Iya, Ma." Nur kembali tersenyum melihat keteduhan wanita di sampingnya.
"Papa mana, Ma?"
"Papamu ke luar kota, Nak. Ada kerjaan di sana. Sekalian nengok Andra, kakaknya Frans."
"Apa mas Andra tidak pernah pulang, Ma?"
"Tidak. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan anak itu tidak pernah memikirkan usianya. Entah kapan dia mau menikah," ucap wanita itu seperti putus asa.
"Belum bertemu dengan jodohnya, Ma. Nanti kalau sudah bertemu pasti mas Andra akan menikah juga."
"Entah kapan, Nur, dia akan bertemu dengan jodohnya. Mama tidak pernah melihatnya membawa wanita pulang. Dia terlalu sibuk. Andra pria yang gila kerja, hingga tidak memikirkan untuk menikah." Ada rasa putus asa dalam ucapannya.
"Sabar, Ma." Nur mengusap punggung tangan mama mertuanya.
Dua wanita itu memilih dan membeli belanjaan dengan berkeliling pasar. Nur lebih suka belanja di pasar tradisional karena harganya lebih murah dan sayurannya segar.
Setelah selesai, mereka langsung pulang. Sebelum pulang, mereka mampir dulu ke warung untuk mengantarkan belanjaan.
Bunda Nur senang dengan kedatangan besannya. Wanita itu senang dan merasa beruntung mendapatkan besan yang baik dan perhatian pada anaknya. Meski Frans sudah tidak ada tapi hubungan mereka tetap terjalin baik.
Siapa yang tidak tertarik atau jatuh cinta pada Nur? Janda cantik, mapan dan menarik.
Semua pun akan tertarik, bahkan tidak sedikit yang menginginkan wanita itu menjadi istrinya. Bukan hanya pria lajang dan duda saja yang menginginkannya, tapi ada juga pria beristri yang mendekatinya dan bermaksud menjadikan Nur istri kedua, ketiga, bahkan istri keempatnya.
Gila bukan?
Ya, begitulah kehidupan dan napsu lelaki yang tidak memikirkan perasaan wanita.
Pagi-pagi saat pegawai Nur akan membuka warung makannya, di depan warung makan milik Nur sudah ramai para pria yang akan makan. Itu hanya alasan saja bagi mereka. Makan. Ya, alasan agar bisa bertemu atau sekedar melihat sang janda cantik.
Padahal akhir-akhir ini Nur lebih sering bermain di belakang layar saja. Dia sudah jarang datang ke warung makannya. Bukan karena sombong, tapi wanita itu risih dengan mata-mata genit para lelaki itu.
Bundanya yang sering menggantikan dia untuk memantau warung makannya, tapi tetap saja para pria itu setia datang ke warungnya. Terlebih sang duda genit bernama Sudar.
Pria itu hampir setiap hari datang ke warung makan Nur, hanya sekedar mencari janda cantik itu.
Bahkan pernah sang duda mengungkapkan perasaannya pada Nur, tapi Nur menolaknya dengan halus. Bukan hanya sekali saja duda itu mengungkapkan perasaannya, tapi berkali-kali.
Hari ini kebetulan Nur sedang ada di warung. Sebenarnya dia hanya ingin mengecek barang-barang stok saja. Sial, keberadaannya kepergok oleh sang duda yang bernama Sudar itu.
"Nur, kamu cantik sekali hari ini," ucapnya genit merayu.
"Terima kasih, Pak," ucap Nur datar tanpa melihatnya sama sekali.
"Jangan panggil bapak dong, Nur! Panggil Mas, biar tambah mesra gitu." Pria itu semakin genit menggoda Nur.
"Maaf, Pak, usia kita jauh berbeda. Wajar kalau saya panggil bapak. Tidak akan sopan kalau saya panggil mas," tolak Nur mentah-mentah.
"Kapan kita menikah, Nur?" tanya Sudar seolah tanpa dosa.
Mata Nur sontak terbuka lebar dan melotot ke arah pria itu.
"Kenapa, Nur? Kenapa matamu melotot begitu? Kamu semakin cantik lho kalau galak begitu."
"Maaf, Pak. Saya belum memikirkan untuk menikah lagi," ketus Nur kesal.
"Tidak baik menjadi janda terlalu lama, nanti kering lho, Nur," ucapnya sambil tertawa kecil.
Entah pikiran kotor apa yang menghinggapi pikiran sang duda genit itu.
'Kering? Apanya coba yang kering? Kepalanya kali yang kering,' ucap Nur dalam hati.
Dengan wajah kesal, Nur pergi meninggalkan pria genit itu, tapi na'as, dengan cepat tangannya sudah ditarik oleh tangan berotot sang duda.
"Jangan menghindari aku, Nur! Temani aku makan atau aku akan mengobrak-abrik warung makan ini!" ancamnya dengan wajah sangar.
Nur berusaha melepaskan tangannya, tapi sia-sia. Tenaganya tidak sebanding dengan tenaga pria itu.