Seusai dari pemakaman, Nur langsung masuk ke dalam kamarnya dan lagi-lagi hanya menangis yang dapat dia lakukan. Kini Nur tidak dapat memeluk tubuh suami tercintanya. Hanya foto dirinya dan Frans yang menjadi kenangan akan wajah tampan Frans.
Sepanjang hari, Nur hanya mengurung diri di dalam kamar. Wanita itu tidak mau makan dan tidak ada sedikit pun makanan yang masuk ke dalam perutnya.
Bunda dan orang tua Frans menjadi khawatir dengan keadaan Nur. Mereka selalu membujuknya untuk makan, tapi selalu saja gagal. Dalam pikiran wanita itu hanya ada Frans dan kesedihan.
Hingga hari ketujuh setelah kepergian Frans, Nur masih saja sering menangis dan mengurung diri di dalam kamar. Hampir setiap hari wanita itu mengunjungi makam suaminya, bahkan pernah sampai seharian Nur berada di makam suaminya.
Keluarganya semakin khawatir, bahkan pernah keluarga Frans menyarankan Nur untuk tinggal bersamanya, tapi Nur menolaknya dengan halus.
Hari ketujuh, di rumah Nur diadakan kirim doa untuk suaminya. Nur masih saja mengurung diri di dalam kamarnya.
"Nur, keluar, Nak," panggil Rika.
"Sebentar, Bunda," sahutnya.
Nur berjalan ke luar menemui bundanya dengan mata sembab.
"Kita ikut berdoa ya, supaya suamimu tenang di sana."
"Iya, Bunda. Bunda, apa papa dan mama datang ke sini?"
"Sudah, Sayang. Mereka sudah di depan bersama yang lain."
Kedua wanita itu ikut bergabung dengan yang lain.
"Nur, kamu sehat, Nak?" tanya mama Frans.
"Nur sehat, Ma. Papa mana, Ma?" tanya Nur setelah menyalami mama mertuanya.
"Papamu di luar, Nak."
"Ma, maafkan segala kesalahan mas Frans, ya. Kalau selama ini mas Frans bandel sama Mama dan papa." Nur menggenggam tangan mama mertuanya.
"Tidak, Nak. Frans adalah anak yang baik. Mama bangga padanya, mama juga bangga padamu."
"Ma, masih boleh khan, Nur panggil Mama dan papa sebagai orang tua Nur? Meski pun mas Frans sudah tidak ada."
Tanpa menjawab mama Frans langsung memeluk erat tubuh menantunya.
"Kamu tetap akan menjadi anak mama dan papa, Nak, meski Frans sudah tidak ada. Bagi mama dan papa, kamu adalah anak kami. Pengganti Frans."
"Terima kasih, Ma."
"Sama-sama, Nak."
Acara kirim doa malam itu berjalan dengan lancar dan khusuk. Malam ini, orang tua Frans menginap di rumah Nur. Mereka bangga punya menantu seperti Nur.
Setelah kepergian Frans, Nur kembali menjalani kehidupannya seperti biasa. Sesekali Nur masih saja menangis bila mengenang kebersamaannya dengan Frans dan mengenang kepergian suami tercintanya secara mendadak.
Mulai sekarang, Nur harus kembali terbiasa hidup tanpa orang yang dia cintai. Sama seperti saat dia belum mengenal Frans. Bedanya hanya saat ini Nur telah berstatus sebagai janda. Janda muda yang cantik.
Hari-hari kini dilalui Nur tanpa adanya sosok Frans sang suami. Bunda nur selalu memberikan semangat dan motivasi pada anaknya. Nur sendiri mencoba sekuat hati menatap hari esok tanpa seorang suami.
Dia mencoba melupakan kenangannya bersama Frans dengan menyibukkan diri di rumah makannya. Dengan bertemu banyak orang yang selalu berganti setiap hari, Nur berharap dapat dengan mudah melupakan kesedihan nya karena kehilangan suami.
Orang tua Frans sendiri sering menanyakan kabar tentang menantunya itu, bahkan sesekali mereka mengunjunginya dan sebaliknya dengan Nur. Dia juga sering datang ke rumah mertuanya. Hubungan antara mertua dan menantu masih sama, tidak berubah meski tidak ada Frans lagi.
Frans sendiri mempunyai kakak yang tinggal di luar kota. Kakaknya jarang sekali pulang dan mereka pun hanya sekali bertemu, saat pernikahan Nur dan Frans.
"Neng, pesan nasi satu porsi ya," ucap salah satu pelanggan pria.
"Iya, Pak. Sebentar ya," ucap Nur dengan sopan.
Mata pria itu selalu menatap Nur dengan tatapan genitnya. Nur sendiri merasa tidak nyaman dengan tatapan pria tersebut. Dia berusaha untuk menghindarinya dengan cara bersembunyi di dalam ruang kerjanya dan menyuruh pegawainya yang melayani pria itu.
"Mana bos cantikmu tadi?" tanya pria itu pada seorang pelayan yang melayaninya.
"Mbak Nur lagi ada kerjaan lain, Pak. Silahkan, Pak! Selamat menikmati makanannya."
Pelayan itu meninggalkan pria genit itu dan kembali ke ruangan Nur.
"Apa pria itu masih di sana?" tanya Nur.
"Masih, Mbak. Sepertinya pria itu menyukai Mbak Nur."
"Pria genit. Kamu tahu siapa dia?"
"Iya, Mbak. Dia pak Sudar, dia itu duda kampung sebelah yang suka menggoda para gadis di kampung ini. Dia sudah menduda sebanyak tiga kali, Mbak."
"Iya. Semua orang juga tahu bagaimana perbuatan laki-laki itu. Istrinya tidak ada yang betah dengan kelakuan bejatnya, makanya minta cerai semua. Dia selalu saja merayu wanita-wanita di kampung. Mungkin kalau ada kambing dikasih pita dan diberi bedak juga bakal dia rayu," ucap Nur sembari bercanda.
"Ha ... ha ... Mbak Nur ini lucu sih. Mana ada kambing pakai pita dan dikasih bedak," ucap pelayannya dengan tawa lebar.
"Lagian jadi laki genit banget. Amit-amit deh."
"Tapi sepertinya dia sedang mengincar Mbak Nur lho. Hampir setiap hari dia datang ke sini."
"Biarkan saja! Jangan diladeni kegenitannya yang penting warung kita ramai dan laku," ucap Nur sambil tersenyum.
"Benar, Mbak."
Hampir setiap hari memang, pria duda yang bernama Sudar itu selalu datang mengunjungi warung makan Nur. Pria itu datang bukan hanya sekedar makan, tapi mencari perhatian pemilik warung itu.
"Mana bos cantikmu?" tanyanya pada pelayan.
"Maksud Pak Sudar, Mbak Nur?"
"Ya, siapa lagi yang cantik kalau bukan Nur, si rondo kempling."
"Mbak Nur lagi pergi ke pasar."
"Salam untuknya, ya," ucapnya sembari tersenyum.
"Nanti saya sampaikan."
Bukan hanya duda yang bernama Sudar saja yang sering datang ke warung makan Nur. Melainkan para pria dari kampung sebelah pun banyak yang datang hanya sekedar untuk mencari perhatian dari janda cantik itu.
Pernah mereka sempat ribut hanya gara-gara merebutkan janda cantik itu. Padahal Nur tidak pernah menanggapi mereka, bahkan dia selalu menghindari mereka.
Lama-lama Nur merasa tidak nyaman dengan situasi itu. Warungnya memang semakin ramai sejak dia menjadi janda tapi keramaian itu malah kadang menjadi sebuah keributan dan membuat Nur pusing.
Nur sendiri sering meminta bantuan pada bundanya untuk menggantikan dia di warung. Bunda Nur sendiri tidak keberatan dengan permintaan anaknya itu.
"Nur, apa kamu tidak ada niat untuk menikah lagi, Nak?" tanya bundanya saat mereka membereskan warung karna mau tutup.
"Tidak, Bunda. Untuk saat ini Nur tidak memikirkan untuk menikah lagi."
"Tapi bagaimanapun kamu harus mencari pendamping lagi, Nur. Tidak baik kalau menjanda terlalu lama, banyak mulut-mulut yang membicarakan kamu."
"Biarkan saja, Bunda. Asal Nur tidak melakukan apa yang mereka bicarakan tentang Nur."
"Bunda tahu, Nak, tapi cobalah untuk membuka hatimu untuk pria lain."
"Nur belum bisa melupakan mas Frans, Bunda. Nur merasa mas Frans masih ada di sini menemani Nur."
"Sayang, kamu tidak bisa terus-terusan terlarut dalam perasaanmu sendiri. Bagaimanapun Frans, suamimu itu sudah tidak ada lagi."
"Nur selalu mencoba, Bunda. Bunda jangan khawatir ya, Nur baik-baik saja. Suatu saat aku pasti akan menikah kalau aku sudah siap," ucap Nur dengan senyuman dan tangannya merangkul pundak bundanya.