Frans menyandarkan tubuhnya menjadi setengah duduk. Dia memandangi langkah istrinya dengan senyuman.
Tidak berselang lama, Nur sudah kembali dengan membawa segelas air. Dilihatnya Frans memejamkan mata dengan senyum terukir di bibirnya. Namun, posisinya masih duduk bersandar. Wajahnya terlihat tampan dengan senyum merekah di bibirnya.
Nur mendekati suaminya dan duduk di sampingnya. Dipandanginya wajah tampan suaminya sebelum dia membangunkan untuk minum.
"Mas, bangun! Ini minumnya," panggil Nur membangunkan Frans, tapi suaminya tidak segera bangun juga.
"Mas, katanya haus. Ayo buruan bangun!"
Tidak ada respon.
Nur menjadi khawatir. Dia menggoyangkan tubuh Frans sedikit kuat dan memanggilnya untuk bangun.
Dengan lemah, tubuh Frans terjatuh tak berdaya.
"Mas, bangun! Bangun Mas!" teriak Nur sembari memeluk erat tubuh suaminya yang sudah tidak bernyawa lagi.
Suara tangis dan jeritan Nur mengundang bundanya dan para tetangga.
"Bangun, Mas! Jangan bercanda! Aku tidak suka kamu bercanda seperti ini," ucapnya dalam tangis sedih kehilangan.
"Mas, ini malam pertama kita, jangan jadikan malam terakhir untuk kita."
Nur terus menangis di samping tubuh lemah tidak bernyawa suaminya. Air mata tidak henti mengalir sehingga matanya merah dan sembab. Entah sudah berapa liter air mata yang dihasilkannya, Nur tidak peduli dengan dirinya sendiri.
Para tetangga berdatangan untuk melayat. Mereka menyayangkan dan kasihan terhadap nasib Nur. Wanita itu harus menerima takdir menjadi seorang janda diusia dua hari pernikahannya.
Wajah penuh kepedihan dan air mata, duduk menghadap tubuh tidak bernyawa suami tercintanya. Deraian dan isak tangisnya membuat setiap orang yang ada di situ turut merasakan pilu.
Rintihan selalu memanggil nama Frans suaminya, selalu terucap dari bibir pucatnya. Sesekali Nur memeluk tubuh dingin dan kaku milik Frans. Dia tidak sanggup lagi menahan air matanya.
"Mas, kamu tega meninggalkan aku sendirian," ucapnya dalam tangis.
Tangannya membelai lembut wajah pucat pasi Frans. Wajah pucat Frans dihiasi senyum tipis dari bibirnya. Frans terlihat tampan dengan senyum, meski terlihat pucat.
"Mbak, kita harus memakamkan mas Frans sekarang," ucap salah seorang dari antara pelayat.
"Tapi aku masih ingin memeluknya, Pak," ucap Nur masih tidak rela melepaskan tubuh suaminya.
"Sabar, Mbak, kamu harus kuat dan mengikhlaskan suamimu."
Tangis pilu wanita itu terdengar semakin menyayat mendengar nasehat dari sebagian besar pelayat. Mereka tidak tau betapa sedih dan kehilangan Nur saat ini.
"Nur, kamu harus ikhlas, Nak. Ikhlaskan suamimu, agar dia tenang!" ucap Rika mengusap rambut putrinya.
"Kenapa mas Frans meninggalkan aku, Bunda? Apa dia tidak mencintaiku?" Nur menyandarkan kepala dalam pelukan bundanya.
"Sayang, kamu jangan berkata seperti itu. Frans, suamimu sangat mencintaimu."
"Tapi kenapa dia harus pergi?"
"Sayang, semua ini sudah takdir, Nak. Kamu harus ikhlas, jangan sampai suamimu pergi dengan tidak damai karena kamu tidak bisa mengikhlaskannya."
"Aku ikhlas, Bunda, tapi aku tidak mau mas Frans pergi. Kenapa dia harus pergi di hari bahagia kami, Bunda?"
"Sayang," ucap Rika mendekap wajah Nur dan mengangkat dari pundaknya.
"Hidup dan mati kita, siapa yang tau? Hanya Tuhan yang menentukannya. Ikhlas, Nak! Bunda yakin Tuhan mempunyai rencana lain di balik semua ini," ucap Rika mencoba menenangkan Nur.
Nur kembali meneruskan tangisnya dalam dekapan sang bunda.
"Bagaimana, Mbak? Apa bisa mayat mas Frans kami mandikan dan diteruskan dengan pemakaman?"
"Silahkan, Pak," sahut Rika mewakili Nur.
"Bunda." Nur masih belum bisa melepaskan tubuh Frans.
"Sayang, kita tidak boleh menundanya. Semakin cepat semakin baik."
Prosesi pemulasaran jenasah pun di mulai. Pemakaman diiringi ratusan pelayat, baik dari pihak tetangga maupun keluarga.
Frans terkenal sebagai orang yang baik dan mudah bergaul. Makanya semasa hidupnya dia banyak disukai oleh orang-orang di sekitarnya. Bahkan saat mereka mendengar kabar duka kepergian pria itu. Banyak rekan yang datang untuk mengantar dan memberi penghormatan terakhir padanya.
Saat jenasah Frans diturunkan ke liang lahat. Saat itulah kepedihan Nur semakin dalam. Air matanya tidak dapat terbendung lagi. Isak tangisnya pecah. Direngkuhnya tubuh bunda Rika dengan pelukan erat. Hatinya terasa hancur. Seolah nyawanya ikut terkubur bersama jasad suaminya.
Saat gundukan tanah telah mengubur jasad suami tercintanya, saat itu juga kakinya terasa lemas tak berdaya. Tubuh Nur jatuh tersungkur di atas gundukan tanah merah. Tanah yang basah mengotori sebagian kaki dan tangannya. Tangisnya semakin tidak mampu menggambarkan kepedihan hati.
Bukan hanya Nur, semua yang ada di pemakaman itu turut merasakan kepedihan atas kepergian Frans. Mereka tidak hanya terkejut dengan berita kematian Frans, tapi juga merasakan sedih dan ikut merasa kehilangan.
Lambat laun, satu persatu pelayat mulai meninggalkan tempat itu. Sebelum mereka pergi, mereka memberikan ucapan bela sungkawa pada Nur. Mereka memberi motivasi dan dukungan agar Nur bisa kuat dan sabar.
Kini tinggal keluarga Nur dan keluarga Frans yang tersisa di pemakaman. Nur masih saja menangis memeluk gundukan tanah merah yang menutupi tubuh suaminya.
"Nak, ikhlaskan suamimu!" ucap mama Frans.
"Ma, kenapa mas Frans begitu cepat pergi?"
"Mama juga maunya Frans tetap bersama kita, Nak, tapi kita tidak bisa melawan kehendak Tuhan. Tuhan lebih sayang pada suamimu. Dia lebih sayang pada putra mama."
"Bagaimana nasib Nur, Ma?"
"Sayang, masih ada munda, ada mama dan papa. Kamu tidak sendirian," ucap Rika.
Nur memeluk erat tubuh bundanya. Mereka saling memeluk memberi dukungan.
"Kita pulang ya, Nak," ucap papanya Frans.
Nur hanya menganggukkan kepalanya. Sebelum pulang, Nur kembali memeluk dan mencium kayu nama yang bertuliskan nama suaminya, 'Fransco Delaro' nama yang akan menjadi kenangan bagi Nur.
"Mas, meski raga kita terpisah, tapi kita akan tetap menjadi satu. Cintaku dan cintamu tidak akan terpisah meski maut memisahkan raga kita. Kamu akan tetap hidup dalam hatiku, Mas," ucap Nur sembari mengusap kayu nisan Frans.
Dengan berat hati, dia meninggalkan gundukan tanah merah tempat suaminya berbaring. Itulah tempat peristirahatan terakhir bagi Frans.