Author POV
"Hello gaes, selamat siang. Dain yang ganteng datang" tanpa mengucapkan salam Dain langsung masuk begitu saja kedalam rumah seseorang.
"Accalamualaitum dulu om" seorang anak kecil perempuan tengah menghampirinya untuk mengingatkannya bahwa dia belum mengucapkan salam.
"Haduh anak cantik yang Sholehah kayak bapaknya. Iya ini om mau bilang Assalamu'aikum"
"Nah ditu. Macuk lumah olang itu calam dulu om jangan main macuk, tidak boyeh"
"Ahh iya anak cantik sorry ya. Kok kamu sudah besar saja sih, tambah cantik pakai hijab gini tapi jangan galak-galak ya nanti kamu seperti bunda mu yang seperti macan mengamuk. Ihh seram" disaat Dain tengah berbincang-bincang dengan anak kecil perempuan itu, tiba-tiba seorang wanita dewasa berhijab menghampiri keduanya sambil marah-marah.
"Heh bilang apa elo Pilot m***m. Enak saja, gue itu sudah kalem. Ini anak gue yang ngajarin kayak gini pasti orangtuanya terlebih gue sebagai ibunya lah, ibunya saja Sholehah gini, jangan ditanya anaknya kayak bagaimana"
"Ini nih katanya yang dibilang kalem. Astagfirullah, santai bu. Kalem itu tidak begitu bicaranya" Ucap Dain sambil tertawa terbahak-bahak.
"Heh ngetawain gue lagi, gue tabok nih pakai sandal"
"Astagfirullah, ini kenapa si Ro punya bini seram benar " gumam Dain sambil ketakutan melihat istri sahabatnya jika sudah seperti ini sama seperti se ekor macan yang ingin me makan mangsanya.
"Elo bilang apa"
"Gue gak bilang apa-apa ya, elo saja yang sensi banget kayak wanita hamil"
"Kalau iya memang kenapa? Jangan menggoda wanita hamil ya bisa gue potong tuh burung loe yang tidak seberapa dibandingkan punya suami gue"
"Astagfirullah Bu. Katanya kalem, pakai bawa-bawa itu segala. Wanita berjilbab tidak boleh berbi...." belum selesai dia mengatakannya, sudah dipotong terlebih dahulu oleh anak perempuan tadi.
"Astagfilullah bunda. Tidak boyeh malah-malah gitu kacian adik byby di dalam" ucapan anak kecil itu, membuat Sang Bunda seketika luluh dan tidak marah-marah lagi.
"Astagfirullah. Ini gara-gara om kamu yang satu ini aduh bunda pusing. Astaga" ucap wanita itu dengan meringis sambil memegangi perutnya.
"Aduh" ringisnya sambil memegangi perutnya yang masih datar.
"Eh eh Nja, kamu kenapa? Haduh gue gak melakukan apapun sama elo ya. Ya ampun elo sakit sungguhan, bentar. Ro, ini bini loe kesakitan woy sini" teriaknya kepada suami dari wanita yang bernama Senja ini.
"Astaga ayo ke rumah sakit"
"Gila gue gak mau lahirin Dain, kenapa harus dibawa ke rumah sakit segala"
"Ya ampun biasa saja Nja jangan naik darah gitu. Itu perut loe kram begitu masih bisa teriak-teriak, astaga"
"Duh Dain DIEM. Perut gue tambah sakit tau"
"Iya-iya. Ya sudah ayo duduk" Dain hendak memegang tangan Senja karena dia berniat untuk menolongnya tetapi niat baiknya itu langsung di cegah.
"Eh mau apa? Mau pegang-pegang ya"
"Astagfirullah. Jahat banget sih Bu Senja. Gue niatnya cuma bantuin saja. Apa wajah gue ini berniat jahat"
"Sudah tidak perlu. BUKAN MUHRIM" setelahnya wanita yang bernama Senja itu berjalan perlahan menuju ke sofa ruang tamu dengan di tuntun oleh putrinya.
Sedangkan Dain yang masih berada di tempatnya itu mengelus dadanya sambil bergumam. "Astagfirullah istrinya si Ro gini banget ya. Semoga nanti kalau gue punya istri tidak seperti itu, bisa-bisa burung gue habis nanti. Ihh untung Senja sama Ro yang sabar lah kalau sama Orl habislah burungmu Orl"
"Astaga bunda kenapa?" Seorang laki-laki dewasa tampan baru saja datang menghampiri mereka. Dia adalah Rolando suami dari Senja.
"Ass sakit perutku Bi. Tuh gara-gara sahabatmu"
"Ya ampun ayo pelan-pelan duduk sayang" dengan penuh perhatian Rolando menuntun istrinya untuk duduk di sofa.
Sedangkan Dain barulah menghampiri mereka dan duduk disana tanpa menunggu dipersilahkan. Dia memang seperti ini jika bertamu ke rumah sahabat karibnya, karena memang sudah seperti rumahnya sendiri.
"Bi, adik ambilkan bunda inum ya" ungkap anak perempuan itu untuk mengambilkan bundanya minum.
"Iya, makasih ya dik. Hati-hati"
"Mana yang sakit sayang? Apa ke rumah sakit saja?" tanyanya kepada sang istri.
"Sini bi, kamu pegang saja siapa tau adiknya mau menurut dan tidak sakit lagi. Ini juga kan karena ulahmu"
"Mana yang sakit? Sini?"
"Iya bi situ"
"Heleh kamu juga nikmatin Nja, pakai bilang ulah suami lagi" ejek Dain yang berada disana, karena dia merasa iri melihat pasangan suami istri ini. Dia juga sebenarnya ingin segera menikah, tetapi sampai detik ini dia belum juga mendapatkan restu dari kedua orangtuanya.
"Yee ada yang iri. Biarkan kalau aku nikmatin kan sama laki gue juga"
"Iya-iya bumil. Sensi amat sih jadi orang"
"Dain"
"Iya-iya Ro, ya ampun ini bapaknya kenapa ikutan sensi juga ya. Astaga apa gue nanti kalau sudah nikah juga jadi begini ya"
"Eh tapi, gue mau tanya resepnya bisa buat anak banyak bagaimana? Gue heran sama elo, rejekinya punya anak cepat sekali" celetuk Dain kembali, namun setelahnya ada seseorang yang ikut dalam pembicaraan mereka.
"Makannya segera nikah sana sama pacar yang elo bangga-banggain itu, biar tidak dosa kalau mau cip..."
"Orl, jangan berbicara sembarangan kalau anak-anak mendengarnya pasti mereka akan bertanya-tanya" ingatkan Rolando kepada adik kembarnya.
Seseorang yang baru saja datang itu adalah Orlando kembaran dari Rolando.
"Gue ini niatnya mau mengingatkan dia pak ustad biar tidak main itu saja, katanya mau jaga tapi tetap saja itu... kan ya tetap dosa" ucap Orlando dengan memarahi sahabatnya.
"Aduh Bi, ayo antarkan ke kamar saja. Bisa makin stres dan sakit ini perutku kalau mendengarkan kedua orang gila ini"
"Ya sudah ayo ke kamar, mau digendong"
"Mau bi. Perutku masih sakit kalau buat jalan"
"Hati-hati saja bisa-bisa anak kalian yang ini mirip sama gue iya kan Orl" sahut Dain yang juga diangguki oleh Orlando.
"Ya sudah ayo" dengan penuh ke hati-hatian Rolando membopong tubuh istrinya dan membawanya ke kamar, tetapi sebelum itu dia berpamitan kepada adik kembar dan juga sahabatnya.
"Kalian disini dulu, aku mau antar istriku ke kamar"
"Iya-iya sudah pergi sana Ro. Tenangin istri galakmu itu" jawab Dain kemudian dia tertawa dengan diikuti oleh Orlando.
"Gila itu istrinya si Ro galak gitu ya kalau hamil"
"Jangankan hamil, dia setiap hari saja galak sama gue. Gue heran saja kenapa dia itu kayak benci sama gue"
"Tapi menyeramkan juga ya punya istri kayak Senja gitu" Ucap Dain sambil bergidik ngeri membayangkannya
"Menyeramkan bagaimana?" Tanya Orlando dengan bingung.
"Iya seram saja, bayangkan saja kalau si Senja pas lagi marah begitu sama suaminya. Bisa di potong tuh burung kembaran elo"
"Hah iya juga ya. Tapi ya tidak mungkin gitu juga Sarden. Ya kali burung suaminya dipotong, tidak mungkin. Kakak gue mah orangnya penyabar mana mungkin istrinya tega menganiaya suaminya. Lagian nanti kalau dia mau itu gimana "
"Ihh bisa saja tau. Elo tidak pernah lihat berita di TV-TV sekarang. Banyak istri yang bahkan bisa membunuh suaminya sendiri"
"Ihh kebanyakan nonton sinetron ya gini nih efeknya. Apalagi cuma mikirin burung di sini nih" marah Orlando dengan menunjuk kepala sahabatnya.
"Ya iyalah burung gue mah lagi bahagia jadinya maunya di bicarain terus" ucapnya sambil tersenyum tidak jelas membuat jiwa ke ingin tahuan Orlando bergejolak.
"Bahagia? Kok gue jadi curiga ya jangan-jangan loe sudah itu ya sama pacarmu itu. Jadi bagaimana rasanya, apa dia masih perawan apa sudah..."
"Yee enak saja Balado. Kalau berbicara itu jangan asal gitu, di saring dulu lah" Dain langsung memukul tangan sahabatnya karena dia begitu kesal kekasihnya di hina seperti itu walaupun oleh sahabatnya sendiri.
"Enak saja bilang Freya suda tidak perawan, dia masih ya kan belum gue apa-apain"
"Iya kan siapa tau gitu sudah pernah di coba sama yang lain. Kita tidak tau juga"
"Eh ini mul..." Dain yang hendak melemparkan sandalnya ke arah sahabatnya Orlando tetapi tertahan karena perkataan seorang anak kecil yang datang beserta dengan seorang wanita paruh baya yang tengah membawa satu nampan berisi minuman juga makanan.
"Tamunya om Dain toh kalau gitu tidak pellu dibuatkan minum Oma"
"Ehh anak kecil enak saja, kalau om yang datang ya harus dibuatkan minum, kalau perlu yang spesial. Tidak ingatkah kamu Fa, gara-gara om kamu bisa dekat sama si Letta setiap hari iya kan. Harusnya berterima kasih kamu sama om" Dain mencoba mengingatkan bahwa dia telah berjasa kepada anak dari sahabatnya ini.
"Letta siapa itu Dain?"
"Ehh Tante Cal. Gimana sehat tan? Sudah lama aku tidak lihat tante"
"Lagi kurang enak badan ini Dain, lagi batuk dan flu. Kamu itu yang jarang sekali main kesini, apa sibuk sama pekerjaan atau sama pacarnya" jawab seorang wanita paruh baya bernama Ibu Callia. Beliau menjawabnya sambil meletakkan minuman yang tadi dibawanya di meja dekat Dain dan Orlando.
"Ini anak lupain amam, jahat kan dia mam. Dia tidak pernah jengukin amam sama sekali. Dia selalu memikirkan pacaranya yang tidak seberapa itu mam"
"Ya ampun maaf tan, tapi tenang. Ini aku bawain Tante Cal oleh-oleh. Tapi sebenarnya bukan dari aku sih tapi dari Momma. Momma tidak sempat datang kesini karena lagi sibuk sama Daddy buat adik lagi mungkin"
"Wah bilangin momma kamu makasih ya, tapi ini apa Dain?"
"Coba tante buka deh pasti senang"
Ibu Callia langsung duduk tepat disamping putranya Orlando, kemudian beliau langsung membuka paper bag yang diberikan Dain.
"Masya Allah, i...ini benar buat tante Dain?"
"Iya tan, katanya tante lagi ingin tas itu terus waktu Momma ke London dibelikan. Itu gratis loh tan, tapi kalau mau bayar tidak apa bayarnya ke Dain"
"Tega banget sama amam gue elo Sarden" Orlando yang kesal dengan Dain itu, langsung melempar bantal sofa yang ada didekatnya kearah wajah Dain.
"Yaelah bercanda Orl, elo mah bawaannya sensi banget kayak bini nya kakak kembar elo saja"
"Eh enak saja elo nyamain gue sama tuh nenek lampir, kita berbeda ya"
"Orl, gak boleh bilang begitu sama kakak iparmu. Kasian kalau dia dengar, nanti perutnya tambah sakit"
"Iya-iya mam"
"Ya sudah tante ke dalam dulu ya Dain, kamu nikmatin suguhannya. Tante juga lagi masak banyak kalau mau ambil saja di meja makan ya"
"Iya tante kalau itu tidak perlu di minta lagi, Dain pasti langsung makan" Dain tersenyum dengan bahagia. Seperti inilah jika dia bertamu ke rumah sahabatnya pasti perutnya akan terisi penuh dengan berbagai macam makanan enak.
"Iya sudah tante ke dalam lagi, tolong sampaikan makasih ke Momma kamu ya"
"Siap tante"
Sepeninggalan amamnya Orlando, Dain itu mulai beranjak dan duduk di sebelah sahabatnya.
"Apaan sih, elo kangen ya sama gue. Baru saja ditinggal beberapa Minggu masa kangen sih, apa minta di cium sini..." Dain sudah memajukan mulutnya tetapi oleh Orlando sudah di pukul kembali dengan bantal sofa tepat di mulut Dain.
"Gila. Gue masih normal dan tidak suka model kayak elo gini yang terlihat meragukan sekali" Orlando menatap mengejek ke sahabatnya, kemudian tak lama dia tertawa terbahak-bahak melihat wajah Dain yang sudah terlihat kesal kepadanya.
"Memang gue meragukan gimana sih? Kesayangan gue ini sudah teruji terpercaya bisa memuaskan seorang wanita sampai berjam-jam, apalagi Janda" ucapnya sambil tersenyum sendiri.
"Puasin Janda? Elo sudah tidak perjak...." Belum selesai Orlando menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba mulutnya sudah di tutup oleh Dain.
"Duh pakai keceplosan lagi" gerutu Dain untuk merutuki kebodohannya.
"Ehmm ehmm" Dengan penuh perjuangan Orlando melepaskan tangan Dain karena dia kesusahan bernafas.
"Tangan elo bau, gila belum cuci tangan ya"
"Tau saja elo"
"Ihh jorok elo Dain. Eh tapi tunggu benar elo sudah tidak perjaka? Sama siapa? Janda? Atau jangan-jangan sama Lit..."
"Issh apaan sih ta...tadi gue bercanda kali Orl. Tidak perlu di seriusin juga"
"Tidak mungkin, elo bohong. Dari elo masih piyik dan gue sedikit lebih besar, kita sering sama-sama dari mulai, main, bertengkar, bertukar mainan, video semuanya selalu bersama-sama. Jadi gue tau elo itu bohong. Sekarang cerita sama gue janda mana yang seenaknya kamu mainin"
"Tidak ada Orl"
"Atau janda yang waktu itu kita temui, siapa namanya Lita. Iya dia" Dain yang tengah dicecar pertanyaan oleh sahabatnya itu seketika terdiam dan tidak bisa berkutik lagi. Dan hal itulah yang membuat Orlando langsung mengetahui bahwa tebakannya adalah benar.
"Astaga Dain, gue pernah ingetin sama elo. Kita sebagai laki-laki boleh nakal, dengan memuaskan diri sendiri nonton itulah atau bagaimana asalkan jangan melampiaskannya sama wanita lain terlebih belum sah. Astagfirullah ini anak ya, punya burung kok yah gak bisa dijaga, dijaga gitu loh kalau perlu di masukin kandangnya biar gak bisa main pergi begitu saja"
"Yah sorry Orl, gue saat itu gak bisa menahannya jadi... gue khilaf, tapi lagian Lita saat itu mau dan tidak memberontak"
"Kalian gila. Yang ini tidak bisa kontrol, yang satu terima-terima saja lagi" Dain hanya bisa terdiam mendengar celotehan dari sahabatnya ini.
"Iya namanya juga khilaf"
"Tunggu jadi benar kata Fafa, anaknya Lita yang namanya Letta itu sekolah di sekolahannya Fafa. Dan itu kamu yang membayar semuanya"
Dain menanggapinya dengan menganggukkan kepalanya.
"Terus kalian masih lanjut?" Lagi dan lagi Dain hanya menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya.
"Jawab Sarden"
"Iya Balado. Sudah puas ceramahin gue, lama-lama elo kayak Ro saja deh suka ceramah"
"Bukannya gitu, gue cuma mau mengingatkan saja buat sahabat gue yang kurang tau diri ini"
"Ya tapi mau bagaimana lagi semuanya sudah terlanjur, jadi kenapa tidak kita teruskan saja apa yang sudah kita perbuat"
"Tunggu-tunggu. Jadi dia hanya elo jadiin boneka pemuas nafsu saja"
"Om-om" Orlando tidak jadi melanjutkan ucapannya karena Dhaffa datang menghampiri mereka dengan membawa satu boneka yang berukuran hampir menyamai tubuhnya.
"Haduh ini anak kenapa lagi, gangguin orang lagi bicara serius saja. Heh kenapa bawa boneka gitu?. Astaga ini anak Ro sehat kan ya"
"Yee Fafa sehat, normal gue jamin soalnya dibawah didikan gue jadi tidak mungkin belok iya kan Fa"
"Iya dad" jawab Dhaffa walaupun dia tidak begitu paham maksud dari Daddy nya.
"Terus kamu kenapa bawa boneka gini"
"I...ini buat Letta dad, om bagus tidak?. Kemalin aku beli pakai uang tabunganku sendiri"
"Buat Letta?" Ucap Dain tak percaya kemudian dia tertawa.
"I...ini nih hasil didikan elo. Kecil-kecil sudah pintar merayu perempuan. Astaga ada-ada saja kamu Fa"
"Om Dain, mau bantu Fafa kasihkan ini ke Letta. Aku mohon ya om, ak..aku malu mau kasih ke Letta"
"Haduh Fa, jangan maluin Daddy. Ini boneka siapa Daddy tanya? Punya Adik Aesha apa kamu ambil dari siapa?"
"Tidak dad, ini punyaku cendili. Aku beli pakai uang tabunganku. Tapi dad, om" Dhaffa kecil duduk diantara Dain dan juga Orlando. Kemudian dia kembali melanjutkan ucapannya dengan suara lebih pelan lagi seperti orang berbisik.
"Jangan bilang abi. nanti abi malah. Kemalin, Fafa bilangnya ini buat kasih kado teman Fafa. Fafa mohon ya dad, om" ucapnya wajah memelas.
"Gue bilangin ah sama abi Ro" Dain berdiri dari tempatnya dan berjalan meninggalkan Orlando dan Dhaffa.
Sebenarnya Dain bukannya akan berbicara kepada Abi nya Dhaffa, tetapi dia hanya ingin pergi ke ruang makan untuk mengambil makan karena perutnya sudah terasa lapar dan minta segera di isi.
"Jangan Om. Om nanti aku bilangin juga ke Tante Fley. Soalnya om dekat sama bundanya Letta iya kan. Hayoo" Dhaffa yang tidak kehabisan akal itu berganti membalikkan keadaan dengan mengancam Dain, membuat Dain langsung mati langkah.
"SUKURIN. GUE GAK IKUTAN POKOKNYA" ucap Orlando dengan keras, kemudian dia segera berlari kedalam dan membiarkan keduanya ber negosiasi karena dia sudah sangat lapar dan ingin segera makan siang.
"Astaga Fa, kamu pintar sekali mengancam om balik. Iya-iya nanti om bawakan. Om tadi bercanda, jangan seperti daddy mu, kamu bisa jadi orang yang menyebalkan nantinya"
"Om juga meyebalkan"
"Hah iya-iya sudah letakkan disini saja nanti saat om pulang dibawa dan langsung om kasihkan ke Letta. Sekarang om mau makan lapar"
"Makasih om, om baik deh"
"Jelas" kemudian keduanya berjalan bersama-sama ke meja makan untuk makan siang.