Author POV
"Husst" ucap seseorang yang tengah di repotkan dengan sesuatu dikedua tangannya. Dimana di tangan sebelah kanannya, dia tengah membawa kue coklat berukuran sedang dan juga sebuah paper bag berukuran kecil, sedangkan di tangan kirinya dia tengah menggendong anak kecil yang masih mengantuk itu.
"Letta, ayo buka matanya dulu. Sebentar lagi kita sampai"
"Hemmb i...iya om"
"Ayo turun dulu, om mau menyalakan lilinnya" ucapnya, kemudian dia segera menurunkan anak kecil itu dan setelahnya dia menata kue itu untuk diberikan lilin.
"Om, aku mau ke toilet dulu ya. Sudah tidak tahan. Tunggu sebentar, om jangan masuk dulu buat kasih kejutan ke bunda"
"Oh okey-okey om juga masih mempersiapkan ini. Berani kan sendiri?"
"Iya berani om. Bye-bye om" setelah kepergian anak kecil perempuan yang bernama Letta itu, seseorang yang diketahui Dain tengah sibuk menyiapkan kue ulang tahun yang da di meja kecil depannya.
Dain tadi diam-diam datang ke apartemen yang ditinggali oleh Lita dan juga Letta untuk memberikan kejutan ulang tahun kepada Lita yang hari ini tengah berulang tahun.
Dain memang sudah mempersiapkan semuanya jauh-jauh hari bersama dengan Letta tanpa sepengetahuan Lita. Dan malam ini, tepatnya dini hari dia sudah siap untuk memberikan kejutan kepada Lita.
Jangan ditanya lagi jika Dain tidak membuat perayaan hari lahir Lita dengan tidak spesial karena dia telah membawa kue ulang tahun coklat kesukaan Lita, ada sebuket bunga, dan juga ada kado spesial yang akan diberikannya nanti. Semuanya sudah siap, tinggal memberikannya saja.
Kini sambil menunggu Letta ke kamar mandi, Dain mulai menata lilin dan menghidupkannya hingga tak lama Letta telah kembali dengan wajah yang sudah segar dan tidak mengantuk seperti tadi.
"Letta sudah siap sayang? Ini jamnya sudah kurang 10 detik lagi untuk pergantian hariannya"
"Sudah om, ayo kita kasih kejutan ke bunda. Aku sudah siap, nih lihat om aku juga sudah bawa kado" Letta menunjukkan satu bingkisan kado yang kini sudah berada di tangannya.
"Okey kalau begitu kita masuknya pelan-pelan ya" Dain dan Letta dengan perlahan membuka pintu kamar yang ditempatinya.
Setelah pintu itu terbuka, keduanya berjalan dengan perlahan mendekati tempat tidur yang ada seseorang tengah bergelung didalam selimutnya.
Cahaya disana memang begitu gelap, hanya ada sedikit cahaya dari luar dan dari lilin yang menyala diatas kue itu hingga membuat seseorang yang tidur itu tidak merasa terganggu tidurnya hingga...
"1,2,3"
"Happy birthday bunda, happy birthday bunda" sebuah lagu dinyanyikan oleh Dain dan juga Letta secara bersamaan, namun yang lebih bersemangat adalah Letta karena Dain kini lebih fokus kepada pemandangan lain yang begitu indah diperlihatkan oleh Lita ketika dia menggerakkan tubuhnya.
Dimana Dain kini jadi terfokus akan bagian atas tubuh Lita yang sedikit terbuka karena dia tengah memakai baju tidur yang begitu seksi, bahkan ada sesuatu disana yang sedikit terlihat membuatnya menggeram dalam hati.
"Kamu menggodaku ya Lit, awas saja setelah ini aku akan buat kamu tidak bisa mengambil nafas sedikitpun. Kita lihat saja nanti"
Namun seketika dia langsung tersadar dari lamunannya karena Lita mulai bangun dari tidurnya setelah mendengar suara berisik yang ada didekatnya.
Lita yang nyawanya belum terkumpu dengan sempurna itu, mulai menyesuaikan keadaan sekitar yang begitu ramai hingga...dia sadar bahwa disana sudah ada Dain dan juga Letta putrinya dengan membawa kue ulang tahun yang terdapat namanya.
"Dain, Let...Leta. Kalian...astaga aku bahkan lupa hari ini..."
"Selamat ulang tahun bundaku yang paling cantik, paling baik sedunia. Semoga rejekinya dilancarkan, bahagia selalu, dan tetap sama Letta selalu ya bunda" setelah mengucapkan itu Letta segera memeluk tubuh bundanya yang aru saja mengubah posisinya menjadi duduk.
"Amin. Makasih ya atas doanya dari anaknya bunda yang paling cantik" Lita dan Letta tengah sibuk berpelukan.
Sedangkan Dain yang sejak tadi berada disana itu, hanya bisa terdiam dengan terus mengawasi pergerakan Lita yang memberikan efek luar biasa kepadanya. Sebenarnya pergerakan Lita tidaklah masalah, tetapi yang masalah bagi Dain adalah tanpa sadar Lita menggodanya karena dengan Lita seperti ini membuatnya jadi gagal fokus melihat ke arah bagian depan Lita yang ternyata tidak memakai apapun didalamnya.
"Lit, itu kamu berpenampilan seperti itu apa ingin aku ma.... Heh,awas saja nanti"
"Ehmm Lit, kamu sudah menggodanya. Lihat saja" gumam Dain dengan pelan.
"Om" panggil Letta dengan memegang tangannya.
"Hah...ehmm i...iya Let, ada apa?" Ucapnya setelah tersadar dari lamunannya.
"Kuenya om, biar bunda tiup lilinnya" dan setelah itu Dain, barulah tersadar bahwa lilin yang dipasangnya diatas kue ini belum ditiup oleh Lita membuatnya menyodorkan kue itu agar mendekat kearah Lita.
"Tiup lilinnya, jangan lupa berdoa dulu Lit"
"Tiupnya bersama-sama ya kan kamu juga ulang tahun" ajak Lita kepada Dain karena memang Dain juga tengah berulang tahun hari ini juga.
"Wah Om Dain juga ulang tahun ternyata. Letta tidak tau. Selamat Ulang Tahun ya om, semoga om bisa terus berbuat baik sama siapapun itu, panjang umurnya, dilancarkan rejekinya, dan semoga tambah baik buat kedepannya. Amin"
"Amin-amin. Makasih Letta sayang"
"Iya om sama-sama. Sekarang ayo om sama bunda tiup lilinnya sama-sama"
Lilin-lilin kecil yang tadinya menyala itu kini satu persatu telah mati karena di tiup oleh Lita dan juga Dain secara bersamaan, bahkan Letta juga ikut meniup lilin itu.
"Happy birthday, semoga tambah baik semuanya dan..." Ucap Dain dengan kini mendekatkan dirinya lebih dekat kearah Lita barulah dia melanjutkan ucapannya dengan volume lebih kecil lagi. "Semoga kamu tambah seksi dan memuaskan"
"Selamat sekali lagi yah bunda hoamm. Dan selamat ulang tahun juga om Da...in" ucap Letta yang sudah di pangkuan sang bunda dengan mata yang hampir saja terpejam.
"Letta ayo potong kue nya dulu" Lita mencoba membangunkan putrinya yang sudah tertidur dipangkuannya, namun tidak berhasil karena Letta sudah terlelap dalam tidurnya.
"Letta masih mengantuk itu. Biarkan saja dia tidur. Tadi kasian waktu aku bangunin dia"
"Sejak kapan kamu disini Dain?"
"Sejak tadi"
"Ihh berarti kamu tadi bohongin aku ya. Kamu bilang mau kesini tapi ternyata kamu janjian sam...sama Freya. Trus tiba-tiba kenapa bisa disini?"
Sedangkan Dain yang di tanyain seperti itu, justru tidak langsung menjawabnya, dia hanya tersenyum kemudian meletakkan kue yang dibawanya tadi ke meja terlebih dahulu.
"Ya aku kan bohong Lit, demi mensukseskan acara ini juga"
"Jadi kalian sudah rencanakan kejutan ini jauh-jauh hari sebelumnya?" tanya Lita dengan mengelus puncak kepala putri yang ada di pangkuannya.
"Iya dong"
"Nakal kalian. Tapi makasih ya buat kalian yang sudah jadi orang pertama dan kedua yang mengucapkan sekaligus mendoakan, bahkan kasih kejutan seperti ini juga"
"Sama-sama Lit. Eh aku baru tau loh umur kamu ternyata masih 21 masih muda yah terlebih kamu sudah punya Letta yang umurnya sudah tiga tahun"
"Memangnya wajahku terlihat tidak pantas dengan umur segitu ya?"
"Hah ya tidak Lit, justru cocok sekali. Kamu masih imut. Tapi satu hal yang mau aku tanya, berarti kamu nikah dengan suamimu waktu itu masih muda ya? Lalu suamimu itu meninggalkan kamu setelah punya Letta. Dasar laki-laki macam apa dia"
Lita tak menjawab pertanyaan itu karena dia membenarkan tidur putrinya terlebih dahulu di tempat yang lebih nyaman. "Dia tidak meninggalkan kami, tapi itu memang kesepakatan kami bersama untuk pisah secara baik-baik, karena memang tidak ada cinta diantara kita jadi mau apa yang akan dipertahankan lagi" jelas Lita dengan mulai bangun dari tempatnya dan berjalan keluar kamar untuk mengambil sesuatu.
"Ohh begitu. Aku kira dia tidak bertanggung jawab akan Letta, tapi seharusnya... Kamu mau kemana Lit? Aku belum bertanya" Dain mengikuti langkah Lita yang keluar dari kamar.
"Tidak, dia sangat bertanggung jawab sama Letta. Aku yang membiarkan pergi dan meninggalkan Letta bersamaku, biarlah untuk kehidupan Letta aku yang menanggungnya"
"Apakah sampai sekarang dia tidak melihat keadaan Letta sebentar saja? Apakah dia tidak merindukan anaknya yang sangat cantik dan menggemaskan itu. Kapan terakhir dia menemui Letta?"
"Dia belum menemui Letta sejak dua tahun yang lalu"
"Gila. Ayah macam apa dia membiarkan kamu kesusahan banting tulang buat kehidupan Letta. Seharusnya dia tetap membantumu sedikit demi sedikit sebagai rasa tanggung jawabnya sebagai ayah"
"Itukan dulu, sekarang tidak. Sejak adanya perjanjian itu, sekarang hidup Letta sudah jauh lebih baik. Aku bisa membahagiakannya tanpa harus bersusah payah untuk mencari uang" Lita tersenyum kecut.
Kemudian dia membuka lemari pendingin dan mengeluarkan sesuatu yang sudah disiapkannya.
"Kamu tenang saja aku akan menanggung hidup kalian seumur hidup"
"Tidak mungkin Dain. Cepat atau lambat aku tidak akan bergantung padamu lagi. Perjanjian itu hanya berjalan sampai dua tahun saja kan? Setelah itu kita akan hidup masing-masing"
"Tapi aku bisa memperpanjangnya semau aku"
"Ya memang bisa. Tapi kamu tak lama juga pasti kamu akan menikah dan hidup bahagia dengan keluargamu kelak Dain. Aku harus sadar itu, dan aku juga lama kelamaan tidak akan kamu pakai lagi dan pasti akan kamu buang setelah kamu memiliki istri nanti"
"Lit, kamu jangan berbicara seperti itu. Ak...aku tetap..."
"Sudah tidak perlu membahas hal itu ya"
Lita menunjukkan kue buatannya tadi bersama putrinya, tepat dihadapan Dain kemudian dia mengucapkan selamat kepada Dain. "Happy birthday juga buat kamu. Semoga di lancarkan pekerjaannya, dilancarkan semuanya, termasuk mendapatkan jo...doh yang terbaik. Semua doa yang terbaik untukmu" sakit hati Lita ketika dia mengucapkan doa tentang Dain yang mendapatkan jodoh terbaik itu, karena hatinya seperti tertusuk pisau yang banyak.
"Maaf kue ini buatanku sendiri bersama dengan Letta Dain, tidak seperti kue yang kamu belikan. Harganya pasti mahal"
"Tidak masalah justru aku sangat tertarik dengan kue buatanmu ini. Tapi tunggu...bagaimana kamu bisa tau ulang tahunku juga hari ini? "
"Ya, saat itu aku tidak sengaja menemukan identitasmu"
"Selamat sekali lagi. Kamu duduk dulu, aku punya sesuatu lagi untukmu" Lita mengajak Dain duduk di meja makan dan dia meletakkan kue buatannya sendiri disana. Kemudian dia berjalan menuju ke kamarnya untuk mengambilkan sesuatu.
Tak lama Lita mengambilnya, karena dia langsung kembali menemui Dain di meja makan yang sudah menikmati kue buatannya. "Enak kuenya?"
"Enak sekali. Kamu berbakat membuatnya, bahkan ya..." Dain menelan kue yang ada dimulutnya kemudian dia baru melanjutkan pembicaraannya. "Bahkan kue yang aku belikan itu rasanya jauh lebih enak ini"
"Kamu bisa saja memuji untuk membuatku senang" Lita duduk disamping Dain, kemudian dia meletakkan sesuatu di meja makan.
"Aku tidak berbohong ini sangat enak sekali. Itu apa Lit?" tanyanya saat melihat ada paper bag diatas meja makan.
"Ini ada hadiah untuk kamu Dain. Aku yang membuatnya sendiri, semoga kamu suka. Tapi maaf mungkin kado dariku ini sangatlah tidak berarti jika dibandingkan dengan kado dari kekasihmu atau bahkan dari teman-temanmu"
"Lit, dengarkan aku. Kamu dari tadi merendah terus, aku tidak suka kamu seperti itu. Kue buatanmu sangat enak dan berkelas, dan hadiah ini pasti aku akan suka jadi kamu jangan merendah seperti itu lagi ya"
"Tapi memang seper..."
"Husst lebih baik kita menikmati kue ini. Enak sini aku suapin" Dain memotong bagian kecil dan langsung diberikan ke Lita.
"Aku bisa sendiri"
"Sudah ayo" dengan terpaksa Lita membuka mulutnya dan segera menikmati kue buatannya.
"Kamu bahkan belum meniup lilin dan berdoa"
"Iya ya, aku tadi sangat penasaran dengan kue buatanmu jadinya aku langsung makan"
"Kalau gitu sekarang lebih baik kamu tiup lilinnya" Lita segera menyalakan lilin dan diletakkan diatas kue.
"Ayo ditiup lilinnya, jangan lupa berdoa" setelahnya Dain, melakukannya. Dia berdoa dengan begitu khusuk sebelum dia meniup lilinnya.
"Makasih yah Lit" ucap Dain setelah dia meniup lilin.
"Ah iya aku lupa, aku juga punya kado buat kamu" lanjut Dain ketika dia baru saja teringat akan kadonya untuk Lita.
"Kado?" tanya Lita dengan bingung.
"Iya tapi kamu harus balik badan dulu" Lita menuruti perkataan Dain, kini dia langsung berbalik.
Beberapa saat dia menunggu apa yang dilakukan oleh Dain hingga dia merasakan sesuatu di lehernya dan itu adalah sebuah 'Kalung'.
"Dain"
"Berbalik lah Lita aku mau melihatnya"
Lita berbalik dengan wajah yang masih terkejut. "I...ini"
"Ya itu kado dari aku. Kamu suka kan? Suka pastinya, bagus gitu"
"Iya suka sekali makasih ya" Lita langsung memeluk tubuh Dain dengan sangat erat.
"Makasih sudah baik sama aku selam ini, walaupun aku ini hanya sebagai wanita pem...."
"Husst Lit, kamu jangan berbicara seperti itu aku tidak suka"
Lita sedikit merenggangkan pelukannya. "Tapi kenyataannya seperti itu Dain"
"Tapi aku tidak suka kamu berbicara seperti itu, aku tetap memperlakukan kamu layaknya wanita hanya saja..."
"Iya Dain paham. Sudah tidak perlu membahas itu. Ini adalah hari yang membahagiakan bagi kita berdua jadi..."
"Jadi apa?" Dain sebenarnya sudah paham akan maksud dari ucapan Lita, tetapi dia mencoba untuk menggodanya terlebih dahulu.
"Ass sudah lah, aku mau minum dulu"
"Eitss" dengan cepat Dain menahan tubuh Lita agar tetap berada disampingnya.
"Aku mau minum dulu"
"Iya aku tau"
"Lalu kenapa tidak kamu lepaskan begini"
"Biarkan. Aku mau pelukan dulu sama kamu sini" Dain merasa kini dia lebih nyaman jika berpelukan dengan Lita, jadi dia selalu ingin memeluk Lita.
Biasanya dia berpelukan dengan Lita ketika dia hendak meminta sesuatu kepadanya, tetapi kali ini berbeda. Dain benar-benar memeluknya tanpa ada maksud tertentu karena dia merasa begitu nyaman melakukan hal itu setiap saat.
"Aku mau bilang makasih lagi sama kamu, atas kuenya, kadonya dan sudah mengucapkan yang perta... Ehmm"
Lita mendongakkan kepalanya dan menatap Dain, kemudian dia memotong perkataan Dain. "Pasti Freya ya yang sudah menjadi pertama"
Dain terdiam, karena dia kini tengah teringat sesuatu. Sedangkan Lita, langsung melepaskan pelukan itu dan berjalan meninggalkan Dain untuk mengambil minum.
"Bukan Lit, kamu yang pertama. Tapi tunggu, kenapa Freya tidak menelponku. Apa dia lupa sama ulang tahunku, tapi gak mungkin. Kamu kemana hon? Apa kamu menyiapkan kejutan untukku ya, ah iya pasti itu karena kamu tidak akan melupakan hari ulang tahunku ini" Dain dengan tergesa-gesa mengambil ponselnya dan tepat disaat yang bersamaan ponselnya berbunyi.
"Momma. Gawat ini" gumamnya sendiri.
Sebenarnya Dain tidak berniat menerima panggilan dari Momma nya, karena dia tau pasti Momma nya mencari dirinya yang tidak ada dirumah sekarang. Tetapi dia tidak bisa membiarkan Momma nya khawatir kepadanya jadinya dia dengan terpaksa menerima panggilan itu.
"Hallo Mom, ad..." Belum sempat Dain menjawabnya tiba-tiba dia mendengar suara keras di sebrang sana sambil marah-marah kepadanya, membuatnya harus menjauhkan ponselnya dari telinganya sebentar.
"..."
"Iya-iya mom, aku pulang habis ini" setelahnya panggilan itu segera ditutupnya. Tetapi tak lama ada panggilan yang masuk kembali.
"Astaga Freya" pekiknya dengan terkejut karena kekasihnya menelpon.
"Duh mati gue" ucapnya sebelum dia menerima panggilan itu.
"..."
"I...iya hon"
"..."
"Hah. Kamu disana hon, astaga hon kamu kenapa tidak bilang dulu sama aku"
"..."
"A...aku di rumah ini. Kamu disana? Biar aku jemput ya. Jangan kemana-mana, bahaya"
"..."
"Iya Hon, tunggu aku" panggilan itu tertutup.
"Lit, Lit" panggilnya sambil mencari Lita tetapi ternyata Lita sudah tidak ada disekitarnya membuatnya berlari mencari Lita.
Dain berlari menuju ke kamar Lita dan benar disana ternyata ada Lita yang tengah membenarkan selimut Leta.
"Lit, aku harus pulang. Momma mencariku, bisa bahaya kalau aku tidak segera pulang"
"Iya hati-hati" itulah jawaban Lita, membuat Dain hendak pergi dari sana, seketika menghentikan langkahnya dan berbalik menghampiri Lita.
Cup
Sebuah kecupan lama diberikan Dain di puncak kepala Lita.
"Aku pergi dulu. Maaf ya, besok malam aku pasti akan kesini" ucap Dain sebelum benar-benar pergi dari sana.
"Maafkan aku Lit" batin Dain.
"Sampai kapanpun akan seperti ini Lit, kamu tidak akan pernah menjadi prioritasnya. Kamu itu hanya boneka pemuas nafsu bukan wanita spesial di hidupnya. Ingat akan hal itu jadi kamu tidak perlu kecewa seperti ini" Lita mencoba mengingat-ingat siapakah dirinya di hidup Dain sehingga dia tidak perlu kecewa seperti ini karena memang dia bukanlah siapa-siapa bagi Dain.
Lita segera menghapus air matanya, kemudian dia merebahkan dirinya di ranjang kasur. Lita kini memegang kalung yang terpasang dilehernya. Kalung itu adalah pemberian dari Dain. Dia memeganginya sambil berlinang air mata. Lita terus seperti itu, sampai dia lelah sendiri membuatnya langsung tertidur.