Author POV
"Hello Assalamu'alaikum" salam Dain ketika dia memasuki rumahnya.
Dain tersenyum begitu bahagia memasuki rumahnya, karena sudah dua harian ini dia tidak pulang kerumah.
"Wa'alaikumsalam" jawab seorang dengan suara berat.
"Eh Daddy ku sayang. Tidak biasanya sudah diruang tamu aj....eh semuanya sudah lengkap disini, ada apa? Apa ada acara tunangan? Atau apa nih" Ucapnya sambil melihat ke ruang tamu yang penuh dengan saudara-saudara beserta orangtuanya. Semua lengkap berada disana sambil menatapnya membuatnya bingung dan merasa sedikit takut karena semuanya tengah menatapnya dengan tajam.
"Dari mana saja kamu Dain?" suara berat itu kembali terbuka. Dan yang tengah bertanya itu adalah Pak Gavin, daddy dari Dain.
"Dari apartemen dad, ada masalah disana aku harus meng..."
"Daddy sudah mengurus masalah itu. Apakah ada masalah lagi disana?"
"Hah ehmm..."
"Ada masalah apa Dain? Daddy tanya Pak Tedi tadi pagi, disana tidak ada masalah lagi kecuali beberapa waktu lalu kamu membawa seorang wanita beserta anaknya sampai pagi hari menginap di apartemen"
"Ahh ehmm daddy tau...ehmm tidak Dad. Hanya ada masalah sedikit di sana, seperti ehmm... itu kran kamar mandi beberapa unit yang tidak berfungsi dengan baik dan lain-lain. Itu saja sih jadi Pak Tedi tidak tau"
"Terus kamu kemarin menginap dimana Dain?" Kini bukanlah Pak Gavin yang bertanya kepada Dain tetapi Mommanya Jesika yang bertanya.
"Di apartemen mom. Ini kenapa sih, anaknya baru sampai di rumah di introgasi begini. Aku capek Dad, Mom. Biarkan istirahat dulu kenapa, apa tidak bisa nan..."
"Dain" bentak kedua orangtuanya secara bersamaan membuat Dain terkejut dan tak bisa berkata-kata lagi.
"Kamu itu kalau ditanyain orang tua selalu seperti itu, kamu itu kapan bisa dewasa. Kamu itu sebagai kakak kedua yang seharusnya menjadi panutan bagi adik-adikmu tapi... Astaga entahlah Momma pusing"
"Mom..."
"Dain" potong daddy nya membuatnya kembali terdiam.
"Iya-iya dad. Baiklah, sekarang mau tanya apa lagi, Dain jawab semuanya" ucspnya dengan lesu dan langsung duduk di tempat yang masih kosong.
"Kemarin pergi sama Kak Frey dan itu di apartemennya sampai malam. Kenapa Kakak tadi bilang tinggal di apartemen. Kakak bohong" sahut adik kedua Dain.
"JASMIN KAMU TIDAK PERLU IKUT CAMPUR" bentak Dain kepada adik perempuannya membuat semua orang langsung terkejut.
"DAIN" kini giliran Dain dibentak oleh Daddy nya.
"Astaga ini semua orang kenapa sih. Wajahnya seram-seram gini, terus itu kenapa mulutnya semua jadi cemberut seperti bebek gitu lagi. Terus kenapa sih pada jadi ingin tau seperti akun gosip" Dain yang sudah kesal dengan semua keluarganya itu hendak pergi dari sana namun langkahnya terhenti karena jawaban dari adik perempuannya Jasmin.
"Yah karena kakak sedang ULANG TAHUN tapi semalam tidak pulang-pulang jadi kita marah..."
"Happy birthday Kak Dain, happy birthday..." Nyanyian ulang tahun yang ditujukan oleh Dain bergema begitu merdu dari semua keluarganya.
Semua keluarganya secara bersama-sama menyanyikan lagu selamat ulang tahun kepadanya karena baru pagi inilah mereka memberikan kejutan kepada Dain. Karena kemarin malam mereka sudah hendak memberikan kejutan ini, tetapi Dain tidak pulang semalaman dan baru pulang pagi harinya membuat mereka baru bisa memberikan kejutan ini.
Kejutan yang diberikan kepada kakak kedua mereka ini, memang telah direncanakan untuk membuat kakak mereka marah dan kesal terlebih dahulu, barulah mereka akan memberikan kejutannya. Dan akhirnya kejutan itu berhasil, karena Dain masuk ke permainan itu hingga membuatnya tadi terlihat sangat marah dan kesal, bahkan dia hendak pergi meninggalkan keluarganya begitu saja.
"Ihh jadi ta...di kalian hanya skenario kalian. Astaga awas saja ya, akan kakak balas"
"Syukurin. Siapa yang suruh kemarin tidak pulang. Tapi... Happy Birthday kakakku yang paling cerewet dan paling jelek sedunia. Semoga di pertambahan umur ini menjadi pribadi yang lebih Dewasa, pekerjaannya dilancarkan dan dipertemukan jodoh yang lebih baik nantinya, doa yang baik-baik untuk kakakku tersayang ini" ucap Jasmin adiknya dan langsung memeluknya.
Dain membalas pelukan dari adiknya itu, tetapi kemudian semua adik-adiknya menghampirinya dan mengucapkan selamat kepadanya.
Dain masih dibuat tidak percaya akan kejutan ini. Dia tidak menyangka saja ternyata tadi dia hanya sedang di kerjai bukan tengah di introgasi, membuatnya bisa bernafas lega sekarang. Karena jika kejadian tadi sungguh benar adanya maka dia bisa mati berdiri di musuhi semua keluarganya terlebih Daddy dan Momma nya. Tapi kini dia bisa bernafas lega karena semua itu tidak terjadi.
"Makasih semua adik-adikku yang bandel-bandel ini. Tapi kakak tidak mau kalau cuma di ucapkan seperti ini saja tapi harus ada ka...." Belum saja Dain menyelesaikan ucapannya, karena adik-adiknya sudah berteriak secara serentak.
"KADONYA SUDAH DIKAMAR DARI KEMARIN MALAM"
"Duh sudah-sudah biasa saja jangan teriak begitu juga, sakit ini terlinga. Siapa yang mengajarkan kalian seperti ini"
"Ya kakak lah, biasanya kakak yang suka seperti" jawab adik Dain yang paling kecil.
"Heh tidak ya"
"Sudah sini cepat kak, tiup lilinnya capek aku pegangin gini terus. Aku juga mau kekampus"
"Iya-iya bawel" setelahnya Dain menghampiri adik terkecilnya dan dia langsung meniup lilin itu.
Setelahnya suara tepuk tangan terdengar dari keluarganya. Dan ucapan kembali didapatkan Dain sebelum semuanya pergi karena ada urusan masing-masing.
"Dain, ikut dad sama mom ke ruangan kerja Daddy" ucap Daddy nya setelah semua adik-adiknya tidak ada disana dan hanya menyisakan dia dan juga orangtuanya saja.
Deg
"Mati aku. Daddy serius marah ini sepertinya, Momma juga. Matilah kau Dain"
Dengan langkah lesu dia berjalan mengikuti kedua orangtuanya menuju ke ruangan kerja Daddy nya. Selama perjalan itu, Dain mencoba berfikir keras untuk mencari alasan agar dia tidak di sidang oleh kedua orangtuanya seperti ini hingga dia menemukan alasannya.
"Dad, mom. Dain tiba-tiba lagi sakit perut. Dain ke kamar mandi dulu sebentas saja soal..."
"Jangan mencari alasan Dain. Kalau sakit perut nanti bisa di kamar mandi ruangan kerja Daddy saja"
"Huh" dia membuang nafasnya dengan kasar karena ternyata Momma nya tau jika dia hanya beralasan. Jadi mau tidak mau dia tetap harus mengikuti kedua orangtuanya berjalan menuju ke ruangan Daddy nya.
⚫⚪⚫⚪⚫⚪
Suasana kediaman kedua orangtua Dain, lebih tepatnya di halaman belakang begitu ramai oleh para tamu-tamu, lebih tepatnya tamu-tamu dari Dain untuk merayakan hari jadinya yang hari ini tepat berusia 24 tahun.
Acara ini digelar sangat meriah oleh keluarga Dain yang memang acara seperti ini selalu dilakukan setiap tahunnya. Bukan hanya Dain, tetapi setiap ulang tahun keluarga ini selalu digelar dengan begitu meriah di rumah pribadi keluarga ini seperti sekarang.
Halaman belakang rumah kedua orangtua Dain yang sangat luas dan megah itu di hias dengan begitu indah, dimana banyak lampu-lampu kemerlap untuk menghiasinya.
Tema acara ulang tahun kali ini tidak seperti biasanya, karena ulang tahun kali ini sangat sederhana mengingat waktu persiapannya sangatlah singkat. Tetapi walaupun seperti itu acara ini tetap menjamu para tamu dengan istimewa. Dimana makanan, minuman, bahkan hiburan yang ada tidaklah sederhana seperti temanya. Karena semua makanan disini sangatlah berkelas yang diambil dari restoran Daddy Dain yang memang terkenal sebagai chef terkenal di seluruh negeri atau bahkan penjuru dunia.
Jadi para tamu undangan yang tergolong dari teman-teman Dain se profesi, teman kerja, teman main, hingga teman sekolah semuanya bercampur menjadi satu di sini.
"Selamat bro. Semoga elo segera nikah biar ada lawannya dan tidak main sendiri" ucap salah satu teman Dain yang baru saja datang di tempat ini.
"Enak saja elo. Selama ini gue selalu ada lawan tidak pernah sendirian"
"Terus pacar loe itu yang jadi lawannya? Apa wanita lain nih?"
"Enak saja elo" Dain memukul lengan sahabatnya dengan keras. "Sampai kapanpun Frey tetep aku jaga dong. Gak seperti elo"
"Yee walaupun sudah gue coba tapi langsung gue nikahin. Yang penting itu setelah berbuat ya harus mau bertanggung jawab buat nikahin"
"Ya ya terserah elo saja. Tapi istri elo kemana? Jalan sama cowok lain ya? Apa kalian pisah ranjang?" ejeknya kepada teman se profesinya dulu karena dia datang tidak membawa istrinya.
"Enaks saja. Gue sudah ganteng, baik dan laki-laki yang tanggung jawab jadi sudah cukup buat istri gue. Istri gue lagi hamil, kasian dia mual-mual sama pusing jadi tidak aku ajak ke acara biasa ini" jawabnya sambil tersenyum.
"Enak saja acara ulang tahun gue biasa"
"Iya-iya maaf. Saudah ah gue laper, mau ambil makan gratis"
"Ya ampun elo dateng kesini cuma mau makan gratisnya"
"Yah tidak gitu bro, gue juga mau datang ke acara spesial elo ini"
"Ya sudah sana makan sepuasnya, kalau perlu habiskan semuannya, gue mau nyapa yang lainnya"
"Okey bro" setelahnya Dain pergi meninggalkan temannya itu dan berpindah menyapa teman-teman yang lainnya.
Dain sangat sibuk menyapa semua teman-teman yang diundangnya karena memang teman-temannya sangatlah banyak. Sampai-sampai karena hal itu membuatnya kini haus dan dia hendak mencari minum, namun saat langkahnya mendekati meja yang menyediakan berbagai minuman seseorang dari arah belakang menawarinya minum.
"Mari mas, ini sudah saya buatkan minuman spesial"
Dain tak langsung memutar tubuhnya, tetapi dia berfikir sejenak karena sepertinya dia mengenal suara ini.
"Lita" gumamnya, kemudian dia membalikkan badan. Dan saat dia membalikkan badan, dia melihat ada seorang wanita berpakaian khusus pelayan di acaranya malam ini.
"Kamu pasti haus, ambillah Dain. Aku membuatkan spesial untukmu" ucapnya dengan menunduk takut.
"Kalau berbicara itu harus lihat orangnya" Dain menarik pelan dagu Lita hingga wajah itu terangkat dan pandangan mereka bertemu.
Dain langsung tersenyum lebar. "Kamu pakai apapun tetap cantik dan tentunya seksi Lit, jadi pengen mengajakmu langsung ke kamar saja"
"Dain jaga sikapmu itu. Kita ditempat umum terlebih banyak teman-temanmu. Ambillah minum ini, aku akan segera pergi"
"Ahh i..iya ya. Ketauan Frey bisa bahaya ini. Ya sudah minumnya makasih ya" Dain langsung mengambil segelas minuman yang dibawa Lita.
"Aku pergi dulu ya" pamit Lita kepada Dain namun tangannya ditahan oleh Dain.
"Lit, kamu tidak apa menjadi seperti ini. Sebaiknya kamu tidak perlu menjadi pelayan seperti ini, kamu bisa menjadi tamu biasa seperti yang lainnya karena aku mengundangmu hadir di acara ini bukan untuk menjadi pelayan tapi sebagai temanku"
"Tidak Dain. Aku tidak pantas seperti mereka" Lita mengedarkan pandangannya dan dia menemukan sosok yang dikenalnya.
"Aku lebih baik menjadi seperti ini saja, karena menjadi seperti ini aku lebih tau diri dan pantas ketika mengenakan ini. Ya sudah aku pergi dulu, bahagia sama teman-temanmu"
"Lit, tunggu"
"Ada Freya Dain, sepertinya dia sedang mencarimu" setelahnya tanpa menghiraukan Dain yang terus memanggilnya, dia pergi begitu saja karena kekasih Dain semakin mendekat kearah mereka.
Tanpa sadar setetes air mata keluar dari matanya dan air mata itu semakin lama semakin deras membuat jarak pandangnya menjadi tidak jelas hingga dia menabrak seseorang.
"Heh pelayan. Punya mata tidak pakai tabrak gue lagi. Elo tidak tau apa ini baju gue mahal, gaji elo tidak akan cukup buat ganti" seorang wanita yang baru saja di tabrak Lita itu, langsung marah-marah karena bajunya kotor tertimpa makanan dan minuman yang dibawanya tadi.
"Ma...af"
"Maafmu itu tidak akan bisa mengganti bajuku ini"
Byur
Air minum yang dibawa wanita itu kini telah membasahi wajah dan tubuh bagian atas Lita.
"Itu adalah pembalasan setimpal buat kamu yang ceroboh" sepeninggalan dari wanita itu Lita semakin menangis sambil menunduk. Dia tak lama seperti itu karena dia yakin, kini dirinya tengah menjadi pusat perhatian membuatnya hendak berlari secepatnya dari tempat ini. Namun teriakan dari seseorang dibelakangnya membuatnya langsung melihat ke sumber suara yang ternyata adalah putrinya.
"Bunda. Bunda kenapa?"
"Letta. Bu...bunda tidak apa hanya terjatuh saja tadi ya sudah yuk kita pulang"
"Ada apa ini?" Seorang wanita paruh baya datang dan mendekati mereka.
"Astaga, kamu tidak apa mbak?"
"Tanganmu terluka, sini biar saya obati"
"Ja...jangan Bu. Ta...tangan saya kotor"
"Tangan kamu kotor karena minuman saja bukan air kotor jadi tidak apa ayo mari saya bantu. Kita masuk ke rumah saya"
"Ja...jangan Bu, saya sama putri saya mau langsung pulang saja"
"Tidak. Ayo ikut dengan saya" dengan terpaksa Lita mengukuti wanita paruh baya ini karena sangat memaksanya, terlebih dia tidak enak jika menolak tawaran dari sang pemilik rumah ini. Dimana beliau adalah Mommanya Dain yaitu Ibu Jesika.
Awalnya Lita takut dengan Ibu Jesika, karena terlihat dari wajahnya beliau sangat arogan dan sombong. Tetapi perkiraannya salah, Ibu Jesika sangatlah baik dan ramah, bahkan dengan pelayan biasa sepertinya beliau tetap baik.
"Anak manis, kamu bisa main disana sama kakak Fafa sebentar yah" ucap Ibu Jesika kepada sepasang dua anak kecil yang sejak tadi sudah bergandengan tangan.
"Iya Oma Jes bye bye"
"Tapi bunda..."
"Bunda kamu biar diobatin sama Oma dulu ya anak manis, kamu bermain dulu tidak apa. Apa kamu bisa ambil makanan sepuasmu ya disana banyak makanan yang enak"
"Bunda tidak apa Letta tinggal?"
"Tidak apa sayang" setelahnya Letta pergi meninggalkan bundanya bersama dengan temannya sejak tadi bersamanya.
"Ayo duduk dulu" Lita dipersilahkan duduk di sofa ruang tamu, tetapi dia yang merasa tidak enak memilih duduk dibawah. Karena dia tidak enak bajunya yang sudah kotor akan merusak sofa mahal ini sehingga dia duduk dibawah sekarang.
"Kenapa kamu duduk di situ? Naik saja tidak apa. Nama kamu Lita kan?"
"I...ibu ke...kenal sa...ya?" tanyanya dengan takut-takut.
"Iya saya kenal dan saya tau semuanya" jawabnya sambil tersenyum saat mengobati tangan Lita.
"Ap...pa ibu... ta...tau semuanya?"
"Iya saya sudah tau semuanya" jawaban itulah yang membuat dirinya langsung terdiam terpaku di tempatnya bahkan jantungnya terasa seperti berhenti berdetak.