Author POV
"Lita jangan berjalan dibelakang saya seperti itu. Kamu bukan pengawal saya, karena itu sudah ada sendiri bagiannya jadi lekaslah berjalan berdampingan dengan saya" ucap seorang wanita paruh baya yang berjalan beberapa langkah didepan Lita.
Wanita paruh baya itu terus berjalan dengan anggun di depan Lita. Dia memang sengaja tidak berhenti, karena dia ingin Lita sendirilah yang menyamai langkahnya bukan berjalan dibelakangnya seperti ini tapi ternyata Lita tetap berjalan di belakangnya membuatnya dengan terpaksa berbicara seperti itu.
Beliau seperti itu karena beliau sudah tidak nyaman dengan suasana di sekitarnya yang mengetahui siapa dirinya membuatnya perhatikan penampilannya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, terlebih dengan posisi Lita yang berada dibelakangnya membuatnya semakin jadi perhatian.
Suasana disana memang begitu ramai oleh pengunjung yang berlalu lalang di sekitar mereka. Mereka dipandangi seperti itu karena melihat penampilan keduanya yang sangat bertolak belakang. Dimana penampilan wanita paruh baya yang tengah bersama dengan Lita itu memakai serba bermerk dari ujung kepala hingga ujung kaki, sedangkan Lita berpakaian sangat sederhana membuatnya seperti asisten pribadi karena dia sejak tadi berjalan dibelakang.
Lita memang sejak tadi berada dibelakang orang yang ada didepannya ini, karena jika dia berjalan berdampingan, dia merasa tak sebanding membuatnya lebih memilih berjalan lebih lambat sehingga berjalan dibelakangnya seperti ini.
"Lita, majulah saya tidak suka seperti ini. Kamu jangan merasa tidak enak seperti itu. Saya justru tidak suka jika kamu berjalan dibelakang saya seperti ini" ucapnya lagi membuat Lita dilanda kebingungan. Lita yang tengah bingung itu membuatnya melamun hingga tidak memperhatikan jalan dan dia...
Bukk
"Aduh. Ma...maaf Bu" ucapnya setelah menyadari dia telah menabrak orang yang sejak tadi bersamanya.
"Kamu kenapa?"
"Ti...tidak apa Bu. Sa...saya hanya takut" ucapnya dengan terus menunduk.
"Kenapa harus takut Lit. Kamu tidak boleh takut. Apapun yang terjadi sama kehidupan kamu kedepannya, kalau dia tidak mau bertanggung jawab biarlah saya yang bertanggung jawab dengan suami saya, jadi kamu tidak perlu takut seperti ini"
"Tapi perjanjian itu Bu. Saya tidak boleh sampai..."
"Saya tau tapi...saya mohon Lita turuti apa yang saya bilang kemarin karena ini demi kebaikan kalian. Kehadiran kamu akan diakuinya, jika kamu melakukan hal ini. Kamu memang mau selamanya dianggap seperti itu dihidupnya?"
"Saya lebih baik dianggap seperti itu, karena selamanya saya tidak akan mendapatkan tempat dihatinya" Ucapan Lita terhenti karena tangannya dipegang.
"Kamu tidak percaya sama saya Lita?"
"Per...percaya Bu, tapi saya hanya takut" jawabnya dengan takut-takut karena dia takut ucapannya tadi telah menyinggung.
"Kalau percaya ayo Lit. Tenangkan dirimu, semuanya akan baik-baik saja, percayalah sama saya"
Lita yang tadinya masih ragu, kini mulai percaya diri. Bahkan dia sudah mau kembali berjalan berdampingan dengan tangan yang digenggam.
"Bismillah. Semoga ini adalah pilihan yang terbaik"
Lita sejak tadi pergi bersama dengan seseorang dan seseorang itu adalah Ibu Jesika yang merupakan ibu kandung dari Dain.
Sudah beberapa hari ini mereka sering bertemu untuk membicarakan hal yang akan mereka lakukan hari ini di rumah sakit, sehingga mereka sering bertemu untuk melakukakan hal yang sudah di sepakati bersama kemarin. Dan seperti inilah mereka sudah berada di rumah sakit pagi hari seperti ini.
Mereka terlihat sudah sangat akrab sekali, walaupun mereka baru bertemu sekitar beberapa hari yang lalu tepatnya saat Ulang Tahun Dain, tetapi seperti sudah kenal sangat lama.
Awal perkenalan keduanya yaitu saat Lita habis disiram oleh tamu undangan yang ditabrak olehnya di acara Dain, Lita yang saat itu tengah kesusahan tiba-tiba di bantu oleh seorang wanita paruh baya yang ternyata Ibu kandung dari Dain. Awalnya Lita terkejut karena di tolong oleh sang pemilik rumah yang terlihat seperti orang yang angkuh dan menyeramkan, tetapi ternyata dia salah. Beliau sangatlah baik dan tidak memandang siapakah dirinya hingga mau menolongnya dan mau mengobati luka di tangannya yang terkena pecahan gelas yang terjatuh.
Namun setelah dia diobati ternyata Ibu dari Dain ini menawarkan suatu perjanjian kepadanya. Dimana penawaran itu akan dilaksanakannya tepat hari ini.
Hari ini adalah hari penentuan untuk langkah kehidupan Lita selanjutnya, sehingga hal itulah yang membuat Lita begitu khawatir sejak tadi bahkan jantungnya sudah berdetak dengan keras dan tubuhnya terasa lemas sejak turun dari mobil.
Keputusan hari ini adalah keputusan besar yang akan diambil olehnya, karena disini bukan hanya tentang dirinya saja tetapi tentang kehidupannya dengan putrinya nanti. Memang cukup berat bagi Lita mengambil langkah ini, oleh sebab itu dia meminta waktu 3 harian kepada Ibu Jesika sebelum menerima tawaran ini.
Lita sebetulnya sangat ragu melakukan hal ini, tapi ini semua harus dilakukannya, walaupun akan banyak resiko yang akan didapatkan oleh Lita kedepannya, Lita sudah berjanji akan menerima semua itu.
Sebetulnya penawaran dari Ibu Jesika ini tidak seberat akan penawaran yang telah Dain dan dirinya sepakati dulu, tetapi penawaran ini resikonya lebih besar dibandingkan dengan apa yang telah disepakatinya dengan Dain. Oleh sebab itulah, ada keraguan di hati Lita untuk memilih jalan ini.
"Ibu Jesika" ucap seorang suster yang memang telah menunggu kedatangan mereka didepan sebuah ruangan.
"Iya saya sus saya"
"Mari Bu, silahkan masuk"
"Ayo Lit" Ibu Jesika sambil menarik pelan lengan Lita, namun sulit karena Lita menahannya.
"Kenapa lagi Lit?"
"Bu, apakah yang akan kita lakukan ini adalah yang terbaik. Jujur saya takut menghadapi kedepannya. Saya takut, dia akan marah dan tidak ak..akan menerima an..anaknya"
"Lita, percayalah sama ibu. Ini yang terbaik. Kamu adalah orang yang tepat Lita. Saya percaya kamu bisa melakukan ini. Dan kamu tidak perlu takut akan menjalaninya sendirian karena kita akan menghadapinya sama-sama. Dan kalau dia tidak mau menerimanya biarkan, tapi saya, suami saya bahkan keluarga besar kami akan menerima anak itu" ungkap Ibu Jesika untuk memberikan keyakinan pada Lita.
"Apakah kamu mau membatalkan semua ini, bukankah kamu sudah sangat mau dengan putra saya" lanjutnya lagi untuk memastikan semuanya tetap dilakukan atau dibatalkan.
"Ti...tidak Bu, saya tidak akan membatalkannya. Ayo Bu, mari kita masuk" kini justru Lita yang kembali optimis untuk melakukan semuanya, walaupun masih ada keraguan dihatinya tapi dia sudah sangat yakin dengan keputusan yang di setujuinya kemarin malam itu.
Sedangkan itu, sebuah senyuman terbit di wajah Ibu Jesika yang masih terlihat cantik dan awet muda. "Bagus kalau begitu. Ini memang harus kamu lakukan Lita"
"Iya Bu, ayo" kini Lita lah yang paling bersemangat untuk masuk ke dalam sebuah ruangan yang diketahui adalah ruangan dokter ini.
Tadi Lita masih begitu ragu dengan keputusannya ini, tetapi sekarang dia sudah sangat yakin bahwa ini adalah keputusan yang tepat untuk diambilnya saat ini. Namun sebelum dia masuk ke ruangan ini, terlebih dahulu dia berdoa dalam hati. "Ya Tuhan, semoga ini yang terbaik"
⚫⚪⚫⚪⚫
"Mari bu, masuk" ucapnya dengan mempersilahkan Ibu Jesika untuk masuk ke apartemen yang ditempatinya selama ini.
"Maaf Bu, tempatnya kecil dan saya belum bersihkan. Saya tidak tau kalau ibu mau datang kesini, kalau tau saya akan masak spesial untuk ibu atau beli makanan yang spesial untuk menyambut ibu" lanjutnya kembali.
"Tidak perlu repot-repot Lit, saya hanya sebentar disini. Tapi ini menurut saya cukup bersih dan rapih. Tapi Lit..." Ucap beliau dengan menggantung.
"Iya Bu, ada apa?"
"Ehhm ap...pa Dain yang membelikanmu apartemen kecil seperti ini Lit?" ungkap Bu Jesika sambil berjalan masuk dengan melihat-lihat ke seluruh apartemen ini.
"Ma...maf Lit, saya bukan bermaksud menghina. Tapi saya heran saja, kenapa bisa anak saya membelikanmu apartemen sederhana seperti ini. Karena dia saja sangat bisa membelikan Freya tas ataupun barang-barang lainnya dengan harga Milyaran rupiah tetapi kenapa sama kamu dia membelikan apartemen seperti ini"
"Waktu itu Dain menawarkan apartemen yang sangat mahal dan mewah Bu, tapi di tengah kota. Saya menolaknya memang, karena lebih baik yang sederhana saja jadilah kami memutuskan memilih apartemen ini yang sedikit jauh dari tengah kota. Kami memilih tempat ini juga sudah memikirkan berbagai hal" jelasnya sambil mempersilahkan Ibu Jesika untuk duduk.
Dia sudah berani menjelaskan semuanya dan tidak ada yang ditutupinya sedikitpun, karena mau dia menutupinya juga percuma, Ibu Jesika pasti sudah mengetahuinya.
"Kamu itu memang berbeda dari pacarnya Dain. Dia mencintai anak saya hanya karena harta bukan cinta yang tulus. Anak saya selalu di manfaatkan olehnya bahkan diperdaya, tetapi sayang Dain sampai sekarang belum menyadari akan hal itu"
"Tapi Bu, apa bedanya saya sama Freya kekasihnya Dain. Kami sama-sama ingin mengambil uangnya Dain. Hanya saja yang membedakan kami berdua itu adalah saya sebagai boneka pemuas nafsunya sedangkan Freya adalah wanita yang di cintai dan di jaganya mati-matian"
"Di cintainya? Kamu apakah tidak sadar Lit, Dain itu sudah tidak mencintai pacarnya itu. Menurut tante sebagai ibu kandungnya, dia sudah bosan dengan Freya karena sekarang dunianya bukan dengan Freya lagi tetapi wanita lain. Dan satu lagi Lit..." Ibu Jesika mengambil nafas terlebih dahulu sebelum kembali melanjutkan ucapannya. "Apa yang kita jaga mati-matian belum tentu dijaga juga oleh orang lain"
Lita terdiam karena entah mengapa perkataan Ibu dari Dain ini membuat hatinya langsung sakit. Karena melihat Dain bersama dengan kekasihnya saja dia sudah sakit hati apalagi mendengar bahwa Dain sudah tertarik dengan wanita lain, itu membuat hatinya sangat sakit. Tapi seketika sakit hati itu hilang dengan perkataan terakhir dari Ibu Jesika yang membuatnya terkejut. "Apakah Ibu Jesika sudah mengetahui bagaimana Freya? Karena dari perkataan beliau tadi, seperti mengetahui sesuatu disana"
"Satu hal lagi Lit, kamu pasti hanya mengetahui sedikit kejahatan yang ada pada diri Freya saja padahal masih banyak lagi kejahatan yang ada pada dirinya"
"Ma...maksud Ibu?" Tanyanya karena dia tidak paham akan maksud dari perkataan Ibu Jesika.
"Kamu pasti sudah tau kemana arah pembicaraan saya tadi. Saya itu tidak mau membahas kejelekan orang Lit, nanti kamu pasti akan mengetahui dengan sendirinya atau kamu memang sudah mengetahuinya" Ibu Jesika menghentikan pembicaraannya sebentar untuk melihat ekspresi wajah Lita.
"Kamu sudah mengetahuinya kan. Saya itu tidak mau menjelekkan sesama wanita karena saya juga bukan wanita yang terlalu suci juga karena saya jauh lebih parah dari Freya tapi itu dulu bukan sekarang, jadi saya tidak perlu jelaskan kamu pasti sudah paham maksud saya"
"Kamu pikir saya ini dulu wanita baik-baik Lit" lanjutnya setelah dia melihat wajah Lita tengah kebingungan.
Beliau memegang erat tangan Lita, kemudian barulah melanjutkannya. "Saya itu dulu adalah wanita yang bisa dibilang liar, kotor. Tetapi wanita kotor seperti saya ini ternyata masih ada yang mau mencintai dengan tulus dan itu suami saya sekarang" Ibu Jesika tersenyum miris mengingat kenangan kelam di masa lampau.
Kenangan pahit kehidupan yang pernah dialaminya dulu masih membekas dalam ingatannya, bahkan dia tidak akan pernah melupakan kenangan pahit itu selama-lamanya. Karena kenangan itu akan selalu menjadi kenangan yang tersimpan didalam hatinya.
"Walaupun kamu sekarang menjadi bonekanya Dain, tetapi tidak sepenuhnya kamu memanfaatkan anak saya. Saya itu tau kamu seperti apa, walaupun kita baru bertemu beberapa hari ini tetapi dari mata kamu saja saya sudah bisa menilai kamu ini orangnya seperti apa Lit. Percayalah wanita sebaik dirimu pasti akan mendapatkan laki-laki yang tulus mencintaimu nantinya"
"Selain itu kamu adalah ibu yang hebat, semua akan kamu lakukan untuk kebahagiaan putrimu, walaupun jalan itu adalah jalan yang salah tetapi saya yakin kamu itu berbeda dengan Freya. Kamu sudah tau kan Freya seperti apa di belakang Dain?" Tanya Bu Jesika kepada Lita setelah dia berucap panjang lebar.
"Ibu juga sudah tau?"
Bu Jesika menganggukkan kepalanya. "Saya tau. Saya dan suami saya selalu memantau anak-anak kami secara diam-diam. Kami melakukan itu karena kami tidak ingin anak-anak kami itu terjerumus ke pergaulan bebas atau ada orang yang ingin mencelakai mereka, jadi kami menugaskan orang untuk mengawasi anak-anak kami juga orang terdekat anak kamu. Oleh sebab itu, saya tau semuanya, termasuk tentang kekasih anak-anak saya"
"Jadi selama ini, aku juga ikut dipantau oleh orangtua Dain. Pantas selama ini aku pergi seperti ada orang yang terus mengikutiku" batin Lita.
Lita merasa semenjak dia mengenal Dain, dia merasa seperti ada yang mengawasinya. Dulu dia berfikir mungkin itu adalah orang Dain yang mengawasinya saat tidak ada Dain, tetapi ternyata dia salah karena yang mengawasinya adalah orang dari kedua orangtua Dain dan sekaranglah dia baru mengetahui semuanya.
"Kalau seperti itu, kenapa Ibu tidak memberitau Dain? Saya kasian dengan Dain bu. Dia begitu mencintai dan akan berusaha keras untuk menjaganya, tetapi dia tidak tau bagaimana dia dibelakangnya"
"Saya dan suami saya sepakat bahwa kami tidak akan memberitahunya. Kami akan memberitau setelah Dain tau dengan sendirinya bagaimana kekasihnya karena jika memberitahupun percuma, Dain pasti dia juga tidak akan percaya jadi kami memilih diam saja, yang terpenting kami tetap mengawasinya"
Lita hanya menganggukkan kepalanya dengan paham akan itu semua. Benar apa yang dikatakan oleh Ibu Jesika, bahwa Dain tidak akan mungkin percaya begitu saja ketika dia diberitau.
"Maaf Bu saya mau tanya. Ja..jadi apakah Ibu juga mengawasi saya selama ini?" Tanyanya dengan takut-takut karena dia takut akan menyinggung Ibu Jesika.
"Iya maaf yah Lit. Saya itu masih tidak tega melepas Dain. Saya akan iklas melepasnya kalau dia sudah menemukan orang yang tepat karena Dain ini sifatnya masih seperti anak kecil dan belum dewasa. Jadi dia perlu terus di ingatkan dan dibimbing"
"Iya memang Dain seperti itu sifatnya bu" Lita membenarkan akan hal itu.
"Karena itu dia itu akan cocok sama orang yang lebih dewasa pemikirannya. Karena itu, saya mau kita menjalankan rencana ini. Biar Dain bisa berfikir dewasa dan mau bertanggung jawab atas apa yang sudah diperbuatnya"
"Iya bu. Tapi sebelumnya saya mohon maaf lagi ya bu. Saya disini hanya mau memastikan lagi, apakah ini semua akan baik-baik saja nantinya? Saya masih ragu"
"Pasti itu, percayalah sama tante ya. Semuanya pasti baik-baik saja Lita"
"Iya bu. Bismillah" ucapnya lagi. Jauh dilubuk hati Lita yang paling dalam dia masih ragu dengan keputusannya ini,tetapi karena keyakinan yang diberikan oleh Ibu Jesika membuatnya harus yakin dengan semua ini.
"Panggil tante saja Lit, agar tidak terlalu formal"
"Iya tan...tante"
Ting Tong
"Itu pasti anak kamu Letta. Tadi sopir saya tugaskan untuk mengantar kesini"
"Makasih Bu, saya buka pintunya dulu"
"Iya Lit" setelahnya Lita berjalan menuju pintu dan tanpa melihat siapa tamunya, dia langsung membuka pintunya.
"Assalamu'alaikum bunda"
"Wa'alaikumsalam"
"Sayang. kenapa bawa barang banyak sekali seperti ini sayang?"
"Iya ini semua dibelkan sama nenek baik bunda"
"Astaga, ya sudah ayo masuk. Sini pak biar saya bawakan saja"
"Jangan mbak berat. Biar saya yang bawakan ke dalam"
"Ya sudah ayo mari pak masuk"
Lita mempersilahkan semuanya masuk terlebih dahulu dan menyisakan dirinya diluar pintu. Lita sekarang hendak masuk, tetapi langkahnya terhenti melihat sosok yang berlalu didepannya sambil melihat kearahnya.
Dari tatapannya ketika melihat dirinya dibalik kaca mata itu, tatapannya terlihat sangat tajam dan Lita bisa merasakannya. Tetapi Lita menjawab tatapan itu dengan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum karena dia berfikir mungkin ini adalah tetangga sebelahnya.
Lita belum pernah berkenalan sekalipun dengan tetangga-tetangganya karena Dain memang melarang dirinya terbuka dengan dunia luar terlebih dengan tetangga-tetangga apartemen ini sehingga dia tidak mengenal satupun tetangganya disini. Dan dia berfikir mungkin orang itu adalah tetangganya yang memang seperti itu sikapnya.
"Aneh sekali orang itu, wajahnya sampai ditutup seperti itu" gumamnya sebelum dia masuk kembali ke apartemennya.
Sedangkan seseorang yang tadi melewati Lita itu menghentikan langkahnya ketika mendengar Lita sudah menutup pintunya. "Ternyata benar kamu, dasar wanita pe*****" ucapnya sebelum dia pergi meninggalkan tempat itu.