Author POV
Lita tengah disibukkan dengan pekerjaannya yang sangat banyak. Dimana dia kini tengah melihat daftar buku penjualan yang ada di usaha laundry miliknya.
Semua dia periksa dari mulai baju-baju yang sudah diambil oleh sang pemilik dan yang belum di ambil. Dia memang melakukan pekerjaan ini sendirian, karena karyawannya hanya tiga yang bertugas untuk mencuci dan menyetrika pakaian pelanggan saja selebihnya dia yang mengerjakan.
"Mbak, permisi" ucapan dari seseorang itu, membuat Lita yang tadinya tengah serius memeriksa laporan itu kini menghentikan aktifitasnya.
"Iya Len, ada apa?" tanyanya tanpa melihat kearah salah satu pegawainya yang berada didepannya karena dia masih fokus dengan pekerjaannya.
"Itu mbak, ada mbak yang sudah sering kesini tapi mau ketemu Mbak Lita katanya"
"Ketemu saya? Siapa Len?"
"Itu mbak siapa, lupa saya namanya" jawab pegawai Lita sambil berfikir.
"Apa Mbak Freya?"
"Iya mbak. Ada mbak Freya didepan"
"Oh i...iya sebentar lagi aku kesana atau Mbak Freya nya bawa masuk kesini saja kasian kalau didepan"
"Saya sudah mengajak Mbak Freya masuk tapi tidak mau Mbak Lit"
"Oh iya sudah kalau gitu Mbak Freya dipersilahkan duduk sebentar sama buatkan minum, sebentar lagi saya akan kesana"
"Baik mbak, saya permisi ke depan lagi"
"Iya Len" sepeninggalan pegawainya itu, Lita menyelesaikan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi, hingga tak lama akhrirnya sudah selesai.
"Alhamdulillah semuanya sudah selesai" ucapnya dengan segera membereskam berkas-berkas yang tadi di periksanya.
"Freya tumben mencariku, ada apa ya? Kenapa perasaanku jadi tidak enak begini"
"Semoga semuanya baik-baik saja" doanya sebelum dia keluar dari ruangannya.
Tiba-tiba perasaannya Lita menjadi tidak enak sekarang ini. Padahal hubungannya dengan Freya yang juga merupakan kekasih Dain itu bisa dibilang sangat baik bahkan mereka sering berbicara bersama jika ada kesempatan. Tapi mengapa pertemuannya dengan Freya kali ini membuatnya takut sendiri.
"Tidak ada apa-apa Lit, kamu harus tenang dihadapan Freya supaya dia tidak curiga" ucapnya berulang kali untuk menenangkan dirinya. Karena biasanya ketika dia akan bertatap muka secara langsung dengan Freya pasti akan seperti ini, biasanya hanya sebentar dan setelah itu dia kembali normal.
Lita dengan langkah pasti berjalan ke bagian depan tempat laundry annya, namun saat tiba diruang tunggu depan, Lita tidak menemukan Freya disana membuatnya bingung.
Mengetahui hal itu membuat Lita berjalan ke pegawainya yang memang menjaga di bagian depan. "Mbak Nana, katanya Mbak Freya mencari saya. Sekarang Mbak Freya kemana?"
"Oh katanya Mbak Freya tadi mau menunggu diluar saja mbak. Tapi Mbak Lit, diluar kayak ada beberapa wartawan dari stasiun televisi" lapornya kepada Lita karena dia tadi sempat melihat ada satu wartawan yang tiba-tiba masuk kesini dan memotret tempat ini.
"Wartawan? Kenapa ya?" tanyanya sendiri dengan kebingungan.
"Ya sudah makasih yah Mbak Nana, saya akan keluar untuk melihat keadaan diluar sama mencari Mbak Freya"
"Iya Mbak Lit"
Lita kini berjalan dengan langkah pasti untuk menuju ke luar, tidak seperti tadi yang begitu ragu. Kali ini berbeda karena dia begitu penasaran akan apa yang dibicarakan pegawainya bahwa ada wartawan diluar karena setaunya dia tidak mengundang wartawan ataupun ada wartawan yang ijin akan meliput kesini sebelumnya. Hingga saat Lita sudah diluar...
Jepret
Bunyi suara potret dari kamera terdengar saat dia baru saja membuka pintu kaca tokonya, membuatnya langsung terkejut terlebih dengan ucapan seorang wanita yang tak jauh dari tempatnya berada.
"Ini dia wanita yang saya ceritakan tadi" ucap seorang wanita yang memiliki warna rambut pirang dibagikan bawahnya.
Lita terpaku ditempatnya, kemudian dia bertanya kepada wanita berambut pirang yang merupakan Freya. "Frey, ada apa ini?" Tanyanya sambil mencoba menghindarkan wajahnya dari sorotan kamera yang tengah menyorotnya.
"Nah ini nih, kalian bisa lihat sendiri. Tidak akan ada maling yang mau mengakui kesalahannya, dan itu seperti dia. Apa ada seorang pelakor mau mengakui dirinya salah"
Deg
"Frey, ma...maksudmu ap...apa?" Tanya Lita dengan tangan yang sudah dingin.
"Sini kamu" wanita yang merupakan Freya itu, langsung menarik dengan kasar tangan Lita.
Freya membawa Lita untuk lebih mendekat ke arah para wartawan. Sedangkan Lita mencoba menahan dirinya agar tidak terus ditarik oleh Freya tetapi ternyata usahanya gagal karena tenaga Freya lebih kuat darinya hingga kini dia sudah berada tepat didepan seorang para wartawan.
"Namanya dia Lita. Kalian tau kan Dain itu kekasihku. Tetapi tiba-tiba ada ini janda gatal yang menawarkan tubuhnya buat pacarku. Padahal dia selama ini baik kepadanya, bahkan aku selalu kasih apa-apa bahkan anaknya juga, trus kita juga kenal baik ternyata dibalik semua itu dia ingin mengambil pacarku dengan cara yang menjijikkan"
"Waduh mbak, walaupun Janda seharusnya bisa jaga sikap dan tidak merebut milik orang lain dengan cara sehina itu. Kalau seperti ini citra seorang janda akan jelek" bisik-bisik seorang wanita yang ada didepan Freya dan juga Lita.
"Ya namanya juga hidup mbak, kita hidup butuh uang, walaupun uangnya tidak halal pasti tetap dijalani iya tidak. Siapa yang tidak ingin dekat dengan keluarga Rocarlton yang kaya raya itu" sahut temannya yang lain.
"Iya yah"
"Lalu bagaimana dengan Mas Dain mbak? Apakah kalian sudah putus?" Tanya salah satu wartawan laki-laki.
"Belum mas, saya mau jaga pacar saya Dain. Kita sudah berjuang hampir 8 tahun lamanya, lalu kita mau di pisahkan dengan wanita janda sepertinya ini" Freya mendorong kedepan tubuh Lita hingga hampir membuatnya terjatuh, beruntungnya Lita bisa menjaga keseimbangannya.
"Iya juga mbak. Dan kabar yang kami dengar kalian juga akan bertunangan mbak? Lalu apakah pertunangan itu akan tetap dilaksanakan?" tanya wartawan lainnya.
"Tetap, tapi saya mau membereskan dia dulu baru pertunangan itu bisa dilaksanakan. Minta doanya yang terbaik untuk hubungan kita" jawab Freya.
"Lalu bagaimanakah dengan nasib wanita ini?"
Lita yang sejak tadi hanya mendengarkan berbagai pengungkapan dari Freya di sampingnya ini hanya bisa menangis sambil menunduk. Dia begitu terkejut, Freya sudah mengetahui hubungannya dengan Dain. Dan kini dia memberitaukan hal itu kepada para wartawan yang artinya akan diberitakan. Mungkin setelah ini akan banyak yang menghina dan menjelekkannya.
"Biarkan saja dia habis ini akan hidup sengsara seperti semula, karena selama ini dia mendapatkan uang dari hasil jual diri kepada pacar saya. Dihadapan kalian seperti ini, aku ingin memberikannya pelajaran kecil kepadanya"
"Pelajaran apa itu Mbak Freya?"
Freya tersenyum licik kemudian dengan kasar dia menarik tangan kiri
Lita hingga mengakibatkan luka goresan di tangan Lita. Belum sempat Lita merasa terkejut atas tindakan kasar Freya itu, tiba-tiba dia sudah mendapatkan pukulan keras di kedua pipinya.
Plak Plak
Semua orang dibuat terdiam akan kejadian ini, tetapi ada beberapa orang, terutama para wartawan tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mengabadikan momen tersebut.
"Sekarang masalah sudah selesai, silahkan kalian pergi. Biar saya selesaikan sendiri lagi dengan dia"
"Tapi Mbak Frey..."
"Pergilah kalian" bentak Freya kepada semua wartawan yang diundangnya ini.
Namun mendengar hal itu, para wartawan tidak menghiraukannya karena mereka masih tetap berada disana. Mereka masih belum mendapatkan beberapa jawaban yang akan di jadikan untuk berita nanti, jadi mereka tetap berada disana dan tidak mendengarkan perintah dari Freya yang jelas-jelas didengar oleh mereka.
"Pergi"
"Kami masih belum mendapatkan jawaban yang lengkap mbak jadi..."
"Sudah cukup segitu saja, lain kali saya akan menjelaskannya kembali kepada kalian" jelas Freya dengan perlahan agar semua wartawan memahaminya dan meninggalkan mereka sekarang. Namun ternyata usaha Freya itu gagal karena wartawan-wartawan itu tetap berada disana membuatnya sangat marah hingga dia memutuskan yang pergi dari sana dengan membawa Lita.
Lita ditarik dengan kasar oleh Freya untuk masuk ke dalam tempat usaha laundry nya, agar mereka bisa menghindari wartawan yang terus mengikuti mereka.
"Kunci pintunya" bentak Freya kepada semua karyawan Lita yang terdiam ketakutan disana.
Satu karyawan memberanikan diri untuk berjalan dan mengunci pintu, kemudian setelah selesai dia kembali berlari dan berkumpul bersama dengan teman-temannya disana. Mereka sebetulnya ingin sekali menolong Lita yang merupakan bos mereka tetapi mereka juga takut jika akan mempersulit keadaan, sehingga mereka memilih untuk tetap diam sambil menyaksikan pertengkaran ini.
"Urusan kita belum selesai Lita, aku masih tidak bisa menerima semua ini. Aku sudah memberikan pelajaran kecil tadi dihadapan semua orang, aku melakukan itu supaya seluruh dunia tau bahwa kamu itu seorang JANDA PEREBUT PACAR ORANG DAN JUGA SEORANG PELA***"
"Aku begitu membencimu. Karena kamu sikap Dain akhir-akhir ini berubah kepadaku. Apalagi mama nya Dain, semakin tidak suka sama aku. Itu semua karena kamu Lit, kamu" Freya menunjuk Lita sambil memaki-maki.
Lita sudah tidak tahan lagi dalam keadaan seperti ini, dia harus segera menghentikan amarah Freya, membuatnya langsung mendongakkan kepalanya dan menatap Freya yang sudah berlinang air mata sama sepertinya.
"Tidak semuanya salahku Fre, ini juga ada salahmu. Tante Jesika itu adalah orang yang baik, beliau akan merestui hubungan kalian kalau kamu tidak..."
"Cukup Lita, kamu tidak perlu membela dirimu sendiri dan menyalahkan aku dalam keadaan ini. Aku sudah berjuang selama 8 tahun bersama dengan Dain, tetapi gara-gara kamu semuanya menjadi rusak. Tante Jesika semakin tidak menyukaiku dan justru menyukaimu. Aku merasa aneh dengan Tante Jesika yang bisa langsung menerima bahkan menyukaimu, apa yang di lihat dari Dain dan Tante Jesika dari kamu. Kamu itu cuma Janda yang tidak berpendidikan dan tidak punya apa-apa" seketika air mata Lita turun semakin deras, dia begitu sakit mendengar perkataan dari Freya ini. Walaupun apa yang diucapkan Freya semuanya benar, tapi hatinya sangat sakit dibilang seperti itu.
"Aku memang bukanlah wanita seperti kamu yang berpendidikan tinggi dari keluarga mampu tapi setidaknya aku punya etika untuk tidak menjelek-jelekkan orang lain didepan umum seperti tadi. Aku memang pela***nya Dain, tapi aku hanya menjadi PELA***NYA SAJA tidak dengan yang lain. Dan kamu tenang saja, aku cukup tau diri bahwa aku tidak mengharapkan lebih darinya. Kamu adalah satu-satunya wanita yang sangat dicintainya, ka...kalau aku menjadi perusak hubungan kamu dengan Dain aku akan pergi, karena memang aku harus segera pergi dari kehidupan kalian"
"Baguslah kalau kamu tau diri aku tidak perlu bersusah payah mengusirmu dari kehidupan Dain" ucap Freya dengan sinis.
"Bunda..." Teriak Letta dari arah dalam.
Letta baru saja bangun tidur karena memang tadi dia tertidur di tempat istirahat yang ada di tempat ini. Saat terbangun dia langsung mencari bundanya, dan ternyata dia menemukan bundanya ada didepan bertengkar dengan Tante Freya.
"Tante Frey jahat" Letta segera berlari dan memukuli Freya dengan kasar.
"Letta, jangan sayang. Ka...kamu tidak boleh seperti itu" Lita berusaha menahan putrinya agar tidak terus memukuli Freya, tetapi usahanya tidak bisa karena Letta terlalu kuat memukuli Freya.
"Ini apaan sih anakmu, dasar anak tidak tau diri seperti ibunya. Apakah kamu tidak ingat Letta dulu siapa yang sering memberimu boneka dan juga coklat"
"Tante jahat, sudah menyakiti bunda. Letta tidak perduli, tante jahat"
"Hey anak kecil diamlah" dengan kasar Freya mendorong tubuh Letta hingga membuat tubuh kecilnya mundur dan menabrak Lita.
"Akh" ringis Lita yang sudah terjatuh dibawah.
"Bunda, bunda tidak apa?" Tanya Letta dengan nada khawatir.
"Itu balasan seorang Pela*** dan Pelakor. Ingat janjimu tadi bahwa kamu akan segera pergi dari kehidupan Dain"
"Kenapa harus bunda, kenapa tidak Tante Freya saja. Kan Tante Frey, juga punya cowok lain, aku bisa bicara ke om Dain nanti"
"Heh anak kecil" dia mendorong tubuh Letta dengan kasar. Tanpa perasaan Freya melakukannya. Dia sejak tadi memang sudah terbawa emosi membuatnya jadi buta sampai dia menyakiti anak kecil seperti Letta.
"Frey, kamu boleh sakitin aku, menghina aku, dan mempermalukanku. Te..tetapi jangan sekali-kali kamu menyakiti Letta. Dia tidak tau apa-apa" ucap Lita sambil menahan sakit di bagian perutnya. Lita sudah tidak memperdulikan rasa sakitnya, karena dia harus menghentikan tidakan Freya.
"Sudahlah tidak perlu kamu banyak berbicara Lit, lebih baik ajarkan anakmu ini sopan santun janda PELAKOR. Aku tunggu secepatnya kamu pergi" setelah mengucapkan itu Freya pergi dari sana.
Setelah kepergian Freya, semua karyawan Lita menghampirinya dan menolongnya."Mbak Lit, tidak apa?"
"To...tolong bawa aku ke rumah sakit secepatnya" ucap Lita sambil memegangi perutnya yang terasa sangat sakit.
"Ba...baik mbak. Bentar aku pesankan taksi dulu" salah satu karyawan Lita segera mengambil ponselnya dan memesankan taksi. Hingga tidak lama taksi datang, dan Lita segera dibawa ke rumah sakit.
⚫⚪⚫⚪⚫
Seseorang tengah berjalan keluar area bandara sambil menarik koper miliknya. Dia adalah Dain.
Dain baru saja selesai bertugas, dan kini dia hendak berjalan menuju ke mobilnya dan pulang. Tetapi di tengah dia asik berjalan sambil bernyanyi tiba-tiba di kejutkan dengan suara di ponselnya yang berbunyi beruntun.
"Astaga ini ada apa sih. Biasa orang ganteng ini banyak yang mencarinya" gumamnya sendirian.
Dain mencoba tidak menghiraukan itu tetapi karena ponselnya berbunyi berkali-kali membuatnya penasaran dan langsung membuka ponsel yang ada di sakunya.
"Siapa sih ini banyak sekali notifikasinya" ucapnya sambil membuka aplikasi pesan yang muncul ada ribuan pesan disana.
"Busyet" ucapnya sambil membuka chat teratas yang ternyata dari sahabatnya Orlando. Dan ketika dia sudah membuka pesan itu, ternyata langsung ada panggilan dari sahabatnya.
"Astaga ini anak ya" ucapnya dengan kesal, tetapi akhirnya dia menjawab panggilan itu
"Ada apa sih, elo kangen gue ya sampai chat ratusan kali dan telponin gue. Sabar besok kita meet up okey. U..."
"Baca pesan gue sekarang"
"Males ah, loe kirim 150 pesan apa saja itu. Pasti isinya elo kangen gue ya, mengakulah Balado"
"Dain, ini penting. Sekarang elo lihat pesan terakhir gue. CEPAT"
"Memang isinya apaa..."
Tut Tut Tut
Panggilan itu terputus tiba-tiba. "Ini anak ya. Pesen apaan sih penasaran gue" ucapnya kemudian dia membuka pesan dari sahabatnya. Ternyata disana ada sebuah video.
"Apa ini video terbaru ya. Itu anak kirimnya memang tidak bisa nanti apa" Dain hendak menghiraukan video dari sahabatnya itu, tetapi entah mengapa dia juga sangat penasaran dengan isi video itu. Disaat dia masih bimbang akan membuka video itu, tiba-tiba sebuah pesan masuk dari Orlando.
Cepat buka Dain. Ini serius gue, ada yang darurat soalnya
"Video apaan sih" setelahnya Dain mulai membuka itu.
Selama dua menit dia memutar video itu, tetapi belum sampai habis dia langsung menutupnya.
"s**t. Astaga bahaya ini" ucapnya sebelum dia berlari terburu-buru memasuki mobilnya dan pergi meninggalkan bandara.