Author POV
Dain tidak benar-benar tidur.
Sofa apartemen Lita lebih pendek dari tubuhnya. Kakinya menggantung. Bantal yang dipinjam dari Letta berbau detergen, bukan parfum. Tiap kali dia hampir nyenyak, dia mendengar letupan kecil di kepala: klakson bandara, plak tamparan, ketukan USG, chat Reza yang tidak dibalas. Lampu taman masih masuk dari sela gorden. Dain membuka mata, menatap plafon yang retak tipis di pojok, lalu menutup lagi.
Dia bergeser ke kiri, ke kanan, ke lantai dengan kaki, lalu kembali. Punggungnya protes. Dain pernah tidur di kursi cockpit cadangan, di sofa Freya, di lantai apartemen sendiri setelah pesta. Sofa ini lebih sulit karena dia tidak boleh masuk kamar, dan karena dia memilih tidak boleh.
Pukul empat lebih, pintu kamar Lita berderit. Dain langsung duduk.
"Air?" tanyanya, suara parau.
Lita berdiri di ambang, memegang dinding. Rambutnya terurai. Piyama longgar. Pipi kirinya masih kebiruan, lebih gelap daripada semalam.
"Mual. Jangan nyalakan lampu besar."
Dain ke dapur tanpa lampu utama, hanya tudung hisap yang redup. Dia tuang air hangat, bukan dingin, karena semalam Lita menggigil setelah minum yang terlalu es. Ketika dia kembali, Lita sudah duduk di tepi sofa, jauh dari kaki Dain, menjaga jarak yang kemarin mereka sepakati.
"Minum pelan."
Lita minum. Tangannya gemetar sedikit. Dain tidak meraih perutnya. Dia hanya menaruh ember kecil di dekat kaki sofa, konyol, tapi lebih baik daripada Lita lari ke kamar mandi sendirian dalam gelap.
"Letta?"
"Masih tidur. Tadi sempat miring, tidak bangun."
Lita mengangguk. Mereka diam. Kulkas berbunyi. Di luar, motor malam lewat. Dain ingin bertanya apakah Lita takut dengan tes Freya pagi ini. Dia menahan. Lita sudah bilang jangan menghabisi harapan pelan-pelan.
"Kamu berangkat jam berapa?" tanya Lita akhirnya.
"Delapan. Orl jemput. Mom langsung ke lab. Kamu jangan buka pintu. Sopir mommy masih di bawah sampai pagi. Jon ganti jam tujuh."
"Aku bukan anak kecil."
"Aku tahu. Aku yang masih." Dain mengusap muka. "Kalau ada yang ketuk, jangan jawab. Kalau Freya datang, telpon aku, jangan buka."
Lita menatapnya. "Kamu masih panggil dia Freya, bukan mantan."
"Belum ada kalimat putus yang keluar dari mulutku. Aku tidak mau kalimat itu diucap lewat chat jam empat pagi. Aku mau setelah kertas lab, bukan setelah amarah."
Lita mengangguk pelan. Itu bukan jawaban yang manis. Itu jawaban yang bisa ditahan sampai matahari.
"Kalau kamu putus, jangan putus di depan mamanya hanya karena malu. Putus karena kamu sudah lihat tangannya di video. Aku tidak mau jadi alasan yang kamu sesali siang."
"Kamu bukan alasan. Kamu yang di IGD. Bedanya."
Lita tidak berdebat. Dia menarik selimut imajiner di pundak, padahal selimutnya di kamar.
"Pergi. Aku kuat. Letta kuat. Jangan bawa muka kalah ke lab. Freya baca muka."
Dain hampir tersenyum. "Kamu mulai kedengaran seperti Momma."
"Tante Jesika menular. Tidur dikit. Punggungmu jelek."
Lita kembali ke kamar. Pintunya tidak dikunci. Dain merebah lagi, mendengar langkah Lita ke kamar mandi, keran, diam, lalu kasur. Kali ini dia tidur sampai Letta menepuk pipinya.
"Om, subuh. Letta lapar. Bunda masih mual. Om masak?"
Dain duduk, rambutnya kacau, lehernya pegal. "Om bisa telur. Jangan ribut. Bunda istirahat."
Di dapur kecil itu Dain mengocok telur seperti orang yang baru belajar dewasa: terlalu banyak garam, lalu terlalu banyak takut, lalu akhirnya cukup. Letta naik ke kursi, kaki menggantung, mengamati.
"Om ke Tante Frey?"
"Om ke dokter. Bukan main. Kamu jaga bunda. Jangan buka pintu."
"Kalau Tante Frey datang, Letta pukul?"
"Tidak. Sembunyi. Telpon om. Om yang urus orang dewasa."
Letta mengangguk, serius, lalu menyuap telur. "Pahit dikit. Tapi om usaha. Nenek lebih enak. Om boleh kalah masak."
"Terima kasih penilaiannya, adik Barbie."
Letta mengayun kaki. "Om, kalau dokter bilang Tante Frey tidak punya bayi, Tante tetap jahat. Bayi tidak bikin tangan jadi baik. Letta tahu. Teman Letta punya adik, ibunya tetap galak."
Dain menatap anak itu. "Kamu terlalu pintar pagi-pagi. Makan."
"Letta pintar karena bunda. Om jangan sedih sendiri di mobil."
Lita keluar ketika bau telur sampai ke kamar. Kimono tipis, rambut diikat asal. Dia makan tiga suap, lalu berhenti. Dain tidak memaksa. Dia menyiapkan bubur sisa termos Jesika di mangkuk kecil, meniupnya, merasa konyol, tetap meniup.
"Nana chat," kata Lita. "Ada yang titip atas nama Freya, karung kosong, isinya kertas 'keluar'. Sudah dibuang. Aku tidak marah di grup. Aku cuma minta kunci samping."
"Bagus. Jangan balas kertas. Kertas itu umpan."
Orlando menelepon pukul tujuh lewat.
"Gue di basement. Freya story jam lima, muka sedih, caption 'doain kandungan'. Jangan buka. Kita berangkat."
Dain ke kamar Lita hanya sampai ambang. "Aku pergi. Kunci ganda. Kalau mual parah, telpon. Jangan ke laundry."
"Tidak ke laundry. Nana sudah ku chat. Dain." Lita menahan nadanya. "Kalau positif, jangan pukul. Kalau negatif, jangan pesta di depan orang. Keduanya membuat berita."
"Tercatat."
Dain mencium ubun-ubun Letta, tidak mencium Lita, lalu keluar. Di lift dia melihat seragamnya sendiri di kaca: kemeja biasa, bukan pilot. Wajahnya seperti orang yang tidak tidur. Itu jujur.
Di basement, sopir Jesika mengangguk. Orlando di setir mobil kedua, menyodorkan kopi dan permen mint.
"Minum. Jangan pingsan di lab. Tante Jesika sudah di jalan. Mama Freya juga, dari story. Ini akan berisik."
"Gue siap."
"Bohong. Tapi loe datang. Itu lebih baik daripada siap."
Mobil keluar dari basement. Dain menoleh ke atas, ke jendela unit Lita yang gordennya masih turun. Dia tidak melambai. Dia hanya mengingat daftar di notes: jaga, cek, jangan statement.
Di kursi penumpang, ponselnya bergetar. Freya.
Hon, aku sudah berangkat. Mama ikut. Jangan bawa janda. Jangan bawa Orlando. Ini urusan kita.
Dain membalas satu baris.
Orlando ikut. Mom ikut. Lab yang kemarin. Jangan live.
Tidak ada balasan baik. Hanya centang.
Orlando melirik. "Bagus. Pendek. Jangan nambah sayang."
Dain mematikan nada dering, menaruh ponsel menghadap ke bawah, dan untuk pertama kali sejak bandara, dia membiarkan jalanan lewat tanpa ngegas. Lab tidak akan lebih cepat karena marah. Perut Lita di rumah juga tidak lebih aman karena dia ngebut.
Di lampu merah, Dain hampir membuka galeri foto Freya di SMA, lalu berhenti. Membuka itu di jalan ke lab sama saja membawa mayat ke meja operasi. Orlando menyalakan AC lebih dingin.
"Loe mau muntah, bilang. Jangan hero di jok."
"Tidak muntah. Cuma... tujuh tahun. Gue masih ingat sate taichan enam puluh tusuk. Sekarang gue bawa kertas."
"Sate tidak menampar orang. Ingat yang itu."
"Orl. Kalau hasilnya positif."
"Kita tes ulang. DNA belakangan. Jangan nikah di parkir."
"Kalau negatif."
"Loe tetap jangan pesta. Ada Reza. Ada video. Ada Lita yang masih memar. Negatif bukan kemenangan. Negatif cuma nutup satu bohong."
Dain mengangguk. Kopinya tinggal setengah. Permen mint pecah di gigi.
Mereka tiba lebih awal. Klinik yang ditunjuk Jesika tidak mencolok, tidak ada logo stasiun, ada satpam yang bukan satpam mal. Halaman rapi, pot bunga biasa, papan nama kecil. Dain turun, menarik napas, mengingat Lita di sofa, Letta dan telurnya, lalu masuk tanpa menyanyi.
Di lobby kecil, ada ibu hamil lain yang duduk memegang formulir. Dain memalingkan wajah, bukan karena jijik, karena takut membandingkan perut yang kelihatan dengan perut Lita yang masih datar dan hampir hilang dua hari lalu. Orlando menekan bel pendaftaran.
"Atas nama keluarga Rocarlton, janji jam delapan. Tes konfirmasi."
Petugas mengangguk, tidak kaget pada nama itu, atau cukup terlatih untuk tidak kaget. Dain duduk. Kursinya keras. Itu lebih jujur daripada sofa Freya.