Author POV
Freya datang sepuluh menit kemudian, bukan sendirian.
Wanita di sisinya berpakaian rapi, tas mahal, wajah yang Dain kenal dari Lebaran dan dari marah-marah kecil di grup keluarga. Mama Freya. Beliau menatap Dain dari ujung kepala ke sepatu, lalu ke Orlando, lalu ke Jesika yang sudah duduk di kursi pojok dengan kacamata.
"Dain. Kamu bawa ibu kamu. Berarti kamu sudah anggap ini perang."
"Ini tes, Bu," kata Dain. "Bukan pesta. Bukan perang. Freya yang mengaku. Kami minta kertas."
Freya memakai dress lembut, perban di lengan masih dipasang meski luka Letta tidak sebesar itu. Matanya merah, bisa karena nangis, bisa karena rias.
"Hon, aku takut. Jangan kasar di depan Mama."
"Aku tidak kasar. Aku minta darah, bukan stik wastafel."
Mama Freya mendesis. "Anak saya dihina. Keluarga Rocarlton sekarang membela janda. Saya sudah lihat berita. Malu."
Jesika melepas kacamatanya pelan. "Malu yang mana, Bu. Yang menampar di depan kamera, atau yang menolak lab sampai harus ditunggui seperti ini."
"Jesika."
"Panggil saya seperti biasa. Kita tidak di arisan. Anak saya hampir menikahi anak ibu tanpa kertas. Hari ini ada kertas."
Petugas memanggil nama Freya. Freya menoleh ke Dain, mencari tangan. Dain tidak meraih. Dia berjalan di belakang, cukup dekat untuk saksi, cukup jauh untuk tidak terlihat seperti kekasih yang sedang merayu.
Di ruang ambil darah, perawat menjelaskan prosedur. Freya menangis ketika jarum masuk, lebih keras daripada Lita di IGD. Dain mengingat itu tanpa mau membandingkan keras-kerasan, tapi kepalanya tetap membandingkan.
"Hasil berapa lama?" tanya Orlando pada petugas di luar.
"Satu jam untuk hCG darah. Bukan stik. Kalau Bapak-Ibu menunggu, ruang dua."
Mereka menunggu. Mama Freya menelpon seseorang dengan suara cukup keras: "Nanti saya kabari. Kalau positif kita ke rumah mereka." Jesika membaca koran kertas, bukan ponsel. Dain duduk, kaki tidak tenang. Orlando mengunyah permen.
Freya keluar, duduk di samping Dain, mencoba merapat.
"Hon, kalau positif, kita baikan. Aku minta maaf. Aku stres. Janda itu yang mulai."
"Jangan bicara Lita di sini."
"Nama dia Lita sekarang, bukan 'itu orang'?" Freya tertawa kecil. "Kamu sudah pindah bahasa."
Dain menatap lantai. "Aku pindah dari kamera. Bukan dari bahasa."
Mama Freya menyodorkan kotak kue. "Makan, Dain. Kamu kurus. Ibu khawatir. Tujuh tahun bukan sampah."
"Tujuh tahun tidak boleh dipakai menampar orang, Bu."
Beliau menarik kotak kue. Wajahnya berubah. "Anak saya dibela. Anak ibu dibela. Kita lihat hasil. Kalau kandungan Freya ada, saya tidak terima anak itu tidak diakui hanya karena mommy Dain lebih suka perempuan laundry."
Jesika menaruh koran. "Kalau kandungan ada, kita urus secara benar. Bukan di talkshow. Kalau tidak ada, ibu jangan pakai kata cucu untuk menekan."
Satu jam itu panjang. AC terlalu dingin. Majalah di meja sudah lusuh, halaman artis tersenyum, tidak ada yang menampar. Dain ke toilet dua kali, bukan karena perut, karena ingin berdiri. Di cermin toilet dia basuh muka, menatap orang yang dulu bilang tidak akan selingkuh, lalu membuat perjanjian, lalu hampir menikahi ancaman. Dia kembali ke kursi. Dia menelpon Lita singkat.
"Masih nunggu. Kamu?"
"Letta nonton. Aku tidak muntah lagi. Jangan ceritakan detail di telpon. Dinding ini tipis."
"Iya." Dain menutup. Suara Lita membuatnya lebih tenang daripada kue Mama Freya.
Nama Freya dipanggil lagi. Bukan ke ruang ambil darah. Ke ruang dokter. Freya berdiri terlalu cepat, sempat pusing, Dain menahan siku secara refleks, lalu melepas begitu Mama Freya menatap. Isyarat kecil itu tetap tercatat di mata Jesika.
Mereka masuk. Orlando di luar, pintu terbuka sedikit, cukup untuk mendengar tanpa ikut duduk.
Dokter, perempuan, tidak tertarik pada nama belakang siapa pun.
"Hasil hCG darah Mbak Freya negatif. Tidak ada kehamilan terdeteksi pada ambang lab kami. Kalau Mbak yakin sangat awal, bisa ulang tiga hari. Tapi klaim 'saya hamil' yang dikirim kemarin, secara medis hari ini, tidak tertopang."
Ruangan itu terlalu terang. Freya menggeleng.
"Salah. Stik saya dua garis. Stres. Lab ini punya mommy dia."
"Lab ini terakreditasi," kata dokter datar. "Stik bisa salah baca, kadaluarsa, atau foto lama. Saya tidak menuduh. Saya menyerahkan angka."
Mama Freya berdiri. "Saya minta tes di dokter kami."
"Boleh," kata Jesika. "Tapi jangan pakai foto wastafel untuk mengancam anak saya semalam. Itu sudah cukup."
Freya menangis, kali ini tidak indah. "Hon, kamu percaya jarum ini lebih dari aku?"
Dain menatap kertas. Angka. Nama Freya. Negatif.
"Aku percaya kertas hari ini. Aku juga percaya kamu beli tiga kotak tes setelah live, bukan seminggu sebelumnya. Aku percaya kamu menampar Lita. Aku percaya Letta didorong. Soal perut, hari ini tidak ada. Kalau tiga hari lagi kamu mau ulang di lab yang sama, boleh. Bukan di dokter yang tidak ada di daftar."
"Kamu putus dengan aku?"
Dain menarik napas. Kalimat yang semalam dia simpan akhirnya harus keluar, bukan di chat jam empat, di ruang dokter yang berbau alkohol.
"Kita tidak lanjut seperti dulu. Tidak ada tunangan. Tidak ada silaturahmi yang kamu undangkan. Aku salah karena perjanjian. Kamu salah karena kamera dan tangan. Aku tidak menikahi ancaman. Aku tidak kembali ke cafe seolah tidak terjadi."
Mama Freya menepuk meja. "Anak saya bukan ancaman. Keluarga kami akan bicara. Media sudah tahu nama Dain."
"Media tahu karena anak ibu yang undang," potong Jesika. "Kalau ibu undang lagi, pengacara kami yang jawab. Dain, kita keluar. Jangan berdebat di ruang dokter."
Freya meraih lengan Dain. "Aku hamil. Mereka bohong. Reza... Reza yang suruh saya bilang gitu biar kamu takut. Bukan, aku sendiri. Hon, jangan."
Nama Reza keluar dari mulutnya sendiri. Dain menatapnya.
"Kamu sebut Reza."
Freya memucat, lalu marah. "Kamu yang punya janda. Aku boleh punya siapa."
"Boleh. Tapi jangan sambil memukul orang dan mengaku hamil." Dain melepas tangannya pelan, bukan kasar. "Jangan datang ke apartemen Lita. Jangan ke laundry. Kalau ada urusan, lewat pengacara."
Di luar, Orlando berdiri ketika melihat wajah mereka. Dain menyerahkan salinan hasil. Orlando membaca, mengangguk, tidak tersenyum lebar.
"Negatif. Jangan pesta. Mobil. Tante dulu."
Mama Freya keluar sambil menelpon, suaranya sudah naik. Freya masih di kursi lorong, merobek tisu. Dain menoleh sekali, bukan untuk mundur, untuk memastikan dia tidak ditinggal pingsan. Perawat sudah di situ.
Dain keluar ke parkir. Udara pagi menusuk. Daun kering menempel di sepatu. Dia tidak merasa menang. Dia merasa satu bohong ditutup, dan bohong lain masih terbuka: Reza, video, pipi Lita, perut yang benar-benar ada di rumah.
Orlando menyalakan mobil, tidak memutar lagu. Jesika di belakang, menutup tas.
"Dain, kamu sudah mengucapkan. Jangan telpon Freya sore ini untuk 'klarifikasi perasaan'. Perasaanmu tidak butuh mikrofon."
"Iya, Mom."
"Pulang ke ayah dulu, lima menit, lalu ke Lita. Jangan belok ke cafe tujuh tahun."
Dia mengetik ke Lita, sesuai janji.
Negatif. Aku tidak pesta. Aku pulang setelah antar Mom. Jangan buka pintu.
Lita membalas lambat.
Tercatat. Letta minta om masak lagi. Telur kemarin asin.
Dain hampir tertawa di parkir, lalu menahan, karena Mama Freya sedang mengangkat ponsel ke arahnya.
"Jangan," kata Jesika. "Bu, cukup. Kalau ibu rekam, ibu yang kami somasi duluan."
Ponsel diturunkan. Perang parkir batal. Mereka masuk mobil masing-masing.