Author POV
Diam Freya pecah pagi berikutnya, bukan dengan live, dengan kedatangan.
Pagi itu hampir biasa. Lita sudah mengoreksi satu nota. Letta menyanyi pelan lagu sekolah yang tidak boleh dia nyanyikan di luar. Dain sedang menurunkan garam di telur ketika kode ketuk salah berbunyi: tiga kali cepat, bukan dua. Getaran itu salah. Dain mematikan kompor dulu, baru angkat ponsel. Jon dari basement menelpon bersamaan.
"Bos, Mbak Freya di lobby. Tidak ada kamera. Ada satu teman perempuan. Minta naik. Saya tahan. Loe yang putus."
Lita berdiri. Dain menahan siku.
"Duduk. Aku turun. Kamu tidak turun. Letta ke kamar."
"Aku bos di unit ini."
"Aku yang dulu pacarnya. Ini utang saya. Duduk."
Lita duduk, rahang mengeras. Letta ditarik ke kamar, pintu tidak dikunci total, hanya diminta jangan keluar.
Dain turun dengan kemeja kusut, bukan seragam. Di lobby Freya berdiri tanpa perban palsu, muka tanpa rias tebal, kelihatan lebih manusiawi dan justru lebih berbahaya. Temannya memegang ponsel, layar menghadap dada, belum merekam terang.
"Hon. Lima menit. Tanpa mama. Tanpa Orlando."
"Tanpa rekam," kata Dain pada teman itu. "Masukkan ke tas, atau saya kembali naik."
Teman itu menaruh ponsel ke tas, tidak senang. Jon berdiri di sisi. Freya menyerahkan kertas.
"Ini perjanjianmu. Fotokopi. Saya belum sebar utuh. Saya bisa. Saya turun ke sini karena mama saya dipermalukan di rumah kamu. Saya minta satu: usir dia seminggu. Cuma seminggu. Biar berita reda. Setelah itu terserah kamu. Saya tidak minta nikah."
Dain tidak menerima kertas itu dengan tangan kosong. Dia memakai tisu dari meja lobby, memegang ujung, seperti barang bukti.
"Kamu bawa kertas kotor saya ke lobby orang. Itu sudah sebar, hanya belum masif. Saya tidak usir Lita. Seminggu atau setahun, tidak."
"Kamu masih tidur di sofa, kan? Saya tahu. Orang saya kurang foto. Saya bisa foto sofa. Saya bisa tulis 'dia sudah bosan, janda hanya modal perut'."
Dain menatapnya. "Kamu sebut perut. Jangan."
Freya tersenyum tipis. "Saya tidak perlu bukti untuk menulis. Saya perlu kamu takut. Tujuh tahun saya tahu kamu takut malu lebih dari takut dosa."
"Dulu. Sekarang saya lebih takut anak kecil didorong dan ibu hamil ditampar. Kalau kamu sebar kertas itu, pengacara yang jawab. Kalau kamu naik, Jon yang tahan. Pulang."
"Ibu hamil," ulang Freya pelan, seperti menemukan kunci. "Saya hanya nebak. Wajahmu baru saja mengaku."
Dain tidak menjawab. Itu kesalahan. Diamnya terlalu tebal.
Freya tertawa, pelan, tidak indah. "Pantas mommy kamu gila-gilaan. Pantes janda itu berani. Kamu tanam. Saya yang dipaksa tes. Lucu."
"Pulang, Frey."
"Jangan panggil Frey. Panggil saya orang yang kamu bohongi. Saya akan pikir. Kertas ini belum ke portal. Saya kasih kamu malam ini untuk usir. Kalau pagi masih di atas, saya kirim. Bukan foto lobby. Klausul. Nama. Tanda tangan."
Lobby terasa lebih sempit setelah kalimat perut. Satpam lain pura-pura merapikan tanaman. Dain sadar telinganya berdenging, seperti setelah mendarat di tekanan yang salah.
Dia pergi. Temannya menyusul, sempat menoleh, memotret lantai, bukan wajah, cukup untuk membuat Jon menggeleng. Dain sudah memegang kertas dengan tisu, masukkan ke map dari tas, naik tanpa ngegas di tangga. Di lift dia tidak menyanyi. Dia menghitung lantai supaya tidak memukul dinding.
Di unit, Lita sudah berdiri lagi. "Dia bawa apa."
Dain meletakkan map di meja, tidak membuka lebar di depan Letta yang sudah mengintip dari celah.
"Fotokopi perjanjian. Belum sebar utuh. Dia minta kamu pergi seminggu. Saya tolak. Dia... menebak perut. Saya diam bodoh."
Lita duduk, pucat, lalu anehnya tidak menangis. "Kalau dia tebak, berita berikutnya bukan pelakor. Berita berikutnya kandungan. Letta belum boleh dengar dari portal."
"Kita kabari pengacara sekarang. Bukan portal. Kita tidak usir kamu. Kita siapkan kalimat kalau klausul terbit: saya yang buat, saya yang tanggung, tidak ada kekerasan, anak dilindungi. Kamu tidak bicara."
Lita menatap map seperti menatap pisau. "Buka. Saya mau tahu halaman mana yang dia punya. Jangan lindungi saya dari kertas yang saya tanda tangani."
Dain membuka setelah Letta disuruh ke kamar gambar. Fotokopi itu lengkap: tanggal, tanda tangan Dain, tanda tangan Lita, klausul tempat tinggal, klausul 'kebersamaan', klausul uang. Kotor. Jelas. Bukan bluff selembar.
Lita membaca sampai selesai, bibir pecahnya bergerak.
"Ini lebih jelek daripada tamparan. Tamparan bisa dikatakan emosi. Ini kertas. Saya memang boneka di sini."
"Kamu tidak lagi. Kasur sudah berhenti. Kertas ini saya yang harus pecahkan di depan pengacara, bukan di depan kamera."
"Pecahkan bagaimana? Bakar? Dunia sudah bau."
"Tidak bakar. Kita bawa ke pengacara sebagai bukti pemerasan. Dia pakai kertas untuk minta usir. Itu ancam. Ancam bisa dilawan."
Lita menutup map. "Kalau pagi ini terbit, saya tetap tidak kabur. Janji semalam. Tapi Dain, kalau Letta ditanya di luar, jangan kamu yang jawab dengan lelucon. Kamu dulu suka lelucon. Lelucon di atas kertas ini akan membunuh anak saya."
"Tidak ada lelucon. Notes."
Dain menelpon pengacara, lalu Orlando, lalu Jesika. Tiga orang itu datang berurutan siang itu, bukan untuk pesta, untuk membaca kotoran. Letta di kamar Jesika yang dibawa, menonton dongeng di tablet tanpa internet.
Pengacara mengangguk. "Ini pemerasan. Kita somasi preventif ke Freya langsung, bukan hanya portal. Kita catat kedatangan lobby lewat CCTV Jon. Kita tidak sebar balik. Kita tahan. Dain, jangan balas chat. Lita, jangan turun. Kalau terbit, pernyataan hanya dari saya."
Jesika memegang tangan Lita. "Ibu tidak usir kamu. Kertas itu memalukan anak ibu, bukan memalukan kamu sendirian."
Dain duduk di lantai, map di meja, telur pagi yang tidak asin sudah dingin. Dia tidak ngegas. Dia juga tidak kabur. Malam Freya masih memberi 'batas pagi'. Dain tidak memakai batas itu untuk mengemasi Lita. Dia memakai untuk mengunci rantai dan menaruh map di tas pengacara.