Author POV
Pagi batas Freya datang tanpa sirine.
Dain bangun lebih awal dari Lita, mengecek portal sebelum telur, tangan dingin. Map di tas pengacara semalam. Di kepala masih ada senyum Freya ketika bilang 'ibu hamil'. Dia membuka akun itu, siap melihat tanda tangan, siap memegang wastafel.
Kertas itu tidak terbit utuh.
Yang terbit adalah satu paragraf, di akun yang sama, tanpa foto tanda tangan: 'sumber menyebut ada perjanjian tertulis antara pilot dan janda, termasuk tempat tinggal'. Tidak ada klausul ranjang. Tidak ada nama lengkap Lita. Cukup untuk menggigit, tidak cukup untuk membunuh. Dain membaca dua kali, lalu menutup, lalu membuka lagi, seperti orang memastikan luka tidak dalam.
Lita keluar, melihat mukanya. "Utuh?"
"Tidak. Paragraf. Pengacara."
"Bagus. Saya tetap duduk. Kamu tetap jangan pesta."
Pengacara sudah siaga. Dain sempat diminta menyetujui draf lewat telpon, satu kalimat diubah: jangan tulis 'pasangan', tulis 'keluarga yang sedang berobat'. Dain setuju. Pernyataan keluar sebelum siang: pihak keluarga tidak membahas dokumen pribadi, tindakan mengancam akan diproses, kekerasan beberapa hari lalu tetap dikecam. Titik. Tidak ada sangkalan bodoh yang membuat orang lebih penasaran. Tidak ada pengakuan yang membuat Letta punya bacaan.
Orlando meneruskan tangkapan layar. "Paragraf itu tidak naik. Somasi lebih cepat. Loe tetap diam. Jangan pikir ini menang."
Lita membaca pernyataan itu di sofa, dua kali, jari mengikuti baris.
"Mereka tidak sebut perut. Bagus. Mereka sebut perjanjian. Saya tahan. Dain, jangan jelaskan klausul ke siapa pun, termasuk karyawan. Nana cukup tahu toko jalan."
"Tidak. Notes."
Dain menuang bubur. "Kamu tidak ke laundry. Pengacara sudah ke Freya: somasi, larangan mendekat ke unit dan toko. Bukan karena kamu takut. Karena dia bawa kertas ke lobby."
"Dia akan lebih marah."
"Dia sudah marah. Kita tidak beli diamnya dengan usir."
Letta mengerjakan tugas sekolah di meja, lidah keluar sedikit, seperti anak yang tidak tahu kata 'klausul'. Dain membantu soal hitungan, salah dulu, dibetulkan Letta, tertawa pelan. Tertawa itu aneh di rumah yang sedang disomasi, dan justru karena aneh, Lita hampir menangis.
"Om bodoh berhitung. Bunda jangan nangis. Om tetap boleh tinggal."
"Om tinggal," kata Dain. "Bunda juga. Kamu juga. Soal om bodoh, setuju."
Siang, Nana menelepon, suara gemetar: di depan toko ada kertas tempel 'laundry pelakor', sudah dilepas satpam, ada foto, dikirim Jon. Ada juga anak muda yang tertawa, pergi ketika satpam datang. Lita mendengar, mencatat jam, meminta sisa lem dibersihkan, tidak minta Dain turun.
"Aku pimpin dari sini. Kamu ke pengacara kalau perlu, bukan ke tembok toko. Adu tembok tidak bayar gaji. Foto kertas itu jangan sebar ke grup karyawan. Cukup Jon dan saya."
Nana mengangguk di telpon. "Mbak, kami takut. Tapi kami tidak tutup."
"Tidak tutup. Shift pendek. Pulang bareng."
Dain menurut. Dia ke kantor pengacara sebentar, ruangnya ber-AC terlalu dingin, kopi tidak diminum. Dia menandatangani laporan polisi atas pemerasan dan penyebaran, membaca ulang tiap baris, takut ada kata yang menyeret perut Lita. Tidak ada. Hanya kertas, lobby, ancaman usir.
"Bapak jangan datangi terlapor," kata petugas yang menerima tembusan. "Kalau ada yang datang ke rumah, telpon kami, jangan adu mulut."
"Siap."
Bukan karena dia suka kantor. Karena kertas harus dilawan dengan kertas. Pulang, dia cuci tangan lama di unit, seolah tinta bisa masuk ke perut Lita. Letta bertanya kenapa om mencuci berkali-kali. "Om dari kantor. Tangan kotor debu. Bukan darah." Letta puas. Lita tidak sepenuhnya percaya, tapi mengangguk.
Sore, Freya mengirim pesan, pendek.
Kalian ke polisi. Mama menangis. Saya belum sebar utuh. Ini perang. Jangan datang. Saya tidak ke unit. Toko saya tempel, bukan saya. Teman. Saya tidak pegang teman.
Dain tidak membalas. Pengacara yang membalas resmi. Dain menunjukkan ke Lita, lalu mengarsip.
"Dia menyangkal tempelan. Bisa benar, bisa lepas tangan. Toko tetap dipasang orang."
Lita mengangguk. "Saya capek jadi perang. Saya tetap hitung kiloan. Dain, malam ini kamu tidur. Benar-benar. Punggungmu. Kalau Freya tidak terbit utuh, itu kemenangan kecil. Jangan jaga seperti orang perang terus sampai kamu jatuh."
"Sofa."
"Sofa, tapi tidur. Bukan notes sampai pagi."
Sore menjelang malam, Dain membantu Letta halaman hitungan, salah sekali, benar dua kali. Lita mengoreksi buku penjualan sambil berbaring. Rumah itu berbunyi pensil, bukan sirine. Dain sempat lupa map, lalu ingat, lalu membiarkan lupa sebentar. Itu juga istirahat.
Malam itu Dain benar-benar ketiduran, dalam, sampai Letta menaruh barbie di dadanya dan tertawa. Lita memotret itu dari ambang, bukan untuk portal, untuk dirinya, bukti rumah ini masih punya suara kecil. Dia menghapus foto itu setelah melihat, takut kebiasaan Freya menular: menyimpan orang sebagai senjata. Menghapus terasa lebih bersih. Dia cuci tangan, aneh, lalu kembali ke ranjang sendirian.
Dain terbangun, barbie jatuh. "Aku tidur."
"Kamu tidur. Dunia tidak habis," kata Lita. "Besok Letta video ke wali kelas. Aku dampingi. Kamu tidak perlu tampil. Muka kamu masih berita."
"Siap, bos. Jam berapa?"
"Pagi, setelah telur tidak asin. Jangan terlambat bangun. Sofa itu menjebak."
"Saya pasang alarm. Bukan notes."
Sebelum benar-benar mati lampu, Dain mengecek rantai, gorden, dan chat Jon: sepi. Dia tidak membuka akun Freya. Lita sudah tidur miring, tangan di perut, kebiasaan yang Dain pura-pura tidak hitung.
Di basement, plat motor tidak muncul. Di suatu akun, paragraf perjanjian tidak dapat banyak like, karena somasi sudah lebih dulu sampai. Freya tidak dapat malam yang dia mau. Dain tidak dapat langit. Lita tidak dapat toko. Letta tidak dapat sekolah. Empat orang kalah sedikit-sedikit, dan untuk malam itu, kalah sedikit lebih baik daripada usir. Dain menulis di notes satu baris saja: jangan usir, jangan pesta, tidur. Dia membaca baris itu sekali, seperti checklist kokpit yang pendek. Lalu dia benar-benar mematikan layar, memiringkan tubuh, dan membiarkan sofa menang untuk satu malam.