Author POV
Pagi berikutnya Lita tidak minta mesin.
Dia bangun lebih dulu, mual singkat, lalu duduk di sofa dengan buku nota. Dain masih di sofa, alarm belum. Lita menendang pelan kakinya yang menggantung.
"Angka. Bukan mesin. Dan jangan buka portal sebelum telur. Saya tidak kuat lihat gang saya di tangan orang lain sebelum makan."
Dain menurut. Telur, garam sedikit, Letta luluskan tanpa pidato. Lalu video singkat ke wali, Dain di kamar lagi, mendengar Lita menahan Letta agar tidak cerita soal foto. Setelah layar mati, pengacara menelepon: acara Mama Freya yang 'lain' adalah podcast, bukan TV, sudah mundur setelah kertas somasi dikirim ke penyelenggara. Hostnya tidak mau risiko. Bukan menang. Hanya mundur.
"Mundur itu cukup untuk hari ini," kata Lita. "Saya tidak pesta. Saya hitung kiloan yang Nana kirim. Dain, kamu cuci piring, jangan cuci berita."
Siang, bel kode dua kali, Jon konfirmasi: sahabat, bukan hoodie. Rolando datang, bukan Orlando. Senja tidak ikut, perutnya lebih besar, tidak boleh ikut ribut. Ro membawa kotak kue dan muka sahabat yang tidak bercanda dulu, sepatu sudah dilepas di luar, seperti takut membawa berita masuk.
"Orl kirim saya. Dia di pengacara. Dain, muka loe jelek. Lita, permisi, saya Ro, bukan yang kembar yang berisik. Saya tidak masuk berita. Saya cuma mau lihat Dain tidak ngegas sendirian."
Lita mengangguk, mempersilakan duduk, Letta menatap orang yang mirip Orlando lalu memiringkan kepala.
"Om ini baik, bukan om yang suka bilang burung?"
Dain hampir tersedak. Ro tertawa pelan. "Adik ini bahaya. Saya yang rumahnya, yang istri hamil. Saya tidak omong sembarangan. Kue, jangan asin."
Ro dan Dain ke balkon sebentar, pintu terbuka, Lita bisa dengar nada, bukan semua kata. Letta disuruh gambar di dalam, tidak ikut.
"Loe putus. Loe cuti. Loe sofa. Loe jangan kawin besok. Senja titip: perut orang jangan dijadikan piala. Juga jangan dijadikan aib. Jaga. Pulang ke cockpit kapan? Kapan mereka bilang."
"Belum. Briefing ulang. Saya tidak kejar."
"Bagus. Freya?"
"Ancam. Diam. Foto. Kertas. Saya tidak telpon. Lima menit ke toko kemarin, keburu foto. Saya salah."
Ro mengangguk, tidak mengerjai. "Salah yang bisa diakui lebih baik daripada benar yang dipamerkan. Senja dulu juga keras kepala mau ke warung. Saya yang jadi orang jahat. Loe boleh jadi orang jahat soal gang. Jangan jadi orang jahat soal ember."
"Saya pilih ember."
Ro menepuk bahu sekali. "Saya bawa kue, bukan nasihat panjang. Orl yang panjang. Saya pulang sebelum jadi konten. Kalau loe ngegas, telpon saya, bukan ngegas dulu. Lita, makasih sudah terima saya tanpa kamera. Kue itu bukan mahar, jangan salah pikir."
Lita tersenyum dari dalam. "Saya tidak pikir mahar. Saya pikir gula. Terima kasih."
Setelah Ro pergi, Lita memotong kue kecil, makan, tidak mual. Letta minta ujung yang ada gula, diizinkan sedikit. "Sahabatmu yang ini lebih tenang. Yang berisik jangan bawa ke sini dulu. Letta sudah hafal kata yang tidak perlu. Kue ini boleh. Berita tidak."
"Orl di luar. Ro cukup. Saya tidak bawa keramaian masuk." Dain cuci kotak kue, keringkan, supaya rumah tidak bau toko roti dan perang sekaligus.
Sore, sekolah mengirim tugas tambahan dan pesan lembut: beberapa orang tua masih tanya, Letta tetap online dulu. Ada satu orang tua yang lebih kasar di grup, wali sudah mute. Lita mendengar itu, rahangnya mengeras, lalu dilepas.
Letta tidak menangis. Dia hanya bilang, "Letta jadi pesawat tidur. Tidak terbang ke sekolah. Om temenin. Bunda jangan sedih. Orang tua teman tidak kenal bunda yang wangi sabun."
"Bunda kenal diri sendiri. Cukup," kata Lita.
Dain mengerjakan hitungan bersamanya di meja, salah di soal bagi, dibetulkan Letta dengan muka kemenangan kecil, salah lagi di soal cerita, lalu benar. Dain mengangkat tangan seperti di kelas. "Om bodoh. Adik guru."
"Guru Letta minta om jangan kabur ke pesawat sebelum PR selesai."
Lita mengoreksi nota, menelpon Nana, menolak titipan tanpa nama lagi, menanyakan gaji minggu ini, mentransfer dari rekening usaha, bukan dari Dain, dan Dain membiarkan itu. Rumah berbunyi kerja, bukan sirine. Ro sudah jauh. Kue berkurang. Membosankan itu kembali, sebentar.
Menjelang malam, Jesika kirim pesan panjang, lalu menelepon karena pesan tidak cukup: orang ibu cek lantai dua seberang gang, kontrakan kos, anak kuliah, sudah diingatkan, kamera mainan disita satpam lingkungan, bukan polisi, cukup untuk menakut-nakuti. Anak itu menangis, bilang iseng, bukan dibayar Freya. Bukan hoodie. Hoodie masih liar.
Dain membacakan ke Lita, lalu menahan Letta yang ingin dengar kata iseng.
Lita mengangguk. "Satu ditutup. Yang lain belum. Saya tidak ke gang. Saya tidak minta balas ke anak kuliah. Dia bodoh, bukan Freya. Jangan sampai Dain jadi orang yang menakut-nakuti anak orang. Cukup satpam."
"Tidak balas. Tidak ke kos. Notes." Dain mengusap muka. "Saya hampir pergi. Mom lebih cepat."
"Bagus Mom lebih cepat. Kamu pelan, untuk sekali ini."
Malam itu Dain di sofa, kue sisa di kulkas, Letta tidur dengan tugas selesai. Lita ke ambang.
"Dain. Kalau suatu hari kamu terbang lagi, jangan anggap rumah ini hangar yang bisa ditinggal tanpa kabar. Kabari. Bukan karena saya pacar. Karena perut ini dan Letta menunggu orang, bukan menunggu pahlawan."
"Saya kabari. Titik. Bukan pahlawan." Dain menatap plafon. "Ro benar. Saya tidak kawin besok. Saya juga tidak usir. Saya jaga. Itu kalimat yang saya punya."
"Cukup untuk malam ini." Lita menutup pintu, tidak mengunci. Dari dalam dia masih bicara, pelan. "Kue Ro jangan habis malam ini. Besok Letta. Jangan kamu makan karena stres."
"Saya tidak makan stres. Saya tidur."
"Tidur. Kalau Freya chat, jangan buka sebelum pagi. Pagi saya dampingi. Malam kamu lemah pada tujuh tahun."
Dain tertawa pelan, mengakui. Dia tidak membuka. Ponsel ditelungkupkan di lantai, jauh dari tangan. Dia tidur, tidak dalam-dalam, cukup untuk tidak menulis notes sampai pagi, dan cukup untuk tidak membalas kata hon yang tidak datang.