Author POV
Yang liar itu datang siang, bukan malam.
Pagi masih aman: angka, tugas, kue sisa. Dain sempat menyetrika satu kemeja Lita lagi, pelan, tidak gosong. Lita mengkritik lipatan, kecil, seperti bos yang hidup. Dain menerima. Rumah itu, untuk beberapa jam, membosankan. Membosankan itu yang mereka beli dengan sapu.
Lalu Jon menelepon, napas pendek, ketika Dain baru saja menurunkan jemuran dalam.
"Bos, hoodie di depan lobby. Turun dari motor. Tidak masuk. Megang kertas, kelihatannya fotokopi. Saya tahan di kaca. Minta ketemu janda, katanya titipan. Bukan Freya. Laki, muda, takut. Saya tidak buka."
Lita berdiri. Dain menahan.
"Duduk. Saya turun dengan Jon. Kamu tidak turun. Letta kamar."
Di lobby, AC terlalu dingin. Tanaman palsu di sudut. Laki-laki itu lebih muda dari Reza, jaket hoodie abu, plat yang dicatat. Keringat di pelipis. Dia tidak berani menatap Dain. Kertas di tangan gemetar: fotokopi perjanjian lama, halaman klausul yang Dain hafal karena memalukan, dan selembar pesan: 'serahkan ke Lita, dari F'.
Satpam berdiri. Jon merekam dari jauh, tidak live, hanya bukti. Dain tidak mendekat terlalu rapat.
"Saya cuma disuruh," katanya. "Dibayar ojek. Saya tidak tahu isi. Jangan pukul. Saya punya adik, saya tidak mau polisi."
"Tidak pukul." Dain memakai tisu lagi, mengambil kertas, memotret wajah ojek, plat, tangan, pesan, klausul. "Siapa yang bayar. Jangan bohong. Saya tidak butuh namamu di berita. Saya butuh jejak."
"Cewek, pirang bawah, apartemen kampus. Kemarin transfer. Hari ini chat lokasi. Titip. Bilang jangan dibaca, langsung kasih ke janda. Saya tidak ulang. Saya takut."
"Tidak ulang. Kalau ulang, polisi. Jangan ke laundry. Jangan ke sini. Pulang. Helm."
Ojek mengangguk berkali-kali, hampir terlalu banyak. Dain tidak merasa menang. Dia merasa kotor karena kertas lama itu lagi-lagi ada di udara lobby yang sama dengan foto kemarin.
Ojek pergi, hampir jatuh saat hidupkan motor. Jon mengikat plat, foto ulang dari sudut lain. Dain naik, map di tangan, muka datar, tangan ingin tinju dinding lift, tidak jadi. Di lantai mereka dia cuci tangan dulu, baru ketuk dua kali.
Lita membaca pesan 'dari F', tidak kaget. Dia bahkan tertawa kecil, pahit.
"Dia tidak sebar ke portal. Dia sebar ke saya, lewat orang. Itu masih ancam. Itu juga pengecut. Masukkan ke pengacara. Jangan balas ke dia. Jangan ke kampus. Saya tidak mau kamu jadi berita tinju."
"Tidak tinju. Tidak kampus. Sudah saya teruskan."
Dain sudah meneruskan sebelum Lita selesai, foto, plat, kalimat ojek, transfer yang disebut. Pengacara membalas cepat: catat, tambah laporan, jangan ke apartemen kampus, jangan interogasi sendiri. Orlando: gue cek transfer, jangan ngegas, gue yang ke bank lewat jalur benar. Dain mematikan keinginan setir dengan duduk di lantai sampai lutut pegal, lalu berdiri hanya untuk mengunci rantai yang sudah terkunci, gerakan bodoh yang membuat Lita mengangguk: lebih baik bodoh di pintu rumah daripada pintar ngegas di kampus.
Letta dari celah. "Om tidak pukul. Bagus. Orang itu takut. Tante Frey pakai orang takut. Letta dengar om bilang polisi. Polisi datang?"
"Tidak di rumah. Kertas ke kantor. Kamu gambar. Jangan lobby." Dain menutup celah pelan.
"Benar," kata Lita. "Kita tidak pakai orang takut. Kita pakai kertas baru. Tutup celah. Gambar. Dain, cuci tangan, bau lobby. Saya tidak mau bau takut di meja makan."
Dain cuci, lama, sampai Lita bilang cukup. Dia duduk di lantai, map di meja, jauh dari jangkauan Letta. Pengacara belum sampai. Rumah menunggu kertas, bukan tinju. Dain minum air, Lita mencatat jam kedatangan ojek, Letta menggambar motor yang jelek. Itu kemajuan yang tidak kelihatan di portal, dan justru karena tidak kelihatan, Dain hampir percaya mereka bisa tahan sampai malam.
Sore, pengacara mengonfirmasi transfer dari akun yang dikaitkan Freya, bukan mama. Nominal kecil, seperti ojek, cukup untuk jejak. Somasi kedua keluar sebelum magrib, tembusan polisi ditambah. Freya membalas resmi lewat orang, bukan lewat hon: 'klien saya hanya mengembalikan dokumen milik penerima'. Alasan konyol. Cukup untuk dipatahkan, karena penerima tidak minta, ojek bukan kurir hukum, dan kertas itu dipakai menekan seminggu lalu.
Dain mendengarkan penjelasan itu di telpon, berdiri di dapur, lalu duduk di lantai. Lita menyimak di speaker, mencatat tanggal, seperti mencatat kiloan.
"Dia tetap pakai kata klien. Saya tetap pakai kata ancam," kata Lita. "Kamu jangan tulis hon. Jangan tulis sayang. Jangan tulis apa-apa."
Dain tidak pesta. Lita tidak pesta. Mereka makan bubur. Letta bilang om lulus tidak pukul dua kali, boleh nilai bagus, boleh satu kue sisa. Dain memberi kue, bukan pidato. Jon ganti shift. Hoodie tidak kembali. Malam belum tentu sepi, tapi siang itu mereka tidak ngegas.
Malam, maskapai kirim email: briefing ulang tiga hari lagi, belum tentu flying, evaluasi internal, mohon tetap tidak berkomentar. Dain membacakan ke Lita, dua kali, karena yang kedua Lita minta tanpa nada bangga.
"Langit pelan," kata Lita. "Jangan kejar. Tiga hari kamu masih sofa. Kalau mereka izinkan terbang, kabari. Jangan hilang. Jangan anggap email ini piala. Ini izin duduk di ruangan, bukan izin kabur."
"Tidak hilang. Tiga hari. Notes. Bukan piala."
Dain di sofa memegang kertas ojek dengan tisu, lalu memasukkan ke map pengacara yang diantar Orlando malam itu, sebentar, tidak duduk lama, tidak bercanda soal burung. Orl hanya bilang, "Loe tidak ngegas. Gue kasih nilai. Transfer sudah kita jepit. Pulang. Jangan ke kampus malam ini, gue tahu loe kepikiran."
"Tidak ke kampus."
Lita mengangguk dari sofa. Letta sudah tidur. Rumah itu, untuk malam ini, menang tanpa tinju, tanpa live, tanpa gang. Dain cuci tangan lagi, keringkan, cek rantai, cek gorden, lalu tidur dengan email langit yang tidak dia kejar. Jon di bawah. Letta mendengkur. Lita membalik di kasur, pelan. Rumah itu, malam itu, tidak menjadi berita baru.