Author POV
Dain terbangun karena kaki yang kesemutan, bukan karena mual.
Ember di sisi sofa masih kosong, masih kering, masih konyol. Ada bau sabun dari kain yang semalam dipakai menyeka mulut Lita, sudah dicuci, masih nempel di ingatan. Plafon retak di pojok yang sama. Gorden masih turun. Napas dari kamar Lita rata. Letta tidak di pintu. Pagi itu, untuk beberapa detik, rumah hanya berbunyi kulkas.
Dia tidak langsung percaya sepi. Sepi seminggu ini selalu punya ekor. Dia menggerakkan jari kaki, menunggu sirine di kepala, menunggu ketuk salah. Tidak ada. Hanya kesemutan dan retak plafon.
Dia duduk, mengusap betis, mengecek ponsel dengan takut yang sudah jadi kebiasaan. Tidak ada Freya. Tidak ada ojek. Ada chat Nana: sepi, angka akan dikirim jam delapan. Ada chat Jesika: ibu bisa datang siang, briefing masih dua hari, jangan ke gang. Dain membalas siap, lalu ke ambang.
Lita sudah buka mata, tidak pucat seperti kemarin. "Tidak mual. Jangan lihat saya seperti IGD. Ember boleh istirahat. Saya mau air, bukan rumah sakit."
Dain tuang air hangat. Lita minum, pelan, tangan di perut sebentar, lalu ke samping, seperti ingat Letta bisa masuk. Dain tidak menanyakan nama. Dain tidak menanyakan tumbuh. Dia hanya menaruh gelas.
"Angka jam delapan. Saya tidak ke toko. Kamu masak, garam sedikit. Letta hakim."
"Siap, bos."
Letta keluar dengan barbie, melihat ember, mengangguk. "Ember kosong. Bunda tidak bunyi. Om lulus jaga. Telur?"
"Telur. Hakim jangan galak."
"Hakim galak kalau asin."
Dain masak, kali ini hampir tepat, api kecil, sabar seperti orang yang baru belajar tidak ngegas di kompor. Letta naik ke kursi, kaki menggantung, mencicipi dengan wajah hakim yang sudah terkenal di rumah itu.
"Sedikit gosong di pinggir. Om masih boleh tinggal. Bunda makan. Hakim sudah capek galak."
Lita makan lima suap, lalu berhenti, cukup, tidak karena mual, karena perut sedang belajar damai. Mereka tidak membuka portal. Televisi mati. Gorden tetap. Dain menuang air lagi, tidak ditanya, Lita minum. Itu bahasa baru: air, bukan tas.
Jam delapan Nana mengirim foto buku. Lita memakai kacamata, mengoreksi dua angka, menelpon singkat.
"Yang titip tanpa nama, tetap tolak. Bu Sari boleh pewangi. Jangan lembur sendirian. Satpam sampai tutup. Saya tidak turun. Pipi saya masih, berita masih, perut sedang kerja. Cukup angka."
Nana di seberang terdengar ingin menangis, lalu ditahan. "Siap, Mbak. Toko wangi. Kami rindu Mbak, tidak rindu kamera."
Setelah tutup, Lita menutup laptop. "Saya hidup. Toko hidup. Kamu jangan cari kerja tambahan berupa ngegas. Dua hari lagi kantor. Hari ini sofa. Ember siap, tidak dipakai, itu juga kemenangan."
Dain mencuci piring, mengeringkan, menaruh di rak yang miring. Letta mengerjakan hitungan, lidah keluar, kadang mengulang kata timbang tanpa sadar. Rumah membosankan. Dain hampir percaya membosankan. Dia menyapu remah telur, berlutut, melihat ember, dan untuk pertama kali ember itu terasa seperti alat, bukan ancaman.
Lalu Orlando menelepon, bukan darurat penuh, cukup untuk mengetuk damai.
"Bukan terbit. Freya story jam lima, muka polos, caption 'saya tetap baik'. Jangan buka. Pengacara sudah screenshot. Diamnya pecah jadi baik-baik. Itu strategi, bukan tobat. Loe tetap di rumah. Hoodie tidak muncul."
Dain tidak membuka. Lita mendengar speaker, mengangguk, menutup buku nota sebentar.
"Baik-baik lebih licin daripada live. Live itu tangan. Baik-baik itu jebakan muka. Kita jangan balas baik. Kita hitung kiloan. Kalau kamu ingin menulis 'saya tidak baik-baik', itu judul. Jangan kasih judul."
Dain cuci gelas. "Tidak judul. Kiloan." Letta meniru: kiloan, bukan judul. Jesika belum datang. Rumah menahan umpan sendirian, dan itu, anehnya, berhasil sampai siang.
Siang, sebelum Jesika, Dain hampir buka portal, lalu Lita menepuk punggung tangannya dari sofa. "Angka, bukan kolom." Dain menurut, malu, seperti anak. Letta meniru tepukan ke barbie. Rumah itu punya polisi kecil.
Jesika datang membawa makan yang diizinkan dokter, bukan kue manis berlebihan, termos, dan buah yang tidak terlalu asam. Beliau memeriksa Lita seperti orang yang sudah pernah takut kehilangan: mata, bibir, tangan, lalu perut hanya dengan tanya, tidak dengan pegang sembarangan. Lalu menatap Dain.
"Dua hari. Kamu tidur, makan, jangan baca kolom. Ibu bisa jaga ember. Lita, kamu jangan keras kepala mesin. Letta, PR, bukan lobby. Dain, story baik-baik itu umpan. Jangan gigit."
"Hafal, nenek," kata Letta. Dain mengangguk. Lita mengangguk. Tiga hafal, satu rumah.
Mereka makan pelan. Dain tidak pesta karena Lita tidak mual. Lita tidak pesta karena story baik-baik. Letta pesta kecil: telur tidak asin, buah dari nenek, satu suap tambahan yang diizinkan. Jesika mengawasi Dain seperti mengawasi anak yang baru bisa tidak ngegas, lalu puas ketika dia cuci piring tanpa ditelepon.
Sore, setelah Jesika pergi, Dain menyetrika kemeja untuk briefing, pelan, tidak gosong, uap di wajah. Lita dari sofa mengkritik kerah seperti mengkritik nota yang salah.
"Kerah miring, kapten tidak lulus. Betulkan. Langitmu jangan berangkat dengan kerah kalah. Saya tidak mau kamu dihina di kantor karena kain, setelah dihina di portal karena hidup."
Dain betulkan, dua kali, sampai Lita mengangguk. Letta meniru menyetrika di udara, barbie jadi papan, lalu bilang om kapten sapu, bukan kapten tas. Dain tidak membantah. Malam itu ember tetap di lantai. Lita ke ambang, lebih kuat, kemeja sudah tergantung rapi di kusen, kerah sudah lurus, perang masih di luar, rumah masih turun gorden.
"Dain. Besok sama. Angka, bukan gang. Kalau saya mual, panggil. Kalau tidak, biarkan ember menganggur. Menganggur itu bagus."
"Menganggur. Tercatat." Dain tidak cium. "Tidur. Sofa. Tidak kabur."
Letta titip barbie di dadanya lagi, sebentar, lalu ambil kembali. "Barbie jaga om. Ember jaga bunda. Letta jaga pintu. Tidur."
Dain memejam. Story baik-baik Freya ada di dunia, tidak di ruang tamu. Jon chat sepi. Nana chat toko tutup aman. Dain tidak membalas panjang, hanya titik, dan Letta dari kamar menirukan titik itu seperti doa. Untuk malam ini, itu cukup. Ember menganggur. Kerah menunggu. Rumah tidak jadi judul.